Paulus Londo

REVITALISASI SITU, MENYELAMATKAN KAWASAN JADEBOTABEK

Paulus Londo

(Penulis adalah peneliti pada LS2LP/ Lembaga Studi Sosial, Lingkungan dan Perkotaan)

Sumber: http://www1.menlh.go.id/serasi_mei_2007.

Situ–atau “setu”— adalah danau alam yang berukuran kecil. Ada yang hanya sebesar kubangan, namun tak jarang ada yang luasnya belasan hingga puluhan hektar. Meskipun demikian, situ tidak sama dengan danau, baik dari segi luasan atau karakteristiknya. Ada juga yang menyebutnya “telaga,” atau “rawa.”

Meski situ umumnya berukuran kecil, namun fungsinya sangat vital bagi suatu kawasan. Sebagai tempat parkir air, situ sangat berfungsi mengendalikan cadangan air bagi suatu kawasan. Ia menjadi area resapan air untuk mengisi cadangan air tanah. Di saat musim hujan, situ berfungsi sebagai penampungan sementara air (permukaan), sehingga tidak meluap menggenangi seluruh permukaan tanah. Sementara di musim kemarau, ia menjadi gudang air bagi kawasan sekitarnya, sehingga terhindar dari bencana kekeringan.

Jadebotabek adalah salah satu kawasan yang memiliki banyak situ. Geomorfologi kawasan ini memang membutuhkan situ-situ untuk tempat parkir air. Dan, mungkin karena itu pula, Prof. Dr. Ir. H Van Breen pada masa Hindia Belanda mengabaikan pembangunan yang justru dewasa ini banyak terdapat di sepanjang daerah aliran dua sungai itu.

Sayangnya pula, setelah Indonesia merdeka, banyak situ beralih fungsi, bahkan hilang tak berbekas. Penyebabnya bisa akibat sedimentasi yang tak terkendali, atau karena telah dibudidaya (diuruk) jadi lahan pemukiman atau untuk keperluan yang lain. Pemerintah dan masyarakat memang cenderung tidak memperhatikan kelestarian situ-situ itu. Bahkan status kepemilikannya sering tidak jelas. Selama ini, situ dan area perairan lainnya seperti sungai, kanal, dan saluran air yang lazim disebut “area biru” kerap dianggap sebagai wilayah tidak bertuan.

Pengurukan situ pun terus berlangsung tanpa henti seiring dengan melonjaknya harga tanah di kawasan Jadebotabek. Di sisi lain, pemerintah selain jarang memiliki data tentang situ-situ, juga cenderung kurang menghiraukan statusnya. Lahan kering bekas situ  yang diuruk akhirnya menjadi rebutan berbagai pihak.

Mereka bisa mematok areal situ dan menjadikannya pemukiman liar, sehingga permasalahannya menjadi semakin rumit. Bahkan tak jarang terjadi, situ yang telah berubah jadi daratan dijadikan tanah milik lengkap dengan sertifikat kepemilikan. Sementara situ yang masih tersisa, kondisinya tampak sangat merana karena sering dijadikan tempat pembuangan sampah.

Dulu, banyak terdapat situ di wilayah Jakarta, Bekasi dan Depok, namun kini sebagian besar telah hilang. Kalau pun masih ada yang tersisa sebagian besar dalam keadaan rusak parah. Data Departemen Pekerjaan Umum, menyebutkan bahwa dari total luas situ di Jadebotabek semula sekitar 2.337,10 hektar, sekarang tinggal 1.462,78 hektar.

Di Kabupaten Bogor, terdapat sekitar 94 situ. Semula total luasnya mencapai 5 hektar, kini tinggal 472,86 hektar dengan tingkat penyusutanmencapai 29,01 persen, dan berubah fungsi 13 persen. Di Kabupaten Tangerang terdapat 37 situ dengan luas 1.065,05 hektar, kini tinggal 686,7 hektar, atau tingkat penyusutannya mencapai 35,52 persen.

Di Kota Tangerang, dari 8 situ yang luas sebelumnya 270,30 hektar, kini tinggal 130,40 atau menyusut 51,76 persen. Sedangkan di wilayah Bekasi, Depok dan DKI Jakarta, sudah tidak bisa dipastikan jumlahnya karena banyak yang sudah berubah fungsi. Selain itu karena letaknya di bagian hilir, maka dengan sendirinya lebih banyak menampung sedimentasi.

Selain luasnya menyusut, tingkat kedalamannya pun jauh berkurang. Akibat pendangkalan yang dibiarkan terus menerus, kedalaman situ yang semula umumnya berada atas 5 meter, kini hanya berkisar antara 2,5 meter hingga 3 meter. Akibat pendangkalan yang serius maka daya tampungnya pun menjadi jauh berkurang.

Tentu, dampak dari berkurangnya daya tampung situ, maka penyerapan dan pengendalian air permukaan di kala hujan menjadi tidak maksimal. Akibatnya, hampir setiap tahun kawasan ini diterpa bencana banjir.

Meluasnya area genangan air di setiap musim hujan, hingga mencakup duapertiga wilayah Jakarta pada tahun 2OO7, pada dasarnya merupakan akibat dari berkurangnya daya tampung situ-situ di wilayah ini. Karenanya, bila situsitu yang ada tidak segera diselamatkan dan diberdayakan, bisa dipastikan bahwa Jakarta dan sekitarnya bakal menghadapi ancaman banjir yang lebih gawat, bahkan mungkin berubah menjadi lautan di kala musim hujan.

Revitalisasi situ sebagai upaya penyelamatan lingkungan dari ancaman banjir, setidaknya dapat dipahami melalui analisis sejumlah pakar berikut ini. Jika situ-situ yang masih tersisa diperdalam hingga mencapai kedalaman lima meter maka ia akan dapat menampung air sebanyak sekitar 73,14 juta meter kubik. Sedangkan jika luasnya dikembalikan seperti semula (2.337,10 hektar), maka air yang tertampung bisa mencapai  sekitar 116,86 juta meter kubik.

Besaran volume air yang tertampung, ternyata mencapai empat kali lipat dari volume yang diperkirakan dapat ditampung dalam Waduk Ciawi yang sedang dirancang pembangunannya. Tampaknya, perhitungan seperti ini menyebabkan Prof. Dr. Ir H van Breen, tidak merencanakan pembuatan waduk di hulu Ciliwung – Cisadane, dalam konsep penanggulangan banjir Jakarta.

Bila situ-situ itu berfungsi baik, maka di musim hujan, limpahan air dari hulu yang mencapai sekitar 15.000 meter kubik/detik, dapat ditahan sementara di situ-situ, paling kurang selama 2 jam 16 menit sebelum kemudian mengalir masuk ke Jakarta. Dengan pengendalian itu, maka Jakarta serta wilayah hilir di sekitarnya tentu cukup aman.

Untuk menangani renormalisasi situ – apalagi mengembalikan situ-situ  yang sudah hilang kepada kondisi semula – pasti memerlukan biaya tidak sedikit. Sementara akibat rendahnya perhatian Pemerintah, biasanya jumlah dana yang disediakan setiap tahunnya sangat terbatas Akibatnya, kerusakan situ dari waktu ke waktu semakin sulit diatasi.

Kenyataan menunjukan banyak pengembang sengaja mengincar situ untuk pembangunan real estate karena konon biaya pembebasannya tidak mahal. Padahal akibat yang sudah sering terbukti, suatu kawasan yang semula bebas dari banjir, dalam beberapa tahun terakhir justru jadi area genangan yang parah akibat rusaknya situ-situ di kawasan sekitarnya.Karena itu, bila praktek perusakan situ tidak segera dihentikan, bisa dipastikan beberapa tahun mendatang, pada musim penghujan, Jakarta dan wilayah hilir di sekitarnya bakal jadi lautan banjir.

Penyelamatan Situ

Melihat eskalasi banjir belakangan ini, juga kekeringan yang kerap terjadi di beberapa kawasan Jadebotabek, penyelamatan dan revitalisasi situ tampak sudah semakin mendesak. Maka ada beberapa hal berikut ini yang patut mendapat perhatian.

Pertama, Pemerintah harus segera melakukan inventarisasi situ-situ, baik yang masih berfungsi, maupun sudah tidak berbekas. Ini penting untuk mendapatkan gambaran yang sesungguhnya dari situ-situ tersebut.

Kedua, perlu kejelasan status pemilikan setiap situ yang ada. Bahkan sebaiknya kepemilikannya berada di tangan Pemerintah. Kalau pun dalam penguasaan masyarakat, Pemerintah harus memastikan peruntukkannya tidak bakal mengubah fungsi situ sebagai tempat parkir air.

Ketiga, situ-situ yang rusak harus segera diperbaiki, dan diberdayakan dengan cara-cara kreatif sehingga tidak sepenuhnya membebani anggaran biaya.

Keempat, situ-situ yang luasnya memadai dengan area sekitarnya seyogyanya diberdayakan baik sebagai tempat rekreasi publik, mau pun untuk kegiatan-kegiatan lain yang dapat menjamin kelestarian situ- situ tersebut.

Kelima, untuk semua upaya itu, pemerintah dan masyarakat harus membiasakan diri agar  tidak menjadikan situ sebagai tempat pembuangan sampah (cair atau padat). Masih banyak cara lain untuk memberdayakan situ, demi menjamin kelestariannya dan menjadikannya bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: