Nurina Endra Purnama

PENDUGAAN EROSI DENGAN METODE USLE (Universal Soil Loss Equation) DI SITU BOJONGSARI, DEPOK

Oleh: NURINA ENDRA PURNAMA, F14104028, 2008
DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Nurina Endra Purnama. F14104028. Pendugaan Erosi dengan Metode USLE (Universal Soil Loss Equation) di Situ Bojongsari, Depok . Di bawah bimbingan : Dr. Ir. Roh Santoso Budi Waspodo, M.T. 2008

Sumber: http://repository.ipb.ac.id/

RINGKASAN

Situ Bojongsari merupakan situ terbesar di Kota Depok dengan luas  mencapai 28.25 Ha yang kondisinya semakin kritis akibat erosi yang disebabkan  oleh pertumbuhan penduduk dan aktifitas pembangunan di sekitarnya. Padahal  keberadaan situ tersebut sangat potensial dalam menjaga wilayah Jakarta dan Depok dari banjir.

Erosi merupakan peristiwa hilangnya lapisan tanah atau bagian-bagian  tanah. Erosi menimbulkan kerusakan pada tanah tempat terjadi erosi dan pada  tujuan akhir tanah terangkut tersebut diendapkan. Erosi di Situ Bojongsari terjadi  pada tanah di bantaran/pinggir situ yang menyebabkan tanah terangkut dan mengendap di perairan sehingga menyebabkan pendangkalan situ.

Oleh sebab itu besar erosi pada suatu wilayah harus diperkirakan guna  merencanakan aksi tindak pemulihan dan pencegahan erosi yang lebih besar lagi.  Salah satu metode untuk menduga atau menghitung nilai erosi melalui pendekatan  USLE (Universal Soil Loss Equation). Parameter-parameter yang diperhitungkan  untuk pendugaan dengan metode USLE adalah erosivitas hujan (R), erodibilitas  tanah (K), panjang lereng (L), kemiringan lereng (S), pengelolaan tanaman (C), dan konservasi tanah (P).

Proses erosi terjadi melalui tiga tahap, yaitu pelepasan partikel tanah,  pengangkutan oleh media seperti air adan angin, dan selanjutnya pengendapan.  Beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya erosi adalah curah hujan, tanah,  lereng (topografi), vegetasi, dan aktifitas manusia. Faktor-faktor tersebutlah yang  merupakan komponen-komponen pengali dalam pendekatan USLE. Aplikasi dari  pendugaan erosi dengan metode USLE ini telah banyak dilakukan untuk perencanaan penggunaan lahan.

Berdasarkan hasil penelitian terhadap pendugaan erosi yang dilakukan di  Situ Bojongsari, maka diperoleh hasil laju erosi rata-rata yang terjadi di Situ  Bojongsari dibagi dalam lima wilayah erosi berdasarkan perbedaan faktor vegetasi  serta konservasi (CP). Laju erosi di lokasi 1 sebesar 300.111 ton/ha/tahun, lokasi  2 dengan laju erosi 0.806 ton/ha/tahun, lokasi 3 sebesar 118.303 ton/ha/tahun,  lokasi 4 sebesar 10.315 ton/ha/tahun, di lokasi 5 nilai laju erosinya 1.612 ton/ha/tahun.

Berdasarkan perhitungan cakupan daerah tangkapan pada masing-masing  zona maka dapat diketahui bahwa nilai erosi terbesar yang tergolong kelas erosi  berat terdapat pada lokasi 1 sebesar 4969.84 ton/ha. Sedangkan nilai erosi terkecil  terdapat pada lokasi 5 yang tergolong kategori erosi sangat ringan sebesar 22.66 ton/ha.

Penyebaran luas untuk kelas TBE yang tergolong sangat ringan terjadi  pada kelas kelerengan 0-5 % dan sedang pada kelas kelerengan 15-35 %,  sedangkan kelas erosi berat terjadi pada kelas kelerengan 35-50 %. Sehingga  dapat disimpulkan bahwa areal di sekeliling Situ Bojongsari masih dalam kondisi  relatif aman terhadap bahaya erosi dan sedimentasi. Hal ini juga diperkuat dengan perhitungan kemungkinan umur Situ Bojongsari.

Umur Situ Bojongsari mampu mencapai 211 tahun. Hasil ini bukan  merupakan nilai mutlak. Nilai ini hanya berupa prediksi, karena pada hakekatnya  umur situ juga tergantung dari aktivitas manusia di sekelilingnya dan kemauan  manusia untuk mengelola lingkungan hidup. Bukan tidak mungkin, umur situ  lebih pendek dari prediksi perhitungan akibat perilaku masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungan.

Faktor penyebab erosi terbesar pada Situ Bojongsari adalah karena tanah  yang terbawa aliran permukaan akibat vegetasi di sekitar situ tidak dapat menahan  aliran permukaan serta vegetasi yang jarang. Untuk mencegah terjadinya erosi  maka perlu dilakukan reboisasi di sekitar situ dan pembuatan bangunan penangkal erosi.

I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Tanah sebagai sumber daya alam telah mengalami berbagai tekanan seiring dengan peningkatan jumlah manusia. Tekanan tersebut telah menyebabkan penurunan mutu tanah yang berujung pada pengurangan kemampuan tanah untuk berproduksi. Penurunan mutu tanah tersebut disebabkan oleh proses pencucian hara dan proses erosi tanah terutama pada lahan-lahan yang tidak memiliki penutupan vegetasi. Erosi merupakan peristiwa hilangnya lapisan tanah atau bagian-bagian tanah di permukaan. Di Indonesia erosi yang sering dijumpai adalah erosi yang disebabkan oleh air.

Erosi dapat menimbulkan kerusakan baik pada tanah tempat terjadi erosi maupun pada tempat tujuan akhir tanah yang terangkut tersebut diendapkan. Kerusakan pada tanah tempat erosi terjadi berupa penurunan sifat-sifat kimia dan fisik tanah yang pada akhirnya menyebabkan memburuknya pertumbuhan tanaman dan rendahnya produktivitas. Sedangkan pada tempat tujuan akhir hasil erosi akan menyebabkan pendangkalan sungai,  aduk, situ/danau, dan saluran irigasi. Dengan peningkatan jumlah aliran air di permukaan dan mendangkalnya sungai menyebabkan makin seringnya terjadi banjir (Murdis, 1999).

Situ-situ yang ada di wilayah Jabodetabek merupakan bagian dari sumber daya air lintas provinsi di wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, wilayah Ciujung-Ciliman, dan wilayah Sungai Citarum. Sebagian besar situ-situ tersebut, saat ini kondisinya sangat memprihatinkan karena telah mengalami penurunan baik kuantitas maupun kualitasnya, sehingga banyak yang tidak dapat difungsikan dan dimanfaatkan dengan optimal, yang diakibatkan oleh berbagai faktor yaitu faktor fisik dan faktor non fisik. Faktor fisik antara lain: pengurangan luasan situ karena alih fungsi, sedimentasi, kurangnya pemeliharaan sehingga dipenuhi gulma air dan rerumputan, juga kerusakan pada bangunan prasarana situ. Faktor non fisik berupa penyalahgunaan wewenang pemberian izin pemanfaatan situ, pemberian hak atas tanah pada kawasan situ, penyerobotan/pemanfaatan secara ilegal, keterbatasan kemampuan pengelolaan situ oleh pemerintah dan pemerintah daerah, kurangnya partisipasi masyarakat serta kurangnya kesamaan persepsi terhadap perundang-undangan.

Kota Depok merupakan daerah yang tergolong memiliki banyak situ. Tercatat 26 situ tersebar di wilayah selatan Jakarta ini. Namun, dari 26 situ yang tersebar di enam kecamatan, kira-kira 80 persen diantaranya dalam kondisi mengkhawatirkan. Sebagian sudah banyak yang beralih fungsi, yang semula dimanfaatkan sebagai daerah resapan air atau penampung hujan kini menjadi permukiman penduduk, lapangan bola, dan pembuangan limbah atau sampah. Bahkan erosi yang terjadi di daerah situ semakin parah dari waktu ke waktu. Padahal situ-situ tersebut itu cukup potensial menjaga wilayah Jakarta dan Depok dari banjir.

Situ atau danau merupakan bentuk mikro daerah tangkapan air. Dengan mengetahui karakteristik biofisik situ beserta tingkat bahaya erosi dan sedimentasinya maka dapat dilakukan tindakan pengelolaan yang diperlukan berupa pengendalian laju erosi tanah dan rehabilitasi lahan. Salah satu situ yang di Kota Depok yang termasuk dalam kategori situ kritis adalah Situ Bojongsari. Situ Bojongsari merupakan situ terluas di Kota Depok. Luas Situ Bojongsari mencapai 28.25 Ha. Peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas pembangunan di Kota Depok menyebabkan peningkatan jumlah buangan limbah domestik, limbah industri, dan limbahlimbah  lainnya serta kurangnya pemeliharaan kawasan Situ Bojongsari menimbulkan pencemaran dan erosi pada situ dan daerah di sekitarnya.

Semula prediksi erosi adalah suatu metode untuk memperkirakan atau menduga laju erosi yang terjadi dari lahan yang dipergunakan bagi usaha pertanian tertentu. Persamaan yang sering digunakan untuk memprediksi erosi adalah persamaan Universal Soil Loss Equation (USLE). Persamaan ini adalah model pendugaan erosi yang digunakan untuk menghitung besarnya erosi yang terjadi dalam jangka panjang pada suatu daerah. Metode USLE mempunyai kelebihan, yaitu proses pengolahan datanya yang sedehana, sehingga mudah dihitung secara manual maupun menggunakan alat bantu program komputer (software). Hal ini memudahkan para petugas yang bekerja di lapangan dalam membuat suatu perkiraan kasar terhadap besarnya
laju erosi (Indrawati, 2000).

Universal Soil Loss Equation (USLE) sudah dua puluh tahun lebih digunakan sebagai metode pendugaan besarnya erosi yang cukup baik. Metode ini dikembangkan di Amerika Utara dengan tujuan untuk mengetahui besarnya erosi pada lahan pertanian. Pengembangan metode ini didasarkan pada hasil pengukuran pada sepuluh ribu stasiun pengamatan erosi yang tersebar di seluruh Amerika Utara. Dengan keserdahanaan, kemudahan dalam pemasukan input data, dan hasil yang cukup baik metode ini banyak dipakai di berbagai sektor di luar pertanian termasuk di sektor kehutanan (Ispriyanto, 2001). Nilai erosi yang diperoleh dari pendekatan USLE selanjutnya dapat dipergunakan untuk menduga laju erosi yang terjadi pada suatu wilayah dan menentukan Klasifikasi Tingkat Bahaya Erosi, sehingga untuk mencegah kerusakan lahan akibat erosi dapat dihindari sedini mungkin dengan teknikteknik konservasi lahan.

B. TUJUAN

Penelitian ini bertujuan menduga besarnya nilai erosi dan Tingkat Bahaya Erosi (TBE) di Situ Bojongsari, Kota Depok dengan pendekatan USLE (Universal Soil Loss Equation).

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN UMUM SITU ATAU DANAU

Perairan pedalaman terdiri dari sungai, danau, dan rawa. Sungai  merupakan suatu bentuk perairan mengalir (Lotic system) dan danau serta  rawa sebagai bentuk perairan tergenang (Lentic system). Perairan tergenang  dengan berbagai jenisnya memiliki pergerakan air yang minim dengan arah  arus yang tidak tetap. Pergerakkan air disebabkan oleh aksi gelombang, arus internal atau pergerakan inlet dan outlet (Weltch, 1952).

Berbagai bentuk perairan tersebut merupakan bagian dari lahan basah  (Wetlands) yang merupakan sistem pendukung kehidupan paling produktif di  muka bumi ini. Lahan basah adalah habitat berbagai jenis organisme dan  penyedia keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Danau, situ, dan rawa merupakan bagian dari ekosistem lahan basah.

Situ adalah istilah yang digunakan masyarakat sunda untuk menyebut  danau yang memiliki ukuran relatif kecil. Situ merupakan daerah penampung  air yang terbentuk secara alamiah ataupun buatan manusia yang merupakan  sumber air baku bagi berbagai kepentingan dalam kehidupan manusia. Sumber  air yang ditampung di perairan ini pada umumnya berasal dari air hujan (run  off), sungai atau saluran pembuangan, dan mata air. Air tersebut dipasok dari  Daerah Tangkapan Air (DTA) di sekitar situ. Daerah tangkapan air adalah wilayah di atas danau atau situ memasok air ke danau atau situ tersebut.

Situ merupakan tipe perairan tergenang yang memiliki fungsi sangat  penting bagi kehidupan manusia, diantaranya sebagai resapan air, pengendali  banjir, pengendali iklim mikro, habitat bagi biota, sumber air, pemasok air ke  lingkungan sekitarnya (akuifer), pengendap lumpur serta pencegah intrusi air  laut pada daerah pesisir. Bahkan dari segi estetika yang dimiliki, situ dapat berperan sebagai obyek wisata (Hotib dan Suryadiputra, 1998).

Situ merupakan tipe ekosistem perairan tawar yang tergenang (lentic)  dan dangkal. Zona kedalaman situ ditunjukan pada Gambar 1. Situ juga  merupakan kesatuan sistem drainase dan tata aliran air setempat (ekodrainase).  Bentuk badan air situ seperti bentuk tampungan air permukaan dan  air tanah dangkal yang menggenang (Strategi Pengelolaan Situ Jabodetabek, 2007).

Gambar 1. Zona Kedalaman Bentuk Perairan Menggenang dan Proses Fotosintesis (Suwignyo, P, 2000 di dalam Strategi Pengelolaan Situ Jabodetabek, 2007)

Sementara itu Haeruman (1999) berpendapat bahwa keberadaan danau  atau situ sangat penting dalam turut menciptakan keseimbangan ekologi dan  tata air. Dari sudut ekologi, situ merupakan ekosistem yang terdiri dari unsur  air, kehidupan akuatik, dan daratan yang dipengaruhi oleh tinggi rendahnya  muka air, sehingga kehadiran situ akan mempengaruhi iklim mikro dan  keseimbangan ekosistem sekitarnya. Sedangkan jika ditinjau dari sudut tata  air, situ berperan sebagai reservoir yang dapat dimanfaatkan airnya sebagai  alat pemenuhan irigasi dan perikanan, sebagai sumber air baku, sebagai tangkapan air untuk pengendaliuan banjir, serta penyuplai air tanah.

Secara alamiah Situ mempunyai kawasan tandon air yang dibatasi oleh  tanggul yang merupakan daerah peralihan (ekoton) antara ekosistem perairan  dan daratan. Secara fisik komponen pembentuk tipologinya dibagi dalam tiga (3) bagian, yaitu:

a) Medium tampungan sumber daya air.
b) Daerah peralihan (ekoton)/penyangga (buffer zone).
c) Daerah tangkapan air (catchment area).

Suplai air ke dalam Situ dipengaruhi oleh aliran air baik dari air hujan,  permukaan dan air tanah. Bentuk perairannya merupakan perairan daratan  sistem terbuka (open system). Bila dilihat dari morfologi bentukan, suplai air  dan sistem tata airnya, maka arus alirannya adalah relatif tenang. Asal-usul  situ di wilayah Jabodetabek terdiri dari situ alami dan buatan. Beberapa situ  alami mempunyai mata air, sehingga tidak kering di musim kemarau. Situ  alami terbentuk secara alami dapat terbentuk dari sisa rawa/lahan basah,  dimana sumber air utamanya berasal dari rembesan air tanah (seepage). Situ  buatan dapat berasal dari dam pengendali pada sistem irigasi sawah, bekas  galian lio-bata (pembuatan batu-bata), bekas galian pasir, atau waduk buatan  yang dibuat sebagai pengendali banjir (Strategi Pengelolaan Situ Jabodetabek, 2007).

B. EROSI

1. Pengertian Erosi

Erosi adalah suatu proses dimana tanah dihancurkan (detached ) dan  kemudian dipindahkan ke tempat lain oleh kekuatan air, angin, dan  gravitasi (Hardjowigeno, 1995). Secara deskriptif, Arsyad (2000)  menyatakan erosi merupakan akibat interaksi dari faktor iklim, tanah,  topografi, vegetasi, dan aktifitas manusia terhadap sumber daya alam.

Erosi dibagi menjadi dua macam, yaitu erosi geologi dan erosi  dipercepat (Hardjowigeno, 1995). Erosi geologi merupakan erosi yang  berjalan lambat dengan jumlah tanah yang tererosi sama dengan jumlah  tanah yang terbentuk. Erosi ini tidak berbahaya karena terjadi dalam  keseimbangan alami. Erosi dipercepat (accelerated erosion) adalah erosi  yang diakibatkan oleh kegiatan manusia yang mengganggu keseimbangan   alam dan jumlah tanahnya yang tererosi lebih banyak daripada tanah yang  terbentuk. Erosi ini berjalan sangat cepat sehingga tanah di permukaan (top soil) menjadi hilang.

Laju pelapukan tanah memang susah diukur secara tepat, namun  dengan beberapa pendekatan, para pakar geologi telah sepakat bahwa  untuk membentuk lapisan tanah setebal 25 mm pada lahan-lahan alami  dibutuhkan waktu kurang lebih 300 tahun (Bennet, 1939). Waktu yang  diperlukan menjadi berkurang sangat drastis dengan adanya campur  tangan manusia, untuk membentuk lapisan tanah setebal 25 mm hanya  memerlukan waktu kurang lebih 30 tahun (Hudson, 1971). Berdasarkan  laju pembentukan tanah ini, maka batas laju yang dapat diterima adalah  1.1 kg/m2/tahun. Namun demikian penentuan batas laju erosi untuk  berbagai macam kondisi tanah akan berbeda, sebagaimana yang ditunjukkan pada Tabel 1.

2. Proses Erosi

Erosi merupakan proses alamiah yang tidak bisa atau sulit  dihilangkan sama sekali atau tingkat erosinya nol, khusunya untuk lahanlahan  yang diusahakan untuk pertanian. Tindakan yang dapat dilakukan  adalah mengusahakan supaya erosi yang terjadi masih di bawah ambang  batas yang maksimum (soil loss tolerance), yaitu besarnya erosi tidak melebihi laju pembentukan tanah (Suripin, 2001)

Menurut Suripin (2001) erosi terjadi melalui tiga tahap, yaitu tahap  pelepasan partikel tunggal dari masa tanah dan tahap pengangkutan oleh  media yang erosif seperti aliran air dan angin. Pada kondisi dimana energi  yang tersedia tidak lagi cukup untuk mengangkut partikel, maka akan terjadi tahap yang ketiga yaitu pengendapan.

Proses terjadinya erosi di suatu lereng dapat digambarkan dengan  suatu diagram pada Gambar 2 (Mayer dan Wishmeier, 1969) dalam  Hardjowigeno (1995). Untuk dapat terjadi erosi, tanah harus dihancurkan  oleh curah hujan dan aliran permukaan, kemudian diangkut ke tempat lain oleh curah hujan dan aliran permukaan.

Gambar 2. Diagram Proses Terjadinya Erosi Air (Meyer dan Wiscmeier, 1969 di dalam Hardjowigeno 1995)

Pada Gambar 2 dapat dilihat bahwa pada suatu bagian lereng  terdapat input bahan-bahan tanah yang dapat dierosikan yang berasal dari  lereng atas serta penghancuran tanah di tempat tersebut oleh pukulan curah  hujan dan pengikisan aliran permukaan. Kecuali itu terdapat output akibat  pengangkutan tanah oleh curahan air hujan dan aliran permukaan (run off).  Bila total daya angkut dari air tersebut (curahan air hujan + aliran  permukaan), lebih besar dari tanah yang tersedia, maka akan terjadi erosi.  Sebaliknya bila total daya angkut lebih kecil dari total tanah yang dihancurkan akan terjadi pengendapan di bagian lereng tersebut.

3. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Erosi

Beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya erosi yang terpenting  adalah curah hujan, tanah, lereng, vegetasi, dan manusia (Hardjowigeno, 1995).

a. Curah Hujan

Sifat hujan yang terpenting yang mempengaruhi besarnya erosi  adalah curah hujan. Intensitas hujan menunujukan banyaknya curah  hujan per satuan waktu (mm/jam atau cm/jam).

Kekuatan menghancurkan tanah dari curah hujan jauh lebih  besar dibandingkan dengan kekuatan pengangkut dari aliran permukaan (Hardjowigeno, 1995).

Hujan yang turun sampai ke permukaan tanah memiliki energi  kinetik yang dapat menghancurkan tanah (butir-butir tanah), sehingga  bagian-bagian tanah terhempas, hilang, dan hanyut oleh aliran  permukaan. Hilang atau terkikisnya lapisan tanah inilah yang disebut erosi.

b. Tanah

Sifat fisik tanah sangat berpengaruh terhadap besarnya erosi.  Kepekaan tanah terhadap erosi disebut erodibilitas. Semakin besar nilai  erodibilitas suatu tanah maka semakin peka tanah tersebut terhadap erosi (Hardjoamidjojo dan Sukartaatmadja, 1992).

Hardjowigeno (1995) menyebutkan sifat-sifat tanah yang  berpengaruh terhadap erosi adalah tekstur tanah, bentuk dan  kemantapan struktur tanah, daya infiltrasi atau permeabilitas tanah, dan  kandungan bahan organik. Nilwan (1987) menyebutkan sifat fisik  tanah yang mudah mengalami erosi adalah tanah dengan tekstur kasar  (pasir kasar), bentuk struktur tanah yang membulat, kapasitas infiltrasi  yang rendah, dan kandungan bahan organik kurang dari 2%.  Sedangkan sifat fisik tanah yang dapat menahan erosi adalah tanah  dengan tekstur halus (liat, debu, pasir, pasir halus, kapasitas  infiltrasinya besar, dan kandungan bahan organik yang besar untuk menambah kemantapan struktur tanah).

c. Lereng

Arsyad (2000) dan Hardjowigeno (1995) mengemukakan unsur  topografi yang paling berpengaruh terhadap erosi adalah panjang dan  kemiringan lereng. Erosi akan meningkat apabila lereng semakin  curam atau semakin panjang. Apabila lereng semakin curam maka  kecepatan aliran permukaan meningkat sehingga kekuatan mengangkut  semakin meningkat pula. Lereng yang semakin panjang menyebabkan volume air yang mengalir menjadi semakin besar.

d. Vegetasi

Menurut Hardjowigeno (1995) Pengaruh vegetasi terhadap erosi adalah :

  1. Menghalangi air hujan agar tidak jatuh langsung di  permukaan tanah, sehingga kekuatan tanah untuk menghancurkan dapat dikurangi ;
  2. Menghambat aliran permukaan dan memperbanyak air infiltrasi ;
  3. Penyerapan air ke dalam tanah diperkuat oleh tranpirasi (penguapan air) melalui vegetasi.

e. Manusia

Kepekaan tanah terhadap erosi dapat diubah oleh manusia  menjadi lebih baik atau lebih buruk. Pembuatan teras-teras pada tanah  yang berlereng curam merupakan pengaruh baik dari manusia karena  dapat mengurangi erosi. Sebaliknya penggundulan hutan di daerahdaerah   pegunungan merupakan pengaruh manusia yang buruk karena dapat menyebabkan erosi (Hardjowigeno,1995).

4. Pendugaan Erosi

Praktek-praktek bercocok tanam dapat merubah keadaan  penutupan lahan dan oleh karena itu dapat mengakibatkan terjadinya erosi  permukaan pada tingkat atau besaran yang bervariasi. Oleh karena besaran  erosi yang berlangsung ditentukan oleh intensitas dan bentuk aktifitas  pengelolaan lahan, maka perkiraan besarnya erosi yang terjadi akibat  aktifitas pengelolaan lahan tersebut perlu dilakukan. Dari beberapa metode  untuk memperkirakan besarnya erosi permukaan, metode Universal Soil  Loss Equation (USLE) adalah metode yang paling umum digunakan (Asdak, 1995).

Wischmeier dan Smith (1978) juga menyatakan bahwa metode yang  umum digunakan untuk menghitung laju erosi adalah metode Universal Soil Loss Equation (USLE). Adapun persamaan ini adalah:

A = R . K . L . S . C . P ………………………………………………………..(1)

dimana :

A : Jumlah tanah yang hilang rata-rata setiap tahun (ton/ha/tahun)
R : Indeks daya erosi curah hujan (erosivitas hujan)
K : Indeks kepekaan tanah terhadap erosi (erodibilitas tanah)
LS : Faktor panjang lereng (L) dan kemiringan lereng (S)
C : Faktor tanaman (vegetasi)
P : Faktor usaha-usaha pencegahan erosi (konservasi)

a. Erosivitas Hujan (R)

Erosivitas merupakan kemampuan hujan untuk menimbulkan  atau menyebabkan erosi. Indeks erosivitas hujan yang digunakan  adalah EI30. Erosivitas hujan sebagian terjadi karena pengaruh jatuhan  butir-butir hujan langsung di atas permukaan tanah. Kemampuan air  hujan sebagai penyebab terjadinya erosi adalah bersumber dari laju dan  distribusi tetesan air hujan, dimana keduanya mempengaruhi besar  energi kinetik air hujan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa  erosivitas hujan sangat berkaitan dengan energi kinetis atau  momentum, yaitu parameter yang berasosiasi dengan laju curah hujan atau volume hujan (Asdak, 1995).

Persamaan yang umum digunakan untuk menghitung erosivitas  adalah persamaan yang dikemukakan oleh Bols (1978) dalam Hardjowigeno (1995). Persamaan tersebut adalah :

dimana :

EI30 : Erosivitas curah hujan bulanan rata-rata
R12 : Jumlah E130 selama 12 bulan
R : Curah hujan bulanan (cm)
D : Jumlah hari hujan
M : Hujan maksimum pada bulan tersebut (cm)

Cara menentukan besarnya indeks erosivitas hujan yang lain  dapat menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Lenvain (DHV, 1989) sebagai berikut :

dimana :

R : Indeks erosivitas
P : Curah Hujan Bulanan (cm)

Cara menentukan besarnya indeks erosivitas hujan yang  terakhir ini lebih sederhana karena hanya memanfaatkan data curah hujan bulanan.

b. Erodibilitas Tanah (K)

Erodibilitas tanah merupakan jumlah tanah yang hilang ratarata  setiap tahun per satuan indeks daya erosi curah hujan pada sebidang tanah tanpa tanaman (gundul), tanpa usaha pencegahan erosi,  lereng 9% (5°), dan panjang lereng 22 meter (Hardjowigeno, 1995).  Faktor erodibilitas tanah menunjukan kekuatan partikel tanah  terhadap pengelupasan dan transportasi partikel-partikel tanah oleh  adanya energi kinetik air hujan. Besarnya erodibilitas tanah ditentukan  oleh karakteristik tanah seperti tekstur tanah, stabilitas agregat tanah,  kapasitas infiltrasi, dan kandungan bahan organik serta bahan kimia tanah.

Metode penetapan nilai faktor K secara cepat dapat dilihat pada  Tabel 2 dengan terlebih dahulu mengetahui informasi jenis tanah. Nilai  faktor K juga dapat diperoleh dengan menggunakan nomograf  erodibilitas tanah seperti yang ditunjukan pada Gambar 3. Nomograf  ini disusun oleh lima parameter yaitu % fraksi debu dan pasir sangat  halus, % fraksi pasir, % bahan organik, struktur tanah, dan permeabilitas tanah (Purwowidodo,1999).

Gambar 3. Nomograf Erodibilitas Tanah (United States Environmental Protection Agency, 1980 di dalam Asdak, 1995)

c. Faktor Panjang Lereng (L) dan Kemiringan Lereng (S)

Faktor lereng (LS) merupakan rasio antara tanah yang hilang  dari suatu petak dengan panjang dan curam lereng tertentu dengan  petak baku (tanah gundul,curamlereng 9%, panjang 22 meter, dan  tanpa usaha pencegahan erosi) yang mempunyai nilai LS = 1.

Menurut Weismeier dan Smith (1978) dalam Hardjoamijojo  dan Sukartaatmadja (1992), faktor lereng dapat ditentukan dengan persamaan :

dimana :

l = Panjang lereng (meter)
S = Kemiringan lahan (%)
m = Nilai eksponensial yang tergantung dari kemiringan
S < 1% maka nilai m = 0.2
S = 1 – 3 % maka nilai m = 0.3
S = 3 – 5 % maka nilai m = 0.4
S > 5% maka nilai m = 0.5

Selain menggunakan rumus di atas, nilai LS dapat juga ditentukan menurut kemiringan lerengnya seperti ditunjukan pada  Tabel 2 berikut .

d. Faktor Tanaman (C)

Faktor pengelolaan tanaman merupakan rasio tanah yang  tererosi pada suatu jenis pengelolaan tanaman terhadap tanah yang  tererosi dengan pada kondisi permukaan lahan yang sama tetapi tanpa  pengelolaan tanaman atau diberakan tanpa tanaman. Pada tanah yang  gundul (diberakan tanpa tanaman/petak baku) nilai C = 1.0. Untuk  mendapatkan nilai C tahunan perlu diperhatikan perubahan-perubahan  penggunaan tanah dalam setiap tahun. Besarnya nilai C pada beberapa kondisi dapat dilihat pada Lampiran 8 dan Tabel 3.

Terdapat sembilan parameter sebagai faktor penentu besarnya  nilai C, yaitu konsolidasi tanah, sisa-sisa tanaman, tajuk vegetasi,  sistem perakaran, efek sisa perakaran dari kegiatan pengelolaan lahan,  faktor kontur, kekasaran permukaan tanah, gulma, dan rumputrumputan (Asdak, 1985).

e. Faktor Usaha-usaha Pencegahan Erosi / Konservasi (P)

Faktor praktik konservasi tanah adalah rasio tanah yang hilang  bila usaha konservasi tanah dilakukan (teras, tanaman, dan sebagainya)  dengan tanpa adanya usaha konservasi tanah. Tanpa konservasi tanah  nilai P = 1 (petak baku). Bila diteraskan, nilai P dianggap sama dengan  nilai P untuk strip cropping, sedangkan nilai LS didapat dengan  menganggap panjang lereng sebagai jarak horizontal dari masingmasing  teras. Besarnya nilai P pada beberapa kondisi dapat dilihat  pada Tabel 4. Konservasi tanah tidak hanya tindakan konservasi secara  mekanis dan fisik, tetapi termasuk juga usaha-usaha yang bertujuan  untuk mengurangi erosi tanah. Penilaian faktor P di lapangan lebih  mudah apabila digabungkan dengan faktor C, karena dalam  kenyataannya kedua faktor tersebut berkaitan erat. Beberapa nilai  faktor CP telah dapat ditentukan berdasarkan penelitian di Jawa seperti  terlihat pada Lampiran 9. Pemilihan atau penentuan nilai faktor CP  perlu dilakukan dengan hati-hati karena adanya variasi keadaan lahan dan variasi teknik konservasi yang dijumpai di lapangan.

5. Klasifikasi Tingkat Bahaya Erosi (TBE)

Perkiraan erosi dan kedalaman tanah dipertimbangkan untuk  memprediksi Tingkat Bahaya Erosi (TBE) untuk setiap satuan lahan.  Kelas Tingkat Bahaya Erosi diberikan pada tiap satuan lahan dengan  matriks yang mengguanakan informasi solum tanah dan perkiraan erosi  menurut Rumus USLE. Kelas Tingkat Bahaya Erosi ditentukan dengan menggunakan matriks yang disajikan pada Tabel 5.

Keterangan :

0 – SR = Sangat Ringan
I – R = Ringan
II – S = Sedang
III – B = Berat
IV – SB = Sangat Berat

C. KEADAAN UMUM SITU BOJONGSARI

Situ Bojongsari merupakan situ terluas di Kota Depok. Secara  administratif Situ Bojongsari terletak di Kelurahan Sawangan (Sawangan  Lama), Kecamatan Sawangan, dengan letak geografisnya pada 6°23’15″  LS dan 106°45’13″ BT. Situ ini termasuk dalam lingkup administratif DAS  Angke yang memiliki tujuh muara (teluk), yang masing-masing teluknya  terletak di dukuh yang berbeda dalam Wilayah Kecamatan Sawangan. Situ  Bojongsari memiliki luas perairan 28.25 ha dengan kedalaman 3 – 4 meter,  terletak 70 meter dari permukaan laut. Perairan situ dikelilingi oleh areal  perkebunan pada sebelah selatan, permukiman di sebelah barat, areal  perkebunan di sebelah utara, dan terdapat sarana rekreasi di sebelah  timurnya. Selain itu terdapat padang golf (Club Golf Sawangan) pada bagian tenggara Situ Bojongsari.

Permukiman yang terdapat pada barat situ merupakan milik  penduduk sekitar dan usaha-usaha rumah makan dengan bangunan non  permanen. Beberapa bangunan diantaranya terletak sangat dekat dengan  danau, sehingga sering mendapat peringatan dari pemerintah daerah setempat  untuk memindahakan bangunannya karena dikhawatirkan dapat mengganggu  ekosistem situ/danau. Kolam-kolam ikan milik penduduk juga banyak  dijumpai di bagian utara dan barat Situ Bojongsari. Bahkan perairan pada  bagian barat dan utara ini kurang lebih 35 persen dipakai untuk tambak ikan yang diusahakan oleh pihak swasta.

Gambar 4. Kondisi Perairan Situ Bojongsari

Selanjutnya pada bagian selatan situ didominasi oleh perkebunan  milik penduduk sekitar dengan komoditas utama ketela pohon dan jagung.  Selain tanaman perkebunan, juga dijumpai beberapa areal sawah milik  penduduk dengan padi sebagai komoditas utamanya. Sawah ini mendapatkan air irigasi dari situ.

Bagian tenggara situ merupkan areal komersil yang dikelola oleh  pihak swasta. Di bagian tenggara ini terdapat lapangan golf dengan vegetasi  rumputnya yang tertata dengan baik. Lapangan golf ini bersebelahan dengan  hotel dan cottage yang sengaja dikelola oleh pihak swasta dengan memanfaatkan keindahan alam Situ Bojongsari.

Menurut Fakhruddin (1989), Situ Bojongsari terletak pada  ketinggian 70 meter dari permukaan air laut, dengan luas genangan air  tertinggi 28.25 Ha dan kedalaman maksimum 10 meter. Fluktuasi permukaan  air situ antara musim kemarau dan musim penghujan kurang lebih 1.2 meter dan waktu simpan air selama 27 hari.

Gambar 5. Kondisi Sekitar Situ Bojongsari

Gambar 6. Usaha Rumah Makan di Timur Situ Bojongsari Sebagai Sarana Rekreasi

Gambar 7. Vegetasi Ketela Pohon di Barat Daya Situ Bojongsari

Gambar 8. Cottage di Tengah Situ Bojongsari

Tepat di bagian utara situ terdapat check dam dengan panjang ± 7  meter dengan dua pintu air. Check dam dibangun pada tahun 1997, namun  pengoperasiannya kurang baik sehingga penggunaannya belum efektif  bahkan kondisi pintu airnya sudah tidak sempuran. Check dam ini dibuat  dengan tujuan untuk memudahkan pendistribusian air situ ke pemukiman  dan sawah/kebun milik penduduk sekitar. Oleh karena itu hendaknya  dilakukan perbaikan check dam agar dapat berfungsi optimal dan menambah  bangunan pengendali erosi lainnya seperti teras yang efektif untuk mencegah erosi longsor.

Situ Bojongsari merupakan suatu bentuk perairan yang bersifat  terbuka. Selain untuk irigasi penduduk, juga dimanfaatkan untuk aktivitas  harian seperti mencuci dan mandi. Perairan situ dikelilingi oleh kebun,  lapangan golf, permukiman, dan persawahan. Adanya sisa pupuk dan  sampah dari permukiman dapat menambah ketersediaan bahan organik dan  anorganik di perairan. Hal ini dapat memacu pertumbuhan makrofita sehingga dapat berakibat negatif.

Gambar 9. Kondisi Check Dam yang Tidak Terawat

Menurut Hartoto (1989a), selama bertahun-tahun selama musim  kemarau hampir 60% permukaan air situ tertutup oleh Salvinia sp, yang  biasanya berkurang selama musim hujan karena hanyut terbawa oleh arus  air. Pertumbuhan Salvinia sp selain ditentukan oleh sinar matahari , juga  ditentukan oleh ketersediaan unsur hara terutama N dan P. Pertumbuhan  Salvinia sp. merupakan petunjuk arus dalam suatu perairan relatif tenang . Secara umum lokasi Situ Bojongsari sangat kotor dan tak terawat.

Di bantaran-bantaran situ terdapat banyak sampah, baik sampah plastik  maupun seresah daun-daunan yang gugur. Maka tak heran kendati Situ  Bojongsari yang merupakan tempat wisata yang relatif murah dan mudah  terjangkau ini kurang menarik minat wisatawan lokal maupun asing. Bahkan  tanggul-tanggul yang dibuatpun sudah banyak yang rusak dan tidak  berfungsi lagi guna mencegah erosi dan sedimentasi. Selain itu, akses jalan  menuju Situ Bojongsari juga masih berupa tanah tanpa penutup, sehingga  dengan situasi curah hujan Kota Depok yang tinggi, maka jalan-jalan tanah  tersebut secara otomatis sering basah, becek, dan menyulitkan pengguna jalan yang ingin melewatinya.

Gambar 10. Kondisi Situ Bojongsari yang Tidak Terawat

D. KERUSAKAN SITU

Secara umum kondisi Situ Bojongsari memang terlihat masih bagus,  bahkan bagian selatan situ masih tampak alami belum terjamah aktifitas  manusia. Namun apabila kita tinjau dari parameter kerusakan-kerusakan  situ, maka saat ini Situ Bojongsari termasuk kategori situ kritis, yang  memerlukan pemulihan sesegera mungkin untuk mempertahankan fungsi optimal situ. Kerusakan di Situ Bojongsari sebagai berikut :

1. Sedimentasi

Perairan Situ Bojongsari kini sudah dipenuhi limbah rumah tangga  dan sampah yang berakibat pada pendangkalan situ. Limbah rumah tangga  diprediksi akan semakin bertambah dari tahun ke tahun akibat jumlah  permukiman ilegal yang bertambah. Belum lagi sumber mata air yang  sudah tertutup sedimen dan sampah. Selain itu, sedimentasi di Situ  Bojongsari terutama di bagian selatan hingga barat daya disebabkan terutama oleh aktifitas penduduk yang menanam singkong di tepi situ.

Selain itu, luas situ juga mulai menyusut dengan banyaknya  permukiman penduduk dan kolam pemancingan ikan atau empang. Situ  mengalami pendangkalan antara tiga dan lima meter sehingga harus dikeruk dengan kedalaman yang sama.

2. Vegetasi Enceng Gondok (Eichhornia crassipes)

Selain itu, perairan situ juga banyak ditumbuhi tumbuhan air  seperti enceng gondok ( Eichhornia crassipes ) dan Salvinia sp. Situ  Bojongsari hampir 60 % tertutup oleh Salvinia sp. Keadaan tersebut  apabila dibiarkan akan menimbulkan akibat negatif bagi perairan yaitu  mengurangi ketersediaan volume air karena evapotranspirasi dan  pendangkalan perairan karena pembusukan Salvinia s.p. Akibat  selanjutnya akan terjadi penipisan oksigen terutama di kolom air bagian  bawah, sehingga keadaan dapat menjadi anaerob. Sumber daya air yang  demikian ini jelas kurang bermanfaat. Dalam hal ini usaha restorasi perairan akan dapat meningkatan manfaatnya.

Gambar 11. Vegetasi Enceng Gondok di Perairan Situ Bojongsari

3. Erosi Longsor

Selanjutnya pada tepi / bantaran situ juga ditemui peristiwa erosi  longsor. Walaupun tidak semua tepi situ terjangkit erosi, namun apabila  hal ini dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan bantaran-bantaran lainnya akan tertular erosi serupa.

Gambar 12. Erosi Longsor pada Tebing Situ

III. METODOLOGI

A. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Situ Bojongsari, Kecamatan Sawangan,  Kota Depok. Waku penelitian dimulai Bulan November 2007 sampai dengan Bulan Pebruari 2008.

B. ALAT DAN BAHAN

Alat yang digunakan berupa komputer dengan program Microsoft  Office Excel dan program (software) ArcView 3.2 yang dibuat oleh ESRI (Environmental Systems Research Institute) untuk perhitungan.

Bahan yang digunakan berupa data sekunder dan peta-peta sebagai berikut :

  1. Data Curah Hujan DAS Ciliwung Tengah Tahun 1992 –2001
  2. Peta Jenis Tanah DAS Ciliwung Skala 1 : 20000000
  3. Peta Rupa Bumi Digital Indonesia Skala 1 : 25000

C. METODE PENELITIAN

1. Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam studi ini adalah data sekunder hasil  pengukuran yang berhubungan dengan erosi di Situ Bojongsari. Data  dikumpulkan melalui salinan atau turunan data/copy dari instansi yang  terkait melalui pengadaan dan pembelian data atau peta. Selain itu datadata  juga diperoleh dari akses internet. Sumber data yang akan digunakan  untuk penelitian dapat dilihat pada Tabel 8. Pengumpulan data dilakukan  pada Bulan Januari sampai Februari 2008. Jenis data yang diperlukan untuk melakukan analisa pekerjaan studi ini terdiri dari :

a. Curah Hujan

Data curah hujan yang dipakai adalah data curah hujan DAS  Ciliwung Tengah, kendati Situ Bojongsari termasuk dalam DAS  Angke. Data curah hujan DAS Ciliwung Tengah diukur dari stasiun  pengamatan Depok, sehingga sebaran curah hujan masih menjangkau  Situ Bojongsari. Ketersediaan data curah hujan selama 10 tahun mulai tahun 1992 hingga tahun 2001.

b. Peta Kontur

Peta kontur berupa peta rupa bumi Situ Bojongsari terbaru,  kondisi perairan, daerah pemukiman di sekitar, batas administratif, dan kenampakan artifisial lainnya.

Berdasarkan peta kontur ini akan dikaji untuk penentuan panjang dan kemiringan lahan (faktor L dan S).

c. Peta Jenis Tanah

Peta jenis tanah berupa peta yang menampakan jenis tanah di  wilayah Kota Depok tepatnya di Situ Bojongsari. Dengan mengetahui  jenis tanah, maka dapat digunakan untuk menentukan nilai K (erodibilitas tanah) dengan Tabel Nilai K.

d. Peta Penutupan Lahan Tahun 2001

Peta tata guna lahan digunakan untuk mengetahui kondisi  pemanfaatan lahan saat ini yang dapat digunakan untuk memonitor  pengembangan suatu aktifitas dalam land-form tersebut. Peta ini  biasanya dipakai untuk melakukan kajian terhadap rencana pengembangan suatu wilayah.

Pada pengukuran erosi dengan pendekatan USLE ini, peta tata  guna lahan berfungsi untuk menentukan faktor tanaman (C) dan faktor  konservasi tanah (P). Selain mengacu pada peta penutupan lahan, pada  penelitian kali ini faktor C dan faktor P juga ditentukan melalui  pengamatan langsung di lokasi penelitian dan juga wawancara dengan masyarakat sekitar.

2. Pengolahan Data

Penelitian ini dilakukan dengan mengikuti kerangka pendekatan  yang dapat dilihat pada gambar 13. Tahap awal penelitian adalah  pengumpulan data-data yang dibutuhkan dalam mendeskripsikan  permasalahan untuk memprediksi nilai erosi di Situ Bojongsari, yang  terdiri dari data hujan (curah hujan dan hari hujan) dan peta-peta. Tahap  selanjutnya mengolah data-data yang diperlukan untuk dipakai dalam  perhitungan pendekatan USLE guna memprediksi besarnya erosi. Tahap-tahap pengolahan data selengkapnya sebagai berikut:

a. Menghitung nilai R (erosivitas hujan) menggunakan rumus yang  dikemukakan oleh Lenvain (DHV, 1989) sebagai berikut :

dimana :

R : indeks erosivitas
P : curah hujan bulanan (cm)

b. Dari berbagai rumus perhitungan erosivitas, pada kasus ini dipilih  rumus di atas karena data curah hujan yang tersedia hanya data curah hujan bulanan.

c. Menentukan nilai K (erodibilitas tanah) berdasarkan jenis tanah,  bersumber pada nilai K yang terdapat pada Lampiran 7. Jenis tanah diperoleh berdasarkan Peta Jenis Tanah DAS Ciliwung.

d. Menentukan Nilai LS, bersumber pada nilai LS pada Tabel 2. Sebelum  menentukan besarnya nilai LS, harus diketahui terlebih dahulu  kemiringan lereng. Kemiringan lereng pada penelitian ini diperoleh dari Peta Kontur DAS Ciliwung.

e. Menentukan nilai CP. Nilai CP dapat dicari dengan menentukan faktor  C dan P masing-masing atau digabungkan sekaligus menjadi faktor  CP. Pada penelitian ini, karena faktor CP diperoleh melalui  pengamatan langsung di lapangan, maka penentuan nilai CP dilakukan  dengan dua cara di atas disesuaikan dengan kondisi di lapangan.  Selanjutnya nilai CP atau C dan P dapat dilihat pada Tabel 3, Tabel 4, Lampiran 7, dan Lampiran 9.

f. Selanjutnya nilai A (jumlah kehilangan tanah maksimum) dapat
dihitung sesuai dengan Rumus USLE

A = R . K . L . S . C . P

dimana :

A : Jumlah tanah yang hilang rata-rata setiap tahun (ton/ha/tahun)
R : Indeks daya erosi curah hujan (erosivitas hujan)
K : Indeks kepekaan tanah terhadap erosi (erodibilitas tanah)
LS : Faktor panjang lereng (L) dan kemiringan lereng (S)
C : Faktor tanaman (vegetasi)
P : Faktor usaha-usaha pencegahan erosi (konservasi)

g. Menghitung luas Daerah Tangkapan Air (DTA) di sekeliling Situ  Bojongsari dengan memplotkan hasil penelusuran DTA melalui kontur peta top pada milimeter block.

h. Selanjutnya dengan informasi solum tanah, dapat ditentukan Tingkat Bahaya Erosi (TBE).

i. Setelah itu dilakukan pendugaan kemungkinan umur Situ Bojongsari  dengan terlebih dahulu mengukur luas Situ Bojongsari dan menghitung volumenya.

Gambar 13. Diagram Alir Pendugaan Nilai Erosi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. PERHITUNGAN EROSI

Berdasarkan persamaan USLE (Universal Soil Loss Equation), faktorfaktor  erosi yang akan dihitung meliputi faktor erosivitas hujan (R), faktor  erodibilitas (K), faktor panjang dan kemiringan lereng (LS), dan faktor pengelolaan tanaman dan usaha pencegahan erosi (CP).

1. Faktor Erosivitas (R)

Data curah hujan yang digunakan untuk menghitung faktor erosivitas  diperoleh dari data curah hujan DAS Ciliwung Tengah. Secara  administratif Situ Bojongsari masuk dalam lingkup DAS Angke. Namun,  kendati demikian data curah hujan DAS Ciliwung Tengah tetap dapat  dipakai dalam penelitian ini karena data curah hujan diukur dan diolah  oleh stasiun klimatologi Depok. Karena sebaran data curah hujan yang  diambil dari suatu stasiun memiliki sebaran sampai 30 km. Curah hujan  rata-rata bulanan untuk DAS Ciliwung Tengah berkisar antara 168 mm  sampai dengan 377 mm, dengan curah hujan tertinggi terjadi pada Bulan November dan terendah pada Bulan Juli.

Curah hujan mempunyai peranan yang cukup tinggi terhadap erosi  tanah yang terjadi. Pada daerah yang berlereng terjal, erosivitas hujan yang tinggi sangat berpengaruh terhadap besarnya erosi.

Masukan data curah hujan terdiri dari jumlah curah hujan bulanan  selama 10 tahun dari tahun 1992 sampai tahun 2001. Sehingga setelah  dilakukan perhitungan diperoleh nilai erosivitas seperti yang ditunjukkan oleh Tabel 7.

Untuk lebih mudah mengetahui peningkatan maupun penurunan nilai  erosivitas hujan dari tahun 1992 hingga 2001 di DAS Ciliwung Tengah dapat dilihat pada grafik pada Gambar 14.

Gambar 14 . Grafik Erosivitas Hujan DAS Ciliwung Tengah

2. Faktor Erodibilitas (K)

Berdasarkan peta jenis tanah pada Gambar 15, maka Situ Bojongsari  termasuk kawasan yang memiliki jenis tanah latosol coklat kemerahan.  Tanah latosol secara umum memiliki bahan induk berupa batuan vulkanik  bersifat intermedier, yaitu batuan dengan kadar Besi (Fe) dan Magnesium  (Mg) cukup tinggi. Tanah jenis ini bersolum dalam, pH agak tinggi, dan memiliki kepekaan terhadap erosi rendah.

Gambar 15. Peta Tanah DAS Ciliwung (Departemen Pekerjaan Umum Kota Administratif Depok)

Selanjutnya setelah mengetahui jenis tanah, maka nilai erodibilitas  (K), dapat diketahui pada Lampiran 7. Sehingga didapat nilai K untuk daerah Situ Bojongsari sebesar 0.121.

3. Faktor Panjang dan Kemiringan Lereng (LS)

Untuk Faktor Panjang dan Kemiringan Lereng (LS) ditentukan  dengan menggunakan Peta Sebaran Kelas Kelerengan DAS Ciliwung,  kemudian nilai LS dapat diperoleh melalui Tabel 2. Secara umum wilayah  Kota Depok di bagian utara merupakan daerah dataran tinggi, sedangkan di  bagian selatan merupakan daerah perbukitan bergelombang lemah.  Berdasarkan atas elevasi atau ketinggian garis kontur, maka bentang alam  daerah Depok dari selatan ke utara merupakan daerah dataran rendah –  perbukitan bergelombang lemah. Bentuk kemiringan suatu wilayah sangat  menentukan jenis penggunaan lahan, intensitas penggunaan lahan dan kepadatan bangunan.

Gambar 16. Peta Digitasi Kelas Kelerengan DAS Ciliwung

Dari Peta Kelas Kelerengan DAS Ciliwung, dapat diketahui bahwa  Situ Bojongsari terletak pada kemiringan lahan yang beragam dari 0 – 50  %. Pada penelitian ini, kelas kemiringan ditentukan berdasarkan peta  kontur DAS Ciliwung (lembar Cibinong) yang diolah dengan program Arc  View 3.2. Berdasarkan bentuk topografinya, areal DAS Ciliwung  dikelompokan menjadi 5 kelas kemiringan (s) yaitu 0 – 5 %, 5 – 15 %, 15  – 35 %, 35 – 50 %, dan > 50 %. Nilai indeks LS berkisar antara 0.25 sampai 12.

Gambar 17. Pembagian Kelas Kelerengan Situ Bojongsari

Faktor panjang dan kemiringan lereng merupakan sumber terjadinya  kesalahan yang terbesar dalam perhitungan erosi. Hal ini disebabkan oleh  penggunaan peta untuk mendapatkan nilai panjang dan kemiringan lereng.  Peta yang digunakan memberikan informasi terlalu umum, sehingga  untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, nilai LS harus ditentukan berdasarkan pengukuran di lapangan.

4. Faktor Pengelolaan Tanaman dan Usaha Pencegahan Erosi (CP)

Faktor Pengelolaan Tanaman dan Usaha Pencegahan Erosi dapat  diketahui dari Peta Tata Guna Lahan atau Peta Penutupan Lahan dan  pengamatan langsung di lapangan, kemudian nilai dari faktor CP dapat diperoleh dari Tabel 3, Tabel 4, Lampiran 8, dan Lampiran 9.

Pada penelitian ini faktor CP diketahui langsung dengan melakukan  pengamatan di lokasi penelitian. Hal ini dilakukan agar nilai CP yang  didapat benar-benar aktual atau kondisi terkini di lokasi, sehingga  diharapkan nilai hasil pendugaan erosi memiliki tingkat keakuratan yang  tinggi. Nilai C dan P harus diteliti secara intensif dan dipetakan lebih  terperinci dengan menggunakan interprestasi foto udara dan kerja  lapangan. Setelah melakukan pengamatan di lapangan, maka diperoleh  hasil bahwa faktor C dan P di bantaran sekeliling Situ Bojongsari  berbeda-beda. Vegetasi sekaligus praktik konservasi yang terdapat di sekeliling Situ Bojongsari ditunjukkan pada Gambar 19.

Gambar 18. Vegetasi di Barat Daya Situ Bojongsari

Tepat di barat daya perairan Situ Bojongsari. Terdapat banyak  perkebunan terutama singkong dan kacang tanah milik penduduk sekitar  yang ditanam di pinggir situ. Terdapat juga tanaman kebun lainnya seperti  jagung dan pisang, namun jumlahnya hanya sedikit. Padahal seperti yang  diketahui, bahwa tanaman seperti ubi kayu atau singkong dan kacang  tanah apabila ditanam di areal yang rawan erosi, maka akan meningkatkan  resiko erosi, karena akar tanaman yang kurang kuat menahan air dan  tradisi masyarakat Indonesia yang menanam singkong atau kacang tanah dengan jarak tanam yang relatif jarang.

Di bagian tengah atau lekukan situ juga merupakan area komersil  berupa hotel dan cottage lengkap dengan berbagai fasilitasnya. Kendati  telah dibangun hotel/cottage, namun pada pinggiran situ masih tampak  jelas semak dan sebagian rumput yang mungkin oleh pengelola hotel  sengaja dibiarkan tumbuh liar untuk memberikan kesan natural pada  pengunjung hotel maupun cottage. Vegetasi semak dengan sebagian  rumput menyebar tidak hanya di tengah (lekukan situ), tetapi juga dijumpai di bagian barat laut hingga utara situ.

Selanjutnya di selatan Situ Bojongsari merupakan padang golf  komersil dengan penutupan lahan berupa rumput golf dengan penutupan  sempurna dan tentu saja dapat dipastikan rumput-rumput tersebut terawat  dengan baik. Maka pada wilayah ini, penentuan nilai C dan P tidak  dilakukan masing-masing, namun sekaligus dalam bentuk CP sesuai  kondisi lahan. Sehingga dapat dipastikan dengan penutupan lahan yang  begitu sempurna dengan vegetasi rumputnya, areal ini cenderung mengalami tingkat erosi yang rendah.

Gambar 19. Vegetasi di Daerah Tangkapan Air Situ Bojongsari

Selanjutnya di bagian tenggara hingga timur Situ Bojongsari adalah  sarana rekreasi. Kendati bertajuk sarana rekreasi, namun lokasi ini tampak  sepi. Menurut masyarakat sekitar, lokasi ini hanya ramai pada hari libur,  itupun pengunjung tidak banyak seperti tempat wisata pada umumnya.  Aktivitas yang kental terlihat di lokasi ini adalah banyaknya para pencari  ikan baik dengan jala maupun sekedar menyalurkan hobi memancing,  sebab di Situ Bojongsari terkenal dengan hasil ikan air tawar yang  melimpah yang oleh masyarakat sekitar disebut ikan melem. Karena  memang direncanakan sebagai tempat wisata, maka lokasi ini sangat sejuk  oleh pohon-pohon akasia yang ditanam di pinggiran situ disertai dengan  penutupan rumput yang tidak sempurna, karena mungkin tidak dirawat dengan baik.

Kemudian di bagian utara hingga timur laut pada Gambar 19  merupakan areal yang penuh dengan alang-alang dan sebagian rumput.  Menurut penuturan masyarakat sekitar, rumput-rumput di daerah ini sering  dibabat penduduk untuk pakan ternak. Vegetasi yang dominan di bantaran  situ daerah ini adalah perumputan dengan penutupan tanah sebagian dan  ditumbuhi alang-alang. Untuk lokasi barat hingga barat laut Situ  Bojongsari memiliki jenis vegetasi yang sama dengan lokasi tengah atau lekukan situ .

5. Perhitungan Nilai Laju Erosi (A)

Setelah parameter-parameter dalam persamaan USLE telah  ditentukan nilainya, maka besanya erosi di Situ Bojongsari dapat  diperkirakan dengan mengkalikan faktor-faktor erosi melalui persamaan berikut :

A = R x K x LS x CP

dimana :

A : Jumlah tanah yang hilang rata-rata setiap tahun (ton/ha/tahun)
R : Indeks daya erosi curah hujan (erosivitas hujan)
K : Indeks kepekaan tanah terhadap erosi (erodibilitas tanah)
LS : Faktor panjang lereng (L) dan kemiringan lereng (S)
C : Faktor tanaman (vegetasi)
P : Faktor usaha-usaha pencegahan erosi (konservasi)

Gambar 20 . Deretan Pohon Akasia dan Rumput di Timur Situ Bojongsari

Gambar 21. Erosi Longsor di Bantaran Situ Bojongsari

Perhitungan erosi di Situ Bojongsari ini, dibagi dalam lima wilayah  erosi (zonasi) berdasarkan faktor vegetasi (C) dan konservasi (P) seperti  yang terlihat pada Gambar 19. Perbedaan vegetasi dan konservasi  ditunjukan oleh perbedaan warna.

Untuk lebih memudahkan dalam pengolahan data, maka masingmasing  lokasi akan disimbolkan dengan angka 1 – 5, yang urutannya adalah :

Zona warna coklat : Lokasi 1
Zona warna ungu : Lokasi 2
Zona warna oranye : Lokasi 3
Zona warna hijau : Lokasi 4
Zona warna abu-abu : Lokasi 5

Pembagian lima daerah erosi akan disajikan pada Tabel 8 – Tabel 12 berikut.

 

Pada lokasi 3, memiliki tingkat kemiringan lereng yang seragam.  Terdapat tiga kelas kemiringan lereng pada lokasi ini, yaitu 0 – 5 %, 15 –  35 %, dan 35 – 50 %. Sehingga untuk memperoleh nilai LS total sebagai berikut :

Untuk lokasi 1 memili kemiringan lereng yang sama yaitu 35-50  %. Selanjutnya pada lokasi 2 kemiringan lereng seragam antara 0 – 5  %.Kondisi yang sama juga terdapat di lokasi 4 dan lokasi 5 yang memilki  kemiringan lereng yang sama. Hasil perhitungan nilai total laju kehilangan tanah selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 13.

6. Klasifikasi Tingkat Bahaya Erosi (TBE)

Setelah nilai erosi dari kelima lokasi diperoleh, selanjutnya melalui  informasi solum tanah dapat diketahui Tingkat Bahaya Erosi (TBE).  Tanah di sekitar Situ Bojongsari termasuk jenis tanah latosol yang  mempunyai solum tanah > 90 cm (Djunaedi, 1999 dan Soil Staff, 1999).  Selanjutnya TBE dapat diketahui dari Tabel 5. Sehingga diperoleh Kelas  Tingkat Bahaya Erosi untuk lima zona erosi di sekeliling Situ Bojongsari Tabel 17.

Dari Tabel 15 perhitungan di atas didapat nilai rata-rata kehilangan  tanah di lima lokasi yang mengelilingi Situ Bojongsari berdasarkan batas  Daerah Tangkapan Air (DTA) seperti yang ditunjukkan pada Gambar 19.  Kelima lokasi ini diduga dapat menyebabkan erosi di sekitar situ, sehingga  dalam kurun waktu beberapa tahun mendatang apabila tidak segera  dilakukan aksi tindak pencegahan erosi maka akan menyebabkan sedimentasi situ.

Dari perhitungan nilai A dan klasifikasi tingkat bahaya erosi dapat  diketahui bahwa nilai kehilangan tanah yang paling kecil berada di lokasi  5. Lokasi 5 merupakan areal dengan vegetasi perumputan dengan  penutupan tanah sebagian dan ditumbuhi alang-alang tepatnya pada bagian  utara hingga timur laut Situ Bojongsari dengan total kehilangan tanah  22.66 ton/tahun. Nilai erosi yang kecil terjadi karena vegetasi perumputan  dan alang-alang dapat menyerap air hujan yang jatuh ke tanah, selain itu  zona ini ditunjang dengan luas petak daerah tangkapan air yang kecil dan  kemiringan yang landai. Sehingga kemungkinan tanah yang terbawa aliran  permukaan masuk ke dalam situ sedikit. Nilai erosi yang juga terbilang  kecil juga terdapat pada lokasi 2 yang merupakan padang golf dengan  vegetasi penutup sekaligus konservasi perumputan yang sempurna.  Sehingga dengan curah hujan di wilayah Depok yang relatif tinggi setiap  tahunnya, air hujan yang turun dapat diserap sempurna oleh vegetasi  rumput tanpa harus terjadi aliran permukaan yang membawa pecahanpecahan  tanah ke perairan situ. Selain itu nilai kehilangan tanah yang kecil  ini, juga akibat kemiringan lereng yang landai yaitu berkisar antara 0 – 5  %. Dengan kemiringan lereng yang landai, maka dapat dipastikan apabila  terjadi pengangkutan partikel tanah akibat erosi, tanah tidak langsung  dengan mudah jatuh ke perairan. Sehingga nilai persentasi kemiringan yang kecil ini akan memperkecil resiko erosi.

Sedangkan total kehilangan tanah terbesar terdapat di lokasi 1 yaitu  kawasan barat daya Situ Bojongsari dengan nilai erosi 4969.84 ton/tahun.  Lokasi 1 memiliki kemiringan lereng sangat curam berkisar antara 35 – 50  %. Selain itu dengan vegetasi berupa ubi kayu dan kacang tanah yang  ditanam dengan jarak tanam yang lebar (jarang), menyebabkan tanah di  sekitar situ menjadi rawan terjangkit erosi. Faktor utama yang  menyebabkan lokasi ini masuk dalam kategori erosi berat karena cakupan luas daerah tangkapan airnya yang luas, sehingga resiko erosi tinggi.

Lokasi 3 dengan vegetasi semak dan rumput termasuk kelas erosi  sedang. Lokasi ini memiliki kemiringan lereng yang beragam, yaitu 0 – 5  %, 15 – 35 %, 35 – 50 %. Padahal apabila ditinjau dari vegetasi dan faktor  konservasinya, seharusnya zona 3 dengan semak dan sebagian rumputnya  mampu menjadi daerah resapan air yang baik. Namun, vegetasi dan konservasi yang baik tanpa didukung oleh persentase kemiringan yang  kecil juga dapat meningkatkan resiko erosi. Karena perhitungan erosi  dengan metode USLE ini merupakan perpaduan dari seluruh faktor erosi  yaitu hujan, erodibilitas, faktor kelas lereng, faktor vegetasi serta  konservasi, dan luas daerah tangkapan air. Faktor-faktor ini saling terkait satu dan lainnya.

Selanjutnya lokasi 4 yaitu daerah tenggara hingga timur Situ  Bojongsari, yang merupakan areal dengan vegetasi dan praktik konservasi  yang kurang baik. Apabila kita meninjau hanya dari faktor CP, maka  lokasi 4 inilah wilayah yang sangat rawan terhadap erosi. Karena areal ini  ditujukan untuk objek wisata, maka dapat dipastikan jumlah bangunanbangunan  komersil seperti warung, panggung hiburan, MCK akan lebih  banyak dibanding vegetasi penutupnya. Vegetasi yang diusahakan di areal  ini adalah pohon akasia dengan penutupan rumput yang kurang rapat  (jelek). Ditambah lagi dengan aktivitas pengunjung objek wisata yang  gemar menginjak rumput, membuang sampah sembarangan, bahkan  melakukan kegiatan bakar jagung/ubi di tepi situ. Kegiatan-kegiatan ini  secara tak langsung memberikan resiko erosi yang lebih tinggi lagi. Selain  itu pada zona 4 memiliki cakupan daerah tangkapan air yang luas yaitu  sebesar 46.25 ha. Namun, pada perhitungan prediksi erosi yang dilakukan  nilai total kehilangan tanah lokasi 4 ini relatif kecil dan masuk dalam kelas  erosi ringan. Hal ini dapat terjadi karena lokasi 4 didukung oleh  kemiringan lereng yang relatif landai berkisar antara 0 – 5 %, sehingga dapat memperkecil resiko erosi.

Penyebaran luas untuk kelas TBE yang tergolong sangat ringan  terjadi pada kelas kelerengan 0-5 % dan kelas sedang pada kelas  kelerengan 15-35 %, sedangkan kelas erosi berat terjadi pada kelas kelerengan 35-50 %.

Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa areal di sekeliling Situ Bojongsari masih dalam kondisi relatif aman terhadap bahaya erosi dan sedimentasi. Hal ini juga diperkuat dengan perhitungan kemungkinan
umur Situ Bojongsari.

Pendugaan umur situ dilakukan dalam rangka memprediksi sampai  kapan suatu situ dalam kondisi bagus secara ekosistem dan merencanakan praktik konservasi yang harus dilakukan umtuk memperpanjang umur situ.

Penentuan umur situ dimulai dengan terlebih dahulu menghitung  kedalaman situ. Situ Bojongsari memiliki kedalaman yang beragam antara  3 – 10 meter. Pada pengukuran kedalaman Situ Bojongsari diwakili tiga  titik kedalaman. Selanjutnya dengan informasi luas Situ Bojongsari dapat  dicari volume situ. Setelah volume diketahui maka selanjutnya umur Situ  Bojongsari dapat diketahui dengan membagi nilai volume situ dengan jumlah erosi di lima zona erosi . Perhitungan sebagai berikut.

Kondisi Situ Bojongsari

Diketahui :

h1 = 3 meter
h2 = 4 meter
h3 = 10 meter
hrata2 = 5.67 meter
A = 28.25 ha = 282500 m2

Maka, Volume Situ = A X hrata2

= 282500 m2 X 5.67 meter
= 1601775 m3

Volume Sedimen (Vs)

Jumlah erosi Situ Bojongsari = Σ erosi zona 1-7

= 9200.19 ton / tahun

Berdasarkan hasil pengambilan contoh sedimen dari beberapa penelitian  sedimen di daerah Jawa oleh Puslitbang Pengairan Bandung, diambil nilai  rata-rata konsentrasi sedimen (ρ) 1.21 gr/cm3. Sehingga volume sedimen (Vs) Situ Bojongsari 7601 m3/tahun.

Sehingga kemungkinan umur Situ Bojongsari

= Volume Situ / Vs
= 1601775 m3 / 7603.46 m3/tahun
= 210.66 tahun ≈ 211 tahun

Dari prediksi tersebut umur Situ Bojongsari mampu mencapai 211 tahun. Hasil ini bukan merupakan nilai mutlak. Nilai ini hanya berupa prediksi, karena pada hakekatnya umur situ juga tergantung dari aktivitas manusia di sekelilingnya dan kemauan manusia untuk mengelola lingkungan hidup. Bukan tidak mungkin, umur situ lebih pendek dari prediksi perhitungan akibat perilaku masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungan.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian terhadap pendugaan erosi yang dilakukan di Situ Bojongsari, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

  1. Situ Bojongsari memiliki tujuh muara dengan luas genangan airnyasebesar 28.25 Ha.
  2. Kedalaman rata-rata Situ Bojongsari adalah 3-4 m.
  3. Situ Bojongsari terletak pada ketinggian 70 m dari permukaan laut.
  4. Fluktuasi permukaan air situ antara musim kemarau dan musim penghujan kurang lebih 1.2 meter dan waktu simpan air selama 27 hari.
  5. Kondisi Situ Bojongsari sudah mengalami penurunan. Kerusakan yang terindikasi di Situ Bojongsari adalah pendangkalan dasar situ, penyempitan luas situ, pencemaran air, dan adanya vegetasi enceng gondok hampir memenuhi 60% perairan.
  6. Laju erosi rata-rata yang terjadi di Situ Bojongsari dihitung dengan metode zonasi yang terbagi dalam lima wilayah erosi (zona erosi) berdasarkan perbedaan faktor lereng (LS) dan faktor vegetasi, cakupan daerah tangkapan air, serta faktor konservasi (CP). Laju erosi di lokasi 1 sebesar 300.111 ton/ha/tahun, lokasi 2 dengan laju erosi 0.806 ton/ha/tahun, lokasi 3 sebesar 118.303 ton/ha/tahun, lokasi 4 sebesar 10.315 ton/ha/tahun, di lokasi 5 nilai laju erosinya 1.612 ton/ha/tahun.
  7. Berdasarkan perhitungan cakupan daerah tangkapan pada masingmasing zona maka dapat diketahui bahwa nilai erosi terbesar yang tergolong kelas erosi berat terdapat pada lokasi 1 sebesar 4969.84 ton/ha. Sedangkan nilai erosi terkecil terdapat pada lokasi 5 yang tergolong kategori erosi sangat ringan sebesar 22.66 ton/ha.
  8. Penyebaran luas untuk kelas TBE yang tergolong sangat ringan terjadi pada kelas kelerengan 0-5 % dan sedang pada kelas kelerengan 15-35 %, sedangkan kelas erosi berat terjadi pada kelas kelerengan 35-50 %. Sehingga dapat disimpulkan bahwa areal di sekeliling Situ Bojongsari masih dalam kondisi relatif aman terhadap bahaya erosi dan sedimentasi. Hal ini juga diperkuat dengan perhitungan kemungkinan umur Situ Bojongsari.
  9. Faktor penyebab erosi terbesar pada Situ Bojongsari karena tanah yang terbawa aliran permukaan akibat vegetasi di sekitar situ tidak dapat menahan aliran permukaan serta jarak tanam yang terlalu jauh (kurang rapat).
  10. Umur Situ Bojongsari mampu mencapai 211 tahun. Hasil ini bukan merupakan nilai mutlak. Nilai ini hanya berupa prediksi, karena pada hakekatnya umur situ juga tergantung dari aktivitas manusia di sekelilingnya dan kemauan manusia untuk mengelola lingkungan hidup. Bukan tidak mungkin, umur situ lebih pendek dari prediksi perhitungan akibat perilaku masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungan.
  11. Untuk mencegah terjadinya erosi maka perlu dilakukan reboisasi di sekitar situ dan pembuatan bangunan penangkal erosi.
  12. Untuk mengatasi masalah sedimentasi yang telah menumpuk di Situ Bojongsari, maka perlu diadakan pengerukan terhadap lapisan lumpur yang berada di dasar situ. Waktu yang tepat untuk melakukan pengerukan sedimentasi adalah pada akhir musim kemarau, karena lumpur akan mudah dibuang. Selain itu juga menjelang musim hujan, saat air hujan pada awal musim hujan dapat menjadi pencuci situ.

B. SARAN

Dalam rangka peningkatan pelestarian dan pemulihan Situ Bojongsari serta untuk penelitian-penelitian selanjutnya, maka perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut :

  1. Pada tanah yang tererosi berat dan sangat berat perlu diupayakan usaha konservasi lahan baik secara mekanis maupun vegetatif.
  2. Diperlukan adanya Kebijakan Pemerintah Daerah dalam kegiatan pemeliharaan dan pemulihan kerusakan Situ Bojongsari
  3. Perlu adanya tata ruang dan batas bantaran Situ Bojongsari yang kemudian menjadi Perda (Peraturan Daerah) agar kerusakan dapat dihindarkan sehingga kelestarian situ dapat dijaga.
  4. Kepada masyarakat yang bermukim di sekitar Situ Bojongsari hendaknya lebih peduli terhadap ekosistem situ dengan selalu menjaga kebersihan dan keindahan situ.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, S. 2000. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press. Bogor

Asdak, C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University Press. Jogjakarta.

Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah. 1986. Petunjuk Pelaksanaan Penyusunan RTL-RLKT. Departemen Kehutanan RI. Jakarta.

BAKOSURTANAL. 1998. Peta Rupa Bumi Digital Indonesia Skala 1 : 25000. Cibinong. Bogor

Direktorat Jendral Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. 1998. Pedoman Penyusunan Rencana Teknik Lapangan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Daerah Aliran Sungai. Departemen Kehutanan RI. Jakarta.

Ekaputri, Erlinda. 2003. Menentukan Kerusakan Resapan Secara Kuantitatif Pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung dengan Metode Analisa Resesi Aliran Dasar (Base Flow Resession Analysis). Skripsi. Jurusan Teknik Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor.

Haeruman, H. 1999. Kebijaksanaan Pengelolaan Danau Dan Waduk Ditnjau Dari Aspek Tata Ruang, Seminaloka Nasional Pengelolaan Dan Pemanfaatan Danau Dan Waduk. PPLH-LP. IPB.Bogor.23 hal.

Hardjoamidjojo, S. dan Sukartaatmadja, S. 1992. Teknik Pengawetan Tanah dan Air. JICA IPB. Bogor.

Haerdjowigeno, S. 1995. Ilmu Tanah. Akademika Presindo. Jakarta.

Hendrawan, H. 2004. Aplikasi Sistem Informasi Geografi (SIG) Untuk Pendugaan Erosi dengan Pendekatan USLE (Universal Soil Loss Equation) di Sub- DAS Cimuntur, Ciamis. Skripsi. Jurusan Teknik Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor.

Hotib dan I Nyoman Suryadiputra. 1998. Situ-situ di Jabotabek dan Permasalahannya . Warta Konservasi Lahan Basah. Vol. 7 (1): 6-7

http:/dithias.hortikultura.go.id. Diakses tanggal 4 Pebruari 2008

http:/portal pemerintahan depok.wordpress.com. Diakses tanggal 24 Januari 2008

http:/satriadharma.wordpress.com. Diakses tanggal 30 Januari 2008

http:/www.asiamaya.com. Diakses tanggal 30 Januari 2008

http:/www.bakosurtanal.go.id. Diakses tanggal 30 Januari 2008

http:/www.depok.go.id. Diakses tanggal 24 Januari 2008

http:/www.indonesianestate.com. Diakses tanggal 24 Januari 2008

Indrawati. 2000. Kajian Erosi DAS Citarum Hulu Terhadap Sedimentasi Waduk Saguling, Jawa Barat. Skripsi. Jurusan Geofisika dan Meteorologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. IPB. Bogor.

Ispriyanto, R. 2001. Erosi di Areal Tumpangsari Tegakan Pinus merkussi Jungh et de Vriese Umur 1 tahun (Studi Kasus di KPH Tasikmalaya, Perum Perhutani Unit III Jawa Barat). Skripsi. Jurusan Manajemen Hutan. Fakultas Kehutanan. IPB. Bogor.

Murdis, R. 1999. Pendugaan Erosi dengan Pendekatan USLE (Universal Soil Loss Equation) Menggunakan SIG (Sistem Informasi Geografi) di Sub-DAS Ciwidey, Bandung. Skripsi. Jurusan Teknik Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor.

Nilwan. 1987. Pendugaan Besar Erosi dan Daya Angkutan Sedimen pada Daerah Aliran Sungai Citarum Hulu. Skripsi. Jurusan Teknik Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor.

Purwowidodo. 1999. Pokok-pokok Bahasan Konservasi Tanah di Kawasan Hutan. Laboratorium Pengaruh Hutan. Fakultas Kehutanan. IPB. Bogor.

Rahim, S.E. 2000. Pengendalian Erosi Tanah Dalam Rangka Pelestarian Lingkungan Hidup. Bumi Aksara. Jakarta

Suripin. 2001. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Penerbit ANDI.Yogyakarta

Wasfi, A.2002. Tingkat Kesuburan Situ Rawa Besar Depok Berdasarkan Kandungan unsur hara N dan P. Skripsi. Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan.IPB, Bogor.

Zachar, D. 1982. Soil Erosion. Elsevier Scientific Publishing Company. Amsterdam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: