Teguh Setiawan

Seribu Satu Masalah Situ di Depok

Republika,  03 September  2010

Sumber: http://bataviase.co.id/

Beragam masalah membelit, mulai dari fisik yang sakit hingga kualitas air yang semakin hari semakin buruk.

Situ merupakan genangan air dalam suatu cekungan di permukaan tanah yang terbentuk secara alami maupun buatan yang airnya bersumber dari permukaan dan air tanah. Selama ini, banyak yang menyamakan situ dengan danau. Padahal, situ memiliki karakteristik yang berbeda. – Secara fisik, situ lebih kecil dibandingkan danau. Ia tergolong ekosistem perairan air tawar yang terbuka dan dinamis. Kuantitas dan kualitas airnya berhubungan dengan tata air dan drainase wilayah serta dipengaruhi oleh tipe pemanfaatan badan air situ. Ia juga dipengaruhi pemanfaatan lahan di dalam wilayah tangkapannya.

Situ memiliki banyak fungsi penting. Tak hanya sebagai tempat parkir air dan kawasan resapan, situ dapat mengurangi volume air permukaan yang tak tertampung dan menjadi penyebab banjir atau genangan. Bahkan, pada kondisi tertentu, situ dapat berfungsi sebagai pembangkit listrik, penimbun air pada cekungan air tanah, serta penahan intrusi air asin.

Depok merupakan kota seluas 20.504,52 hektare dan berpenduduk 1,3 juta jiwa. Dari luas keseluruhan, 91 hektare wilayahnya merupakan area situ.

Di kota ini, terdapat 26 situ yang tersebar merata di sebelas kecamatan. Di antaranya Situ Jatijajar, Situ Patinggi, Situ Baru, Situ Sidomukti, Situ Pengareng-an, Situ Bahar, Situ Pitara, Situ

Asih Pulo, Situ Citayam, Situ Pedongkelan, dan Situ UI Satu.

Terdapat pula Situ UI Dua, Situ UI Tiga, Situ UI Empat, dan Situ Bojong Sari. Lalu, Situ Rawa Kalong, Situ Rawa Besar, Situ Cilangkap, Situ Cicadas, Situ Cilodong, Situ Gadog, serta Situ Pladen. Namun, sayangnya banyak situ yang belum sepenuhnya terurus.

Beragam masalah membelit, mulai dari fisik yang sakit hingga kualitas air yang semakin hari semakin buruk. Situ yang ada tak hanya susut karena terdesak reklamasi pemukiman. Ia kian dangkal karena endapan lumpur, sampah, dan gulma yang memenuhi wajah situ.

Salah satu masalah yang mendesak dialami situ adalah tercemarnya situ yang ada karena baftan-bahan kimia. Ini tak hanya terjadi karena limbah pabrik, tapi juga limbah rumah tangga. Bahkan, dari penelitian Walhi, diperkirakan sebanyak 50 persen situ di Depok terkena pencemaran lingkungan.

Dari Data Balai Lingkungan Hidup (BLH) Depok, pada April 2010, terdapat dua situ 3ang kini pencemarannya tergolong parah. Keduanya adalah Situ Gadog yang berada di Cimanggis dan Situ Pladen di daerah Beji.

Keduanya digolongkan tercemar karena angka Biologycal Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) kali yang tinggi. Berdasarkan PPRI Nomor 82 Tahun 2001, nilai BOD standar adalah 6 mg/liter, sedangkan COD standar adalah 50mg/liter.

“Angkanya di kedua situ ini melebihi ambang batas,” kata Kepala Dinas BLH Depok, Rahmat Subagyo.

BOD merupakan kebutuhan oksigen terhalagi bahan-bahan organik. BOD menjadi tinggi karena banyaknya limbah berupa feses atau kotoran manusia masuk ke situ. Sementara itu, COD adalah kondisi oksigen yang terhambat karena zat kimia. Ia menjadi tinggi karena limbah kimia, seperti larutan sabun dan detergen mengalir ke situ.

Situ Gadog misalnya, situ ini memiliki kualitas BOD sebesar 40,42 mg/1, sedangkan jumlah COD pada situ ini mencapai 149,22 mg/1. Bukan hanya itu, sejumlah bahan kimia berbahaya yang seharusnya tak ada dalam air juga terkandung seperti Barium 0,031/1 mg, Mangan 1,05 mg/1, Besi 1,58 mg/1, Sulfat 2,65mg/l, Amonia ll,9mg/l, dan Klorida 121,62mg/l.

Sementara itu, Situ Pladen mengandung BOD dan COD sebesar 87,58 mg/1 dan 110,16 mg/1. Sama seperti Gadog, sejumlah bahan kimia yang tak seharusnya ada dalam air situ juga ditemukan di situ ini. Seperti Mangan 0,3 mg/1, Barium 0,031 mg/1, Seng 0,43 mg/1, Amonia 2,72 mg/1, Klorida 20,64 mg/1, dan Besi 1″D7 mg/1.

Air keduanya bahkan tak bisa dimanfaatkan lagi. Jangankan untuk dikonsumsi langsung oleh warga, air di kedua situ ini juga tak boleh dipakai untuk mandi maupun mencuci pakaian.

“Karena bisa menyebabkan gatal-gatal. Bahkan, kalau dikonsumsi terus-menerus bisa menyebabkan kelainan pada keturunan,” katanya lagi.

Selain pencemaran, situ di Depok juga menghadapi masalah lainnya, yakni pendangkalan. Ini terjadi di seluruh situ yang ada di Depok. Salah satu contohnya Situ Rawa Besar di Pancoran Mas. Awalnya, situ ini berukuran 28,34 hektare. Sayangnya, kini luasnya hanya 13 hektare.

Hal senada juga terjadi pada Situ Citayam. Situ ini kini hanya seluas 12 hektare dari luas semula yang mencapai 27,25 hektare. Hal ini juga terjadi pada Situ Pladen. Pada awalnya, luas situ ini 12 hektare, kini hanya tersisa 1,5 hektare.

Bahkan, Pasir Putih, Situ Cinere, dan Situ Krukut telah kering dan tidak ada lagi. Situ yang dulunya luas, kini tinggal kubangan-kubangan. Hal ini diakibatkan tumbuhnya pembangunan di kota ini yang mengambil lahan situ.

Tak hanya itu, beberapa tanggul situ juga rawan jebol. Salah satunya terjadi pada Situ Cilodong, Kecamatan Cilodong. Dari pantauan di lapangan, dinding tanggul sudah mulai keropos. Beberapa warga mengaku hal ini mengkhawatirkan mereka.

“Takut kejadian Situ Gintung terjadi di sini,” kata Farid, warga Jalan Raya Abdul Gani, RT 5 RW 3, Kalibaru, yang tinggal persis di depan situ.

Selain itu, terdapat beberapasitu lain yang menghadapi masalah serupa. Situ tersebut terdiri dari Situ Pengasinan di Kecamatan Sawangan dan Situ Asih Pulo di Kecamatan Pancoran Mas. Ada pula Situ Bojong Sari di Kecamatan Bojongsari, Situ Pangarengan dan Situ Sido Mukti di Kecamatan Sukmajaya, serta Situ Pedongkelan dan Situ Jatijajar di Kecamatan Cimanggis.

Menurut Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Depok, Yayan Arianto, pihaknya membutuhkan dana Rp 11 Miliar untuk melakukan normalisasi situ. Kini, data yang ada hanya tersedia sekitar Rp 3 Miliar. Dana ini hanya berasal dari Badan Kerja Sama Pembangunan (BKSP) yang merupakan dana bantuan DKI Jakarta untuk Depok.

Sementara itu, pengamat lingkungan Universitas Indonesia, Tarsoen Waryono, menilai perbaikan situ tak bisa dilakukan tanpa arah yang jelas. Pemerintah ataupun pihak-pihak terkait harus membuat inventarisasi apa yang harus diperbaiki.

“Lagipula tak bisa secara langsung lingkungan diperbaiki. Butuh proses jangka panjang yang bertahap,” katanya.

Menurutnya, lingkungan bukan saja pekerjaan pemerintah. Masyarakat juga harus diajak untuk peka terhadap penyelamatan lingkungan sekitar, terutama situ. Karena, ini berdampak pada kehidupan pada masa datang. c21 ed teguh setiawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: