Berita 2011

Januari 2011

Tiga Situ di Depok Raib,  Berubah Jadi Mal dan Perumahan

Indo Pos, 30 Jan 2011 
Sumber: http://bataviase.co.id/ 

DEPOK-Ancaman bertambah hilangnya sejumlah kekayaan milik Kota Depok sangat berpeluang. Pasalnya invetarisasi kekayaan daerah itu sangat kacau. Bahkan bagian aset Sekretariat Daerah (Setda) tidak memiliki data pasti mengenai aset pemerintah itu.

Kekayaan daerah yang tak tercatat itu terutama dalam bentuk fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum). Padahal sebagai fasos-fasum itu sudah diserahkan pihak pengembang perumahan.

Data yang dikutip dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Depok, hanya 40 fasos dan fasum yang memiliki sertifikat. Misalnya, empat rumah ibadah, tempat pemakaman umum (TPU) dan sarana pendidikan. “Untuk itu kami meminta bagian aset melakukan inventarisasi fasos dan fasum di wilayah Depok. Kami mendengar banyak fasos-fasum beralih fungsi,” kata Sekretaris Komisi A, DPRD Kota Depok, Karno, Sabtu (29/1).

Dia menambahkan, sejumlah fasos dan fasum yang diketahui telah beralih fungsi, antara lain lahan situ. Ketiga situ itu adalah Situ Cinere yang berubah menjadi pusat perbelanjaan. Situ Pasir Putih menjadi perumahan dan Situ Krukut yang kini menjadi sekolah dasar. “Seharusnya tugasutama Pemkot Depok adalah menjaga, merawat, memelihara, dan mengembangkan,” tegasnya.

Selama ini, kata Karno, pihaknya kerap menerima masukan dari warga mengenai peralihan fungsi tersebut. Bahkan aset tersebut dimiliki oleh perseorangan. Sebut saja kantor Kecamatan Sawangan, kantor Kelurahan Sukamaju Baru, lapangan olahraga di Taman Dahlia, dan beberapa sekolah negeri di Kota Depok. “Aset tersebut ter-nyata ada pemilik atas nama individu. Itu kan tidak wajar,” ujarnya.

Sementara itu. Kepala Urusan Umum dan Kepegawaian Kantor BPN Kota Depok, Dedi Daskin menuturkan, sejak tahun 1960 sampai 2010, tanah fasum dan fasos yang sudah memiliki sertifikat sebanyak 189 bidang dari 300 bidang.

Pihaknya masih menunggu Pemkot Depok melalui dinas terkait agar mendaftarkan aset-asetnya yang belum memiliki legalitas sertifikat. “Tanah fasos dan fa-sus milik Pemkot Depok yang sudah bersertifikat itu antara lain kantor dinas, kelurahan, kecamatan, puskesmas, sekolah, lapangan olahraga, dan taman pemakaman umum (TPU),” terangnya.

Dedi menambahkan, sekitar 28 persen tanah milik warga dan badan hukum belum memiliki sertifikat. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 11 tahun 2010 tentang penertiban dan pendayagunaan tanah terlantar diminta untuk melakukan penertiban aset-aset dan penataan, (rko)

Februari 2011

Misteri Bola Api di Situ Tujuh Muara Pengasinan Depok

Pelita, 05 Feb 2011 
Sumber: http://bataviase.co.id/ 

SITU Tujuh Muara atau Situ Gugur seluas 18 hektare di wilayah perbatasan Kelurahan Pasir Putih dan Kelurahan Bedah-an, Depok yang kini telah berubah fungsi menjadi daratan ternyata menyimpan mitos yang menarik perhatian warga sekitar.

Di area setu tersebut setiap malam pergantian tahun sekitar pukul 23.30 hingga 00.30 WIB selalu muncul bola api dengan warna-warni menarik seperti biru, kuning, dan merah mencuat dari tanah bekas setu ke angkasa. Masyarakat setempat menamakan bola api tersebut dengan sebutan “Braja”.

Munculnya pancaran bola api itu dim-itoskan masyarakat sekitar bila setu tujuh muara mengeluarkan bola api maka akan ada bencana atau musibah yang akan dialami pada tahun itu. Tengertian musibah ini sangat luas, tidak hanya terjadi di wilayah pasir putih tetapi bisa bersifat nasional,”kata Tagyuddin, warga RW03, Kelurahan Bedahan, Depok.

Saat bola api mencuat, kata Tagyuddin, tidak semua warga yang menyaksikan dapat melihat pancaran sinar tersebut.

“Munculnya bola api berkisar antara 5 hingga 10 menit saja, setelah itu turun lagi. Jadi, saat keluar bola api tidak diketahui dari sudut manapun, ada yang lihat dan ada juga yang tidak,” tutur dosen geografi Universitas Indonesia ini.

Bola api seperti ini juga sering terjadi di wilayah Jawa, namun kebanyakan muncul dari kerumunan pohon bambu. Menurut dia, fenomena alam ini biasa terjadi namun oleh warga akhirnya menjadi mitos.

Konon, kata Tagyuddin, Situ Tujuh Muara sempat menjadi tempat persinggahan prajurit Kerajaan Siliwangi saat akan menuju kanal (laut). Menurut cerita dari para sesepuh setempat di tengah situ terdapat lempengan batu besar dan datar yang digunakan sebagai tempat peristirahatan prajurit dan kuda-kudanya.

“Menurut sesepuh disini, baru itu digunakan sebagai tempat singgah dan istirahat prajurit,” katanya.

Pada tahun 1964, Situ Tujuh Muara kembali gugur setelah sebelumnya mengalami hal yang sama tetapi berhasil di perbaiki masyarakat. Setelah gugur (jebol) situ tersebut tidak lagi diperbaiki dan didiamkan hingga kering. Akhirnya Batu besar yang berada di tengah situ amblas terurug lumpur sedalam dua meter.

“Batu besar itu sekarang berada di dasar sungai dengan kedalaman dua meter, kalau kita colok dasar sungainya sedalam dua meter akan terasa benturan keras di dasar sungai, itulah batu besamya,”ungkap Tagyuddin.

Lahan Situ Gugur yang dikenal juga dengan sebutan Situ Pasir Putih, kini telah menjadi daratan. Namun di lahan situ tersebut masih tersisa satu aliran sungai yangbermuara ke Pesanggrahan. Sebagian lahan situ juga telah dimanfaatkan warga sekitar untuk berkebun dengan ditanami berbagai macam tanaman seperti pepaya, jambu, dan pisang, bahkan ada juga yang membuat empang sebagai tempat memelihara ikan.

Namun sebagian lahan lagi d tengga-rai telah dijual dan telah berdiri bangunan rumah.

Untuk mencapai lokasi bekas Situ Gugur atau Situ Pasir Putih, bisa ditempuh melalui jalan beton sampai menuju lokasi.

H Cilut, mantan kepala desa Pasir Putih menyatakan, Situ Pasir Putih mengalami jebol selama dua kali. Karena sering jebol itulah masyarakat akhirnya menyebut nama situ menjadi Situ Gugur. Namun ia menyangkal kalau selama ini di area lahan Situ Gugur ada kejadian aneh berupa munculnya bola api berwarna-warni setiap pergantian tahun nasional.

“Selama lima periode menjabat sebagai kepala desa, saya tidak pernah melihat kejadian aneh di area Situ Gugur. Semuanya biasa-biasa saja,” kata pria berumur 75 tahun ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (Bimasda) Kota Depok Yayan Ariyanto mengatakan pemerintah berencana akan menormalisasikan kembali Situ Gugur atau Pasir Putih seperti Situ Pengasinan.

Saat ini, kata Yayan, pihaknya telah melakukan kajian dan hasilnya akan diserahkan ke pemerintah pusat.

“Kita tinggal menunggu tindak lanjut dari pemerintah pusat,”kata dia.

Yayan menyatakan, lahan situ merupakan lahan pemerintah yang tidak boleh di-perjual belikan. Jadi, kata Yayan, kalau ada pihak yang menjual-belikan lahan Situ Gugur harus dikembalikan.

“Soalnya lahan itu akan dikembalikan menjadi situ kembali,” tandas mantan Camat Limo ini. (andi/nazar)

Maret 2011

Limbah Rumah Tangga Cemari Situ Depok

Sumber:http://www.greenradio.fm/ 27 Maret 2011 

Mariska Virdani, Kontributor KBR68H Depok, 

KBR68H – Seluruh situ di Depok, Jawa Barat terbukti telah tercemar limbah rumah tangga. Kesimpulan itu didapat dari kajian Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok terkait kandungan Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) serta bakteri E.coli, penyebab diare, di sekitar situ.

Kepala Bidang Pemantauan Lingkungan BLH Kota Depok, Kania Parwanti mengatakan, bakteri itu bisa bisa mencemari air tanah dan menyebabkan penyakit. Ia memastikan, limbah rumah tangga menjadi penyumbang pencemaran terbesar dibanding pabrik, yang rata-rata sudah memiliki instalasi pengolahan limbah.

“Di beberapa tempat COD dan E.colinya tinggi. Penanganannya melalui peningkatan kesadaran masyarakat dan itu yang paling susah. Kalau perusahaan kan lebih mudah kita tegur. Dia bisa dikenakan sanksi,” kata Kania.

Ia menambahkan, untuk mengembalikan fungsi 26 situ yang ada di Kota Depok, Pemkot terus meremajakan situ dengan target sebagai kawasan ekowisata. Sebelumnya, tiga situ di kota itu dinyatakan hilang, yakni di Kecamatan Sawangan dan Limo, akibat padatnya pemukiman.

Mei 2011

Ngubek Situ Citayam Rusuh, Disporsenibud Bohongi Perserta

Sumber:http://iskandarhadji.blogspot.com/ 1 Mei 2011 

DEPOK, Kegiatan ‘Ngubek Situ Citayam’ yang diselenggarakan Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, Seni, dan Budaya (Disporsenibud) Kota Depok untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) kota berikon Belimbing Dewa ke-12 itu berubah menjadi amuk massa. Motor Yamaha Mio, TV 21’, kulkas, mesin cuci, sepeda, dan helm, yang telah disiapkan panitia sebagai doorprize diceburkan massa ke dalam situ. Tenda panitia pun turut dirobohkan dan dibakar. Bahkan, sepeda air berbentuk bebek-bebekan milik Kelompok Kerja (Pokja) Situ Citayam turut dirusak. “Dinas Pariwisata sudah membohongi kita. Katanya mereka menebar ikan baru dalam jumlah banyak. Nyatanya ikan yang ada di dalam situ, dan ditangkapi warga merupakan ikan lama,” kata Yahya, 34, Minggu (1/5).

Yahya meminta Pemerintah Kota (Pemkot) mengembalikan uang pendaftaran kepada seluruh peserta sebesar Rp20 ribu. Sebab, acara tidak berlangsung seperti janji panitia penyelenggara. “Sebanyak 5000 warga terdaftar mengikuti kegiatan ini. Semuanya dipungut biaya Rp20 ribu. Keuntungan mereka sangat berlipat-lipat. Pemkot jangan hanya mau mencari untung,” ujarnya sambil menendang tenda panitia yang telah roboh.
Yahya mengaku rela menggadaikan handphone milik adiknya untuk mendaftar. Ia berharap mendapatkan ikan mas dan mujair dalam jumlah banyak. Sehingga ikan tersebut bisa dimakan dan dijual. “Kenyataanya sungguh tidak masuk diakal. Tidak ada satupun ikan emas di dalam situ,” katanya sambil menahan tangis.

Pernyataan senada juga diutarakan, Nurlela, 40. Menurutnya, panitia terlampau mencari keuntungan sehingga melupakan kewajibannya manaruh ikan. Padahal, janjinya melempar ikan kedalam situ sebanyak 2 ton. Bahkan, kata dia, ada rumor kalau panitia hanya menebar ikan ke dalam situ sebanyak 2 kwintal. “Saya sangat kecewa, panitia sudah membohongi warga. Ikan yang dijanjikan panitia ternyata tidak ada. Saya sudah beli tiket banyak dan membayar mahal, tapi apa yang saya dapat. Bayangkan saja, kalau Rp 20 ribu di kalikan 5000 orang pastinya banyak,” katanya.

Nurlela meminta panitia bertanggungjawab dan mau mengembalikan uang warga. Ia sama sekali tidak habis pikir, kenapa panitia memungut uang dari warga. Padahal, HUT Depok sudah didanai melalui APBD. Ia juga mengaku sedih melihat banyak warga datang jauh-jauh, namun tidak satupun ikan didapat. “Ngapain kita bayar mahal-mahal, kalau ternyata ikannya tidak ada. Ini namanya pembohongan, katanya pesta rakyat memperingati HUT kota Depok. Tapi, masa warga ditipu,” katanya kesal.

Hingar bingar ‘Ngubek Situ Citayam’ rupanya tidak hanya bergaung diseputaran Depok. Gaung pesta rakyat itu juga terdengar hingga Tanggerang Selatan (Tangsel) dan Kota Bekasi. Asep, 37, warga Kota Tangsel, mengaku kecewa berat menyaksikan prilaku panitia yang memungut biaya pesta rakyat. “Saya sudah beberapa kali datang ke acara ngubek situ di Depok ini. Tidak ada satupun dipungut biaya. Baru kali ini acara ngubek situ dipungut biaya. Malangnya sudah dipungut biaya, panitia seperti menghilang,” ujarnya.

Asep dapat memaklumi kalau pemugutuan uang administrasi Rp20 ribu disertai dengan banyaknya ikan yang disediakan. Nyatanya, kata dia, peserta hanya dapat kaos dan ikan mujaer kecil. “Ingat, uang Rp20 ribu bagi warga itu sangat besar jumlahnya. Uang itu dapat digunakan untuk membeli ikan sebanyak tiga kilo gram. Saya berani bayar hanya karena ingin ikut memeriahkan HUT Depok,” katanya.

Kapolresta Kota Depok Komisaris Besar (Kombes) Fery Abraham mengaku langsung datang ke lokasi begitu mendengar ada amuk massa di acara pesta rakyat. Ia masih mencari pemicu kemarahan masyarakat. Namun, ada indikasi pemicu kemarahan adalah karena panitia memungut bayaran sebesar Rp 20 ribu. Sayangnya ikan yang dicempelungkan ke situ tidak sebanding dengan massa yang datang. “Pihaknya masih melakukan penyelidikan apakah ada unsur kesengajaan atau tidak. Yang ngamuk ini masyarakat awam, kekecewaannya spontan dan tak ada provokasi. Akibatnya perahu piknik dibakar massa, panggung isinya hadiah ikut terbakar TV motor dan kulkas, habis semua. Kami amankan TKP dan panggil panitia. Kalau terbukti ada unsur penipuan akan kita proses hukum,” ujarnya.

Kericuhan baru mulai mereda pada saat beberapa personil polisi memadamkan kobaran api. Kapolres meminta kepada warga untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Sementara, panitia penyelenggara saat dihubungi masih menjalani pemeriksaan di Polsek Pancoran Mas. Sebelumnya, acara dibuka secara simbolik oleh Walikota Depok Nur Mahmudi ismail dengan melepaskan beberapa ikan ke dalam Situ Citayam.

Acara “Ngubek Situ” Berbuntut Kerusuhan

Sumber: http://nasional.kompas.com/ 2 Mei 2011   

DEPOK, KOMPAS.com — Sedikitnya 4.000 orang yang memadati Situ Citayam, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, mengamuk. Mereka merusak panggung acara ”Ngubek Situ”, menjarah hadiah, dan menceburkannya ke dalam situ. Amuk massa ini terjadi hanya gara-gara ikan.

Massa kecewa dengan panitia yang menjanjikan menebar 2 ton ikan di dalam situ. Kenyataannya, ikan tidak sebanyak yang dijanjikan panitia. Kemarahan massa makin menjadi ketika tahu panitia menyimpan sebagian ikan. Padahal, peserta acara telah membayar Rp 20.000 per orang.

”Keributan tidak akan terjadi kalau panitia bagus. Mereka tidak terbuka soal ikan. Namanya juga acara ngubek situ, orang yang ngubek berharap mendapatkan ikan. Apalagi panitia janji menebar 2 ton ikan,” tutur Nendi (44), warga Kelurahan Bojong Pondok Terong, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, Minggu (1/5/2011).

Gelagat terjadinya keributan terlihat sejak pukul 08.00. Saat itu, peserta Ngubek Situ mulai turun ke dalam situ mencari ikan. Beberapa peserta mulai melontarkan kekecewaan. Sekitar 30 menit setelah Wali Kota Depok Nur Mahmudi Isma’il meninggalkan lokasi, makin banyak orang kecewa.

Tidak lama kemudian, kerusuhan di lokasi Ngubek Situ terjadi. Massa nekat menceburkan hadiah ke dalam situ.

Keributan kian membesar. Massa tidak lagi peduli kepada petugas keamanan yang berjaga. Mereka menginjak-injak panggung utama panitia. Massa menjarah hadiah yang tersisa di panggung terpisah. Sebagian hadiah tersebut mereka rusak. Massa kemudian membakar panggung tempat hadiah berada.

Hadiah yang diceburkan massa ke dalam situ antara lain sepeda motor Yamaha Mio dan kulkas. Hadiah yang dijarah massa antara lain 1 televisi, 2 sepeda kayuh, 10 magic jar, 6 kompor gas, 6 kipas angin, 15 helm, dan 5 jaket. Sementara hadiah yang dirusak massa adalah 1 televisi dan 1 kulkas.

Mahwan (51), warga Kelurahan Bojong Pondok Terong, mengaku kecewa dengan panitia. Acara yang digelar setiap tiga tahun itu baru kali ini rusuh. Sebelumnya, acara Ngubek Situ tidak pernah rusuh dan menjadi semacam pesta rakyat.

Periksa panitia

Petugas Kepolisian Resor (Polres) Kota Depok saat kejadian lebih banyak berada di Jalan Raya Bogor, memantau aksi buruh yang akan ke Jakarta. Hanya beberapa personel Kepolisian Sektor (Polsek) Pancoran Mas yang berada di lokasi. Itu pun atas inisiatif personel kepolisian. Dari informasi yang dihimpun Kompas, panitia belum memiliki izin resmi dari Polsek Pancoran Mas ataupun Polres Kota Depok.

Kepala Polsek Pancoran Mas Komisaris Ismail Usman mengatakan, panitia sempat mengajukan izin. Namun, berkas perizinan tersebut dikembalikan karena masih ada dokumen yang belum lengkap. Setelah itu, pihak Polsek Pancoran Mas belum menerima berkas baru lagi dari panitia.

Menurut Usman, saat ini polisi memeriksa beberapa unsur panitia. Panitia acara Ngubek Situ berasal dari Kelompok Kerja Situ Citayam, harian lokal terbitan Depok, Dinas Pariwisata Depok, dan pihak Kelurahan Bojong Pondok Terong.

”Mereka harus bertanggung jawab atas kerusuhan yang terjadi di Situ Citayam. Kerusuhan ini tidak hanya menimbulkan kerugian materi panitia dan peserta, tetapi juga kerusakan lingkungan situ,” kata Usman.

Asep Hidayat (26), pemilik panggung dan kursi, hanya bengong. Ribuan warga membakar panggung dan kursi yang disewa panitia. ”Paling tidak, saya rugi sekitar Rp 50 juta,” kata Asep.

Sesaat setelah kejadian, tidak ada satu pun panitia yang berada di lokasi. Kompas berusaha menghubungi salah seorang panitia yang bernama Marhasan, tetapi telepon selulernya tidak aktif.

”Saya tidak tahu di mana mereka. Kami tidak dilibatkan dalam panitia. Kami diundang sebagai peserta,” kata Camat Cipayung Eko Herwianto. (Andy Riza Hidayat)

Polisi Periksa 10 Saksi Kerusuhan di Situ Citayam

Marieska Harya Virdhani – Okezone
Sumber:  http://news.okezone.com/ 2 Mei 2011  

DEPOK – Polres Depok hingga kini masih menyelidiki adanya dugaan penipuan dalam acara menangkap ikan massal atau Ngubek Situ di Citayam Depok yang berakhir ricuh kemarin. Sedikitnya polisi telah memeriksa 10 saksi.

Kanit Reskrim Polsek Pancoran Mas Depok AKP Syah Johan mengatakan 10 saksi yang diperiksa itu terdiri dari panitia dan warga umum. Penyelidikan dilakukan untuk mengetahui adanya dugaan provokasi maupun kecurangan dalam acara Hari Ulang Tahun (HUT) Depok ke-12 tersebut.

“Kami telah memeriksa para saksi untuk dimintai keterangannya. Kami hingga kini masih mendalaminya, kami juga menyelidiki orang-orang yang membakar sepeda air atau bebek-bebekan. Pembakaran sepeda air merupakan tindakan melanggar hukum,” katanya kepada wartawan, Senin (02/05/11).

Pemerintah Kota Depok terkesan lempar tanggung jawab dalam menuntaskan persoalan tersebut. Kepala Dinas Pemuda Olahraga Seni dan Budaya Kota Depok, Asep Roswanda mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan tanggungjawab Kelompok Kerja (Pokja) Situ Citayam.

“Sekali lagi kami tegaskan bahwa Pemkot Depok tidak terlibat dalam acara tersebut. Kegiatan itu merupakan inisiatif dari masyarakat. Kami datang ke acara itu karena undangan,” tegas Asep.

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Depok, Yayan Ariyanto menyatakan bahwa Ketua Pokja Situ Citayam Mar Hasan dapat dipecat dari jabatannya. Namun untuk melakukan hal itu pihaknya harus menunggu proses hukum dari pihak kepolisian.

“Kami tidak bisa serta merta langsung memecat ketua pokja. Kalau bersalah baru kami bisa melakukan tindakan,” ujarnya.

Acara ngubek ikan di Situ Citayam yang digelar Minggu 1 Mei berakhir rusuh. Para peserta membakar tenda panitia, bebek-bebekan, dan door prize. Kerusuhan itu terjadi karena peserta yang berjumlah 10 ribu orang kecewa hanya mendapatkan ikan mujair, padahal mereka harus membayar Rp 20 ribu untuk ikut ngubek Situ Citayam.  (ful)

Tekait Ngubek Situ Citayem, DPRD Depok Periksa Disporsenibud

Sumber: http://cakrawalainterprize.com/  4 Mei 2011

Depok-Cakrawala Online, Insiden yang terjadi di Situ Citayam, Pancoranmas kota Depok dalam acara “Ngubek Situ” memperingati HUT ke-12 tahun kota Depok pada Hari Minggu (1/5/2011) kemarin berbuntut kepanjangan. Pihak DPRD Depok memanggil Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, Seni, dan Budaya (Disporsenibud) Kota Depok, Asep Ruswanda, untuk meminta klarifikasi atas kejadian acara “Ngubek Situ Citayem yang diselemggarakan oleh panitia Pokja Situ Citayem , dengan Media Lokal dan Disporsenibud. Kata Ketua komisi B DPRD kota Depok, Ervan Teladan, kepada wartawan Senin (3/5/2011) diruang kerjanya.

Ervan mengungkapkan, pasalnya peserta merasa tertipu dengan acara tersebut yang dipungut biaya sebesar Rp 20 ribu. Dan menurut pengakuan Asep Ruswanda selaku kepala Disporsenibud kepada komisi B, mengenai kupon yang terjual sekitar 10 ribuan, ketika di kalikan 20 ribu = Rp 200 jutaan, namun Disporsenibud tidak terlibat sama sekali,” ujar Ervan menyampaikan ucapan Asep Ruswanda.

Sementara kerugian atas kejadian tersebut bukan hanya pemerintah, namun sekitar 10 ribu peserta acara Ngubek ikan di situ Citayam sangat dirugikan, karena panitia menjanjikan melepas ikan mas sebanyak 3 ton, tapi ikannya tidak ada sama sekali, hanya ikan mujair dan sepat yang di temukan, sehingga peserta ngamuk membabi buta merusak dan membakar door pize 2 unit sepeda motor, televisi dan hadiah lainnya. Selanjutnya kerugian peserta adalah mereka membayar parkir sebesar Rp 3000, dan membeli serokan untuk menagkap ikan sebesar Rp 15,000, tiket kupon seharga Rp 20.000, ironisnya lagi kabarnya acara tersebut tidak ada ijin keramaian,” ujarnya.

Komisi B hanya mempertanyakan pelaksnaan acara tersebut dasarnya apa bisa terlaksana, mana proposalnya supaya kami bisa tahu. Karena kejadian tersebut telah merusak aset pememerintah yang menggunakan biaya APBD, seperti perahu bebek-bebekan, dan berikut dengan kondisi situ yang penuh sampah itu. Kami mempertanyakan surat rekomendasi yang ditanda tangani oleh Walikota Nurmahmudi Ismail, No : 669.2/568 – Dibismasda tertanggal 29 April 2011 yang diberikan kepada Direktur Media Lokalan tersebut,” tegas Ervan.

Sedankan Siti Nurjanah anggota komisi B Dapil Pancoranmas mengatakan, kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa dulu sebelum ada bukti kesalahan yang akurat, “kita akan memanggil lagi panitia acara Ngubek Situ Citayam minggu depan lanjutnya,” katanya.(Maulana/Beny)

  Juni 2011

Depok Belum Serius Tangani Situ

Sumber:http://www.depoknews.com/ 9 Juni 2011

DepokNews | Dari 27 jumlah Situ (Danau) yang ada, tidak sedikit terbengkalai. Bahkan sejumlah Situ ada sudah menjadi kumuh disebabkan area lingkungan air Situ ditumbuhi sampah. Air Situ yang terlihat berwarna hijau pekat, turut mewarnai buruknya keindahan panorama alam di sejumlah Situ di Depok.

Lebih dari itu, meski menjadi salah satu tumpuan daerah resapan air bagi Ibukota Jakarta, beberapa di antaranya juga telah terjadi penyusutan luasan lahan Situ karena terdapatnya sejumlah bangunan rumah tinggal.

Pemerintah Kota Depok dinilai masih belum serius merawat Situ-Situ yang ada di Depok, kendati pada dasarnya regulasi Situ merupakan peran dari pemerintah Pusat dan Provinsi. Namun untuk pemeliharaannya adalah merupakan tanggung jawab pemerintah Kota Depok.

Komisi C juga pernah mengeluarkan surat rekomendasi penutupan salah satu pabrik kepada Pemkot Depok lantaran diketahui limbahnya mencemari salah satu Situ di Depok pada beberapa bulan lalu. “Namun, hingga kini bentuk upaya ketegasan dari Pemkot Depok belum terlihat,” kata Abdul Ghofar.

Lebih jauh dikatakan Abdul Ghofar, sebagian besar permasalahan Situ yang ada diketahui terjadi lantaran timbulnya penyusutan dan kontaminasi limbah rumah tangga dan pabrik. Untuk itu, selain perlu adanya keseriusan pihak pemkot dalam pengawasan, peran masyarakat secara langsung tentu sangat diperlukan mengingat Situ merupakan bagian dari daerah resapan air.

Menanggapi hal ini, Kepala Bidang Pemantauan Lingkungan Kota Depok, Kania Parwanti mengatakan, terjadinya perubahan warna pada air situ dan rusaknya estetika pada Situ bukan merupakan bagian dari tugas Lingkungan Hidup.

Seperti diketahui, kondisi sejumlah Situ yang dianggap dalam kondisi memprihatinkan di antaranya seperti, Situ Rawa Besar (Situ Lio), Pedongkelan, Pangalengan, Tipar, Rawa Kalong, Juanda dan Situ Citayem.(tubas)

Kembalikan Fungsi Situ di Depok

Sumber: http://www.tubasmedia.com/ 20 Juni 2011

DEPOK, (Tubas) – Kembalikan fungsi situ (danau), antara lain, sebagai penyerap atau penampung air untuk mencegah banjir di Depok dan Jakarta. Seruan itu disampaikan beberapa kalangan di Depok, Jawa Barat, setelah diketahui empat dari 27 situ di daerah tersebut telah berubah fungsi menjadi permukiman dan rawa-rawa. Keempat situ itu, Cinere, Pasir Putih Sawangan, Krukut (Rawa Jati), dan Ciming.

Sebelumnya, situ-situ itu menjadi lahan mencari nafkah bagi sejumlah orang. Sebab sebagai kawasan peresap air, situ menjadi sumber irigasi/pengairan bagi pertanian dan objek wisata. Maka selain menjaga keseimbangan ekosistem, situ menjadi sumber perekonomian rakyat.

Ketua DPRD Kota Depok Drs Rintis Yanto MM, saat dihubungi tubasmedia.com, pekan lalu, mengakui keberadaan sebagian situ di wilayah Depok sudah tidak sesuai lagi dengan fungsinya. Bahkan ada situ yang menghilang karena berubah fungsi menjadi kawasan perumahan. Rintis berjanji akan menagih pertanggungjawaban dari Pemkot Depok mengenai keberadaan situ-situ itu.

Keluhan serupa disampaikan Ketua Komisi C DPRD Kota Depok, Edy Sitorus ST. Ia pun meminta Pemkot Depok menatanya kembali. Tentunya dengan lebih dulu mendata ulang seluruh aset situ. Misalnya dengan membuka arsip pada saat Depok masih menginduk ke Kabupaten Bogor. “Mungkin saja masih ada berkas situ di Depok yang tertinggal di Kabupaten Bogor,” katanya.

Edy Sitorus pun menyarankan Pemkot Depok segera memfungsikan kembali seluruh situ. Termasuk mereboisasi sekitar bibir situ untuk memperkuat tanggul agar tidak terulang lagi peristiwa jebolnya tanggul situ, seperti Situ Gintung, beberapa waktu lalu. “Jika hal tersebut terulang maka Pemkot Depok harus bertanggung jawab,” katanya.

Kemarau Panjang Menyusut

Berdasarkan penelurusan tim tubasmedia.com, salah satu dari empat situ yang telah berubah fungsinya itu adalah Situ Rawa Jati yang terletak di wilayah RW 01 dan RW 04, Kelurahan Krukut, Kecamatan Limo, Kota Depok. Dina Darmawan, Ketua RW 04 ketika ditemui di rumahnya mengatakan, bentuk Situ Rawa Jati memanjang dan melintasi wilayah RW 01 dan RW 04, Kelurahan Krukut. Karena musim kemarau panjang sekitar tahun 1980-an, air situ tersebut menyusut dan kini menjadi empang-empang dan sebagian jadi lokasi rumah warga.

Menurutnya, Situ Rawa Jati masih terdata di dinas terkait, jadi bukan merupakan situ yang hilang. Hanya berubah peruntukkan, karena sejak kemarau panjang tersebut tidak ada respons dari Kabupaten Bogor (saat itu) dan Kota Depok sampai saat ini.

Seorang warga menuturkan, pada awalnya Situ Rawa Jati seluas 9,5 ha, namun karena kemarau panjang (7 bulan) pada awal 1980-an, lahan situ menyusut dan berdasarkan data terakhir dari Provinsi Jawa Barat pada 2000-an luas situ tersebut menjadi 7 ha.

Muhammad Reza, Lurah Krukut, membenarkan bahwa di wilayahnya ada situ yang telah berubah peruntukkannya menjadi empang dan permukiman. Hal tersebut terjadi karena tidak ada respons dari dinas terkait.

Menurut Lurah Krukut, kalau nanti normalisasi situ dilakukan, diharapkan pemerintah memberikan ganti rugi bagi warga yang telah menempati kawasan situ tersebut.

Situ Pasir Putih

Contoh lainnya adalah apa yang terjadi dengan Situ Pasir Putih di Kecamatan Sawangan. Penyusutan situ ini cukup drastis. Menurut data, dulu luas situ tersebut sekitar 6 hektare, tapi kini tinggal sekitar 4 hektare. Dapat dipastikan 2 hektare lainnya sudah dialihfungsikan oleh tangan yang tidak bertanggung jawab.

Menurut Slamet Riyadi HS, salah satu tokoh masyarakat Sawangan yang juga menjadi anggota DPRD Kota Depok, Situ Pasir Putih sudah mengalami perubahan ataupun penyusutan. “Sekitar 2 hektare lahan situ berubah menjadi dataran. Bahkan, sebagian sudah dibangun rumah hunian penduduk,” katanya.

Sumber lain menegemukakan, Situ Pancoran Mas juga mulai menyusut. Sebagian arealnya sudah rata dengan tanah. Selain itu, ada lagi yang lebih mencengangkan. Di Kelurahan Abadi Jaya, Kecamatan Sukmajaya, dulu terdapat sebuah situ yang bernama Situ Ciming. Tetapi, sejak tahun 1980-an situ tersebut sudah rata dengan tanah dan dibangun perumahan.

Menurut Karyadi (55), warga Abadijaya, pada 1980-an situ tersebut diratakan dan dibangun perumahan. “Dahulu Situ Ciming begitu asri dan banyak orang yang memancing sambil berteduh di bawah pepohonan rindang. Tetapi, masa itu sudah lewat dan saat ini hanya terdapat barisan rumah,” katanya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) Depok, Drs. Yayan Arianto, M,Si., Kamis (16/6), mengatakan, “hilangnya” beberapa situ di Depok sudah terjadi sejak Depok masih bagian dari Kabupaten Bogor.

Menurut Yayan, pada saat menjabat sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan sekarang menjadi BMSDA dia telah melaporkan permasalahan tersebut kepada Pemerintah Pusat, akan tetapi hingga saat ini belum ada tindak lanjut. (bayu/dennie/eko/tomo)

Juli 2011

Situ Depok Butuh Perhatian Segera

Sumber: http://depoklik.com/ 1 Juli 2011

Kondisi situ di Kota Depok, Jawa Barat secara umum masih memprihatinkan. Pernyataan tersebut dibenarkan Ketua Pusat Riset Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Prapedas), Ir. Sahroel Polontalo yang menilai banyak terjadi pencemaran.

Menurutnya, secara umum situ Depok sepadannya terokupasi oleh pemukiman ilegal. “Parahnya, sebagian besar air tercemar, pendangkalan dan lainnya. Kalau keadaannya seperti ini, ya tidak heran banyak pihak yang mempertanyakan kesungguhan Pemkot Depok dalam melestarikan situ,” ujarnya hari Kamis (30/6) lalu.

Sahroel mengungkapkan berdasarkan dokumen RT/RW Kota Depok 2000-2010, terdapat 26 situ. Namun, sangkalnya, jika mengacu pada Perda No. 2 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah No 12 Tahun 2001 tentang RT/RW Depok Tahun 2000-2010, jumlah situ yang ada di Kota Depok berjumlah 30 situ. “Ini yang perlu dijelaskan, kenapa jumlah situ sebelumnya ada 30 dan sekarang hanya 26,” tuturnya.

Dirinya menyayangkan keadaan situ Depok seperti sepadan setu terokupasi oleh pemukim ilegal dan pencemaran air. Ia menambahkan, pendangkalan dan eurtrofikasi juga terjadi. Hal tersebut berdampak pada gulma air tumbuh dengan subur. Bahkan, pada beberapa situ saat musim hujan air meluap ke pemukiman warga.” Dari keadaan ini, parahnya kita tidak pernah tahu secara persis seperti apa sesungguhnya kebijakan Pemerintah Kota Depok. Apalagi, tanpa dokumen kebijakan pengelolaan situ yang jelas dan proses penyusunannya yang mengacu pada berbagai kajian atau peraturan perundangan yang ada,” paparnya.

Sahroel menambahkan, satu hal yang menonjol adalah pengabaian peran warga catchment (daerah tangkapan air hujan) dari situ yang bersangkutan. Seolah-olah, pengelolaan situ hanya membutuhkan peran dari warga di sekitar situ saja. Padahal, situ adalah miliki negara dan kewajiban semua masyarakat termasuk semua OPD (organisasi perangkat daerah) di Kota Depok.

Semetara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Depok, Rahmat Subagio menyebutkan beberapa situ yang terparah pencemarannya seperti: Situ Rawa Kalong di Kelurahan Curug, Situ Tipar di Kelurahan Mekar Sari, Situ Cilangkap di Kelurahan Cilangkap. Selain itu, Situ Gadog di Kelurahan Cisalak, Situ Jatijajar di Kelurahan Jatijajar, Situ Pengarengan di Kelurahan Bhakti Jaya, Situ Cilodong di Kelurahan Cilodong, dan Situ Rawa Besar di Kelurahan Depok.

Rahmat mengungkapkan, pencemaran situ berasal selain limbah dari industri juga dari limbah masyarakat. Sahroel mencontohkan, pada Situ Tipar terdapat tujuh industri yang membuang air limbahnya. Namun, setelah pihaknya terjun ke lokasi, ternyata terdapat banyak saluran pembuangan yang berasal dari pemukiman. “Memang itu berasal dari industri, tapi ternyata ada ada 8 saluran air pembuangan yang berasal dari pemukiman. Jadi, bukan hanya industri saja tapi masyarakat juga turut menyumbang pencemaran,” paparnya.

Dirinya membantah jika tidak berbuat apa-apa terhadap situ. Pasalnya, pihaknya telah melakukan upaya seperti penghijauan dan bekerja sama dengan masyarakat. “Kita juga sudah berusaha dalam melestarikannya. Karena ini juga tugas kita semua,” pungkasnya.

Retno Yulianti

8 Situ di Depok Tercemar

Pikiran Rakyat, 7 Juli 2011

Sumber: http://diskimrum.jabarprov.go.id/

DEPOK, (PR).- Delapan dari 26 situ di Kota Depok tergolong tercemar. Selain limbah industri, percemaran tersebut berasal dari limbah masyarakat.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Depok Rahmat Subagio menyebutkan, beberapa situ yang terparah pencemarannya, yaitu Situ Rawa Kalong di Kelurahan Curug, Situ Tipar di Kelurahan Mekar Sari, Situ Cilangkap di Kelurahan Cilangkap, Situ Gadog di Kelurahan Cisalak.

Situ lain adalah Situ Jatijajar di Kelurahan Jatijajar, Situ Pangarengan di Kelurahan Bhati Jaya, Situ Cilodong di Kelurahan Cilodong, dan Situ Rawa Besar di Kelurahan Depok tersebut berdasarkan penelitian yang dilakukan Badan Lingkungan Hidup akhit tahun 2010.

Menurut Rahmat, sebagian besar pencemaran disebabkan kadar viochemical oxygen demand (BOD) yang tinggi. Kadar BO yang tinggi biasanya disebabkan oleh limbah rumah tangga, termasuk sampah dan pembuangan saluran air.

Sementara untuk limbah yang berasal dari industri biasanya telah melewati Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terlebih dahulu. Dengan demikian, hasil yang dikeluarkan relatif sedikit yang berkontribusi terhadap pencemaran.

Dia mencontohkan, yaitu pada Situ Tipar yang dikelilingi oleh tujuh industri. Setelah tim terjun ke lokasi, ternyata banyak saluran pembuangan yang berasal dari permukiman di situ tersebut.

“Memang itu berasal dari industri, tapi ternyata ada delapan saluran air pembuangan yang berasal dari permukiman. Jadi, bukan hanya industri, masyarakat juga turut menyumbang pencemaran,” katanya.

Rahmat juga membantah bahwa BLH Kota Depok dinilai tidak berbuat apa-apa untuk menanggulangi situ. Hal itu karena pihaknya telah melakukan berbagai upaya pelestarian, seperti penghijauan dan bekerja sama dengan masyarakat.

Sementara itu, Ketua Pusat Riset Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Prapedas), Sahroel Polontalo, menilai, secara umum sempadan situ Depok banyak terkupasi permukiman legal. Pencemaran tersebut juga menyebabkan pendangkalan pada situ.

Dia menambahkan, pendangkalan dan pendayaan mineral (eutrofikasi) juga terjadi yang berdampak pada gulma air tumbuh dengan subur. Bahkan, menurut dia, dibeberapa situ, saat musim hujan, airnya meluap ke permukiman warga.

Menurut dia, satu hal yang menonjol dalam pengelolaan situ adalah pengabaian peran warga daerah tangkapan air hujan dari situ yang bersangkutan. Seolah-olah, pengelolaan situ hanya membutuhkan peran dari warga disekitar situ. “Padahal, situ adalah milik negara dan kewajiban semua masyarakat, termasuk semua OPD (Organisasi Perangkat Daerah) di Kota Depok,” katanya.

Soal Situ, Pemkot Depok Langgar UU No 32/2009

Sumber: http://m.tubasmedia.com/ 30 Juli 2011

DEPOK, (Tubas) – Pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Depok yang diamanatkan menjaga sekaligus mengawasi dan melestarikan sejumlah Situ (Danau) di wilayah teritorial pemerintahannya, melanggar UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Fakta di lapangan menunjukkan semakin menyusutnya kelestarian sejumlah Situ sehingga empat dari 27 Situ di Depok menghilang yakni Situ Ciming- Sukmajaya, Situ Cinere-Kecamatan Cinere, Situ Pasir Putih-Kecamatan Bojong Sari seluas 9 hektar dan Situ Krukut-Kecamatan Limo yang luasnya 6 hektar.

Akibatnya, Situ di Depok yang selama ini juga memiliki fungsi sebagai bagian dari daerah resapan air guna menanggulangi banjir di wilayah Kota Depok dan Jakarta menjadi tidak berfungsi maksimal. Menanggapi keadaan yang semakin memprihatinkan itu, anggota DPRD Depok Slamet Riyadi HS menyatakan, pihaknya akan mendesak Pemkot Depok agar sungguh-sungguh menghidupkan kembali fungsi Situ. Langkah koordinasi antara pemerintah pusat dan provinsi harus dilakukan secara pro aktif oleh Pemkot Depok.

“Ke depan kami akan memanggil sejumlah dinas terkait. Karena, permasalahan ini sudah tiga kali diwacanakan kepada pihak eksekutif namun tetap pasif,” ujar Slamet Riyadi. Saat ini kondisi 23 Situ yang masih ada semakin memprihatinkan atas keberadaan tumpukan sampah. Lebih memprihatinkan lagi, menjamurnya tumbuhan eceng gondok dan ganggang air (gulma air). Tak kalah merusak juga disebabkan limbah pabrik mau pun limbah domestik dari warga sekitar, Situ dijadikan sebagai tempat pembuangan akhir.

Data yang dihimpun tubasmedia.com, Situ yang semakin menyusut antara lain Situ Rawa Besar-Lio yang kini luasnya hanya tersisa 13 hektar yang sebelumnya seluas 25 hektar. Situ Citayam dari 9 hektar kini tersisa menjadi 6 hektar. Situ Jatijajar dari 10 hektar susut menjadi 6 hektar. Begitu juga Situ Rawa Kalong dari 11 hektar tersisa tinggal 8 hektar. Situ Pedongkelan dari 8 hektar menjadi 6 hektar. Situ Pulo Asih dari 4 hektar hanya tinggal 2 hektar dan Situ Gadog juga mengalami penyusutan menjadi sisa 1,30 hektar.

Dihubungi terpisah, Dinas Binamarga Sumber Daya Air (BMSDA) melalui Kabid Sumber Daya Air (SDA) H. Eri Gumelar mengatakan, hasil rapat dengan bagian wilayah sungai Ciliwung Cisadane di kantor BMSDA belum lama ini, sepakat untuk melakukan kajian atas hilangnya dua dari keempat Situ yang hilang yakni Situ Krukut dan Pasir Putih.

Dikatakan, tahun ini pemerintah pusat akan lakukan perencanaan teknis pada Situ Pengasinan dan Studio Alam. “Implementasi fisiknya akan dilakukan pada tahun 2012 seperti pembuatan pintu air dan dilakukan penurapan pada kedua Situ tersebut,” jelas Eri Gumelar menanggapi konfirmasi tubasmedia.com di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Menurut Eri Gumelar, langkah ke depan akan melakukan penataan kembali dan meningkatkan pengawasan termasuk perencanan pembahasan Situ harus terintregasi dengan bidang-bidang lainnya. Sehingga ke depan, Situ selain berfungsi sebagai salah satu daerah resapan air, juga dapat difungsikan sebagai salah satu objek wisata di Depok. Pendapat serupa juga dilontarkan Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok, Rahmat Subagio yakni menjaga kelestarian alam Situ di Depok dengan melakukan konservasi lingkungan dengan menanam pohon. (eko)

Agustus 2011

Situ Jatijajar, Rumah Baru Atlet Dayung Depok

Sumber: http://depoklik.com/2011/   2 Agustus 2011

Tidak sedikit pemerhati lingkungan mengatakan bahwa banyaknya jumlah situ di kawasan kita menjadi potensi tersendiri bagi kota ini. Tidak hanya berpotensi untuk tempat wisata dan wilayah resapan, situ di Depok ternyata berpotensi untuk memajukan dunia olahraga.

Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) sudah melirik situ-situ di Depok untuk dijadikan tempat berlatih, dan pilihannya adalah situ Jatijajar.

Berangkat dari keinginan PODSI ini, Senin (1/8) kemarin, perwakilan pengurus PODSI Kota Depok, Jawa Barat, menemui Pokja Situ Jatijajar, LPM dan tokoh setempat di rumah makan Kampung Air yang berlokasi di sekitar situ Jatijajar.

Pertemuan ini terkait silaturahmi, sosialisasi dan meminta dukungan Pokja dan warga setempat untuk PODSI Kota Depok yang ingin menjadikan situ Jatijajar sebagai tempat berlatih.

“Atlet dayung Depok itu berprestasi, namun belum punya tempat latihan sendiri,” ungkap Fajar, salah satu pengurus PODSI Depok. Menurutnya, Situ Jatijajar sangat cocok untuk menjadi kawah regenerasi atlet dayung Kota Depok. CL

Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) Tahap II

Sumber:   http://rw03pondoksukmajayadepok.blogspot.com/10 Agustus 2011

Pada Rabu, 10 Agustus 2011 mulai Pk. 10.00 WIB telah dilangsungkan Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) Tahap II yang membahas tentang rencana rehabilitasi Situ Sidomukti (Situ Baru atau Situ Studi Alam). Pertemuan ini membahas tentang Detil Desain Rehabilitasi Situ Sidomukti yang merupakan kelanjutan pertemuan I lalu yang meminta saran-saran dari tokoh masyarakat dalam rencana rehabilitasi Situ Sidomukti tersebut.

Seperti biasa, pertemuan dihadiri oleh Camat Sukmajaya, Lurah Sukmajaya, Kapolsek Sukmajaya, LPM Sukmajaya, Pokja Situ, Tokoh-tokoh masyarakat (RW, Usahawan, dll.), Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane DPU, Konsultan PT. Puser Bumi.

Hasil PKM Tahap I telah dirangkum yang hasilnya adalah: (1) aliran keluar dari Situ Sidomukti/ outlet ada dua buah, namun yang berfungsi tinggal satu, masyarakat berharap keduanya difungsikan kembali, (2) pengerukan lumpur dan sampah serta pembabatan tanaman liar air, (3) membenahi penyempitan akibat pemasangan tembok oleh warga, (4) dibuat saringan sampah di hulu agar sampah tidak langsung masuk ke situ, (5) penurapan dinding situ agar tidak terjadi erosi (penggerusan tanah), (6) agar situ dijadikan daerah wisata, (7) penyediaan ruang publik yang bebas retribusi, (8) penyerahan pengelolaan situ dari pemerintah pusat ke pemerintah kota.

Dari hasil survey, diperoleh identifikasi masalah dan kebutuhan penanganan, yaitu: (1) pada inlet 1 (aliran masuk 1 dekat perumahan Permata Duta) kualitas air relatif buruk karena bercampur limbah padat akibat aktivitas manusia, (2) pada inlet 2 (Studio Alam TVRI) saluran air berpotensi tertutup sampah, dan (3) ada aktivitas tempat tinggal dan budi daya ikan yang mengurangi kapasitas tampungan air (ada endapan), (4) banyak tebing situ yang mulai rusak atau sudah longsor, dan (5) tidak berfungsinya saluran (spillway) dan pintu air.

Hal-hal yang harus dilakukan adalah: (1) pembuatan saluran inlet baru (2) pembuatan saluran atau saringan sampah, (3) normalisai saluran inlet lama (4) penggalian/ pengerukan di beberapa area situ, (5) pembuatan dinding penahan situ, (6) perbaikan spillway dan normalisasi saluran outlet 1 di barat Mutiara Depok, (7) perbaikan pintu sorong/ pintu air dan normalisasi saluran outlet 2 di timur Mutiara Depok.

Pendekatan perencanaan yang dilakukan konsultan adalah (1) topografi daerah, bahwa area di hilir situ (perumahan Pondok Sukmajaya, Mutiara Depok) jauh lebih rendah dari permukaan air situ sehingga rehabilitasi diarahkan agar tubuh situ memiliki stabilitasi yang memadai dan tidak mengalami kegagalan, (2) mempertahankan fungsi situ sebagai sarana penampung air dan konservasi lingkungan, (3) mempertahankan luas areal situ agar terbebas dari longsoran dan perambahan oleh masyarakat.

Adapun konsep perencanaan rehabilitasi situ adalah (1) memperkuat tubuh situ di sisi utara, (2) penggalian kom situ, (3) pembuatan dinding penahan tebing situ, (4) pembuatan inlet, saringan sampah, dan normalisasi saluran inlet 1, (5) pembuatan inlet dan normalisasi saluran inlet 2, (6) perbaikan spillway outlet 1, normalisasi saluran outlet 1, (7) pergantian pintu outlet 2, rehabilitasi tebing outlet 2, dan pemasangan bronjong peredam energi pada belokan saluran outlet 2.

Pada pertemuan itu dipaparkan juga gambar spesifikasi teknis dari rencana rehabilitasi situ, seperti (1) perencanaan tubuh situ, (2) penggalian kom (endapan) situ mulai dari 0,5 hingga 2 meter, (3) pembuatan dinding penahan tebing situ, (4) pembuatan inlet dan normalisasi saluran inlet, (5) perbaikan spillway, pintu sorong dan normalisasi saluran outlet, dan (6) pembuatan jogging track dan side drain (saluran air di sisi situ).

Saat ini di tingkat pusat sedang dilaksanakan proses tender untuk merehabilitasi situ Sidomukti, bila tidak ada aral melintang, September 2011 nanti sudah dapat diketahui siapa pihak yang akan merehabilitasi situ dan segera melaksanakan pembangunan itu. Insya Allah pada tahun ini juga. Kita doakan saja.

September 2011

Pemerintah Pusat Kurang Bertanggungjawab Kelestarian Situ Depok

Sumber: http://www.jurnas.com/  11 September 2011

DEPOK, (Tubas) – Pemerintah Pusat (Pempus) dinilai kurang bertanggungjawab merawat kelestarian Situ yang tersebar di wilayah Pemerintahan Kota (Pemkot) Depok.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok Rahmad Subagyo (RS) mengakui akibat Situ (danau) tidak terawat, luas beberapa setu mengalami penyusutan. Kondisi seburuk itu terjadi di Situ Krukut dan beberapa Situ yang berada di kota Depok.

Menurut RS, hal tersebut terjadi karena kurangnya rasa tanggungjawab pemerintah pusat terhadap perawatan kelestarian sejumlah Situ di kota Depok. Ia juga mendesak pemerintah pusat agar menyerahkan pengelolaan Situ kepada daerah.

Dikatakan, pengajuan penyerahan pengelolaan Situ kepada daerah sebenarnya telah diajukan Pemkot Depok sejak tahun 2009 melalui Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI), namun sampai saat ini pengajuan tersebut belum mendapat tanggapan resmi dari pemerintah pusat. “Disamping itu, pemerintah pusat juga diminta tidak hanya menyerahkan asset tersebut, melainkan seluruh SDM-nya. Pasalnya, jika hanya Situ yang diserahkan, tetap tidak akan bisa dikelola pemkot, karena keterbatasan SDM,” saran RS.

Menurut RS, bila aset Situ bisa diserahkan kepada Pemkot Depok, proses pengontrolan Situ akan menjadi semakin mudah. Pasalnya, selama ini pemerintah pusat seakan tidak peduli dengan keberadaan Situ di berbagai kota termasuk Depok, dan imbasnya, jika sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, masyarakat akan menyalahkan Pemkot Depok. (dennie)

Tanggul Situ Bojongsari Terancam Jebol

Sumber:http://www.pikiran-rakyat.com/ 21 September 2011 

DEPOK, (PRLM).- Tanggul dan dinding saluran keluar (outlet) Situ Bojongsari retak dan terancam jebol bila terus dibiarkan. Jika jebol, maka air di situ yang memiliki luas terbesar di Kota Depok tersebut dipastikan akan membanjiri perumahan warga.

ANGGOTA Pokja Situ Bojongsari, Paryono, menunjukkan bagian tanggul yang retak di Situ Bojongsari, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, Rabu (21/9). Jika dibiarkan tanggul yang retak tersebut bisa jebol...

Menurut anggota Pokja Situ Bojongsari, Paryono, sebelumnya air situ pernah meluap dan membanjiri perumahan warga di Kelurahan Kedawung Kecamatan Bojongsari Kota Depok, pada tahun 2002. Sejak kejadian tersebut, pemerintah kemudian membangun tanggul pada tahun 2008.

Namun saat ini, tanggul tersebut engalami keretakan. Hal itu disebabkan karena posisi tanggul yang berada di antara akar pohon besar. “Karena pohonnya membesar, otomatis turapnya jadi pecah, Apalagi bahan bangunan pembuat tanggul sepertinya tidak begitu kuat,” kata Paryono saat ditemui di Situ Bojongsari, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, Rabu (21/9).

Selain karena akar pohon, dia berkata, keretakan tanggul tersebut disebabkan karena menahan air yang bertambah berat. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh adanya pendangkalan pada saluran masuk (inlet) Situ Bojongsari. “Jadi bagian situ yang tadiny bisa menampung sekarang tidak bisa, sehingga airnya dilimpahkan ke bagian outlet. Kalau outlet tidak bisa menampung, akibatnya ya meluap ke bagian tanggul,” ujar dia.

Dia menambahkan, beban tanggu juga semakin berat karena jalan diatasnya sering dilalui mobil dan truk pengangkat barang. Jalan tersebut memang sering digunakan karena merupakan akses alternatif antara Kecamatan Bojongsari dan Kecamatan Sawangan, Kota Depok.

Apabila jebol, kata Paryono, akibatnya bisa fatal karena volume air Situ Bojong Sari yang tidak sedikit. Situ tersebut memiliki luas 24 hektar dengan kedalaman sampai 12 meter. “Jangan sampai terjadi seperti Situ Gintung karena kalau situ Bojong Sari jebol maka banjirnya bisa sampai keCiputat, Tanggerang,” kata dia.

Dia berharap, pemerintah bisa mengatisipasi keretakan tersebut dengan membuat tanggul permanen, bak kontrol, serta saluran gendong di bagian inlet. Selain itu, pemerintah juga diminta untuk membantu warga melakukan pengerukan sedimentasi situ. “Sejak saya menjadi anggota Pokja lima tahun lalu, pengerukan dan menghilankan gulma ya dilakukan gotong royong oleh warga sendiri,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (Bimasda) Kota Depok Yayan Arianto, mengatakan pihaknya sudah melakukan survei terhadap kerusakan tanggul tersebut. Dia mengakui ada keretakan pada tanggul Situ Bojongsari. Keretakan di outlet tersebut disebabkan karena adanya pembiaran sedimentasi yang cukup lama.

Menurut dia, Dinas Bimasda sudah memberikan laporan kepada Balai Besar Wilayah Ciliwung-Cisadane. Namun sampai saat ini belum ada tindak lanjut dari laporan tersebut.

Yayan tidak menampik jika efek dari Situ Bojongsari yang jebol bisa sama akibatnya dengan Situ Gintung saat ini. “Mudah-mudahan tidak jebol, tpi jika dibiarkan ya bisa jebol dan banjir,” ujarnya. (A-185/das)***

Oktober 2011

Pemkot Depok Minta Pokja Situ Tak Manja!

Sumber: http://depoklik.com/  4 Oktober 2011

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok, Jawa Barat, Rahmat Subagyo mengaku telah memberikan perhatian pada situ sesuai dengan tugasnya. Ia mencontohkan pihaknya telah melakukan pengujian kelaikan air dan pengurukan turap oleh Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (Bimasda).

Rahmat pun membantah jika dalam uji kelaikan air yang setiap tahun dilakukan hanya bersifat menghabiskan dana proyek saja. “Tidak benar kalau hanya menghabiskan dana saja atau tidak ada kelanjutannya,” terang Rahmat, Senin (3/10) kemarin. Seharusnya, kata Rahmat, dalam pengelolaan situ juga melibatkan masyarakat dan secara mandiri. Ia pun mengakui sebelumnya sempat memberikan dana stimulan kepada pokja situ yakni sebesar Rp 2,5 juta.

Namun, lanjutnya, hal itu hanya bersifat rangsangan saja dan agar bisa menggali dengan sendirinya. “Pokja Situ juga harus memberikan laporan setiap enam bulan sekali. Pokja situ, ya jangan manja. Mau membersihkan eceng gondok saja harus minta APBD, seharusnya seperti itu kan bisa mandiri,”paparnya. Hal tersebut, terkait dengan pengelolaan 26 situ di Depok yang terlalai. Karena Pokja menganggap belum mendapat bantuan maksimal dari Pemkot Depok.

Icha

Normalisasi Situ, Depok Dapat Bantuan Rp 14,2 Miliar

Sumber: http://depoklik.com/  14 Oktober 2011

Kondisi 26 situ di Depok sudah memprihatinkan. Melihat manfaatnya sebagai bagian dari Ruang Terbuka Hijau (RTH), untuk menampung air sebelum mengalir ke ibukota Jakarta, situ-situ ini perlu dinormalisasi.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan pemerintah pusat gotong royong menggelontorkan anggaran untuk Depok. Sedikitnya, Depok memperoleh anggaran hingga Rp 14,2 miliar.

“Akan digunakan untuk perbaikan jalan, normalisasi situ, dan jembatan, dari pemerintah pusat sebesar Rp 1,6 miliar, untuk perbaikan Jalan Abdul Wahab Rp 1,3 miliar dan perbaikan jembatan Kalibaru di Kelurahan Tugu Rp 300 juta,” kata Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Depok Yayan Ariyanto, Kamis (13/10).

Sedangkan bantuan dari Pemprov DKI Jakarta Rp 5,5 miliar, digunakan untuk perbaikan Jalan Raya Limo Rp 1,6 miliar dan Jalan Putri Tunggal Rp 1,1 miliar. Kemudian, lanjut Yayan, digunakan pula untuk menormalisasi tiga situ di Depok.

“Situ Gadog Rp 1,5 miliar, Situ Pedongkelan Rp 845 juta, dan Situ Tipar Rp 125 juta. Total bantuan pemerintah pusat, Provinsi Jawa Barat, dan DKI Jakarta mencapai Rp 14,2 milyar,” paparnya. Icha

Pengurus Situ Minta Pengakuan Pemkot

Sumber:  http://www.jurnas.com/5 October 2011

Depok | Jurnal Nasional

PENGURUS Kelompok Kerja (Pokja) Situ se-Kota Depok meminta Pemerintah Kota Depok mengakui keberadaan mereka secara resmi. Sebab, sampai hari ini, keberadaan mereka belum diakui secara resmi oleh pemkot. Padahal, mereka merupakan ujung tombak pengamanan dan pelestarian situ. “Kami minta Pemkot Depok mengakui keberadaan Pokja Situ secara resmi,” kata Ketua Pokja Situ Bojongsari, Yono, Selasa (4/10).

Menurutnya, pengakuan dari Pemkot Depok sejalan dengan bantuan yang akan diberikan bagi perkembangan situ. Ia mengakui secara jujur bahwa pengurus Pokja Situ sangat mengharapkan bantuan dan perhatian dari pemkot. “Masa sebelumnya, pengelola situ mendapatkan bantuan stimulan dari Pemkot Depok. Tapi sekarang tidak lagi,” kata Yono.

Yono meminta meminta agar Pemkot Depok membantu beberapa pembangunan di sekitar situ. “Selama ini, Pokja Situ lebih banyak mandiri dalam mengerjakan program membersihkan situ dan lainnya,” katanya.

Ia juga berharap agar Pemkot Depok secara bersamaan memberikan bantuan kepada pengurus Pokja Situ di Kota Depok. Bantuan paling mendesak adalah kebutuhan sosialisasi pada masyarakat secara umum. “Kami minta pemkot memberikan bantuan dana sosialisasi tentang pentingnya situ bagi masyarakat. Selama ini sosialisasi sangat kurang,” katanya.

Anggota DPRD, Komisi C, Kota Depok, Abdul Gofar menilai, kinerja dinas dan Pokja Situ belum optimal. Pihaknya mendorong agar Pemkot Depok lebih proaktif. Dinas Bina Marga dan Sumberdaya Air (Bimasda) sebagai leading sektor belum terlibat secara aktif mengamankan situ. “Kinerja Pokja Situ belum maksimal. Pemkot Depok bisa menganggarkan kegiatan mereka melalui APBD dan bantuan pusat,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok, Rahmat Subagio menyatakan telah memberikan perhatian pada situ sesuai dengan porsi dan tugasnya. Ia mencontohkan: setiap tahun BLH selalu memantau kadar air. Bahkan Rahmat mengakui, pada masa pemerintahan Badrul terjadi euforia pada pengelolaan situ. Menurutnya, pihaknya baru satu minggu lalu mengadakan rapat soal juklak dan juknis pokja. “Kita baru membuat juklak dan juknisnya. Seperti: tugas, masa jabatannya dan lainnya,” katanya.

Menurutnya, pengelolaan situ seharusnya juga melibatkan masyarakat dan secara mandiri. Dana bantuan sebesar Rp2,5 juta yang diberikan sebelumnya bersifat rangsangan saja. Pokja Situ juga harus memberikan laporan setiap enam bulan sekali. “Pokja Situ jangan manja. Mau membersihkan eceng gondok saja harus minta APBD. Untuk urusan kayak gitu kan seharusnya bisa mandiri,” katanya. n Iskandar Hadji

Normalisasi Situ, Depok Dapat Bantuan Rp 14,2 Miliar

 Sumber: http://depoklik.com/ 14 Oktober 2011

Kondisi 26 situ di Depok sudah memprihatinkan. Melihat manfaatnya sebagai bagian dari Ruang Terbuka Hijau (RTH), untuk menampung air sebelum mengalir ke ibukota Jakarta, situ-situ ini perlu dinormalisasi.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan pemerintah pusat gotong royong menggelontorkan anggaran untuk Depok. Sedikitnya, Depok memperoleh anggaran hingga Rp 14,2 miliar.

“Akan digunakan untuk perbaikan jalan, normalisasi situ, dan jembatan, dari pemerintah pusat sebesar Rp 1,6 miliar, untuk perbaikan Jalan Abdul Wahab Rp 1,3 miliar dan perbaikan jembatan Kalibaru di Kelurahan Tugu Rp 300 juta,” kata Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Depok Yayan Ariyanto, Kamis (13/10).

Sedangkan bantuan dari Pemprov DKI Jakarta Rp 5,5 miliar, digunakan untuk perbaikan Jalan Raya Limo Rp 1,6 miliar dan Jalan Putri Tunggal Rp 1,1 miliar. Kemudian, lanjut Yayan, digunakan pula untuk menormalisasi tiga situ di Depok.

“Situ Gadog Rp 1,5 miliar, Situ Pedongkelan Rp 845 juta, dan Situ Tipar Rp 125 juta. Total bantuan pemerintah pusat, Provinsi Jawa Barat, dan DKI Jakarta mencapai Rp 14,2 milyar,” paparnya.

Icha

 Situ di Depok Rawan Jebol

Sumber: http://www.kbr68h.com/ 21 October 2011 

KBR68H, Depok – Kondisi dinding sejumlah situ di Depok, Jawa Barat retak dan rawan jebol. Salah satunya terjadi pada Situ Bojongsari. Situasi tersebut dinilai dapat mengancam keselamatan warga. Apalagi lokasi pemukiman warga berada pada kontur tanah yang lebih rendah dibanding situ. Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Depok Yayan Aryanto mengklaim permasalahan tersebut sudah dilaporkan ke Balai Besar Ciliwung – Cisadane Propinsi Jawa Barat untuk segera ditangani.

“Situ yang hilang kita sudah buat kajian dan melapor juga ke Balai Besar Ciliwung – Cisadane, supaya dikembalikan fungsinya sebagai situ, permasalahan banjir adalah karena sedimentasi atas lumpur yang terbawa karena pengendapan, termasuk di situ juga terjadi pengendapan, sehingga disini fungsi kantong airnya berkurang secara drastis”

Sedikitnya terdapat dua situ di Depok yang sudah hilang dan rata dengan tanah. Sementara puluhan situ lainnya sudah berubah fungsi menjadi permukiman dan kebun. Sesuai data Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air, dari 26 situ, hanya 4 situ yang berkualitas baik.

Pada 2009 silam musibah jebolnya situ terjadi di Tangerang Selatan, Banten. Saat itu dinding Situ Gintung yang telah retak jebol akibat tak mampu menahan debit air yang tinggi akibat hujan. Sekira 100 orang tewas dan lainnya hilang.

 Pemkot : 26 Situ di Depok Memprihatinkan

Sumber:http://www.depoknews.com/ 21 Oktober 2011

depoknews.com | Pemerintah Kota Depok mengakui kondisi 26 situ di Depok memprihatinkan. Dari 26 situ hanya empat situ yang kondisinya tergolong baik, sementara situ-situ lainnya sudah berubah fungsi bahkan hilang.

Padahal situ di Depok berfungsi sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dapat menjadi resapan air pencegah banjir di ibu kota. Salah satu situ yang memprihatinkan yakni Situ Bojongsari, Kecamatan Bojongsari, yang saat ini mengalami pendangkalan karena kurang mendapat perawatan. Tak hanya itu, dinding-dinding penahan situ juga sudah retak.

Warga yang bermukim di area situ merasa bencana Situ Gintung, Tangerang, akan terulang. Sebab lokasi permukiman berada lebih rendah dari situ.

Anggota Kelompok Kerja (Pokja) Situ Bojongsari mengatakan, pada awal 2011 petugas Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (Bimasda) telah melakukan pengukuran area situ yang akan diturap.

“Namun hingga kini, belum ada perbaikan dinding situ serta normalisasi. Padalah, kondisi dinding situ saat ini semakin terkikis, karena hanya dibentengi batang bambu,” tuturnya kepada wartawan, Jumat (21/10/11).

Kepala Dinas Bimasda Kota Depok, Yayan Arianto, mengakui pihaknya telah menerima keluhan dari warga, anggota Pokja Situ, dan Lurah Bojongsari soal kondisi terakhir Situ Bojongsari. Namun terkait terbatasnya anggaran Pemkot Depok, maka perbaikan baru dapat dilakukan pada tahun anggaran 2012.

“Kami baru dapat memenuhi permintaan warga tahun depan, dengan mengandalkan bantuan anggaran pemerintah pusat dan APBD Kota Depok,” tegas Yayan.

Dia mengatakan, Situ Bojongsari yang memiliki luas sekira 28 hektare dan dapat menampung air hujan sebanyak 840.000 meter kubik. Tingginya kemampuan Situ Bojongsari untuk menampung air hujan, hampir menyamai Situ Gintung, Tangerang.

“Memang bila kondisi situ tidak secepatnya ditangani, dikhawatirkan bisa terjadi seperti kasus longsornya Situ Gintung yang banyak menelan korban jiwa,” jelasnya.

Yayan menambahkan, Situ Gadog yang sudah rata dengan tanah saat ini sedang ditangani. “Hanya empat yang bagus yang hanya di UI, situ yang hilang di Krukut dan Pasir Putih, sudah berubah jadi kebun dan kolam-kolam, ini supaya dikembalikan fungsinya lagi,” tegasnya.

Tragedi Situ Gintung Berpotensi Terulang di Depok

Marieska Harya Virdhani – Okezone
Sumber: http://news.okezone.com/ 21 Oktober 2011  

DEPOK – Pemerintah Kota Depok mengakui kondisi 26 situ di Depok memprihatinkan. Dari 26 situ hanya empat situ yang kondisinya tergolong baik, sementara situ-situ lainnya sudah berubah fungsi bahkan hilang.

Padahal situ di Depok berfungsi sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dapat menjadi resapan air pencegah banjir di ibu kota. Salah satu situ yang memprihatinkan yakni Situ Bojongsari, Kecamatan Bojongsari, yang saat ini mengalami pendangkalan karena kurang mendapat perawatan. Tak hanya itu, dinding-dinding penahan situ juga sudah retak.

Warga yang bermukim di area situ merasa bencana Situ Gintung, Tangerang, akan terulang. Sebab lokasi permukiman berada lebih rendah dari situ.

Anggota Kelompok Kerja (Pokja) Situ Bojongsari mengatakan, pada awal 2011 petugas Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (Bimasda) telah melakukan pengukuran area situ yang akan diturap.

“Namun hingga kini, belum ada perbaikan dinding situ serta normalisasi. Padalah, kondisi dinding situ saat ini semakin terkikis, karena hanya dibentengi batang bambu,” tuturnya kepada wartawan, Jumat (21/10/11).

Kepala Dinas Bimasda Kota Depok, Yayan Arianto, mengakui pihaknya telah menerima keluhan dari warga, anggota Pokja Situ, dan Lurah Bojongsari soal kondisi terakhir Situ Bojongsari. Namun terkait terbatasnya anggaran Pemkot Depok, maka perbaikan baru dapat dilakukan pada tahun anggaran 2012.

“Kami baru dapat memenuhi permintaan warga tahun depan, dengan mengandalkan bantuan anggaran pemerintah pusat dan APBD Kota Depok,” tegas Yayan.

Dia mengatakan, Situ Bojongsari yang memiliki luas sekira 28 hektare dan dapat menampung air hujan sebanyak 840.000 meter kubik. Tingginya kemampuan Situ Bojongsari untuk menampung air hujan, hampir menyamai Situ Gintung, Tangerang.

“Memang bila kondisi situ tidak secepatnya ditangani, dikhawatirkan bisa terjadi seperti kasus longsornya Situ Gintung yang banyak menelan korban jiwa,” jelasnya.

Yayan menambahkan, Situ Gadog yang sudah rata dengan tanah saat ini sedang ditangani. “Hanya empat yang bagus yang hanya di UI, situ yang hilang di Krukut dan Pasir Putih, sudah berubah jadi kebun dan kolam-kolam, ini supaya dikembalikan fungsinya lagi,” tegasnya.

November 2011

Usaha Bimasda Mengembalikan Fungsi Dua Situ Di Depok

Sumber: http://www.depok.go.id/ 15 November 2011

Dinas Bina Marga Dan Sumber Daya Air (Bimasda) kota Depok akan mengembalikan fungsi dua Situ yang nyaris hilang, yakni Situ Pasir Putih, (pasput) dan Situ Krukut. Upaya normalisasi dilakukan dengan melibatkan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC). Kami sudah membuat kajian untuk kedua Situ tersebut. BBWSCC juga telah meninjau lokasi,” kata kepala Dibimasda kota Depok, Yayan Ariyanto. Diakui lahan situ memang telah berubah fungsi, bahkan telah ada yang mengantongi SK Kinag dari Badan Pertanahan Nasional (BPN)

“Dengan SK Kinag ini , seolah-olah lahan tersebut menjadi milik pribadi. Kami berharap ini bisa dipulihkan. BPN dan Bimasda harus seiiring sejalan, tidak ada hal yang bisa menjadi kendala di lapangan seperti ini,” jelas Yayan. Sementara itu untuk penanganan Situ Bojong sari yang sempat retak beberapa waktu lalu, Yayan mengatakan, pihaknya juga melakukan koordinasi dengan BBWSCC.

“Untuk situ Bojongsari detail engineering design (DED) akan dibuat tahun depan. Untuk membuat Bronjang misalnya, di lokasi itu dibutuhkan dana sebesar Rp 5 milyar. Kami bersyukur BBWSCC juga bersedia membantu,” papar Yayan.

20 Situ Depok Rusak Parah

Sumber: http://www.jurnas.com/ 16 November 2011

DARI 26 situ di Kota Depok, hanya enam dalam kondisi baik alias tak mengalami sedimentasi parah. Sisanya, 20 situ rusak parah. Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (Bimasda) Kota Depok, Yayan Arianto mengungkapkan, dari situ yang rusak itu, dua hilang dan berubah fungsi.

Yayan mengatakan, empat situ kondisi cukup bagus di Universitas Indonesia (UI) hingga terawat. Yang lain, di Pengasinan dan Studio Alam. “Situ Pengasinan cukup bagus, studio alam sekarang digarap dan pengerukan,” katanya di Depok, Selasa (15/11).

Pengendapan situ menyebabkan kondisi air tanah di Depok memburuk hingga bisa mengakibatkan banjir. “Situ kan membantu pelestarian air tanah dan resapan,” ujar dia.

Pengendapan juga membuat beban tanggul situ menjadi makin berat. Kondisi ini bisa menyebabkan tanggul retak dan jebol. “Misal, seperti terjadi pada situ Bojongsari yang tanggul retak. Bila dibiarkan bisa seperti Situ Gintung yang jebol dan membanjiri rumah warga.”

Dia mengaku, sudah melaporkan kondisi Situ Bojong Sari ke Balai Besar Ciliwung Cisadane. Rencananya, situ ini ditata tahun 2012. Sedang, dua situ lain, Pasir Putih dan Krukut saat ini beralih fungsi menjadi kebun. Bahkan, sampai lahan situ diakui warga sebagai tanah pribadi. Pemerintah Depok, berusaha mengembalikan hak milik situ itu.

“Sebenarnya sudah jelas, itu lahan pemkot.”

Anggota Pokja Situ Bojong Sari Paryono, mengatakan, pengendapan di Situ Bojongsari, sangat parah. Bahkan empat meter luas Situ Bojongsari kini berubah menjadi daratan. Saat ini, situ Bojongsari tinggal 20 hektare dengan kedalaman paling tinggi 12 meter. Kini, situ yang berubah fungsi ini untuk bercocok tanam.

“Di beberapa bagian warga sering memancing, di daerah situ dangkal.” Menurut Paryono, pendangkalan itu bisa karena limbah yang dibuang ke situ. Tanaman air yang tumbuh di situ pun bisa menyebabkan pendangkalan. Iskandar Hadji

Depok Perbaiki Dua Situ

Republika, 18 November  2011 
Sumber:  http://bataviase.co.id/

DEPOK – Pemerintah Kota (Pemkot) Depok akan mengembalikan dua fungsi situ sebagai daerah resapan air yang hampir hilang. Upaya normalisasi itu dilakukan untuk Situ Pasir Putih dan Situ Krukut. “Kedua situ telah mengalami perubahan fungsi lahan.” ujar Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (Dibimasda) Kota Depok, Yayan Arianto, Rabu (16/11).

Dari hasil kajian terungkapadanya kendala saat melakukan upaya normalisasi. Misalnya, Situ Krukut yang telah mendapatkan SK Kmag dari Badan Pertanahan Nasional (BPN). “Dengan SK Kmag, lahan situ menjadi milik perorangan,” ujar Yayan.

Tak ayal, im merupakan salah satu kendala mengembalikan fungsi lahan di Situ Krukut. Pemkot Depok berharap lahan situ dengan status SK Kinag bisa dikembalikan fungsinya. Hal ini, diakui Yayan, merupakan kendala antara BPN dan Dibimasda karena tidak adanya koordinasi. “BPN dan Dibimasda harusnya sejalan sehingga tidakada kendala di lapangan,” ujarnya. Sedangkan pada 2012. Pemkot Depok juga akan menangani Situ Bojongsan yang mengalami keretakan. Sejauh ini penanganan Situ Bojongsan adalah dengan melakukan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC). Koordinasi dilakukan dengan membuat detailed engineering design (DED) yang dikerjakan tahun depan. Rencananya pada 2012, bekerja sama dengan BBWSCC. Pemkot akan membuat bronjongyang berfungsi sebagai penahan sementara di lokasi keretakan Situ Bojongsan.Bc2i

Desember 2011

Diguyur Hujan Terus Menerus  
Kondisi Tanah Labil, Tanggul Situ Baru Depok Retak

Sumber: http://www.radaronline.co.id/berita/ 15 Desember 2011  

Depok, Radar Online
Tanggul Situ Baru di Kelurahan Sukmajaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat retak akibat hujan deras yang mengguyur Kota Depok dua minggu terakhir ini. Retaknya tanggul tersebut sempat membuat warga yang tinggal di sekitar situ khawatir. Padahal, tanggul tersebut belum lama diperbaiki.

Siti (60) salah seorang warga mengatakan, situ tersebut retak saat ada hujan besar yang mengguyur Kota Depok, pukul 14.30 WIB, Selasa (13/12/2011).

“ Tiba-tiba saja ada suara seperti petir, anak emak (Siti) kemudian lari ke luar dan memeriksa asal suaranya,” ujar Siti, kepada wartawan Kamis (15/12/2011).

Setelah diperiksa, ternyata tanggul situ baru amblas dan retak. Air situ pun sempat mengalir ke luar. Meskipun demikian, air tidak sampai meluap terlalu luas karena lokasi jalan jauh lebih tinggi dari tanggul.

Sementara itu, warga lainnya Sumadi (51) mengatakan, warga sempat khawatir akibat adanya tanggul yang retak tersebut. Hal itu karena terdapat rumah warga yang berada di bawah tanggul Situ Baru. “Kami khawatir jika jebol dan semakin besar makan kejadiannya akan seperti situ gintung,” ujar dia.

Sumadi berharap, pemerintah bisa langsung meperbaiki tanggul situ yang retak tersebut. Apalagi tanggul tersebut sebenarnya baru saja dibangun.

Sementara itu Pejabat Pembuat Komitmen Prasarana Kosenrvasi Sumber Daya Alam, Dina Noviatrana mengatakan, tanggul sepanjang 50 meter tersebut sebenarnya sedang dalam tahap pembangunan. Rencananya pembangunan tanggul tersebut selesai Desember 2011. Namun akibat kejadian ini, kemungkinan besar perbaikan tanggul akan selesai pada tahun 2012.

Menurut Dina, kejadian tanggul yang jebol tersebut disebabkan karena kondisi tanah yang sejak awal labil. Sebenarnya,kondisi tersebut sudah diantisipasi dengan memberikan hamparan batu. Namun karena hujan deras, bagian tanah bawah semakin labil sehingga konstruksi tetap tidak kuat.

Dina mengatakan, kondisi tanggul tersebut harus diperbaiki mengingat ada jarak ketinggian antara situ dan rumah penduduk yang berada 15 meter di bawahnya. Meskipun demikian, Dina menjamin tanggul yang jebol tersebut tidak berdampak seperti Situ Gintung.

“ Tidak ini masih jauh, selain pintu air juga selalau dibuka karena sedang ada pembangunan,” ujarnya.(Maulana Said/A.Azis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: