Berita 2004

Februari 2004

Pemkot Depok Akan Tertibkan Bangunan di Bibir Situ

Sumber: http://www.suarapembaruan.com/ 4 Februari 2004

DEPOK – Pemerintah Kota (Pemkot) Depok akan menertibkan bangunan di bibir situ. Selain melanggar peruntukan lahan, hal itu juga terkait dengan kebijakan wilayah Bogor-Puncak-Cianjur (Bopunjur) untuk melestarikan ekosistem situ.

Pelestarian situ-situ di Depok, selain diperuntukkan bagi penanggulangan banjir di wilayah Depok, juga di DKI Jakarta. Sayangnya, kebanyakan situ mengalami penyusutan, bahkan ada yang hilang, seperti Situ Krukut di Kecamatan Limo, yang sudah menjadi wilayah permukiman.

Tetapi, sampai saat ini Pemkot Depok mengaku belum berani menggusur warga yang tinggal di bekas situ tersebut. “Pemkot tidak akan asal-asalan menggusur. Memang warga yang tinggal di bibir situ atau bangunan liar itu akan kita tertibkan. Namun, unsur kemanusiaannya kita kedepankan. Sekarang ini, yang penting kita menjaga kelestarian situ yang masih ada dulu,” kata Wali Kota Depok Badrul Kamal saat meninjau Situ Citayam, Selasa (3/2).

Badrul menjelaskan, luas Situ Citayam yang sebelumnya seluas sekitar 9 hektare, kini menyusut hingga tinggal sekitar 6 hektare. “Memang sebagian situ sudah menjadi daratan. Namun, minimal luas yang sekarang ini terus dipertahankan. Kita sudah minta lurah atau tokoh masyarakat setempat untuk menjaga situ ini. Dari pemerintah juga dilakukan dengan cara menurap dinding situ. Kalau belum diturap memang rawan untuk diuruk. Dananya kita bisa minta bantuan dari provinsi (Jawa Barat), pusat, atau DKI Jakarta,” ia menjelaskan.

Ia menambahkan, Pemkot Depok memiliki kewajiban melestarikan sekitar 25 situ yang ada karena terkait dengan kebijakan wilayah Bopunjur sebagai wilayah peresapan air. “Kemarin saya bertemu Gubernur Jawa Barat. Depok berkewajiban menjaga kelestarian ekosistem situ. Wilayah situ yang harus dijaga kelestariannya berada di wilayah Cimanggis, Sawangan, dan Limo,” katanya.

Ketika ditanya soal ekosistem Rawa Kalong yang sudah rusak, padahal situ itu termasuk dalam program pelestarian situ di wilayah Bopunjur, Wali Kota mengaku prihatin. “Berita rusaknya ekosistem Rawa Kalong membuat prihatin semua pihak. Saya sudah memerintahkan aparat terkait guna berkoordinasi untuk membuat program penyelamatan Situ Rawa Kalong. Industri yang terbukti mencemari situ itu juga sudah kami beri peringatan keras. Saat ini, Pemkot sedang menunggu bantuan investigasi dari Menneg LH,” katanya.

Taman Rekreasi

Dalam kesempatan itu, Wali Kota juga mengaku mengajak investor untuk ikut melestarikan situ yang ada untuk dijadikan taman rekreasi atau restoran terapung. Sayangnya, dari pengamatan Pembaruan, pemanfaatan situ oleh swasta terlihat kurang efektif. Beberapa waktu lalu, di Situ Jatijajar berdiri restoran terapung. Wali Kota dan jajarannya juga sering makan di situ untuk menyosialisasikan keberadaan restoran tersebut.

Sayangnya sosialisasi itu tidak diiringi dengan kualitas makanan dan suasana yang menunjang. Apalagi restoran tersebut juga mengambil air dari situ untuk proses cuci-mencuci.

Seiring dengan waktu, restoran terapung itu tidak laku dan hilang. Sedangkan restoran di Situ Pulo, Kecamatan Pancoran Mas, justru terlihat menguruk bagian situ, demi perluasan restoran.

Alhasil bukan warga saja yang menguruk situ, tapi juga investor. Padahal, Pemkot Depok sangat berharap banyak dengan keberadaan investor untuk membantu melestarikan situ. (W-12)
Last modified: 4/2/04

April 2004

Situ di Depok akan Dilengkapi Penyaring Limbah

Diharapkan Mampu Menekan Risiko Pencemaran

Suara Pembaruan,  3 April 2004

Sumber: http://www.terranet.or.id/

DEPOK – Guna melestarikan situ-situ di wilayah Depok, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok akan melengkapi fasilitas penyaringan limbah kotoran sampah di sejumlah situ. Misalnya, di Situ Pladen di Kecamatan Beji dan Situ Gadok di Kecamatan Cimanggis.

“Tahun ini kami berencana membangun fasilitas itu di kedua situ tersebut,” kata Kepala Subbag Pengendalian dan Pencemaran Lingkungan Hidup Kota Depok Stefanus Mada, Kamis (1/4).

Ia menjelaskan, pembangunan fasilitas di sarana penampungan air itu menggunakan teknologi yang disebut Instalasi Pengelolaan air Limbah (IPAL Communal). IPAL Communal itu, nantinya berbentuk tiga buah ruangan yang terletak di permukaan air di pinggir danau. Tiap-tiap ruang memiliki fungsi menyaring setiap kotoran seluruh limbah sampah.

“Hal itu diupayakan untuk menetralisir ancaman bahaya limbah dari kotoran sampah yang memang banyak terdapat di situ tersebut,” katanya. Pembangunan fasilitas itu, diperkirakan akan menghabiskan biaya sekitar Rp 50 juta.

Ia menambahkan, pembangunan itu didasarkan pada kondisi itu Situ Pladen dan Situ Gadok yang saat ini memang dicemari sampah hasil pembuangan sampah rumah tangga. “Kami berharap alat filterisasi ini mampu menekan risiko semakin tercemarnya ekosistem dan kelestarian kedua situ itu,” ujarnya.

Fasilitas itu sebenarnya sudah didirikan di sejumlah situ lainnya seperti di Situ Rawa Besar. Namun, sesuai dengan rencana yang disepakati Bagian Lingkungan Hidup dengan pihak terkait beberapa waktu lalu, fasilitas penyaringan di kedua situ itu baru akan dilaksanakan tahun ini.

Stefanus mengakui, untuk membenahi situ tidak cukup dengan hanya membangun fasilitas tersebut. “Memang IPAL ini tidak cukup untuk menangani persoalan situ yang begitu kompleks, namun setidaknya kami berusaha untuk menjaga kelestariannya,” katanya.

Situ Rawa Kalong

Ketika ditanyakan persoalan Situ Rawa Kalong, Stefanus menjelaskan, pabrik pencemar limbah di situ tersebut sudah membuat IPAL. “Setelah mendapat teguran dari Pemkot dan kepolisian, pabrik tersebut telah membuat penyaring limbah. Pihak pabrik juga berjanji, jika kembali mencemari limbah, akan menerima sanksi tegas,” katanya.

Sementara itu, sejumlah warga di sekitar Situ Rawa Kalong ketika ditemui Kamis sore, menjelaskan pihak pabrik sudah berjanji kepada warga untuk memperbaiki IPALnya. “Ya, kita lihat saja. Kalau pabrik itu mencemari lagi, tentunya akan kami tuntut,” kata Benni, tokoh masyarakat di Situ Rawa Kalong. (W-12)

Kerusakan Situ di Depok Petaka bagi Jakarta

22 Situ Terancam Hilang karena Terus Diuruk

Sumber: http://www.suarapembaruan.com/ 26 Agustus 2004

DEPOK – Sebagai daerah tangkapan dan resapan air hujan, Depok mempunyai peran sangat besar bagi Jakarta. Kerusakan lingkungan di Depok bisa menyebabkan petaka bagi ibu kota republik ini.

“Kerusakan situ-situ atau danau alami di Depok bisa memperparah banjir di Jakarta,” ujar Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Depok, Lukman Hakim, kepada Pembaruan, Selasa (24/8).

Sebaiknya, kata Lukman, Pemprov DKI membantu upaya Pemkot Depok yang akan meremajakan situ-situnya. Juga, mestinya, Pemprov DKI membantu Kabupaten Bogor memperbaiki kondisi kawasan Puncak.

Lukman memaparkan, dari 28 situ di seluruh Depok kini tinggal 22 dengan kondisi mengkhawatirkan karena terus diuruk oleh warga. Banyak situ yang dijadikan tempat pembuangan sampah. Enam situ dinyatakan hilang karena sudah ditimbun dan dijadikan perumahan.

Khusus untuk situ-situ, jelasnya, Pemkot Depok saat ini mempersiapkan peremajaan Situ Rawa Besar yang kini tinggal 13 ha dari 28 ha sebelum diuruk.

Namun, ternyata itu tidak mudah. Akhir- akhir ini malah muncul kendala yang makin menyulitkan peremajaan situ yang berlokasi di dalam kota itu.

Menurut Lukman, peremajaan Situ Rawa Besar memegang peranan sangat penting untuk mendorong peremajaan 22 situ lainnya. Hanya sayangnya, tidak semua situ di Depok dalam kondisi baik.

Penggalian Tanah

Selain persoalan pengurukan situ, kelestarian alam di Depok juga terancam rusak dengan adanya penggalian tanah secara liar di dua wilayah Kelurahan Tapos dan Leuwinanggung, Kecamatan Cimanggis.

Penggalian yang dilakukan di Kelurahan Tapos, selain mengancam kelestarian tanah di wilayah itu juga mengancam keberadaan tower jaringan listrik Jawa-Bali.

Kini, penggalian tanah pindah ke Desa Leuwinanggung dan berlokasi dekat dengan kompleks perumahan Emeralda.

Ditengarai penggalian tanah sudah berlangsung selama dua bulan. Sejumlah warga setempat, yang identitasnya minta tidak diungkapkan, ketika ditemui Pembaruan, Rabu (18/8), menjelaskan, penggalian tanah itu bisa merusak lingkungan.

“Penggalian sudah lama dilakukan. Awalnya, kami kira akan dibangun perumahan. Ternyata, tanah itu digali dan dibawa entah ke mana,” kata seorang warga yang dibenarkan warga lainnya.

Berdasarkan pengamatan, terdapat tiga titik lokasi penggalian tanahdi Desa Tapos dan Desa Leuwinanggung.

Satu titik lokasi galian lainnya di Desa Bojongnangka, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.

Sekitar 60 truk pengangkut tanah tampak berjajar di jalan yang terletak persis di depan kawasan perumahan elite Emeralda. Seorang warga menjelaskan, truk-truk tersebut mulai antre masuk ke lokasi galian menjelang malam.

Di lokasi galian itu terdapat dua buldozer yang digunakan untuk menggali tanah. Jalan menuju lokasi tersebut terdapat di sisi barat jalan tol Jagorawi, tepatnya di sisi barat terowongan yang menghubungkan Desa Tapos dan Leuwinanggung.

Kepala Bagian Lingkungan Hidup Kota Depok Agus Suherman menyatakan akan mengecek ke lokasi penggalian.

“Kami akan secepatnya meninjau ke lokasi. Tidak diperkenankan ada penggalian tanah. Apalagi dalam kapasitas yang besar, tentu akan merusak lingkungan sekitar,” katanya. (W-12)

Last modified: 26/8/04

Oktober 2004

Puluhan Situ Alam Menyempit dan Hilang

Koran TEMPO, 6 Oktober 2004

Sumber: http://www.infoanda.com/

DEPOK — Sebagian besar situ di wilayah Depok kini dalam kondisi rusak. Dari 25 situ di wilayah itu, hanya empat situ yang dinilai masih dalam kondisi baik. Selebihnya mengalami penyempitan karena dipatok dan diuruk warga, tertimbun sampah, dan tercemar limbah. Sejumlah situ bahkan telah hilang karena diuruk pengembang untuk perumahan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok Yayan Arianto mengatakan, situ yang masih tergolong baik tinggal yang ada di kawasan kampus Universitas Indonesia. Di samping luasnya menyempit dan airnya menyusut, menurut Yayan, beberapa situ bahkan telah hilang.

Situ Vitara di Kelurahan Pancoran Mas, misalnya, kini telah berubah jadi perkebunan bambu dan lahan tegalan. Luasnya pun menyempit tinggal sekitar 0,6 hektare. Sebagian situ telah diduduki perumahan warga.

Situ lain yang hilang adalah Situ Krukut di Kelurahan Krukut, Limo. Menurut data Pemerintah Kota Depok, dulu situ itu luasnya mencapai 9 hektare. Kini situ itu telah berubah jadi lahan perkebunan dan tegalan. Sebagian bekas situ malah jadi perumahan rakyat dan bangunan SMP Negeri 1 Depok.

Situ Pengarengan di Kelurahan Cisalak juga telah lenyap. Saat ini, menurut Yayan, sebagian lahan situ itu menjadi Perumahan Taman Duta. Bagian lainnya jadi kolam-kolam tak terawat dan tercemar limbah. Hal yang sama dialami Situ Patinggi di Kelurahan Tapos, Cimanggis. Situ itu kini telah menjadi tanah kosong yang ditumbuhi semak belukar dan alang-alang.

Pemerintah, kata Yayan, akan mencoba mengembalikan fungsi situ-situ ke kondisi semula. Pengembalian fungsi situ-situ, menurut dia, menjadi kebutuhan wilayah Depok. Pasalnya, situ-situ itu berfungsi sebagai pengendali banjir di musim hujan dan jadi pemasok air tanah di musim kemarau.

Masalahnya, karena keterbatasan anggaran, pemerintah Depok tidak bisa menormalisasi keseluruhan situ. Karena itu, Pemerintah Kota Depok mengharapkan bantuan dana dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pemerintah pusat.

Saat ini, pemerintah Depok baru bisa mengeruk Situ Pengasinan di Sawangan. Situ ini sempat hilang karena menjadi kolam-kolam ikan dan kebun pisang warga. Kini lahan situ itu telah dibebaskan pemerintah dan lahannya kembali dikeruk.

Pemerintah Depok, kata Yayan, juga berencana menjadikan situ sebagai obyek wisata. Yang jadi prioritas, antara lain Situ Citayam dan Situ Rawa Besar. Di Situ Rawa Besar, misalnya, pemerintah Depok membuat miniatur kawasan wisata Ancol. “Tetapi, situnya sekarang masih tercemar limbah dan timbunan sampah,” kata Yayan. ramidi

Rp 80 Miliar untuk Tangani Pemukim Liar Depok

Koran TEMPO, 22 Oktober 2004

Sumber: http://www.infoanda.com/

DEPOK — Kota Depok membutuhkan dana Rp 80 miliar untuk menangani pemukim liar di sekitar tiga situ besar di kawasan Depok. Anggaran itu diperlukan untuk memindahkan mereka dan merehabilitasi kondisi Situ Rawa Besar, Situ Rawasari, dan Situ Citayam.

Padahal, saat ini kota Depok memiliki 13 lokasi pemukim liar. “Untuk sementara kami prioritaskan penanganan situ-situ yang besar,” kata Uus Mustari, Kepala Bidang Fisik Prasarana Bappeda Kota Depok, kepada Tempo.

Penanganan pemukim liar ini sedang diujicobakan di Situ Rawa Besar, Kampung Lio, Depok. Proyek itu adalah pilot project kerja sama dengan Bank Dunia. Badan air situ yang semula mencapai luas 23 hektare saat ini tinggal tersisa 13,5 hektare akibat diuruk dan ditempati warga.

Depok dipilih karena wilayah ini menjadi penyangga kota Jakarta, yang secara langsung mendapat tekanan dari perkembangan penduduk. Solusi yang diterapkan pada penanganan warga pemukim liar ini diharapkan akan menjadi model penanganan masalah pemukim squatter di lokasi lainnya. ramidi

Desember 2004

Pemkot Depok akan Normalisasi 25 Situ

Republika, Senin, 13 Desember 2004

Sumber: http://digilib-ampl.net/

DEPOK – Sebagai upaya penanggulangan musibah banjir, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok akan menormalisasi 25 buah situ.

Perbaikan 25 buah situ tersebut tidak hanya untuk kepentingan Kota Depok melainkan juga untuk kepentingan wilayah Jakarta. Itu dikemukakan oleh Ir Uus Mustari MSc, kasub Bidang Tata Ruang Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Depok, Jumat (10/12).

Tindakan normalisasi situ dirasakan penting karena kondisi daya tampungnya sudah mengalami penyusutan yang cukup parah.

“Kami akan mengadakan normalisasi 25 situ yang kondisinya paling ekstrim mengalami penyusutan,” kata Uus.

Tujuan normalisasi situ-situ tersebut, jelasnya, selain untuk menambah daya tampung, juga untuk mnengembalikan fungsi setu sebagai bagian dari sistem pengairan. Ia mengatakan sistem pengairan yang akan ditata nanti sangat siginifikan dalam pengendalian banjir.

Berdasarkan pantauannya, sebagaian besar situ-situ tersebut mengalami pendangkalan dan penyusutan luas. Untuk itulah, ungkapnya, normalisasi situ sebagai pilihan dengan melakukan pengerukan dan penataan daerah
sekitar situ.

Mengenai anggaran biaya yang harus dikeluarkan untuk normalisasi 25 situ tersebut, Uus mengatakan belum memiliki angka pasti. Meski demikian, ia mengatakan 3 dari 25 setu yang diprioritaskan untuk ditangani lebih dahulu membutuhkan dana sekitar Rp 25 miliar. Tiga setu tersebut, papar Uus, adalah Situ Citayam, Situ Bojong Sari dan Situ Rawa Besar.

Ia juga menambahkan bahwa pendanaan tidak hanya dibebankan kepada Pemkot Depok. Melainkan, lanjutnya, juga akan meminta bantuan dari Pemprov DKI Jakarta. “Pihak yang akan merasakan benefit (manfaat) dari normalisasi situ ini tidak hanya Depok. Tapi juga pihak Jakarta,” katanya. Musibah banjir di hilir (Jakarta), paparnya, akan dapat diminimalisasi dengan tertampungnya air di berbagai situ yang ada di Depok.

Untuk merealisasikan rencana normalisasi tersebut, Pemkot Depok tengah berusaha membangun kesepakatan dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kesepakatan itu, jelas Uus, terkait dengan persoalan bagaimana mengelola setu-setu tersebut agar dapat dilakukan secara bersama-sama. Sementara ini, lanjut Uus, sudah ada respon baik dari pihak Jakarta.

Mengenai perhitungan porsi pendanaan normalisasi situ tersebut, Uus mengatakan tergantung berapa persen bagian air yang dapat ditampung. “Jadi, berapa persen yang dapat ditampung oleh setu-setu tersebut agar air tidak mengalir ke Jakarta, sebesar itu pulalah nanti pihak DKI akan memberikan bantuan dana,” tuturnya.

Rencana normalisasi setu-setu tersebut, kata Uus, akan terealisasi dalam tahun 2005 ini. Meski demikian, ia menegaskan tergantung ketersediaan dana dan hasil kesepakatan dengan pihak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Dilarang menyalin atau mengutip seluruh atau sebagian isi berita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: