Berita 2009

Maret 2009

Pusat Diminta Tangani Situ-Situ di Depok

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/ 29 Maret 2009

JAKARTA–MI: Pemerintah Kota Depok mengharapkan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Propinsi Jawa Barat segera menangani permasalahan kawasan situ di Kota Depok. Baik dalam hal pengawasan, pengendalian, maupun pemanfaatan dan pembiayaannya, minimal melakukan konservasi terhadap situ yang ada di Kota Depok.

“Kami khawatir situ-situ di Kota Depok bisa sewaktu-waktu jebol seperti yang terjadi di Situ Gintung, Ciputat, Tangerang, Jumat (27/3) dini hari,” kata Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Depok Achmad Kafrawi di Depok, Minggu (29/3).

Di Depok terdapat 26 situ. Dari 26 situ, lima di antaranya bila jebol terjangan airnya bakal menerjang perumahan warga yang berada di sekitarnya. Kelima situ tersebut, Situ Rawa Kalong di Kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis, Situ Pengarengan, Kelurahan Bhakti Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Situ Tipar, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Cimanggis, Situ Pitara, Kecamatan Pancoran Mas, dan Situ Jatijajar, Kecamatan Cimanggis. Letak lima situ tersebut lebih tinggi enam hingga tujuh meter dari permukiman warga di sekitarnya.

Seperti Situ Rawa Kalong, Kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis. Letak situ seluas 8,25 hektar itu tujuh meter dari permukiman warga. Didampingi Kepala Sub Bidang Infrastruktur Bappeda Herniwaty, Kafrawi melontarkan kecemasannya akan kemungkinan bencana yang bakal terjadi.

Permukiman di sekitar Situ Rawa Kalong sudah padat. Warga yang tinggal di sana sudah puluhan tahun. Setiap musim hujan, permukiman tersebut selalu kebanjiran. “Penyebab banjir di sini, selain karena luapan air, dari Situ Rawa Kalong juga lantaran saluran airnya tidak berfungsi dengan baik, ” jelas Kafrawi.

Situ Pengarengan juga menjadi penyebab banjir di perumahan Taman Duta, perumahan Bukit Cengkeh I dan Bukit Cengkeh II di Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis. Ketiga perumahan tersebut terendam banjir setinggi satu meter akibat tanggul Kali Laya jebol sepanjang 20 meter, pekan silam.

Penyebab tanggul Kali Laya jebol karena luapan air dari Situ Pengarengan, yang bersebelahan dengan tiga perumahan tersebut. Kali Laya merupakan salah satu saluran yang berfungsi menampung luapan air dari Situ Pengarengan. Setiap tahun ratusan keluarga di tiga perumahan itu terus kebanjiran bila turun hujan akibat letaknya lebih rendah dari Kali Laya.

“Kondisi Situ Pengarengan, yang terletak di tepi Jalan Ir H. Juanda, memang sudah diturap. Namun daya tampungnya dibatasi, sehingga bila kelebih kapasitas maka luapannya disalurkan ke Kali Laya. Namun, kualitas Kali Laya masih seperti pada fungsinya sebagai irigasi. Padahal sekarang sudah menjadi drainase. Belum lagi luas di hilirnya menyempit, sehingga tanggul kali itu tidak kuat menahan tekanan air yang begitu besar,” papar Herniwaty.

Dalam usulan Bappeda, yang akan disampaikan dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) pekan depan, kelima situ yang rawan longsor itu harus mendapat perhatian khusus, tidak hanya oleh Pemerintah Kota Depok, tapi juga dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Departemen Pekerjaan Umum. “Kami juga tidak menginginkan bencana yang dialami warga di sekitar Situ Gintung terjadi di Depok,” kata Achmad Kafrawi. (KG/OL-02)

Permukiman di Tepi Situ akan Direlokasi

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/ 30 Maret 2009

Penulis : Kisar Rajaguguk

DEPOK–MI: Ribuan warga yang bermukim di tepi situ-situ di kawasan Kota Depok harus hengkang. Program relokasi mereka dibahas di Musyawarah Dewan Sumber Daya Air Kota Depok di Balai Kota Depok, Senin (30/3).

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Depok Herman Hidayat, telah dibentuk dewan sumber daya air terdiri dari unsur pemerintah dan organisasi masyarakat pemerhati masalah lingkungan dan pengendali daya rusak air.

“Relokasi itu, seiring dengan program normalisasi dan perbaikan tanggul semua situ, sehingga dapat berfungsi optimal sebagai resapan air,” kata Herman dalam wawancara khusus dengan Media Indonesia di ruang kerjanya.

Penjelasan Herman, terkait dengan kasus situ Gintung, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten tidak terjadi di Kota Depok. Selain membentuk dewan sumber daya air, juga dibentuk tim monitoring situ-situ untuk menindaklanjuti program tersebut. Tim tersebut terdiri dari Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT), Dinas Tata Ruang dan Permukiman, Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Badan Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian, Dinas Pasar, Usaha Kecil Menengah dan Koperasi, Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata, dan para camat se- Kota Depok.

Dari hasil evaluasi dewan sumber daya air dan tim monitoring, semua situ di Kota Depok yang berjumlah 26 situ dalam kondisi yang memprihatinkan. Fungsinya sebagai resapan air sudah tidak maksimal. Terlebih di sekitarnya telah dipadati oleh permukiman warga, semakin mempercepat pendangkalan karena mereka menjadikan situ sebagai tempat pembuangan sampah.

Karena itu, kata Herman, langkah awal yang harus dilakukan adalah merelokasi warga yang tinggal di sekitar situ, terutama di daerah garis sempadan situ. “Pada garis sempadan situ harus bersih dari aktivitas warga, apalagi dijadikan tempat tinggal. Fungsi wilayah garis sempadan situ untuk memudahkan petugas mengontrol tanggul situ. Sehingga bila terjadi keretakan bisa segera diperbaiki,” jelas Herman. (KG/OL-06)

Lima Situ di Depok Mengkhawatirkan

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/ 31 Maret 2009

TEMPO Interaktif, Depok: Sekitar lima situ di Depok perlu mendapat perhatian serius. Pasalnya kelima situ tersebut memiliki bentuk geografis seperti Situ Gintung. “Lokasinya lebih tinggi keberadaanya dari rumah penduduk”, ujar Kasi Pemeliharaan Sumber Daya Air, Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Depok, Arga Darma Tubagus. Kelima situ itu antara lain Asih Pulo, Pendongkelan, Sawangan, Pengarengan, dan Bahar.

Menurutnya, kelima situ tersebut juga perlu menjadi perhatian bagi pemerntah DKI Jakarta. Pasalnya, situ-situ tersebut merupakan parkiran air sungai Ciliwung sebelum akhirnya menuju ke DKI Jakarta.

Arga mengatakan bahwa anggaran yang ada selama ini lebih diarahkan untuk pembuatan tanggul. Akan tetapi, agar musibah Situ Gintung tidak terjadi pada situ-situ di Depok, pihaknya mengakui bahwa perhatian khusus memang perlu dilakukan. “Untuk memberikan perhatian kami terganjal dana”, ujarnya. Oleh karena itu, pihaknya mengharapakan bahwa Pemerintah DKI Jakarta juga ikut memberikan perhatian terhadap kondisi situ.
TIA HAPSARI

26 Situ di Depok Berada di Atas Permukiman

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/ 31 Maret 2009

DEPOK,(PRLM).-Lima dari 26 situ yang ada di Depok ternyata memiliki kontur yang hampir sama dengan kontur Situ Gintung. Kondisi situ-situ tersebut letaknya lebih tinggi dari perumahan penduduk. Di antaranya adalah Situ Asih Pulo (Rangkapanjaya), Situ Pedongkelan, Situ Sawangan, Situ Pangarengan, dan Situ Bahar.

Hal itu diungkapkan Kasi Pemeliharaan Sumber Daya Air Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Pemkot Depok, Arga DT kepada wartawan, Selasa (31/3).

Dikatakan Arga bahwa situ-situ tersebut harus segera mendapat perawatan dan perhatian yang lebih maksimal. Namun, pihaknya mengaku mengalami kendala soal dana perawatan. “Untuk memberikan perhatian lebih kami terganjal dana,” katanya.

Jika tidak diperhatikan, lanjut Arga maka kemungkinan akan berbahaya. Pasalnya, situ-situ tersebut merupakan area transit air Sungai Ciliwung sebelum mengalir ke Jakarta . “Diperlukan pembuatan tanggul di situ-situ tersebut karena situ itu merupakan buffer zone DKI Jakarta,” papar Agra .

Langkah yang telah diambil pihak pemkot hingga saat ini, papar Agra dengan membersihkan sampah di sepanjang saluran air di Kota Depok. Sebanyak dua tim dari pemeliharaan Sumber Daya Air (SDA) kemarin membersihkan sampah di sekitar jembatan Sumur Wangi, Sukamaju. Selain itu, pembersihan juga dilakukan di saluran tepi jalan Kelurahan Sukamaju, Saluran air di Jalan Raya Bogor atau di depan Pabrik Kurdi dan Kali Kompeni.

Pengurus pokja Situ Sawangan Ubas menilai kondisi situ sangat mengkhawatirkan. Pasalnya, tidak ada batas yang kuat antara situ dengan perumahan. Antara situ dengan perumahan hanya dibatasi dengan jalan setapak selebar 3 meter. “Yang menguatkan hanya dua buah pohon Rengas saja. Itupun kondisinya sudah agak miring,” kata Ubas.(A-163/A-50)***

April 2009

Enam Situ di Depok Kondisinya Mirip Situ Gintung

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/ 01 April 2009

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kepala Bidang Sumber Daya Air pada Dinas Bina Marga Kota Depok, Jawa Barat, Welman Naipospos mengungkapkan, ada enam situ di wilayahnya yang berpotensi jebol seperti Situ Gintung. Untuk mencegahnya butuh dana puluhan miliar rupiah. “Keenam siitu tersebut mirip Situ Gintung baik fungsi maupun posisi,” kata Welman kepada Tempo, Rabu (1/4).

Keenam waduk atau danau kecil itu adalah Situ Asih Pulo di Rangkapanjaya, Situ Pedongkelan di Tugu, Cimanggis, Situ Bojong Sari di Sawangan, Situ Pangarengan di Cisalak, Situ Bahar di Limo,Cinere, dan Situ Sido Muktidi Sukmajaya.

Dari segi fungsinya, menurut Welman, keenam situ tersebut dulunya berfungsi untuk mengaliri persawahan. Lantaran itu, posisi situ lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Hanya saja, seiring perkembangan, daerah sekitar situ yang dulunya merupakan persawahan sekarang berkembang menjadi permukiman.

Welman menambahakan, untuk menertibkan permukiman warga yang berada di daerah sekitar situ tidak mudah. Pasalnya, penertiban pemukiman menyangkut tata ruang dan permukiman serta status tanah. Welman tidak tahu perubahan fungsi lahan persawahan menjadi perumahan. “Saya tidak bisa menjelaskan kenapa perumahan ada di sekitar situ”, ujarnya.

Welaman mengatakan, apabila mengacu pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, pembenahan situ menjadi tanggungjawab pemerintah pusat. Tapi, dalam praktiknya tidak bisa hanya menyerahkan kepada pemerintah pusat semata.

“Kami sudah mengusulkan dana bantuan sekitar Rp 20 miliar ke pemerintah provinsi untuk pembenahan situ,” kata dia. Dana tersebut untuk normalisasi situ dan penertiban badan air dan banguan di sepanjang sepadan situ. Jumlah total seluruh situ di Depok ada 26. Kondisi dari situ tidak sama. Ada yang mirip dengan Situ Gintung, ada yang posisinya sejejar dengan permukiman warga. “Kami inginnya semua situ diperbaiki.”

Situ Gintung di Cireundeu, Ciputat, Tangerang, Banten, jebol Jumat pekan lalu. Situ seluas 21 hektare itu airnya menerjang sebanyak 319 rumah penduduk dan menewaskan sedikitnya 100 orang serta puluhan hilang. Jebolnya tanggul diduga akibat perawatan situ yang kurang maksimal. TIA HAPSARI

Butuh Puluhan Miliar Rupiah

Untuk Benahi Fisik Situ-situ

Sumber: http://74.125.153.132/ Kamis, 2 April 2009

Depok, Warta Kota

Untuk membenahi fisik enam situ di Depok yang berpotensi bencana seperti Situ Gintung, dibutuhkan dana puluhan miliar rupiah. Sedangkan untuk membenahi fisik 20 situ lainnya membutuhkan dana ratusan miliar rupiah.

Keenam situ (bukan lima seperti diberitakan Warta Kota, 1/4) yang berpotensi bencana seperti Situ Gintung adalah Situ Asih Pulo (Rangkapanjaya, Pancoranmas), Situ Pedongkelan (Tugu, Cimanggis), Situ Bojongsari (Sawangan, Sawangan) —bukan Situ Sawangan seperti diberitakan Warta Kota (1/4)—, Situ Pangarengan (Cisalak, Sukmajaya), Situ Bahar (Limo, Limo), dan Situ Sido Mukti (Cilangkap, Sukmajaya).

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Bina Marga Kota Depok Welman Naepospos, di ruangan kerjanya, Rabu (1/4).

”Situ-situ yang berpotensi menimbulkan bencana seperti Situ Gintung harus mendapatkan penanganan lebih. Untuk membenahinya dibutuhkan dana puluhan miliar rupiah. Sayang APBD Kota Depok kecil untuk membiayai seluruh pembenahan fisik situ tersebut,” katanya.

Menurut Welman, situ-situ yang berpotensi bencana tersebut sudah mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Pemerintah Kota Depok berupa pembuatan tanggul. Namun keberadaan situ-situ tersebut sudah tua sehingga membutuhkan perhatian lebih dari sekadar pembuatan tanggul.

”Kami sudah mengusulkan dana bantuan ke Pemerintah DKI Jakarta untuk membenahi situ-situ tersebut. Terutama situ yang merupakan buffer zone (zona penyangga) DKI Jakarta seperti Situ Bojongsari dan Pedongkelan,” imbuhnya.

Welman menilai keenam situ tersebut berpotensi bencana karena posisi lokasi situ itu lebih tinggi dari pemukiman warga. Posisinya lebih tinggi dikarenakan pada awalnya situ itu difungsikan untuk mengairi persawahan. Oleh sebab itu, posisi situ itu dibuat lebih tinggi.

”Saya tidak bisa menjelaskan kenapa sekarang ini ada perumahan di sekitar situ-situ tersebut. Yang jelas keberadaan situ lebih dulu daripada perumahan. Maka, saya mengimbau kepada masyarakat yang tinggal di sekitar situ yang lokasinya lebih tinggi dari perumahan agar waspada. Jangan main-main dengan bahaya,” tandasnya.

Normalisasi

Pemerintah Depok, lanjut Welman, tetap memberikan perhatian kepada situ-situ tersebut. Di antaranya melakukan normalisasi situ dan penertiban bangunan di sepanjang sempadan dan badan situ. Kemudian juga untuk melakukan pemeliharaan di situ Dinas Bina Marga dan SDA mengerahkan delapan juru situ.

”Walaupun dananya terbatas kami tetap melakukan pemeliharaan. Memang ini wewenang pemerintah pusat tapi kami yakin apa yang kami lakukan tidak menyalahi UU SDA No 7 tahun 2004,” papar Welman.

Welman menambahkan, mengenai pembenahan 20 situ yang dihitung mencapai ratusan miliar rupiah, karena pembenahan situ tersebut menyangkut tata ruang dan status kepemilikan tanah. (Doddy Hasanudin)

3.150 Bangunan Liar di Tepi Situ di Depok Akan Dibongkar

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/ 02 April 2009

Depok–MI: Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air dan aparat Satuan Polisi Pamong Praja Kota Depok akan membongkar bangunan liar yang didirikan di atas lahan situ di enam kecamatan, Kota Depok.

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Depok Herman Hidayat di Depok, Rabu (1/4), mengatakan, 3.150 bangunan liar yang berdiri di atas 26 lahan situ milik pemerintah tersebut digunakan untuk tempat tinggal, pencucian kendaraan bermotor, bengkel, warung, dan tempat kongko-kongko wanita kupu-kupu malam serta lelaki hidung belang.

Penghuni bangunan liar tersebut tidak memiliki surat izin lokasi dan surat izin mendirikan bangunan (IMB) dari instansi terkait sehingga mereka tidak akan mendapat ganti rugi. “Bila bangunan liar tersebut tidak segera dibongkar, dikhawatirkan ke depan semakin bertambah banyak dan sulit ditertibkan sehingga membuat lingkungan menjadi kumuh,” ujar Herman.

Jumlah situ di Depok tercatat ada 26 area. Situ Cilangkap, Situ Rawa Kalong, Situ Gadog, Situ Pedongkelan, Situ Tipar, Situ Jatijajar, Situ Patinggi, Situ Gemblung di Kecamatan Cimanggis. Situ Sidomukti, Situ Cilodong, Situ Pengarengan, situ Bahar di Kecamatan Sukma Jaya.

Lantas, Situ Vitara, Situ Asih Pulo, Situ Rawa Besar, situ Citayam di Kecamatan Pancoran Mas. Situ UI-1,UI-2, UI-3, UI-4 dan situ Pladen di Kecamatan Beji. Situ Pengasinan, Situ Pasir Putih I, situ Pasir Putih II di Kecamatan Sawangan. Situ Cinere, situ Krukut di Kecamatan Limo.

Sebenarnya, di atas lahan situ tersebut telah dipasang papan pengumuman bertuliskan “Dilarang Mendirikan Bangunan di Atas Tanah Milik Pemerintah”. Namun, tidak digubris oleh warga. Herman menghimbau agar para penghuni bangunan liar segera membongkar bangunan sendiri sebelum dibongkar Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air dan Satuan Polisi Pamong Praja.

Menurut Herman, situ-situ di Depok akan dinormalisasi dan dikembalikan ke fungsi semula yakni sebagai kawasan tangkapan air. Dengan begitu, perumahan di sekeliling situ dan daerah hilir tidak kebanjiran jika hujan turun. Kalau tidak, maka akan terjadi penyempitan dan degradasi dan pencemaran lingkungan.

Pemerintah Kota Depok sudah mencoba mengalokasikan APBD untuk perbaikan  situ, tetapi tidak signifikan, karena keterbatasan kewenangan untuk mengelola situ. Kalau kewenangan penuh diserahkan, Pemerintah Kota Depok bisa membangun taman rekreasi dan pembangkit tenaga listrik (KG/OL-04)

Enam Situ di Depok Berpotensi Jebol

Republika, 03 April 2009

Sumber: http://www.rasfmjakarta.com/

DEPOK — Beberapa situ di Kota Depok berpotensi menimbulkan bencana. Selain kondisi tanggul yang tua, keberadaan bangunan perumahan di sekitarnya bisa memicu tragedi serupa Situ Gintung, Cirendeu, Tangerang.

“Dari 26 situ di Depok, ada enam yang berpotensi menimbulkan bencana karena posisi lokasi situ itu lebih tinggi dari pemukiman warga. Posisinya lebih tinggi karena berfungsi mengairi persawahan,” terang Kabid Sumber Daya Air (SDA) Dinas Bina Marga dan SDA Kota Depok, Welman Naipospos, Kamis (2/4).

Keenam situ tersebut adalah Situ Asih Pulo (Rangkapanjaya, Pancoran Mas), Situ Pedongkelan (Tugu, Cimanggis), Situ Bojong Sari (Sawangan, Sawangan), Situ Pengarengan (Cisalak, Sukmajaya), Situ Bahar (Limo,Cinere), dan Situ Sido Mukti (Cilangkap, Sukmajaya).

Welman sudah mengusulkan dana bantuan ke Pemerintah DKI Jakarta untuk membenahi situ-situ tersebut. Terutama situ yang merupakan buffer zone DKI Jakarta seperti situ Bojong Sari dan Pedongkelan, Pasalnya, pembenahan situ-situ tersebut diperkirakan butuh dana puluhan miliar, melebihi anggaran Pemkot Depok.

Untuk sementara, Pemkot Depok membenahi dengan menormalisasi situ dan menertibkan bangunan di sepanjang sempadan dan badan situ. Usaha pemeliharaan situ juga rutin dilakukan oleh delapan personel juru situ. Saat ini, Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Pemerintah Depok bekerja sama untuk proyek pembuatan tanggul.

Kekhawatiran juga muncul dari para pengelola situ. Pengurus Pokja Situ di Sawangan, Ubas menceritakan kondisi situ di Sawangan itu hanya diturap sebagian. Bagian dalam bibir situ hanya diturap sepanjang 100 meter, sedangkan bagian luar bibir situ belum diturap. Selama ini, penahan situ hanya berpusat pada pepohonan yang tumbuh di sekitarnya.

“Kalau pohon itu tumbang, tanggul akan tanggul jebol dan Ciputat akan tergenang. Sebab lokasi situ lebih tinggi dari wilayah Ciputat dan sekitarnya,” tutur Ubas.

7 Situ di Kota Depok Terancam Jebol

Sumber: http://www.primaironline.com/ 05 April 2009

Depok – Bencana jebolnya Situ Gintung berpotensi terjadi di Tujuh Situ di kawasan Kota. Pasalnya, kontur tanah kawasan ketujuh situ itu mirip dengan Situ Gintung.

Ketujuh situ yang rawan itu adalah Situ Asih Pulo (Rangkapanjaya, Panmas), Situ Pedongkelan (Tugu, Cimanggis), Situ Bojong Sari (Sawangan), Situ Pangarengan (Sukmajaya), Situ Bahar (Limo,Cinere), Situ Sido Mukti (Sukmajaya), dan Situ Pengasinan.

“Tujuh situ di Kota Depok itu memiliki kontur yang mirip dengan Situ Gintung, yaitu kondisi situ letaknya lebih tinggi dari perumahan penduduk,” kata Anggota DPRD Kota Depok, Adriana Wirasantana di Depok, Minggu (5/1).

Karena itu, ia mendesak Pemkot agar memperhatikan kondisi situ yang ada di Kota Depok, agar tidak terjadi musibah seperti di Situ Gintung, Tangerang Selatan. Ia menambahkan Pemkot Depok harus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan Provinsi Jawa Barat untuk memelihara ketujuh situ tersebut agar tidak jebol.

“Selama ini situ-situ tersebut kurang mendapat perhatian, jangan kalau sudah terjadi bencana baru bertindak,” katanya.

Sementara itu, Kasi Pemeliharaan Sumber Daya Air Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Pemkot Depok, Arga Darma Tubagus, mengaku kendala dalam pemeliharaan situ adalah masalah dana.

Apalagi, kata dia, situ-situ tersebut merupakan area transit air Sungai Ciliwung sebelum mengalir ke Jakarta, sehingga perlu pembuatan tanggul di situ-situ tersebut karena situ itu merupakan daerah penyangga atau buffer zone DKI Jakarta.

Sedangkan Pengurus Pokja Situ Sawangan, Ubas menilai kondisi situ didaerahnya sangat mengkhawatirkan, karena tidak ada batas yang kuat antara situ dengan perumahan warga.

Ubas menambahkan saat ini kondisi Situ Sawangan sangat berbahaya saat ketika hujan deras. Dijelaskannya, jika pohon di sekitar situ tumbang, air akan tumpah mengakibatkan tergenangnya pemukiman hingga ke daerah Ciputat.

“Seharusnya dibangun tanggul baru. Sekarang cuma dibatasi jalan setapak selebar 3 meter,” keluhnya.

Pada Jumat pekan lalu (27/3), tanggul Situ Gintung jebol. Air bah melanda permukiman warga. Korban tewas dalam kejadian itu sebanyak 100 orang. (Ant/N

Warga Situ Pedongkelan Waspada

Tanggul Situ Bojongsari Keropos

Sumber: http://www.wartakota.co.id/ 7 April 2009

Warta Kota/dodi hasanudin

Depok, Warta Kota
Warga Kampung Areman, Tugu, Cimanggis, Kota Depok, waspada. Terutama warga RT 05/05 dan RT 08/05 yang tinggal di bawah tanggul Situ Pedongkelan. Mereka waspada setelah pemberitaan tentang enam situ di Depok yang berpotensi bencana seperti Situ Gintung, Ciputat.

Salah satu dari enam situ itu adalah Situ Pedongkelan, yang letak geografisnya ada di atas permukiman.

”Setelah pemberitaan di media massa banyak warga yang mendatangi saya. Saya bilang ke warga untuk tenang dulu. Jangan panik. Lebih baik waspada,” kata Ketua Pokja Situ Pedongkelan Sain N Iskandar, akhir pekan lalu.

Menurut Sain, warga yang mendatanginya itu khawatir tanggul Situ Pedongkelan jebol. Kekhawatiran warga bertambah bila terjadi hujan deras dan Kali Cijantung meluap, maka air kali tersebut disertai air hujan akan memenuhi Situ Pedongkelan. Hal itu membuat air situ pun meluap dan membanjiri rumah warga.

”Kalau hujan deras warga suka melihat kondisi air situ. Itu sebagai bentuk kewaspadaan. Kami sebagai tim pokja juga ke pintu air. Bila debit air situ semakin banyak, maka pintu airnya dibuka,” tuturnya.

Karena itu, lanjut Sain, warga meminta Pemkot Depok untuk memperkuat tanggul. Apalagi tanggul yang dijadikan jalan penghubung ke Kampung Pekayon, Pasarrebo, Jakarta Timur itu sering dilalui kendaraan roda empat dan sepeda motor. Ditambah lagi batu-batuan pada bagian bawah tanggul mulai copot. ”Intinya, warga minta tanggul segera diperbaiki. Itu solusi paling baik saat ini,” tandas Sain.

Ia juga berharap, pendalaman dan pelebaran situ dilakukan berbarengan dengan penguatan tanggul. Hal itu demi mendukung Situ Pedongkelan menjadi tempat wisata yang lebih memadai. Saat ini Situ Pedongkelan luasnya mencapai 4,5 hektar dengan kedalaman situ rata-rata 3 meter.

Dalam pantauan Warta Kota, permukiman di bawah tanggul itu jaraknya sekitar lima meter dari tanggul. Tanggul tersebut tingginya sekitar dua meter dan lebarnya juga hampir dua meter. Tanggul yang menghubungkan Kampung Areman dan Kampung Pekayon itu panjangnya sekitar 200 meter.

Setahun

Sementara itu, tanggul Situ Bojongsari mulai keropos, terutama bagian bawah bibir dalam turap situ yang terletak di Sawangan, Kota Depok ini. Menurut Safrudin, warga Kampung Bojongsari Lama RT 02/12, Sawangan, Kota Depok, akhir pekan lalu, tanggul di sebelah selatan sepanjang 200 meter itu mulai keropos sejak setahun yang lalu.

”Jika tak segera diperbaiki dikhawatirkan akan jebol seperti Situ Gintung. Ngeri juga sih kalau jebol,” kata Safrudin yang sering melarang muda-mudi pacaran di tepi situ pada malam hari.

Dikatakan Safrudin, jika tanggul tersebut jebol maka air situ akan mengempaskan sejumlah rumah di Kampung Cinangka, Kampung Kebon, Kampung Jenderal, dan Kampung Bojongsari. ”Tinggi tanggul sekitar tiga meter lebih dan kedalaman situ sekitar tujuh meter,” tuturnya.

Seperti diberitakan, Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Bina Marga Kota Depok Welman Naepospos menyatakan, ada enam situ yang kondisinya mirip dengan Situ Gintung, yakni permukaan bibir situ lebih tinggi dari permukiman. Situ-situ adalah Situ Asihpulo (Rangkapanjaya, Pancoranmas), Situ Pedongkelan (Tugu, Cimanggis), Situ Bojongsari (Sawangan, Sawangan), Situ Pangarengan (Cisalak, Sukmajaya), Situ Bahar (Limo, Limo), Situ Sido Mukti (Cilangkap, Sukmajaya). (Dody Hasanudin)

26 Situ Depok Tercemar Limbah Industri

Sumber:  http://www.mediaindonesia.com/ 15 April 2009

Penulis : Kisar Rajaguguk

DEPOK–MI: Semua situ di Kota Depok, Jawa Barat, tercemar limbah berbahaya sehingga mengakibatkan kualitas air situ buruk dan tidak layak untuk tempat budi daya ikan.

Data dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok, dari 26 situ yang tercemar, terparah di Situ Rawa Kalong di Kelurahan Curug, Situ Tipar di Kelurahan Mekar Sari, Situ Cilangkap di Kelurahan Cilangkap, Situ Gadog di Kelurahan Cisalak Pasar, Situ Jatijajar di Kelurahan Jatijajar Kecamatan Cimanggis, Situ Pengarengan di Kelurahan Bhakti Jaya, Situ Cilodong di Kelurahan Cilodong Kecamatan Sukma Jaya, dan Situ Rawa Besar di Kelurahan Depok Kecamatan Pancoran Mas.

Kepala BLH Kota Depok Rahmat Subagio, Rabu (15/4), mengemukakan bahwa instansinya telah menerima laporan dari Pokja (Kelompok Kerja) BLH yang ditempatkan di setiap kelurahan bahwa semua situ di Kota Depok telah tercemar limbah. Seperti di Situ Rawa Kalong, selain limbah rumah tangga, juga tercemar limbah industri.

“Kondisi situ-situ di Kota Depok membahayakan kesehatan. Ini harus diwaspadai karena limbah industri merupakan bahan berbahaya dan beracun (B3),” kata Rahmat.Padahal, banyak warga yang tinggal di sekitar situ memanfaatkannya untuk budi daya ikan dan memancing.

Dari data BLH, industri yang terdapat di sekitar Situ Rawa Kalong adalah pabrik garmen, pabrik plastik, pabrik makanan dan minuman, dan pabrik elektronik. Limbah dari industri itu biasanya digelontorkan ke situ saat turun hujan. “Mereka memanfaatkan aliran air saat hujan untuk membuang limbahnya ke situ,” ujarnya.

Keberadaan situ memang untuk tampungan air. Tapi bukan air yang tercemar. Penggelontoran limbah ke situ karena pengusahanya hendak menghemat biaya dalam pengelolaan limbah. “Seharusnya setiap limbah, terutama cair, harus dibersihkan terlebih dulu di instalasi pengolahan limbah (Ipal). Pengolahan limbah ada biayanya sehingga bila digelontorkan langsung ke situ bisa menghemat,” tuturnya.(KG/OL-04)

26 Situ di Depok Tercemar Limbah Berbahaya Industri

Sumber:  http://jabodetabek.tvone.co.id/ 15 April 2009

Depok, (tvOne)

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok, Rahmat Subagio mengatakan 26 situ di wilayah Kota Depok, Jawa Barat tercemar limbah berbahaya dari industri.

“Selain berbahaya karena letaknya yang lebih tinggi dari pemukiman, situ-situ di Kota Depok juga membahayakan kesehatan karena limbah industri merupakan bahan berbahaya dan beracun (B3),” kata Rahmat, di Depok, Rabu (15/4/2009).

Berdasarkan data Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok, dari 26 situ yang tercemar, kondisi cukup parah terjadi pada Situ Rawa Kalong di Kelurahan Curug, Situ Tipar di Kelurahan Mekar Sari, Situ Cilangkap di Kelurahan Cilangkap.

Selanjutnya Situ Gadog di Kelurahan Cisalak Pasar, Situ Jatijajar di Kelurahan Jatijajar, Kecamatan Cimanggis, Situ Pengarengan di Kelurahan Bhakti Jaya, Situ Cilodong di Kelurahan Cilodong, Kecamatan Sukma Jaya, dan Situ Rawa Besar di Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas.

Situ Rawa Kalong tercemar akibat pembuangan limbah pabrik garmen, plastik, makanan dan minuman, dan pabrik elektronik.

“Limbah dari industri itu biasanya digelontorkan ke situ saat turun hujan,” jelas Rahmat.

Dikatakannya keberadaan situ memang berfungsi untuk tampungan air, tapi bukan air yang tercemar. Penggelontoran limbah ke situ, ujar Rahmat, karena pengusaha hendak menghemat biaya dalam pengelolaan limbah.

Seharusnya, kata dia, setiap limbah terutama cair, harus diolah terlebih dulu di instalasi pengolahan limbah (Ipal). Namun karena pengolahan limbah membutuhkan biaya, seringkali pengusaha membuang limbah berbahaya tersebut ke situ untuk menghemat.

Selain limbah industri, katanya, beberapa limbah rumah tangga juga berbahaya, seperti deterjen, plastik, dan baterai. Bahan yang terkandung di dalamnya bila tidak dikelola dengan baik akan mencemari lingkungan.

Untuk itu pihaknya sudah mempersiapkan rencana pengendalian masalah lingkungan di Kota Depok. Anggaran yang dibutuhkan cukup besar, karena sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) BLH adalah melakukan penelitian dan pengkajian lingkungan.

Limbah Beracun Cemari Situ Di Depok

Berita8.dotcom, 16 April 2009

Sumber: http://cybernews.cbn.net.id/

Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dari industri telah meracuni seluruh situ yang berada di kota Depok. Kualitas air buruk dan sangat membahayakan kesehatan warga sekitar.

“Kondisi situ-situ di Kota Depok membahayakan kesehatan Ini harus diwaspadai, karena limbah industri merupakan bahan berbahaya dan beracun m(B3),” kata Kepala Badan Lingkungan Hidup ( BLH) Pemerintah Kota Depok, Rahmat Subagio, Rabu (15/4).

Padahal selama ini masyarakat sekitar situ memanfaatkan situ di Depok sebagai tempat untuk budi daya ikan. Mereka mengandalkan usaha budi daya ikan di situ sebagai pekerjaanya untuk cari penghidupan. Dengan adanya pencemaran air situ pencarian kehidupan warga sekitar terganggu.

Menurut data BLH yang dimiliki pemerintah Kota Depok, 26 situ yang tercemar itu, yakni Situ Rawa Kalong di Kelurahan Curug, Situ Tipar di Kelurahan Mekar Sari, Situ Cilangkap di Kelurahan Cilangkap, Situ Gadog di Kelurahan Cisalak Pasar, Situ Jatijajar di Kelurahan Jatijajar, Kecamatan Cimanggis, Situ Pengarengan di Kelurahan Bhakti Jaya, Situ Cilodong di Kelurahan Cilodong, Kecamatan Sukma Jaya, dan Situ Rawa Besar di Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas.

“Kami telah menerima laporan dari Kelompok Kerja (Pokja) BLH yang ditempatkan di setiap kelurahan, bahwa semua situ di Kota Depok telah tercemar limbah. Seperti di Situ Rawa Kalong, selain limbah rumah tangga juga tercemar limbah industri,” kata Rahmat.

Menurut data BLH, lanjut Rahmat, memang di daerah sekitar Situ Rawa Kalong terdapat pabrik garmen, pabrik plastik, pabrik makanan dan minuman, dan pabrik elektronik. Limbah pabrik dari industri itu hampir semuanya disalurkan ke situ saat turun hujan.

“Mereka memanfaatkan aliran air saat hujan untuk membuang limbahnya ke situ,” terang Rahmat. (Yp)

Semua Situ di Kota Depok Tercemar Limbah Beracun

Sumber : http://hotnews.pikiran-rakyat.com/ 16 April 2009

DEPOK,(PRLM).-Hampir semua situ di Kota Depok, tercemar limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dari industri. Akibatnya, kualitas air situ buruk dan tidak layak untuk tempat budi daya ikan. Padahal, warga yang tinggal di sekitar situ memanfaatkan situ tersebut untuk budi daya ikan. “Kondisi situ-situ di Kota Depok membahayakan kesehatan Ini harus diwaspadai, karena limbah industri merupakan bahan berbahaya dan beracun m(B3),”kata Kepala Badan Lingkungan Hidup ( BLH) Pemkot Depok, Rahmat Subagio Rabu (15/4).

Menurut data BLH Kota Depok, dari 26 situ yang tercemar yakni Situ Rawa Kalong di Kelurahan Curug, Situ Tipar di Kelurahan Mekar Sari, Situ Cilangkap di Kelurahan Cilangkap, Situ Gadog di Kelurahan Cisalak Pasar, Situ Jatijajar di Kelurahan Jatijajar, Kecamatan Cimanggis, Situ Pengarengan di Kelurahan Bhakti Jaya, Situ Cilodong di Kelurahan Cilodong, Kecamatan Sukma Jaya, dan Situ Rawa Besar di Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas.

“Instansinya telah menerima laporan dari Pokja (Kelompok Kerja, red) BLH yang ditempatkan di setiap kelurahan bahwa semua situ di Kota Depok telah tercemar limbah. Seperti di Situ Rawa Kalong, selain limbah rumah tangga juga tercemar limbah industri,” katanya.

Dari data BLH, kata dia, di sekitar Situ Rawa Kalong terdapat pabrik garmen, pabrik plastik, pabrik makanan dan minuman, dan pabrik elektronik. Limbah dari industri itu biasanya digelontorkan ke situ saat turun hujan. “Mereka memanfaatkan aliran air saat hujan untuk membuang limbahnya ke situ,” ujarnya.(A-163/A-50)***

Mei 2009

Depok Utang Biaya Situ

Sumber: http://www.beritakota.co.id/ 18 Mei 2009

Sebanyak 26 situ di Kota Depok rusak, tercemar, dan berubah fungsi. Pemkot Depok tidak memiliki dana untuk merehabilitasinya. Pemprov DKI Jakarta diminta bantuan dana untuk merawat sebagian situ.

WILAYAH Kota Depok banyak terdapat situ (setu) atau danau. Bahkan, di enam wilayah kecamatan terdapat 26 unit situ. Sayangnya, situ-situ tersebut tidak terawat, sehingga kondisinya saat ini sangat memrihatinkan. Padahal, situ-situ tersebut selama ini menjadi daerah resapan air.

Lantaran tidak dirawat, situ-situ di Depok kini rusak. Luasnya berkurang dan terus menyempit akibat terdesak pertumbuhan permukiman liar. Bahkan kini sebagian situ tercemar limbah berbahaya dari industri dan rumah tangga.

Yang tak kalah memrihatinkan, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok tak punya dana untuk menyelamatkan semua situ. Itu sebabnya, Pemkot Depok ‘nekat’ meminta bantuan dana ke Pemerintah Pronvisi (Pemprov) DKI Jakarta.

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (Bimasda) Kota Depok Herman Hidayat mengakui Pemkot Depok meminta bantuan dana ke DKI Jakarta. Selain itu, katanya, Pemkot Depok juga sudah berkoordinasi dengan Pemprov DKI untuk menyelamatkan situ-situ. “Pemprov DKI Jakarta sudah memberi dana Rp1 miliar untuk menyelamatkan Situ Tipar di Kecamatan Cimanggis. DKI mau membantu karena situ itu berada di perbatasan Depok dan Jakarta,” ujarnya.

Disebutkan, saat ini situ seluas 5ha itu sudah dikeruk karena sangat dangkal akibat sedimentasi. Kelak juga dilakukan penurapan guna mengembalikan fungsi situ sebagai tangkapan air. “Selain Situ Bahar, Situ Citayam, Situ Cilodong, dan Situ Sidamukti juga akan dinormalisasi menggunakan dana Rp850 juta dari APBD Kota Depok,” katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pemeliharaan Dinas Bimasda Kota Depok Arga Darma Tubagus mengatakan, lima dari 26 situ di Depok kini mencemaskan. Batas situ dengan permukiman warga nyaris tak ada, sehingga setiap saat air situ meluap ke permukiman. Apalagi letak situ lebih tinggi dari permukiman penduduk.

Kelima situ adalah Situ Asih Pulo di Rangkapanjaya, Situ Pedongkelan, Situ Sawangan, Situ Pangarengan, Situ Pengasinan, dan Situ Bahar. Semua situ itu, ujar Arga, harus mendapat perhatian dan perawatan maksimal dari Pemkot Depok. “Jika situ-situ tersebut tidak diperhatikan, akan sangat berbahaya. Pasalnya, semua situ merupakan area transit air Sungai Ciliwung sebelum mengalir ke Jakarta. Perlu dibuat tanggul di situ-situ yang menjadi buffer zone DKI Jakarta itu,” paparnya.

Berdasarkan hasil penelitian Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok, semua situ di Kota Depok tercemar limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dari industri. Akibatnya, kualitas air situ buruk dan tidak layak untuk tempat budidaya ikan. Padahal, warga di sekitar situ memanfaatkan air situ untuk budidaya ikan. “Ini harus diwaspadai, karena limbah industri B3,” kata Kepala BLH Kota Depok Rachmat Subagio.

Mengacu data BLH Kota Depok, dari 26 situ yang tercemar antara lain Situ Rawa Kalong (Kelurahan Curug), Situ Tipar (Kelurahan Mekarsari), Situ Cilangkap (Kelurahan Cilangkap), Situ Gadog (Kelurahan Cisalak Pasar), Situ Jatijajar (Kelurahan Jatijajar, Kecamatan Cimanggis), Situ Pengarengan (Kelurahan Bhakti Jaya), Situ Cilodong (Kelurahan Cilodong, Kecamatan Sukmajaya), dan Situ Rawa Besar (Kelurahan Depok, Pancoranmas).

“Bahkan menurut laporan Kelompok Kerja BLH yang ditempatkan di setiap kelurahan, selain limbah rumah tangga Situ Rawa Kalong juga tercemar limbah industri dari pabrik garmen, plastik, elektronik, dan pabrik makanan dan minuman di sekitarnya,” ujarnya. d jay

Juni 2009

Lima Situ di Depok Berbahaya

Kompas,  16 Juni 2009

Sumber: http://www.arthagrahapeduli.org/

Situ Pedongkelan di Kota Depok berada dalam kondisi kritis dan berisiko menimbulkan bencana. Anggota DPRD Kota Depok mengimbau Pemerintah Kota Depok memberikan perhatian khusus pada situ-situ yang berada di wilayahnya, khususnya Situ Pedongkelan.

Kondisi Situ Pedongkelan sudah sangat rawan. Dinding turapnya mulai retak-retak. Keadaan ini sangat membahayakan warga sekitar,” kata Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Depok Wahyudi, Senin (15/6).

Wahyudi mengkhawatirkan, jika kondisi ini terus dibiarkan, akan terjadi abrasi pada tanggul situ yang berlokasi di Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, tersebut.

Kekhawatiran lain menyangkut kemungkinan terjadinya bencana besar karena situ berlokasi di daerah permukiman padat. ”Di balik tanggul situ seluas 6 hektar itu ada sekitar 2.500 warga yang tinggal di perkampungan yang letaknya lebih rendah 10 meter sampai 20 meter di bawah tanggul,” ujar Wahyudi.

”Dengan membiarkan kondisi tersebut, ada kesan Pemkot Depok tidak peduli. Beberapa waktu lalu dinas terkait pernah melakukan pengecekan di lapangan, tetapi hingga kini belum ada tindak lanjutnya,” papar Wahyudi, yang juga bilang bahwa pembiaran ini ironis mengingat Situ Pedongkelan terletak tidak jauh dari Jalan Raya Bogor dan di sekitarnya terdapat beberapa industri besar.

Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) Kota Depok menyanggah pendapat bahwa Situ Pedongkelan kondisinya mengkhawatirkan. ”Tanggul Situ Pedongkelan masih kuat dan memenuhi syarat,” kata Kepala Seksi Pemeliharaan Sumber Daya Air Dinas BMSDA Kota Depok Arga Darma Tubagus, kemarin.

Namun, data yang ada pada Dinas BMSDA menunjukkan, kecuali Situ Pedongkelan, setidaknya masih ada empat situ lain di Depok yang keletakannya mirip dengan Situ Gintung, yang tanggulnya baru-baru ini jebol, yakni lebih tinggi dari permukiman penduduk di balik tanggulnya.

Menurut Arga, situ-situ tersebut adalah Situ Asih Pulo, Sawangan, Pengarengan, dan Situ Bahar. Kondisi ini, tambah Arga, membuat pihaknya memberikan perhatian khusus.

”Situ-situ itu juga mendapat perhatian khusus karena merupakan tempat penampungan air Sungai Ciliwung sebelum mengalir menuju ke wilayah DKI Jakarta,” kata Arga.(AGP.k)

Oktober 2009

Pemkot Depok Tidak Komitmen Melestarikan Situ.

Reporter : Kisar Rajaguguk, 22 Oktober 2009

Sumber: http://202.146.225.124/tanahair/

KOMITMEN Pemerintah Kota Depok untuk menjadikan situ di Kota Depok sarana wisata air hanya sandiwara saja. Jangankan membangun tempat rekreasi mengembalikan fungsi situ sebagai resapan air pun, pemerintah setempat tak mampu.

” Di Kota Depok ada sebanyak 26 situ. Tapi, sebagian besar situ tersebut telah dikuasai oleh perorangan dan dimiliki masyarakat dan digunakan untuk rumah tinggal, dan usaha, ” kata Rohim, 46, pedagang nasi uduk dan tinggal di sekitar situ Pengarengan, Jalan Insinyur Juanda, Kelurahan Mekar Jaya, Kecamatan Sukma Jaya, kemarin.

Menurut Rohim, bahwa dulu ada janji dari pemerintah, baik di pusat maupun daerah, bahwa keberadaan situ di Kota Depok bisa meningkatkan pendapatan masyarakat terlebih warga yang tinggal disekitar lokasi situ. ” Inilah salah satu dijadikan alasan sehingga pemerintah berencana untuk membangun sarana rekreasi. Yang terjadi, situ yang kami diharapkan, tak dibangun-bangun juga, ” tanyanya.

Rohim menambahkan, setelah digembar-gemborkan sekian lama, sarana rekreasi segera dibangun ternyata sampai sekarang belum dibangun juga. Padahal, ia mendengar biaya sudah dikucurkan untuk normalisasi situ yang nilainya sangat besar. Situ Pengarengan, misalnya, sangat potensial dijadikan taman hiburan bagi warga Kota Depok. Tak cuma warga Depok, warga luar Kota Depok lainnya seperti Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang yang berkunjung ke tempat sanak keluarganya akan bersinggah di situ karena memang lokasi situ Pengarengan sangat strategis, terletak dibawah jembatan Jalan Insinyur Juanda yang setiap hari mulai pagi hingga malam dilalui kenderaan roda empat dan dua.

” Karena itu, kami harapkan ada penegak hukum yang melihat pembangunan situ ini, termasuk melihat penggunaan dana yang sudah dikucurkan. Kami khawatir terjadi sesuatu dengan dana itu setelah melihat lamanya pembangunan. Soal itu kami pertanyakan, karena situ atau tangkapan air yang dipandang berkaitan dengan peningkatan pendapatan warga yang tinggal di areal sekitar situ, ” katanya.

Hal senada disampaikan Saiful, 56, peternak ikan dan tinggal di kawasan situ Rawa Kalong, Kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis. Sejak Depok menjadi Kota Madya setelah ’Merdeka’ dari Kabupaten Bogor (1999), katanya, Pemerintah Daerah setempat berjanji untuk membangun wisata keluarga di situ-situ dengan menggunakan anggaran yang berasal dari APBN Pusat, APBD Tingkat I dan II. Tujuannya, untuk menurunkan tingkat pengangguran di Kota Depok dan juga meningkatkan pendapatan pedagang. Di tempat tinggal Saiful, mayoritas bekerja serabutan seperti tukang pikul sayur-sayuran, berjualan kopi, kuli bangunan, dan tukang ojek motor.

Saiful menambahkan, karena situ Rawa Kalong tak kunjung dibangun, dia terpaksa harus menjual nasi uduknya didaerah lain yang letaknya lumayan jauh.Hal itu, menurut Saiful, tentu saja sangat memberatkan, sebab berjualan di tempat jauh yang belum tentu mendapat untung membebani kantong dan segi waktu.” Kalau di dekat rumah, tak mengeluarkan perongkosan, ” katanya.

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Depok Herman Hidayat, yang dihubungi terpisah kemarin, mengatakan, bahwa warga yang tinggal di dekat situ diharapkan bersabar menanti pembangunan wisata situ. Pembangunan situ, katanya, tidak bisa dilakukan cepat karena terbentur dana. Hanya yang pasti, katanya, pembangunan infrastruktur dilakukan hingga bisa dilakukan sarana rekreasi.

” Menjadikan situ sebagai sarana rekreasi bagi warga Kota Depok dan sekitarnya sangat dibutuhkan, karena di Depok tempat rekreasi untuk bersantai keluarga sangat sedikit, hanya bisa dihitung jari. Mudah-mudahan saja, dari pemerintah pusat dan provinsi turun dana, ” katanya. Pelestarian situ yang terdapat di Kota Depok, katanya, harus dilakukan secepatnya. Kalau tidak, tak tertutup kemungkinan luasannya akan terus berkurang dengan munculnya penyerobotan baru. Ini, akan menyulitkan pemerintah daerah khususnya Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (Bimasda) untuk mengembalikan gungsi situ sebagai resapan air. ” Dan akan sulit pula situ dijadikan sarana rekreasi bagi warga Kota Depok, ” tandasnya.

Ia mengatakan, Pemkot Depok pengelolaan situ di Kota Depok nantinya akan diserahkan ke Dinas Pariwisata Kota Depok.Di lokasi situ disiapkan sarana seperti memancing dan bahkan outbond. Dari 26 situ yang ada di Kota Depok, empat diantaranya dimiliki Universitas Indonesia (UI). Yakni: situ UI I, II, III dan IV, yang terletak di areal kampus, lainnya oleh Departemen Pekerjaan Umum (PU) dan lainnya dikuasai perorangan.Situ yang dikuasai perorangan dan dimiliki masyarakat sebagian besar sudah bergirik dan bersertifikat.

Idealnya situ, menurut Herman, dikelola pemerintah dan dirawat sebara baik sebagai tempat air terutama saat hujan dan selanjutnya disalurkan sedikit demi sedikit atau dipompakan keluar situ. “ Situ yang dikuasai oleh perorangan dan dmiliki masyarakat tersebut digunakan untuk keperluan antara lain kebun, kolam atau dibiarkan menjadi lahan kosong, “ ungkap Herman (Kisar Rajagukguk)

Desember 2009

Situ Cilangkap diusulkan Jadi Tempat Wisata

Sumber: http://www.radar.co.id/ 01Desember 2009

Depok, Radar Online
Untuk menggali potensi pendapatan asli daerah dibidang pariwisata, keberadaan situ di wilayah kota Depok belum digarap secara maksimal. Sebagian masyarakat yang berdekatan dengan situ-situ tersebut berharap keberadaannya bisa di jadikan obyek wisata air. Salah satu Situ yang di usulkan oleh masyarakat menjadi obyek wisata air adalah Situ Cilangkap di kelurhan Cilangkap kecamatan Tapos Kota Depok

Lokasi situ Cilangkap diyakini cukup strategis untuk dijadikan obyek wisata. Selain luas lokasinya, akses jalannya pun cukup menunjang yakni berada di bibir jalan utama yang menghubungkan tol kearah Cimanggis-Jagorawi.

Sekretaris kelurahan Cilangkap H.Tono Hendratno, S.Sos sehubungan usulan masyarakat itu kepada Radar Online di ruang kerjanya Selasa ( 1/12/2010) menjelaskan,dalam waktu dekat kami akan mengusulkannya kepemerintah kota Depok bahwa Situ Cilangkap agar dapat di jadikan sebagai tempat obyek wisata.

”Dalam waktu yang tidak terlalu lama kami akan mengadakan stady banding ke berbagai kelompok kerja( Pokja) situ-situ yang berada di Depok, yang tujuannya untuk menyamakan persepsi agar keberadaan situ dapat dijadikan obyek wisata,” ujar Tono seraya meyakinkan bahwa keberadaan situ merupakan salah satu potensi pariwaisata untuk menambah PAD kota Depok.

Setelah direspon oleh pemerintah Kota Depok, kata Tono, kita akan berdayakan masyarakat termasuk para tenaga kerjanya untuk mengelola pariwisata di situ Cilangkap.

“Kami yakin potensi itu sangat menguntungkan bila dikelola dengan baik,” ujarnya lagi.

Ditempat dan hari yang sama anggota Komisi B DPRD Kota Depok yang di ketuai Sri Rahayu Tipatul Sembiring berkesempatan meninjau situ Cilangkap.

Kedatangan para anggota dewan dari komisi B tersebut berencana akan memberi bantuan berupa bibit pohon keras produktip dan bantuan bibit Ikan.

Rencananya bantuan bibit pohon dan bibit ikan itu akan segera di kucurkan sesuai kondisi tanah dan kondisi air situ.(Asep Nasrudin )

26 Situ di Depok Tercemar Limbah

Sumber: http://www.pelita.or.id/ 25 Desember 2009

Depok, Pelita
Berdasarkan data dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok tercatat seluruh Situ di Kota Depok, telah tercemar limbah berbahaya. Akibat pencemaran itu mengakibatkan kualitas air situ buruk dan tidak layak untuk tempat budi daya ikan.

Dari 26 situ yang tercemar, Situ yang dinilai terparah adalah Situ Rawa Kalong di Kelurahan Curug, Situ Tipar di Kelurahan Mekar Sari, Situ Cilangkap di Kelurahan Cilangkap, Situ Gadog di Kelurahan Cisalak Pasar, Situ Jatijajar di Kelurahan Jatijajar, Kecamatan Cimanggis, Situ Pengarengan di Kelurahan Bhakti Jaya, Situ Cilodong di Kelurahan Cilodong, Kecamatan Sukma Jaya, dan Situ Rawa Besar di Kelurahan Depok, Pancoran Mas.

Kepala BLH Kota Depok Rahmat Subagio, mengatakan data tersebut didapat berdasarkan laporan dari Kelompok kerja (Pokja) Situ di setiap kelurahan. Selain tercemar limbah rumah tangga, beberapa situ juga tercemar limbah industri.

Kondisi situ-situ di Kota Depok membahayakan kesehatan Ini harus diwaspadai, karena limbah industri merupakan bahan berbahaya dan beracum (B3), kata Rahmat.

Salah satu situ yang tercemar limbah industri adalah Situ Rawa Kalong yang lokasinya berdekatan dengan pabrik garmen, pabrik plastik, pabrik makanan dan minuman, dan pabrik elektronik. Limbah dari industri itu biasanya digelontorkan ke situ saat turun hujan. Mereka memanfaatkan aliran air saat hujan untuk membuang limbahnya ke situ, ujarnya.

Rahmat menegaskan saat ini pihaknya tengah mempersiapkan rencana pengendalian masalah lingkungan di Kota Depok. Anggaran yang dibutuhkan cukup besar, karena sesuai tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) BLH melakukan penelitian dan pengkajian lingkungan. (ck-26)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: