Berita 2010

Januari 2010

HIPMI Bersih-Bersih Situ di Depok

Sumber:  http://matanews.com/ 3 Januari 2010

Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail di Situ Pengasinan, Depok/*piput.matanews

Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Minggu (03/01) menggelar kegiatan bersih-bersih kawasan Situ Pengasinan, Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Wali kota Depok, Dr. Ir. Nur Mahmudi Ismail, M.Sc yang secara simbolis membuka acara yang dikemas sebagai Depok Go Green II itu mengakui, jika kegiatan tersebut dimaksudkan untuk menumbuh kembangkan rasa kepedulian terhadap lingkungan.

“Jadi tidak sekedar kewajiban pemerintah daerah saja untuk mengurusi lingkungan tapi keterlibatan dan peran serta aktif masyarakat sangat diperlukan,” ujar Nur Mahmudi.

Kegiatan ini boleh jadi merupakan titik terang untuk membangun kesadaran masyarakat akan lingkungan. Bila hal ini terwujud bukan tidak mustahil kota Depok akan menjadi hijau dan tetap menjadi air serapan ibu kota Jakarta.

Ketua HIMPI Depok Ir. Roni Aidil, MM menyebutkan, kegiatan yang mereka prakarsai ini sebagai salah satu wujud kontribusi kalangan pengusaha kepada kota Depok. “Pengusaha tidak hanya diartikan sebagai perusak lingkungan, tapi juga peduli akan lingkungan,” ujarnya.

Selain bersih-bersih Situ Pengasinan, Depok Go Green II yang merupakan kedua kalinya sebagai hajad HIPMI Depok, juga diikuti pameran lingkungan di Margo City Depok, diikuti perusahaan-perusahaan yang peduli lingkungan.

Menurut anggota DPRD Depok Babay Suhaimi pada dialog lingkungan lanjutan di Margo City, seharusnya toko-toko sepanjang Margonda Raya juga wajib untuk menanam atau menghijaukan lahan parkirannya, sehingga sepanjang jalan akan terlihat hijau dan bersih.

Kegiatan Depok Go Green II berlangsung 1-10 Januari 2010, guna memberi inspirasi dan kesadaran kepada masyarakat tentang arti pengtingnya lingkungngan khususnya keberadaan air tanah untuk masa depan. (*As/bo)

 

Pelihara Resapan Air, Situ Cilangkap Depok Dibersihkan

Sumber:  http://www.koran-radar.com/ 03 Januari 2010

Keterangan Gambar : Situ Cilangkap Senja Hari bakal Di usulkan Tempat Wisata

Depok, Radar Online
Mengawali kegiatannya di awal tahun baru 2010, warga Cilangkap di kecamatan Tapos kota Depok, Minggu pagi (3/1/2010) berbondong-bondong kerja bakti membersihkan berbagai saluran air dan seputar drainase disitu Cilangkap. Satu mobil khusus sengaja didatangkan dari Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air kota Depok, untuk mengangkut sampah lingkungan hasil dari pada kerja bakti itu.

Sejumlah petugas kebersihan, RT/RW dan ibu-ibu PKK kelurahan Cilangkap tampak sibuk dan antusias membersihkan setiap jumput rumput dan sampah yang menyumbat saluran. Turut hadir pula seluruh kepala kelurahan serta Camat Tapos Taupan Abdul Fatah.

Menurut Sekretaris Lurah Cilangkap,H.Tono kepada Radar Online menjelaskan, kegiatan ini dalam rangka kerja bakti lingkungan agar masyarakat dapat menjaga kebersihan di lingkungan masing-masing. Kegiatan sengaja di pusatkan di Situ Cilangkap mengingat Situ merupakan resapan air yang perlu di jaga kelestariannya.

Lebih jauh Tono menjelaskan, Depok merupakan salah satu daerah tangkapan air untk daerah Jabodetabek dan secara geografis merupakan daerah yang memiliki banyak setu dan sungai.

Tercatat sebanyak 30 situ yang satu persatu pengelolaannya sudah mulai tertata. Bahkan beberapa Situ semisal Situ Pengasinan, Situ Citayam, Situ Pedongkelan merupakan situ-situ yang sekarang mulai termanfaatkan lebih dengan dijadikannya area wisata air.

“Satu lagi yang bakal di usulkan menjadi wisata air adalah situ Cilangkap mudah-mudahan ajuan itu dapat terkabul,” ujarnya.

Sebagai mana di ketahui,kata Tono, Situ Cilangkap direncanakan bakal menerima bantuan bibit ikan dan tanaman pohon keras dan buah produktif.

Bantuan tersebut dimaksudkan agar situ Cilangkap dapat di berdayakan dengan budi daya ikan air tawar dan produksi buah-buahan, sehingga kedepan masyarakat petani ikan dan buah dapat mengelolanya dengan baik melalui pemberdayaan masyarakat di bidang pengelolaan situ,” Tandas Tono. ( Asep Nasrudin )

Sungai & Situ di Depok Tercemar Bakteri E-Coli

Sumber: http://news.okezone.com/ 5 Januari 2010

Marieska Harya Virdhani – Okezone 

Situ Rawa Besar di Depok

DEPOK – Hampir seluruh sungai dan situ di Depok mengandung bakteri e-coli dan tercemar limbah rumah tangga.

Hal itu akibat padatnya pemukiman yang menghasilkan limbah rumah tangga. Hasil uji laboratorium Badan Lingkungan Hidup Kota Depok menyebutkan hampir 80 persen sungai dan situ di Depok masih memenuhi standar baku mutu.

Artinya, masih ada 20 persen sungai dan situ yang tercemar limbah yang dapat ikut mencemari air tanah, serta berbahaya bagi kesehatan.

Badan Lingkungan Hidup Kota Depok mencontohkan, Situ Rawa Besar adalah situ dengan kadar pencemaran Bakteriology Oxigen Demand (BOD) tertinggi yaitu 87 mg/liter melebihi ambang batas yang hanya 6 mg/liter. Sedangkan secara kimiawi, atau Chemical Oxigen Demand (COD) juga mencapai 116 mg/liter melebihi standard 50 mg/liter.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Depok Rahmat Subagyo mengatakan, masyarakat harus mampu mengurangi kadar tersebut dengan memanfaatkan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal. Pencemaran secara kimia, kata Rahmat, disebabkan oleh air cucian dan sabun dari rumah tangga.

“Warga harus dapat mengolah sendiri, karena kalau mencemari sungai, dapat mencemari air tanah juga,” katanya kepada wartawan, Selasa (05/01/10).

Sedikitnya terdapat 16 titik situ dan 19 titik sungai yang sudah diuji oleh Badan Lingkungan Hidup sejak November 2009. Di antaranya, Situ Rawa Besar, Situ Bahar, Situ Cilodong, Sungai Ciliwung, dan Kali Cikumpa. (ram)

Bakteri dan Limbah Rumah Tangga Cemari Situ Depok

Sumber:  http://www.greenradio.fm/ 06 January 2010

Marieska Virdhani, Kontributor KBR68H Depok, Jawa Barat

steveaoki.dimmak.com

Sekitar 30 persen situ dan sungai di Depok, Jawa Barat tercemar bakteri dan limbah rumah tangga akibat padatnya permukiman. Hasil uji Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok menyebutkan sungai dan situ tercemar secara kimia dan bakteriologi dengan kadar BOD-COD yang masih tinggi.

Kepala Sub Bidang Pengendalian dan Penataan Lingkungan, BLH Kota Depok, Dedi Sofyan mengatakan, meski hasil penelitian secara keseluruhan cukup baik, namun padatnya permukiman masih mencemari situ dan sungai yang ada.

Solusinya, kata Dedi, masyarakat harus memanfaatkan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal yang disediakan pemerintah kota di setiap sungai dan situ.

Salah satu situ yang tercemar adalah Situ Pancoran Mas, Rawa Besar Depok dengan kadar pencemaran Bacteriology Oxygen Demand (BOD) tertinggi yaitu 87 mg/liter melebihi ambang batas yang hanya 6 mg/liter. Sedangkan secara kimiawi, atau Chemical Oxygen Demand (COD) juga mencapai 116 mg/liter melebihi standard 50 mg/liter.

Sedikitnya terdapat 16 titik situ dan 19 titik sungai yang sudah diuji oleh Badan Lingkungan Hidup sejak November 2009. Di antaranya, Situ Rawa Besar, Situ Bahar, Situ Cilodong, Sungai Ciliwung, dan Kali Cikumpa.

Untuk Konservasi Air, Perempuan Menanam di Gulirkan

Sumber: http://www.koran-radar.com/ 09 Januari 2010

Depok, Radar Online

Situ Cilangkap di Kecamatan Tapos Kota Depok Minggu besok (10/1/2010) bakal jadi pusat kegiatan perempuan menanam untuk konservasi air.Kegiatan iti direncanakan akan di hadiri oleh Menteri Komunikasi dan Informasi Ir.H. Tifatul Sembiring dan pejabat teras kota Depok.

Sebelumnya Situ Cilangkap juga di datangi rombongan Anggota DPRD Depok dari komisi B. Hal itu terungkap setelah ketua pokja Situ Cilangkap Jubaedi dan Sekretaris Lurah Cilangkap H.Tono Hendratno.S.Sos unsur Muspika dan Muspida Depok di undang oleh komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kota Depok di Komplek Kota Kembang, belum lama ini.

Menurut Ketua pokja situ Cilangkap,Jubaedi yang didampingi Sekretaris Kelurahan Cilangkap, H.Tono Hendratno.S.Sos kepada Radar Online Jum`at (8/1/2010) mengatakan, kegiatan gerakan perempuan menanam untuk konservasi air ini, rencananya akan di gelar pada 27 Desember lalu,tetapi satu dan lain hal baru bisa di selenggarakan Minggu (10/1/2010).

“Persiapan nya sudah siap seratus persen,termasuk tempat-tempat dan lokasi penanaman pohon setelah sebelunmya juga di lakukan kerja bakti dan pembersihan area Situ Cilangkap,” Ujar Ubed.

Dalam kegiatan itu kata Jubaedi,akan di berikan berupa 10 ribu bibit ikan untuk ditanam ke situ serta 200 bibit pohon buah dan pohon keras produktif,” ujarnya.

Ditempat yang sama Sekretaris Lurah Cilangkap, H.Tono Hendratno menjelaskan, program ini merupakan program pusat yang di pusatkan di situ Cilangkap setelah sebelumnya dipusatkan di situ Cikaret Bogor Jawa Barat. (Asep Nasrudin)

Februari 2010

Warga Depok Tercemar Limbah Pabrik Plastik

Sumber:  http://news.okezone.com/ 22 Februari 2010

Dok. AFP

Marieska Harya Virdhani – Okezone

DEPOK – Puluhan warga RT 1/2, Kalibaru, Cilodong, Depok, mengeluhkan berdirinya pabrik plastik yang berada di pinggir situ Cilodong, Sukmajaya, Depok. Pabrik plastik tersebut sudah berdiri selama tiga tahun dan memaksa warga untuk menghirup bau busuk dari limbah.

Pabrik plastik bernama PT Matrindo ini pun sudah berulang kali diprotes warga. Namun tak juga mendapat tanggapan dari pengelola pabrik. Padahal bau busuk dari limbah pabrik itu sudah sangat mengganggu dan membuat warga pusing serta mual setiap hari.

“Anak saya selalu pusing dan mual setiap hari. Begitu ada angin yang bertiup dari arah pabrik, aroma busuk itupun tercium. Seperti bau sampah yang ada di TPA Bantar Gebang. Baunya setiap saat bisa terhirup,” ungkap Ketua RT1/2, Sentot di lokasi, Senin (22/02/10).

Sentot mengatakan, aroma bau menyengat tersebut bisa menjangkau hingga jarak 500 meter dari lokasi pabrik. Tak hanya itu saja, kata Sentot, warga juga mengeluhkan kondisi air situ Cilodong yang mulai berubah.

“Kerusakan itu pun dipicu limbah PT Matrindo yang dibuang ke situ. Akibatnya air situ Cilodong pun mengeluarkan bau tak sedap. Limbah berupa cairan dan padat. Bentuknya seperti kristal plastik yang berukuran kecil. Limbah-limbah tersebut hampir merata menutupi badan situ Cilodong,” katanya.

Camat Cilodong, Edy Juhaidi mengaku sudah melakukan koordinasi atas laporan tersebut. Instansi terkait, kata Edy, sudah diminta melakukan pengujian limbah. “Saya sempat dapat kabar kalau itu limbah dari plastik. Kalau lainnya saya tidak tahu,” jelas Edy.

Edi menambahkan, selain masalah limbah, memang terdapat sejumlah kesalahan lain yang dilakukan PT Matrindo. Pelanggaran tersebut, lanjut Edy, berupa pelanggaran garis sepadan sungai (GSS) bangunan dan perubahan izin bangunan.

Sebelumnya, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok membenarkan adanya dugaan pencemaran limbah plastik tersebut. BLH juga sudah memanggil pemilik pabrik tersebut untuk membahas kajian dugaan pencemaran dan menemukan solusi kepada masyarakat. (teb)

Maret 2010

Lima Situ Siap Jadi Taman Wisata Air

Sumber:  http://www.depok.go.id/ 26 Maret 2010

Selain terkenal sebagai Kota Belimbing, Depok juga terkenal memiliki sejumlah potensi sumber daya alam yang bisa dikembangkan salah satunya situ. Saat ini melalui Dinas Pemuda Pemuda dan Olah raga Pariwisata (Dispora) sebanyak lima situ bakal terus dikembangkan menjadi sarana rekreasi lokal warga Depok.

Menurut A. Rojat Kepala Bidang Parawisata dan Kesenian menyatakan bahwa di situ-situ tersebut akan dibangun sarana sepeda air dan terminal-terminal sepeda air. Perbaikan dilakukan untuk sarana jalan dan akan dibangun figura selamat datang di lokasi situ tersebut.

Pembangunan situ yang sedang berjalan seperti Situ Citayam, Situ Pulau Asih di Pancoran Mas, Situ Pengasinan Sawangan, Situ Jatijajar Cimanggis, situ Pedongkelan Cimanggis” terangnya saat ditemui dikantornya Rabu (24/3).

Terkait dengan pengurusan sarana dan prasarana yang telah dibangun oleh pihak pemerintah khususnya Dispora, Rojat mengatakan bahwa,” kita akan serahkan kepada pihak Kelompok Kerja (Pokja) masyarakat setempat sebagai program pemberdayaan masyarakat setempat” ujarnya.

Rojat menyatakan bahwa sedikitnya ada empat tujuan mengapa Dispora mengembangkan Taman Wisata Air, yang pertama untuk menyelamatkan situ-situ yang banyak di Kota Depok yang saat ini telah banyak yang beralih fungsi. Yang kedua untuk menjaga kebersihan situ, sebab menurut Rojat kalau situ tersebut diberdayakan maka kebersihannya pun akan terjaga, yang ketiga agar ditingkatkan keindahannya dan yang terakhir adalah untuk meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.

“Keempat tujuan ini bisa pastinya berdampak positif buat semua pihak yang ada di Kota Depok” terangnya.

Disaat yang sama Rojat juga mengatakan bahwa,”Untuk saat ini hanya lima situ itu saja yang dikembangkan sebagai taman wisata air, pihak kami khawatir jika di tambahkan maka program wisata air ini jadi tidak menarik” jelasnya.

April 2010

Depok Belum Kelola 20 Situ

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/ 16 April 2010

TEMPO Interaktif, Depok – Pemerintah Kota Depok hingga kini belum menggarap danau-danau (situ) yang ada di wilayahnya untuk kepentingan wisata sehingga bisa menjadi tambahan pemasukan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Masih ada 20 situ yang belum digarap maksimal untuk wisata air di daerah itu.

Kepala Bidang Pengambangan Pariwisata, Seni, dan Budaya Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Seni Budaya Kota Depok, Abdul Rojat menjelasakan ada tiga kendala yang membuat banyak situ di Depok belum bisa dikembangkan menjadi wisata tirta.

Pertama kendala pendanaan. Kedua, akses jalan ke situ yang kurang memadai. “Beberapa situ letaknya agak nyempil dan jalannya sempit,” ujarnya kepada wartawan di ruangannya, Jumat (16/04).

Kendala terakhir, tambah Abdul, tidak semua situ layak dikembangkan menjadi daerah wisata karena terlalu dalam. Jika kedalaman situ mencapai lebih dari 4 meter, maka dikhawatirkan justru akan membahayakan pengunjung.

Sampai 2010 ini dari 26 situ di Depok, baru enam situ, yang dikembangkan. Keenamnya antara lain, situ Pedongkelan, situ Asih Pulo, situ Rawa Besar, situ Citayam, situ Jatijajar, dan situ Pengasinan.

Tahun depan rencananya, akan ada dua situ lagi yakni situ Cilangkap dan Situ Cilodng yang akan digarap menjadi wisata tirta. “Kita anggarakan sekitar 90 juta untuk garap dua situ itu. Mudah-mudahan saja disetujui,” kata Abdul. Dana tesebut akan digunakan untuk pengadaan sepeda air dan pembuatan dermaga.  TIA HAPSARI

Situ di Depok Belum Tergarap

Sumber : http://jakartacitydirectory.com/ 17 April 2010

DEPOK, JCDnews – Masih ada 20 situ yang belum digarap maksimal untuk wisata air di Depok. Padahal, dengan wisata Depok, Pemerintah Kota Depok bisa menjadi tambahan pemasukan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).

Kepala Bidang Pengambangan Pariwisata, Seni, dan Budaya Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Seni Budaya Kota Depok, Abdul Rojat menjelasakan, sampai saat ini, dari 26 situ di Depok, baru enam situ yang dikembangkan.

Keenam situ itu antara lain, situ Pedongkelan, situ Asih Pulo, situ Rawa Besar, situ Citayam, situ Jatijajar, dan situ Pengasinan. Abdul mengatakan, rencananya tahun depan Pemerintah Kota Depok akan menggarap ada dua situ lagi yang untuk dijadikan wisata air, yaitu situ Cilangkap dan Situ Cilodong.

“Kita anggarakan sekitar 90 juta untuk garap dua situ itu. Mudah-mudahan saja disetujui,” kata Abdul. Dia menambahkan, dana yang didapatkan nantinya akan digunakan untuk pengadaan sepeda air dan pembuatan dermaga.

Namun demikian, Abrul menuturkan, setidaknya ada tiga kendala yang membuat banyak situ di Depok belum bisa dikembangkan menjadi wisata tirta. Yang paling pertama adalah kendala pendanaan. Kedua, akses jalan ke situ yang kurang memadai.

“Beberapa situ letaknya agak nyempil dan jalannya sempit,” kata Abdul di Depok, Jumat (16/04).

Kendala terakhir, yaitu tidak semua situ layak dikembangkan menjadi kawasan wisata air. Sebab, selain lokasinya yang terisolir, situ juga terlalu dalam. Abdul mengatakan, apabila kedalaman situ mencapai 4 meter lebih, dikhawatirkan akan membahayakan pengunjung. Jakartacitydirectory.com (Yadisetia)

Dua Situ Depok Tercemar Limbah Kimia

Sumber: http://www.antaranews.com/ 27 April 2010

Depok (ANTARA News) – Kepala Badan Lingkungan Hidup Depok Rahmat Subagyo mengatakan bahwa situ Gadog dan situ Pladen yang ada di Kota Depok, Jawa Barat, tercemar bahan-bahan kimia berbahaya.

Dengan pencemaran itu, maka air kedua situ tersebut tidak bisa lagi dimanfaatkan untuk mandi maupun mencuci pakaian, kata Rahmat di Depok, Selasa.

Air yang sudah tercemar dalam dua situ itu juga tidak layak dikonsumsi karena bisa menjadi penyakit. “Kalau dikonsumsi kulit bisa gatal-gatal, bahkan jika dikonsumsi terus menerus bisa menyebabkan kelainan pada keturunan,” jelasnya.

Berdasarkan hasil uji lab terakhir, kandungan Biologycal Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) kedua situ tetap tinggi. Nilai BOD standar adalah 6 mg/liter sedangkan COD standar adalah 50 mg/liter.

BOD di Situ Gadog mencapai 40,24 mg/l dan kadar COD mencapai 149,22. Adapun untuk Situ Pladen, kadar BOD mencapai 87,58 mg/l dan kadar COD mencapai 110,16 mg/l.

Kadar BOD dan COD merupakan kajian parameter suatu kualitas air. Kadar BOD dan COD yang tinggi pada kedua situ membuktikan tingginya pencemaran yang terjadi.

“Pencemaran di Situ Pladen terjadi karena letaknya yang berada di tengah pemukiman padat penduduk,” katanya.

Menurut Rahmat, BOD menjadi tinggi karena banyaknya limbah berupa feses atau kotoran manusia. Sedangkan COD adalah kondisi oksigen yang terhambat karena zat kimia. COD menjadi tinggi karena banyaknya limbah kimia, seperti larutan sabun dan detergen.

(T.F006/J006/S026)

Pencemaran Situ di Depok Ganggu Kualitas Air Tanah

Sumber: http://news.okezone.com/ 27 April 2010

Marieska Harya Virdhani – Okezone

DEPOK – Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok kembali mengumumkan hasil uji laboratorium terhadap dua situ terkait pencemaran bahan-bahan kimia berbahaya. Kedua situ tersebut yakni Situ Gadog di Kecamatan Cimanggis dan Situ Pladen di Kecamatan Beji.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok Rahmat Subagyo mengatakan, pencemaran tersebut indikator pencemaran tersebut diukur berdasarkan angka Biologycal Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) yang tinggi. Secara standar, nilai BOD adalah 6 mg/liter sedangkan COD standar adalah 50 mg/liter.

”BOD merupakan kebutuhan oksigen terhalagi bahan-bahan organik. BOD menjadi tinggi karena banyaknya limbah berupa feses atau kotoran manusia masuk ke situ. Sedangkan COD adalah kondisi oksigen yang terhambat karena zat kimia. COD menjadi tinggi karena limbah kimia, seperti larutan sabun dan detergen mengalir ke situ,” katanya kepada wartawan, Selasa (27/4/2010).

Rahmat mengungkapkan, tingkat pencemaran BOD Situ Gadog misalnya, adalah sebesar 450,42 mg. Sedangkan jumlah COD mencapai 149,22 mg. Sama halnya dengan Situ Pladen, di mana angka BOD dan COD sebesar 87,58 mg dan 110,16 mg. Kedua situ tersebut juga tercemar sejumlah bahan kimia di antaranya, mangan, barium, seng, amonia, klorida, dan besi.

”Kedua situ ini menyebabkan air tanah yang ada tidak bisa dimanfaatkan. Jangankan untuk dikonsumsi langsung oleh warga, air di kedua situ ini juga tak boleh dipakai untuk mandi maupun mencuci pakaian, karena bisa gatal–gatal juga,” katanya.

Sebelumnya, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok pernah menyebutkan situ–situ lainnya yang juga tercemar oleh bahan kimia maupun bakteri E–Coli, yakni Situ Rawa Besar, dan Situ Cilangkap yang diduga tercemar oleh pabrik plastik. Depok memiliki 26 situ di 11 kecamatan, namun rata–rata kini dalam kondisi yang masih memprihatinkan.(ram)

Air Situ di Depok Tidak Layak Konsumsi

Sumber: http://www.vhrmedia.com/ 29 April 2010

Mulyono / Angga Haksoro

Situ Pladen, Depok
VHRmedia, Jakarta – Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta menilai air yang tercemar bakteri E-coli dalam kadar tinggi tidak layak dikonsumsi. Sejumlah situ (danau) di kawasan Jakarta dan Depok dipastikan tercemar bakteri E-coli.

Kepala Sub-Direktorat Pengendalian Pencemaran Sumber Kegiatan Lingkungan, Departemen Kesehatan, Rina Suryani, mengatakan bakteri E-coli hidup pada air yang tercemar limbah kegiatan mandi, cuci, dan kakus.

Pada kasus ringan, bakteri E-coli menyebabkan sakit perut dan diare. Namun, jika dikonsumsi terus-menerus, bakteri ini akan menyebabkan penyakit yang lebih serius. “Kadar maksimum yang dibolehkan 20.000 koloni/100 mililiter air,” kata Rina Suryani, Kamis (29/4).

Sebelumnya, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Depok, Rahmat Subagyo, mengatakan Situ Gadog dan Situ Pladen telah tercemar bakteri E-coli. Pencemaran kedua situ ini tergolong berat, sehingga sulit dipulihkan.

Menurut Rahmat, kondisi semakin parah karena warga menjadikan situ sebagai tempat membuang sampah. “Seharusnya air diolah dulu. Tapi tidak ada yang mengoperasionalkan situ. Jadi, semua sampah dari pasar dan permukiman warga dibuang ke situ.” (E1)

Mei 2010

Jakarta Diharapkan Membantu Memelihara Situ-Situ Depok

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/  24 Mei 2010

Situ Rawa Besar, Depok, Jawa Barat. TEMPO/Gunawan Wicaksono

TEMPO Interaktif, Depok – Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Depok mengharapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membantu memelihara situ-situ di wilayah Depok. Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Depok Wijayanto menjelaskan bantuan yang diberikan Pemerintah DKI Jakarta kepada Pemkot Depok selama ini masih terbatas pada biaya pemeliharan terhadap situ-situ yang secara geografis beririsan dengan wilayah Jakarta, seperti Situ Pedongkelan dan Situ Tipar.

Wijayanto berharap, pada waktu mendatang bantuan tidak lagi melihat pada fungsi geografis saja, tetapi juga pada segi fungsional. “Jangan lagi cuma lihat sisi geografis saja, tetapi juga harus dilihat sisi fungsional,” kata Wijayanto di kantornya hari ini.

Situ-situ di Depok, kata Wijayanto, bermanfaat untuk menampung air kiriman dari Bogor. “Jadi kalau ada air kiriman Bogor, nggak langsung mengalir ke Jakarta tapi bisa disimpan dulu di Depok.”
Idealnya, bantuan yang diberikan oleh Pemerintah DKI Jakarta sebesar Rp 10 miliar, dengan rincian satu situ mendapat biaya pemeliharaan sekitar Rp 500 juta. Dengan biaya sebesar Rp 10 miliar, setidaknya ada 20 situ yang bisa tetap terpelihara setiap tahunnya.

Berdasarakan data Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air, sampai saat ini tercatat ada 26 situ di Depok yang masih aktif. Situ -situ itu selain berfungsi konservasi juga bermanfaat untuk mencegah atau mengurangi terjadinya banjir. Dua fungsi itu dapat terlaksana dengan baik jika kedalaman dan luas situ tetap terpelihara. Untuk itu, normalisasi situ perlu dilakukan setiap tahunnya. TIA HAPSARI

Situ Depok Rawan Jebol

Sumber: http://www.republika.co.id/  25 Mei 2010

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK- Sebanyak tujuh situ (danau) di Kota Depok rawan jebol. Situ tersebut terdiri dari Situ Pengasinan di Kecamatan Sawangan dan Situ Asih Pulo di Kecamatan Pancoran Mas.

Selain itu, ada juga Situ Bojong Sari di Kecamatan Bojongsari, Situ Pangarengan dan Situ Sido Mukti di Kecamatan Sukmajaya serta Situ Pedongkelan dan Situ Jatijajar di Kecamatan Cimanggis.

Menurut Kepala Bidang Sumber Daya Air, Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Depok, Wijayanto hal ini terjadi karena usia tanggul situ yang sudah tua. “ Selain itu banyaknya perumahan warga yang membuat saluran air illegal di bibir situ juga merapuhkan konstruksi tanggul,” ungkapnya kepada Republika, Selasa (25/5).

Tak hanya rawan jebol, situ di Depok pun banyak mengalami pendangkalan. Rata-rata kedalaman situ berkurang drastis hingga mencapai satu sampai dua meter. Wijayanto mengatakan ini terjadi karena banyaknya lumpur yang mengendap. Sampah yang dibuang sembarangan oleh warga juga disinyalir menjadi penyebab.

Untuk memperbaiki tanggul dan normalisasi situ, pemerintah mengucurkan dana Rp 1 miliar pada tahun ini. Sayangnya akibat dana yang pas-pasan, hanya empat situ saja yang diperioritaskan yaitu Situ Pengasinan, Situ Asih Pulo, Situ Rawa Kalong dan Situ Timah.

Wijayanto juga megatakan tengah mengajukan bantuan dana ke pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk merawat situ, sebab sebagian beredekatan dengan provinsi tersebut. Ia mengatakan, pihaknya mengajukan anggaran Rp 3 Miliar.

Menurutnya, jika disetujui, dana tersebut akan dipakai untuk perawatan dua situ. “Untuk perbaikan tanggul Situ Pedongkelan dan pengerukan di Setu Tipar,” ujarnya.

Normalisasi Situ Depok Sedot Rp 11 M

Sumber:  http://bataviase.co.id/26 May 2010

DEPOK, BK

Upaya normalisasi sejumlah situ di Depok diperkirakan akan menyedot dana Rp 11 miliar. Sementara pemerintah daerah setempat tidak memiliki anggaran sebesar itu sehingga langkah normalisasi akan sedikit terhambat.

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BM dan SDA) Kota Depok, Yayan Arianto, mengatakan, saat ini pihaknya baru menerima sekitar Rp 3 miliar dari Badan Kerja Sama Pembangunan (BKSP) yang merupakan dana bantuan DKI Jakarta untuk Depok. Kita masih kekurangan anggaran untuk normalisasi situ. Anggaran yang ada hanya bisauntuk normalisasi dua situ, yaitu Situ Pedongkelan dan Tipar, ujarnya di Depok, Selasa (25/5).

Menurut Yayan, dana bantuan dari BKSP tahun 2010 ini, memang cukup membantu pihaknya dalam mcnormalisasi situ. Hanya saja, jumlah tersebut tetap dirasakan masih kurang dari jumlah normal yang diperlukan.Dua situ yang dinormalisasi saat ini, jelasnya, menjadi perhatian utama karena kondisinya yang perlu segera mendapat perbaikan. Situ Pedongkelan yang memiliki luas 6,25 hektar dan berbatasan dengan DKI Jakarta , sudah dalam kondisi kritis dan rawan jebol sehingga harus dipri-oritaskan.

Sedangkan untuk Situ Tipar, akan dilakukan normalisasi dengan cara membuat tata aliran air yang baik dan pembuatan jogging track. Kaku DKI Jakarta ingin serius membantu dalam hal normalisasi situ di Depok, saya yakin akan dapat mengurangi banjir di Jakarta. Karena selama ini Depok dituding sebagai penyumbang banjir ke Jakarta,” ujar Yayan.Sementara itu, Kepala Bidang Sumbar Daya Air Dinas BMSDA Kota Depok, Wijayanto, mengatakan, normalisasi yang akan dilakukan meliputi pengerukan lumpur dan pembangunan tanggul yang retak di sekitar situ, dh

Oktober 2010

Banyak Situ di Depok Alami Pendangkalan

Sumber: http://www.republika.co.id/ 05 Oktober 2010

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK–Pemerintah Kota Depok terkesan tak mengurus situ-situ di wilayah mereka. Buktinya, pendangkalan akibat sedimentasi situ-situ di Kota Depok dapat mencapai ketinggian dua meter.

Hal ini diungkapkan Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Setu Cilodong, Dadang MH. Menurut Dadang, kondisi setu di Kota Bandung kerap memprihatinkan. Pada masa kemarau, situ-situ itu akan mengering total. Sedangkan pada musim hujan, terjadi sedimentasi dari lumpur yang mengalir melalui sungai.

Ia mencontohkan pada Situ Cilodong. Pada musim kemarau, setu akan kering karena sungai yang menghubungkan Setu Cilodong dengan Setu Cikaret telah rusak. Sehingga pihaknya kerap melakukan penggalian di sungai tersebut, agar air sungai tetap mengalir ke Situ Cilodong.

“Kami hanya mengimbau agar pemerintah lebih memperhatikan kondisi setu di Kota Depok. Karena program revitalisasi apapun akan gagal jika situ tetap dibiarkan terus mendangkal,” ungkap Dadang di sela-sela acara penebaran benih yang dilakukan Ketua Tim Penggerak PKK Jabar, Netty Prasetyani Heryawan dan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jabar, Ahmad Hadadi, dengan Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail, di Setu Cilodong, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Selasa (5/10) pagi.

Kondisi Situ Cilodong, lanjutnya, tidak berbeda dengan setu-setu lainnya. Sebagian besar permasalahannya tidak berbeda, yaitu pendangkalan akibat sedimentasi. Padahal, jika lebih diperhatikan, 26 setu di Kota Depok dapat menambah pendapatan Pemkot Depok.

Ketua Tim Penggerak PKK Jabar, Netty Prasetyani Heryawan, mengatakan perbaikan dan revitalisasi situ di Kota Depok sangat penting. Pasalnya, Kota Depok merupakan buffer zone atau kawasan penyangga dari DKI Jakarta. Setu atau waduk, katanya, merupakan tempat penadah air hujan yang sangat efektif untuk meminimalisasi banjir. Dengan setu yang berfungsi dengan baik, banjir di Jakarta akan berkurang.

“Dengan penanaman pohon dan penebaran benih-benih ikan merupakan salah satu upaya untuk mengembalikan keseimbangan alam di 26 situ di Kota Depok,” ujarnya.

Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail, mengatakan pemerintah tidak memiliki program khusus untuk pengerukan setu di Kota Depok. Ia berkelit, pengerukan setu akan dilakukan secara insidental. “Pengerukan setu tetap dilakukan, tetapi tidak dlakukan rutin,” ucap Nur Mahmudi kepada Republika. Red: Siwi Tri Puji B

Sedimentasi Situ di Depok Memprihatinkan

Sumber: http://koran.republika.co.id/ 06 Oktober 2010

DEPOK – Kota Depok memiliki banyak situ, tapi tidak satu pun terpelihara. Buktinya, sedimentasi-proses pengendapan material-mencapai ketinggian dua meter. Dadang MH, ketua Kelompok Kerja (Pokja) Situ Cilodong, mengatakan, pada musim kemarau seluruh situ kering total. Saat hujan, situ terjadi sedimentasi, karena sungai menumpahkan material lumpurnya.

Dadang mengambil contoh Situ Cilodong. Saat kemarau, situ kering total. Akibatnya, Pokja Situ Cilodong kerap melakukan penggalian agar sungai tetap mengalir ke dalam situ. Sungai menghubungkan Situ Cilodong dengan Situ Cikaret.

“Kami mengimbau pemerintah lebih memperhatikan nasib seluruh situ di Kota Depok. Karena, program revitalisasi apa pun akan gagal jika pendangkalan situ dibiarkan,” ujar Dadang di sela-sela acara penebaran benih oleh ketua Tim Penggerak PKK Jabar, Netty Prasetyani Heryawan, Selasa (5/10) pagi. Netty mengatakan, perbaikan dan revitalisasi seluruh situ sangat penting, karena Depok merupakan kawasan penyangga DKI Jakarta. c23

November 2010

 

Tiga Situ di Depok Beralih Fungsi

Sumber: http://iskandarhadji.blogspot.com/25 November 2010

DEPOK, Dinas Bina Marga Sumberdaya Air (Bimasda) Kota Depok merasa kecolongan. Tiga situ di Kota Depok beralih fungsi menjadi perumahan, sekolah, dan rumah toko (ruko). Ketiga situ tersebut adalah: Situ Krukut Kecamatan Limo, Situ Pasir Putih Kecamatan Sawangan, dan Situ Cinere Kecamatan Cinere. “Kita masih mencari keabsahan tiga situ yang sudah beralih fungsi. Yakni, Situ Krukut, Situ Pasir Putih, dan Situ Cinere,” kata Sekretaris Bimasda, Oka Barmara saat ditemui di Kantor Kejaksaan Negeri Depok, Kamis (25/11).

Uniknya, tiga situ yang telah beralih fungsi itu sudah menjadi milik perseorangan atau sudah bersertifikat atas nama pribadi. Sehingga Pemerintah Kota (Pemkot) Depok kesulitan untuk mengambil alih lahan yang seharusnya menjadi situ tersebut. “Kita datang ke kantor kejaksaan untuk melakukan koordinasi, bagaimana cara mengambil situ-situ itu kembali. Menjadikan situ-situ itu sesuai fungsi aslinya,” kata Oka.

Oka mengatakan, pihaknya tengah mengupayakan revitalisasi atau pemilihan kembali situ-situ yang hilang. Salah satu caranya ialah dengan melakukan pengkajian terhadap hilangnya situ-situ itu. Baik dari sisi hukum, sosial, lingkungan, dan ekonomi. “Kita sudah berkoordinasi dengan pihak provinsi dan pusat,” katanya.

Perlindungan situ diatur dalam Undang-undang (UU) Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengolahan Situ. UU tersebut secara tegas menyatakan: tiap orang atau badan usaha diwajibkan melindungi baik air, udara, maupun tanah dari kerusakan, pendangkalan, dan pencemaran. Pelanggar dapat dikenai hukuman penjara dan denda. “Yang menjadi masalah, tidak memegang data otentik keberadaan situ-situ tersebut. Kita hanya memiliki peta tapi tidak mengetahui berapa luasa situ tersebut aslinya,” kata Oka.

Oka menuturkan, hingga kini pihaknya masih menunggu data dari pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. Hal itu terkait luas dan panjang situ. “Kita masih menunggu data dari provinsi dan pusat. Kalau sudah ada data maka kita akan lebih mudah lagi bekerja,” katanya.

Ia mengaku bingung dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Depok yang tidak mengetahui berapa luas dan lebar situ-situ yang hilang tersebut. BPN, kata dia, juga tidak mengetahui kalau lahan situ sudah menjadi milik pribadi. “Harusnya mereka tahu kalau tanah itu, tanah situ. Ko bisa beralih fungsi,” kata Oka.

Oka mengatakan, dirinya tidak mengetahui kapan peralihan fungsi itu terjadi. Pasalnya, ia merupakan pejabat pindahan dari Kota Bogor. “Waktu terjadi peralihan, saya masih bertugas di Bogor,” kata dia.

Sementara itu, staff Kejaksaan Depok, Purba mengaku mendapat tugas mengkaji secara hukum kemungkinan mengambil alih situ-situ yang hilang. “Nasib situ di Kota Depok banyak yang tidak jelas,” katanya.

Dia mengatakan, sekarang ini 26 situ yang ada di Kota Depok rencananya akan disertifikasi. “Pemkot kita sarankan melakukan sertifikasi terhadap 26 situ tersebut,” katanya.

Desember 2010

Tiga Situ Di Depok Hilang

Sumber: http://seruu.com/01 December 2010

 

Depok, seruu.com – Tiga situ di Depok, Jawa Barat hilang dan beralih fungsi menjadi perumahan dan sekolah. Ketiga situ itu adalah, situ Krukut, Pasir Putih dan Cinere. Padahal selama ini situ-situ tersebut berfungsi sebagai ruang terbuka hijau dan daerah resapan air.

Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail mengatakan, pihaknya masih akan mengkaji kebenaran informasi ini. Dia mengklaim, selama ini pemerintah kota sudah berupaya menormalisasi situ bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Jakarta.

“Untuk perawatan situ kita sudah mengajukan program tentang masalah revitalisasi sungai. Kita juga sudah kerjasama dengan provinsi-provinsi tetangga,” tambah Nur Mahmudi Ismail.

Menurut data Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Depok, jumlah situ di kota itu sebanyak 26 dan tersebar di 11 kecamatan.

Hilangnya situ diperparah dengan kepemilikan sertifikat tanah resmi oleh warga yang dikeluarkan Badan Pertanahan Negara (BPN) di lahan-lahan situ yang sudah berubah fungsi. [zamrut]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: