Lani Puspita, dkk.

Bab 7  Situ dan Embung

Oleh: Lani Puspita, Eka Ratnawati, I Nyoman N Suryadiputra, Ami Aminah Meutia.

Dalam:  “Lahan Basah Buatan di Indonesia” Wetlands International Indonesia Programe, Ditjen PHKA. Bogor, Juni 2005

Perairan situ dan embung merupakan salah satu ekosistem perairan  tergenang yang umumnya berair tawar dan berukuran relatif kecil.  Istilah “situ” biasanya digunakan masyarakat Jawa Barat untuk  sebutan “danau kecil”. Di beberapa daerah, situ terkadang disebut juga  “embung”. Ukuran situ/embung yang relatif kecil menyebabkan  keberadaannya sangat terancam oleh tingginya laju sedimentasi. Aktifitas  masyarakat di Daerah Aliran Sungai (DAS) dan wilayah tangkapan air  situ/embung sangat berpengaruh pada proses pendangkalan situ/embung.

Perairan situ dan embung antara lain berfungsi untuk menampung air,  menjaga keseimbangan alam, dan menopang kehidupan masyarakat.  Demikian pentingnya perairan situ dan embung bagi kehidupan sehingga  dibutuhkan suatu pengelolaan yang bersifat terpadu dalam menjaga dan melestarikannya.

7.1 Definisi Situ dan Embung

Situ adalah wadah genangan air di atas permukaan tanah yang terbentuk  secara alami maupun buatan, sumber airnya berasal dari mata air, air  hujan, dan/atau limpasan air permukaan. Sedangkan embung secara  definitif merupakan kolam berbentuk persegi empat (atau hampir persegi  empat) yang menampung air hujan dan air limpasan di lahan sawah tadah  hujan yang berdrainase baik. Pada PP No. 77 Tahun 2001 tentang Irigasi,  embung disebut juga waduk lapangan dan didefinisikan sebagai tempat/ wadah penampung air irigasi pada waktu terjadi surplus air di sungai atau pada saat hujan.

Situ alami dan buatan memiliki perbedaan utama yang terletak pada  proses pembentukannya. Situ alami adalah situ yang terbentuk karena  proses alam sedangkan situ buatan adalah situ yang terbentuk karena  aktivitas manusia (baik disengaja ataupun tidak). Sementara embung  pada dasarnya merupakan perairan tergenang yang sengaja dibangun  untuk menampung air hujan dan air limpasan, dan terutama dibangun  pada daerah yang kekurangan air atau berpotensi besar mengalami  kekeringan. Dalam perkembangannya, seringkali masyarakat sudah tidak  dapat membedakan antara situ alami, situ buatan, dan embung; karena  setelah kurun waktu beberapa tahun kondisi ekologis ketiga macam ekosistem tergenang itu terlihat sama.

7.2 Fungsi dan Manfaat Situ/Embung

Ekosistem situ dan embung memiliki berbagai fungsi dan manfaat bagi berbagai makhluk hidup. Fungsi dan manfaat tersebut antara lain:

7.2.1 Fungsi Ekologis Situ/Embung

a. Habitat bagi berbagai jenis tumbuhan dan hewan

Ekosistem situ dan embung merupakan tempat hidup, mencari  makan, dan berkembang biak berbagai jenis tumbuhan dan hewan.  Bahkan beberapa jenis diantaranya merupakan jenis hewan dan  tumbuhan yang endemik dan dilindungi. Salah satu contoh adalah  Situ Gunung Putri di Bogor, Jawa Barat, yang ditumbuhi sejenis  rumput alang-alang yang merupakan habitat hidup sejenis angsa liar berwarna hitam (Database Situ-Situ Jabotabek, WI-IP).

b. Pengatur fungsi hidrologis

Keberadaan situ dan embung sangat erat kaitannya dengan air  dan siklus hidrologis di bumi. Secara alami situ dan embung  merupakan cekungan yang dapat menampung air tanah dan  limpasan air permukaan. Dengan demikian keberadaan situ dan  embung dapat mencegah terjadinya bencana banjir pada musim  penghujan dan mencegah terjadinya kekeringan pada musim  kemarau. Situ dan embung juga dapat mencegah meluasnya intrusi  air laut ke daratan karena situ dan embung merupakan pemasok  air tanah. Selain pemasok air tanah, situ/embung juga merupakan  pemasok air bagi kantung-kantung air lain seperti sungai, rawa,  dan sawah. Dengan demikian pembangunan embung dapat  menjadi sumber air bagi sumur-sumur pantek atau bor di sekitarnya.  Embung yang sudah kering juga dapat dijadikan sumur bor yang menghasilkan air.

c. Menjaga sistem dan proses-proses alami

Keberadaan ekosistem situ dan embung dapat menjaga  kelangsungan sistem dan proses-proses ekologi, geomorfologi  dan geologi yang terjadi di alam. Sebagai contoh, dataran banjir  di sekitar situ banyak dijadikan lahan pertanian karena tanahnya  subur; kesuburan ini disebabkan adanya proses penambahan  unsur hara dari hasil sedimentasi. Situ dan embung juga secara  tidak langsung berperan sebagai penghasil oksigen melalui proses  fotosintesa oleh berbagai jenis fitoplankton yang hidup di dalamnya.

7.2.2 Manfaat Ekonomis Situ/Embung

a. Penghasil berbagai jenis sumber daya alam bernilai ekonomis

Ekosistem situ kaya akan berbagai jenis sumber daya alam (hewan  ataupun tumbuhan) bernilai ekonomis, baik yang bersifat liar maupun  yang dibudidayakan; selain itu situ/embung juga dapat berperan sebagai  sumber plasma nutfah. Ikan, udang, dan katak merupakan beberapa  jenis hewan bernilai ekonomis yang dapat ditemukan di situ/embung.  Berbagai jenis tumbuhan air yang hidup di situ/embung ada yang dapat  dimanfaatkan sebagai tanaman hias dan ada juga yang dapat dijadikan  bahan makanan bagi manusia dan ternak. Selain itu tumbuhan kayu  yang hidup di sekitar ekosistem situ/embung juga dapat dijadikan bahan bangunan ataupun arang.

b. Penghasil energi

Situ yang memiliki volume air cukup besar juga dapat dimanfaatkan  sebagai PLTA. Salah satu contoh situ yang digunakan untuk  pembangkit listrik adalah Situ Kolam Tando Kracak di Kecamatan  Leuwiliang Bogor, yang dikelola dengan PLN (Bapedalda Kabupaten DT II Bogor, 1999).

c. Sarana wisata dan olah raga

Situ dengan pemandangan alam yang indah menjadi salah satu  potensi bagi kegiatan wisata. Selain itu perairan situ atau embung  yang relatif luas juga dapat dijadikan areal kegiatan olahraga air  seperti memancing, mendayung, dan ski air. Contoh situ yang  telah dikembangkan menjadi sarana rekreasi dan olahraga air  antara lain adalah Situ Gunung Putri dan Situ Cigudeg di Bogor, Jawa Barat.

d. Sumber air

Embung dan situ yang merupakan penampung air hujan dan  limpasan air permukaan dapat dijadikan sumber air bagi  masyarakat setempat baik untuk kebutuhan air minum, pengairan  sawah (irigasi), maupun peternakan. Keberadaan embung dalam  jangka panjang diharapkan dapat menaikkan muka air tanah sehingga pada daerah di sekitarnya dapat dibuat sumur.

7.2.3 Manfaat Sosial Budaya Situ/Embung

Keberadaan situ dan embung dapat sangat mempengaruhi kondisi sosial  budaya masyarakat sekitar. Sebagai contoh, kondisi dan sumber daya  hayati situ yang dapat dimanfaatkan, baik melalui kegiatan penangkapan  maupun kegiatan budidaya, secara langsung akan mempengaruhi mata  pencaharian masyarakat setempat. Selain mata pencaharian, kondisi  budaya masyarakat sekitar juga dapat sangat dipengaruhi oleh  keberadaan situ, salah satu contohnya adalah Situ Babakan di Jakarta  Selatan yang dijadikan kawasan cagar budaya karena memiliki nilai sejarah daerah Betawi yang unik (Kompas, 2 Juni 2001).

7.3 Proses Pembuatan Situ dan Embung

Situ/danau alami terbentuk karena proses alam baik akibat bencana alam  (tektonik, vulkanik, atau longsoran) maupun proses alam yang bertahap  (sedimentasi dan erosi) (Hutchinson, 1975). Danau tektonik terbentuk  akibat peristiwa geologi, contohnya Danau Poso dan Matano. Danau  vulkanik dan kaldera merupakan danau yang terbentuk akibat letusan  gunung api seperti Danau Bratan dan Maninjau. Danau banjir terbentuk  akibat proses sedimentasi, erosi dan banjir, contohnya Danau Semayang   dan Melintang di Kalimantan Timur. Sedangkan danau pelarutan/erosi  terbentuk di pulau gamping seperti danau-danau di Pulau Saparua dan Kei.

Situ buatan yang sengaja dibuat manusia umumnya ditujukan sebagai  pengendali banjir dan sumber air. Situ dibangun pada sebuah lembah  atau lokasi perpotongan antara permukaan bumi dengan paras air tanah  yang terbentuk di musim hujan (atau lokasi tempat air merembes keluar  dari dalam tanah setelah musim hujan). Situ buatan juga dapat terbentuk  secara tidak sengaja, misalnya berupa situ/danau amblesan dan situ/ danau bekas galian tambang (kolong).

Danau amblesan dapat terjadi akibat runtuhnya tambang bawah tanah  atau karena amblesnya tanah akibat pemompaan air tanah secara  berlebihan. Danau amblesan ini antara lain banyak terbentuk di lahanlahan  gambut yang dikonversi menjadi area pertanian (seperti di area Ex  Mega Rice Project, Kalimantan Tengah). Pembangunan kanal-kanal untuk  keperluan irigasi di lahan gambut telah menyebabkan turunnya paras air  tanah sehingga terjadi amblesan (land subsidence); amblesan ini  membentuk cekungan pada permukaan tanah yang kemudian dapat menampung air sehingga akhirnya membentuk danau. Air pada danau  amblesan di area Ex Mega Rice Project ini umumnya berasal dari luapan  sungai. Danau-danau amblesan tersebut memiliki ukuran yang bervariasi dan luasnya bisa mencapai 10 Ha (Waspodo, kom. pri.).

Danau bekas galian tambang (kolong) terbentuk dari bekas kegiatan  penambangan yang tidak direhabilitasi (tidak diurug kembali). Danau  jenis ini antara lain banyak ditemukan di daerah Serpong-Tangerang akibat  penambangan pasir dan di daerah Bangka-Belitung akibat penambangan  timah. (Pembahasan mengenai danau bekas galian tambang/kolong dapat dibaca lebih rinci pada Bab 8).

Situ yang terdapat di wilayah Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan  Bekasi) umumnya merupakan situ buatan yang dibangun untuk reservoir  (penampung air) dan irigasi. Salah satu contohnya adalah Situ Cipondoh  yang dibangun pada zaman pemerintahan Belanda. Situ ini pada awalnya  merupakan kawasan hutan yang telah ditebang dan diubah menjadi tempat  berkumpulnya air dari segala penjuru. Situ Cipondoh merupakan waduk  lapangan yang menampung air hujan dan limpasan air permukaan untuk  suplai air irigasi, sehingga sebetulnya Situ Cipondoh ini dapat digolongkan sebagai embung (Gultom, 1995).

Embung umumnya dibangun dengan teknologi yang sangat sederhana  namun keberadaannya memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat,  terutama di daerah kering. Ukuran embung yang dibangun bervariasi  tergantung pada luas lahan yang akan diairi, kelebihan curah hujan yang  dapat ditampung, dan bentuk topografi lahan. Pembangunan embung  harus memperhatikan kondisi tanah; tanah yang baik adalah tanah yang  bersifat kedap air agar dapat menampung air. Jika tanah bersifat lulus air  maka tanah tersebut harus dicampur dengan jenis tanah lain yang bersifat  kedap air (lempung/liat) atau dapat juga dilapisi bahan sejenis plastik.  Selain itu pembangunan embung sebaiknya dilakukan pada lahan dengan kemiringan kurang dari 40%, atau lebih baik pada lereng dengan kemiringan sekitar 8-30%.

Ukuran embung yang dibangun umumnya relatif kecil dengan kedalaman  (dianjurkan) tidak lebih dari tiga meter. Hal ini bertujuan untuk  memudahkan pengambilan air, pemeliharaan, dan perbaikan. Air yang  akan ditampung dalam embung sebagian besar berasal dari limpasan air   permukaan (run off); sehingga untuk menjaga agar embung tidak cepat  tertimbun endapan lumpur atau kotoran lainnya, limpasan air permukaan  tersebut dialirkan melalui jalan air (water ways) ke bangunan pemasukan yang juga berfungsi sebagai penahan endapan.

7.4 Keanekaragaman Hayati Situ Dan Embung

Ekosistem situ/embung pada dasarnya menyerupai ekosistem danau, sehingga keanekaragaman hayati keduanya hampir sama.

7.4.1 Flora

Berdasarkan laporan penelitian yang dilakukan di beberapa situ di wilayah  Jabotabek, jenis tumbuhan air yang biasa ditemukan pada ekosistem  situ antara lain adalah: Eceng gondok (Eichornia crassipes), Kiambang  (Salvinia molesta), Teratai (Nymphaea sp.), Ganggeng (Hydrilla verticillata),  Kayu api (Pistia stratiotes), dan Kangkung (Ipomoea aquatica) (Database  Situ-Situ Jabotabek, WI-IP). Secara ekologis beberapa jenis tumbuhan  air berfungsi sebagai tempat memijah dan daerah asuhan bagi beberapa  jenis ikan. Namun dalam jumlah yang berlebihan, keberadaan tumbuhan  air bisa berubah menjadi gulma. Pertumbuhan gulma air yang pesat  memacu terjadinya pendangkalan danau, meningkatkan laju evaporasi, dan mengganggu kegiatan transportasi air.

Selain tumbuhan air, flora akuatik lain yang hidup di ekosistem situ/embung  adalah berbagai jenis fitoplankton. Keberadaan fitoplakton sangatlah  penting karena fitoplankton merupakan penghasil produktivitas primer  utama dalam ekosistem perairan. Menurut hasil penelitian yang dilakukan  oleh Pusat Riset Perikanan Budidaya dan Pusat Riset Perikanan  Perikanan Tangkap jenis-jenis fitoplankton yang ditemukan pada  beberapa situ di Jawa Barat antara lain adalah: Chlorella, Scenedesmus,  Volvox, Pediastrum, Actinastrum, Drapalnadia, Peuriosigma, Eudorina, Oscillatoria, dan Closterium (Suwidah et al., 2002).

Jenis tumbuhan yang tumbuh di sekitar situ/embung antara lain adalah  alang-alang dan jenis-jenis pohon berkayu (seperti pohon Meranti, Ramin,  dan Kirai). Tumbuhan jenis ini berfungsi sebagai peneduh dan pelindung  dari matahari. Beberapa jenis tumbuhan kayu ini dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhan kayu bakar dan bahan bangunan.

7.4.2 Fauna

Jenis fauna yang biasa ditemukan di ekosistem situ/embung antara lain  ikan, burung air, reptilia, mamalia, amfibi, moluska, dan berbagai jenis  zooplankton. Beberapa jenis ikan, amfibi, dan moluska yang hidup di situ/embung merupakan hewan-hewan bernilai ekonomis.

Jenis ikan yang biasa ditemukan di ekosistem situ/embung antara lain  ikan Mas (Cyprinus carpio), Tawes (Puntius javanicus), Nila (Oreochromis  niloticus), Lele (Clarias batrachus), Gabus (Ophiocephalus striatus),  Sepat siam (Trichogaster pectoralis), Tawes (Puntius binotatus), Seribu  (Lebistes spp.), Betok (Anabas testudineus), Sapu-sapu (Hyposarcus  pardalis), Tambakan (Helostoma temminckii), dan Mujair (Oreochromis  mossambicus) (Database Situ-Situ Jabotabek, WI-IP). Tingginya populasi  dan keanekaragaman jenis ikan dalam ekosistem situ/embung disebabkan  oleh introduksi jenis-jenis ikan oleh masyarakat untuk keperluan perikanan tangkap atau budidaya.

Berbagai jenis burung air juga dapat ditemukan pada ekosistem situ/  embung. Burung air biasa datang untuk mencari makan, beristirahat, dan berbiak. Di Situ Cipondoh, beberapa jenis burung yang dapat  ditemukan antara lain adalah: Kokoan (Ixobrychus cinnamomeus), Tikusan  kaki kuning (Porzana pussila), Blekok sawah (Ardeola speciosa), Cangak  merah (Ardea purpurea), Mandar batu (Gallinula chloropus), Mandar besar  (Porphoryo porphoryo), dan Pecuk ular (Anhinga melanogaster) (Gultom, 1995).

Reptilia yang ditemukan pada ekosistem situ/embung antara lain ular air dan kura-kura. Ular air merupakan predator ikan serta dapat  membahayakan manusia. Jenis amfibi yang biasa ditemukan adalah  katak. Mamalia yang terkadang dijumpai di situ adalah musang air yang  juga merupakan predator ikan. Jenis-jenis moluska yang dapat dijumpai  adalah Pleucera, Bellamya, Melanoides, dan Lymnaea. Sedangkan jenisjenis  zooplankton yang dapat ditemukan di ekosistem situ/embung adalah  Cyclops, Moina, Keratella, Rattulustratus, dan larva udang (Database Situ-Situ Jabotabek, WI-IP; Suwidah et al., 2002).

7.5 Penyebaran Situ dan Embung di Indonesia

Menurut Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah – Direktorat  Jenderal Sumber Daya Air – Water Resources Data Center/WRDC  (2004b), jumlah situ yang terdata di Indonesia adalah 736 buah sedangkan  jumlah embung potensi adalah 1.341 buah (Lampiran 7 dan 8). Sebagian  besar situ terdapat di Pulau Sumatera dan Pulau Jawa; sedangkan embung  sebagian besar terdapat di Propinsi Nusa Tenggara Barat (Gambar 7.1 dan 7.2).

Gambar 7.1 Penyebaran Situ di Indonesia

Gambar 7.2 Sebaran Embung di Indonesia

Daya tampung (kapasitas) total dari seluruh embung yang terdata di  Indonesia adalah 248.917.314 m3. Kapasitas terbesar terdapat di Jawa  Timur, walaupun sebenarnya jumlah total embung yang terdapat di sana  hanya 246 buah (jauh lebih sedikit daripada di NTB); hal ini disebabkan  karena ukuran embung yang dibangun di Jawa Timur lebih besar. Di  Jawa Timur sebagian besar embung merupakan Embung Potensi  Pemerintah/Rehabilitasi, sedangkan di NTB hanya merupakan Embung  Potensi Baru/Pemerintah, Embung Potensi Desa/Rehabilitasi, dan  Embung Potensi Rakyat/Rehabilitasi. Data mengenai luas daerah  tangkapan air, luas badan air, dan volume tampung dari situ-situ di  Indonesia sekarang ini belum ada, data yang ada di WRDC merupakan data gabungan antara danau dan situ (Lampiran 7 dan 8).

7.6 Perkembangan Situ dan Embung di Indonesia

Ekosistem situ sangat terkait dengan kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS)- nya, sehingga perubahan yang terjadi di DAS akan sangat mempengaruhi  kelestarian situ. Sebagai contoh peningkatan aktivitas pembangunan di  bagian hulu DAS seperti pembangunan perumahan, penebangan hutan,  dan pertambangan, akan menimbulkan erosi dan pada akhirnya dapat  menyebabkan sedimentasi/pendangkalan situ. Perubahan dan kerusakan  situ akibat sedimentasi ini akan berdampak pada berkurangnya daya  tampung situ sehingga meningkatkan potensi banjir; selain itu  sedimentasi juga menurunkan produktivitas perairan yang pada akhirnya akan berdampak pada penurunan produksi perikanan.

Aktivitas masyarakat di sekitar DAS juga mempengaruhi kondisi perairan  situ. Masukan limbah domestik, industri, maupun pertanian menjadi salah  satu penyebab penurunan kualitas perairan situ yang diikuti dengan  pertumbuhan gulma air. Tumbuhan air merupakan salah satu bagian  penting yang mendukung kehidupan ikan, namun jika pertumbuhannya  sangat pesat hingga menutupi seluruh permukaan air, tumbuhan air malah  akan menghambat dan menurunkan produktivitas perairan serta menyebabkan pendangkalan.

Akibat utama dari sedimentasi dan pendangkalan adalah terbentuknya  daratan baru yang merupakan lahan potensial untuk pertanian dan  pemukiman. Keadaan tersebut diperparah dengan rendahnya kesadaran  masyarakat dalam mengelola dan melestarikan situ. Sehingga areal  situ yang telah mengalami sedimentasi/pendangkalan sebagian besar  dijadikan lahan perkebunan/persawahan, perumahan, ataupun fasilitas  umum lainnya, bahkan sebagian lahan tersebut telah memiliki surat-surat  kepemilikan perorangan/desa. Kepemilikan areal situ oleh perorangan  diduga disebabkan oleh ketidakjelasan status lahan serta ketidaktegasan  aparat hukum. Di kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok,  Tangerang, Bekasi) saja, penyusutan luasan situ telah mencapai lebih  dari 1.000 Ha (dari 2.331,53 Ha menjadi 1.300,15 Ha) (Republika, 19  Agustus 2004). Informasi lebih mendalam mengenai permasalahan utama dari situ-situ di kawasan Jakarta dan Bogor dapat dilihat di Lampiran 9.

Dengan melihat permasalahan-permasalahan diatas, dibutuhkan suatu  sistem pengelolaan situ yang terpadu, melalui metode pendekatan  ekosistem dan sosial ekonomi. Hal ini disebabkan karena situ merupakan  sub sistem dari ekosistem DAS yang kompleks dan terdiri dari berbagai  komponen, antara lain: air, tanah, hutan, keanekaragaman hayati, dan  masyarakat. Konsep pengelolaan dengan pendekatan ekosistem dan  sosial-ekonomi ini mempertimbangkan korelasi dan peranan masingmasing komponen dalam ekosistem tersebut.

Kegiatan rehabilitasi situ perlu dilakukan untuk mengembalikan situ ke  fungsi utamanya, sebagai sumber air dan pengendali banjir. Tahap awal  proses rehabilitasi dilakukan dengan mengeruk dan membuang lumpur  hasil sedimentasi di dasar perairan serta menghilangkan tumbuhan air,  rumput, dan alang-alang di perairan dan di daerah sekitar situ. Hal ini  dilakukan untuk meningkatkan daya tampung situ agar fungsinya menjadi  lebih optimal. Tahap berikutnya adalah pembangunan tanggul dan batas  areal situ agar tidak terjadi penyerobotan lahan oleh masyarakat sekitar.  Selain itu juga dapat dilakukan peningkatan fungsi situ dengan mengintroduksi  beberapa jenis ikan, baik untuk keperluan kegiatan penangkapan maupun  budidaya. Hal lain yang harus diperhatikan dalam pengelolaan situ adalah  peningkatan kepedulian masyarakat (terutama masyarakat setempat) dalam menjaga keseimbangan ekosistem situ secara lestari.

Contoh beberapa situ yang telah direhabilitasi dan dikelola secara terpadu  adalah Situ Cipondoh di Tangerang serta Situ Gede, Situ Gunung Putri,  dan Situ Salabenda di Bogor, Jawa Barat. Rehabilitasi situ-situ tersebut  selain berhasil mengembalikan fungsi utama situ sebagai penampung air  juga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar melalui kegiatan perikanan, pariwisata, dan olahraga air.

Pembangunan embung banyak dilakukan di daerah-daerah pertanian yang  rawan kekeringan. Pada mulanya embung dibangun untuk menampung  cadangan air bagi musim kemarau. Namun dalam perkembangannya,  embung juga berfungsi sebagai tempat pemeliharaan aneka jenis ikan.  Embung awalnya dibangun oleh masyarakat secara swadaya dengan  teknologi sederhana, namun kini pembangunannya banyak dilakukan dengan  teknologi yang lebih tinggi; dan juga banyak dilakukan oleh pemerintah  bekerjasama dengan masyarakat sekitar ataupun dengan bantuan modal  asing. Dalam perencanaan pembangunan embung disarankan untuk  mengadopsi metode hidrologi yang mampu mengefisiensikan air hujan.  Selain itu jika di suatu kawasan terdapat banyak petani yang memiliki lahan  dengan luas di atas 0,5 Ha maka sangat disarankan membangun embung  kecil yang permanen untuk menyimpan cadangan air bagi musim kemarau;  sedangkan jika di suatu kawasan lebih banyak petani yang memiliki lahan dibawah 0,5 ha, maka lebih ideal dibangun embung yang tidak permanen.

Ancaman yang sering terjadi terhadap embung adalah sedimentasi. Hal ini  disebabkan karena sumber air embung sebagian besar berasal dari limpasan  air permukaan yang sering membawa lumpur, selain itu tingkat kedalaman  embung yang umumnya rendah juga meningkatkan potensi terancamnya  embung. Sedimentasi dapat dicegah dengan membangun saluran yang  mengalirkan air ke dalam embung; saluran ini selain berfungsi sebagai  penyalur air juga berfungsi sebagai pengendap lumpur. Sedangkan kegiatan  rehabilitasi dapat dilakukan dengan mengeruk lumpur yang terdapat di dasar  embung. Kegiatan pemeliharaan dan rehabilitasi embung harus selalu  dilakukan karena keberadaan embung sangatlah penting, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan kekeringan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: