Berita 2003

23,14 Ha Badan Air Danau di Depok Hilang karena Diserobot

Kompas,  06 Juli 2003 (Kompas Online, 2003-07-05)

Sumber: http://www.suriani.co.cc/

Depok, Kompas – Sebanyak 23,14 hektar atau 15 persen badan air danau (biasa disebut situ) di wilayah Kota Depok selama ini telah hilang karena pendangkalan dan penyerobotan. Selain itu, 15 dari 22 situ yang sangat penting sebagai sumber cadangan air bagi kawasan Jakarta kini dalam keadaan rusak berat.

Kepala Subbagian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) Bagian Lingkungan Hidup Pemerintah Kota Depok Kania Parwanti, Jumat (4/7), menyatakan, dua situ bahkan telah hilang sama sekali. Kedua situ itu adalah Situ Ciming di Kelurahan Baktijaya, Kecamatan Sukmajaya, dan Situ Pasirputih di Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan.

Kerusakan situ-situ itu terjadi karena berbagai sebab, antara lain kerusakan lingkungan dan eksploitasi oleh penduduk.

“Sejak Depok resmi beralih dari pemerintah administratif menjadi daerah otonom tahun 1999, perhatian terhadap situ langsung diberikan dengan keseriusan tinggi. Pemkot Depok telah menegakkan berbagai aturan untuk mempertahankan fungsi situ sebagai kawasan konservasi, meskipun kondisinya selama ini telah telanjur rusak,” katanya.

Prosesnya kerusakan situ, katanya, biasanya diawali oleh pendangkalan akibat sedimentasi. Kemudian pada saat kemarau warga setempat bercocok tanam. Sedikit demi sedikit lahan kemudian dikuasai penduduk. Itu sudah menjadi cerita biasa di Depok sini. Tidak selalu warga setempat yang menguasai, namun juga bisa lembaga seperti restoran di pinggir situ.

“Penyerobotan lahan situ kini telah dicegah dengan cara melakukan pengukuran luas situ, yang kemudian disertifikatkan oleh Pemkot Depok sebagai aset pemerintah,” tutur Kepala Bagian Lingkungan Hidup Pemkot Depok Rachmat Subagyo.

Namun, tetap saja masa depan situ-situ yang kini tersisa patut dikhawatirkan mengingat Kota Depok sendiri juga mencanangkan dirinya sebagai kota permukiman. Penggunaan lahan oleh permukiman jelas sangat tinggi. Konversi lahan saat ini terhenti mungkin karena pasar pembeli properti juga sedang lesu. Nantinya, jika pasar kembali membaik seperti akhir dekade 1990-an permintaan pengembang atas lahan bisa mengancam kawasan terbuka.

Menurut hasil survei Pusat Pengkajian Kebijakan Teknologi Pengembangan Wilayah BPPT terhadap sumber daya air permukaan di Kota Depok (2001), saat telah 43 persen wilayah di Kota Depok tertutup oleh bangunan.

Padahal, idealnya komposisi lahan tertutup bangunan dan kawasan terbuka mengikuti pembagian 40 : 60. Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Depok sudah memiliki desain dengan penetapan 50 : 50 sampai tahun 2010. Dengan luas wilayah 20.000 Ha, tinggal sekitar 2.000 Ha lagi yang bisa dipakai untuk perumahan. (ody)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: