Diskusi tentang Situ

Notula Diskusi Bulanan BPPI

Sumber: http://docs.google.com/

Selasa, 28 April 2009, pukul 17.25-19.00 WIB
Galeri HER.it.AGE-Sekretariat BPPIJl. Veteran I No. 27, Jakarta Pusat

Topik: Situ-situ se Jabodetabek
Narasumber: Ir. Nirwono Joga, MLA (Ketua KeSali, Koordinator Peta Hijau Jakarta, Dewan Pakar BPPI)

Hadir:

  1. Pia Alisjahbana
  2. Catrini P. Kubontubuh
  3. Bintang K, wartawan Media Indonesia
  4. Nirwono Joga
  5. Djauhari S., PDA
  6. Tomi Hariadi, Distam
  7. Osi Ibnu, reporter Trans 7
  8. Hasyim, wartawan The Jakarta Post
  9. Najib
  10. Taufik Rahzen
  11. Gus Muh
  12. Ridwan Arsitan, Depdiknas
  13. Taufik Hidayat, Arti Bumi Intaran
  14. Muhdi Winarto, Sajadah Pres
  15. Hotman Siregar, wartawan Suara Pembaruan
  16. Eunike Prasasti
  17. Heru KH
  18. Hannisyah S
  19. Robi Saputra

Presentasi “Sana Sini Situ”:

  • Keadaan Situ-situ di Jabodetabek: dari 202 situ, 54 situ masih cukup baik kondisinya, 68 persen kondisi rusak/tidak berfungsi, 20 persen baik/berfungsi, 4,5 persen telah menjadi daratan, dan 1 persen dinyatakan hilang (KLH, Agustus 2007). Dari 202 situ, tinggal 182 situ masih cukup baik kondisinya, 20 situ dinyatakan hilang (DPU, Dirjen SDA, Januari 2009).
  • Luas Situ: Dari luas keseluruhan 2.337,10 Hektar (Ha) menyusut menjadi 1.462,78 Ha (2003) atau menyusut 37,41 persen.
  • Fungsi Situ: Situ berfungsi sebagai tempat parkir air (daerah tangkapan air), kawasan resapan air ruang terbuka hijau kota, penyuplai air tanah, penahan intrusi air laut, dan pembangkit listrik. Situ memiliki arti penting dalam megurangi dan mengendalikan banjir, mengatasi kekeringan dan kekurangan air bersih, menjaga keseimbangan ekosistem (habitat satwa liar, iklim mikro kota) dan tujuan ekowisata alami. Sebagai pengendali banjir, dengan asumsi kedalaman situ 1-1,5 meter, situ-situ di Jabodetabek dapat menampung 22-30 juta meter kubik air.
  • Di Jakarta terdapat 22 situ dengan kondisi 5 situ telah berubah menjadi daratan dan 17 situ mengalami penyusutan, dari luas 168,42 Ha dipastikan sudah menyusut. Situ Rawa Wadas 0,075 Ha (Jakarta Timur). Situ Rawa Rorotan (Jakarta Utara), Situ Rawa Kendal, Situ Rawa Ulujami (Jakarta Selatan), Situ Rawa Penggilingan, Situ Rawa Segaran, dan Situ Dirgantara (Jakarta Timur) telah hilang tak berbekas.
  • Di Kota Bogor, 7 situ, 3 situ menyusut: Situ Gede, Situ Panjang, dan Situ Leutik.
  • Di Kabupaten Bogor, dari 93 situ, 34 situ baik, 8 situ rusak ringan, dan 51 situ rusak berat, dengan luas 500,13 Ha tinggal 472,86 Ha, atau menyusut 29,01 persen dan perubahan fungsi 13 persen. Situ Cinangsi 6,5 Ha (12 Ha). Situ Pasir Maung 4,5 Ha (8,5 Ha). Situ Kemuning 12,65 Ha (21 Ha). Situ Lebak Wangi, Parung, Situ Bekang.
  • Di Kota Depok, 30 situ dengan total luas 147,42 Ha telah menyusut menjadi 124,02 Ha, 6 situ (36,45 Ha) tergolong baik, 4 situ (26 Ha) kurang baik, 4 situ (33,30 Ha) buruk/rusak, 5 situ (23,25 Ha) sudah tidak berfungsi, dan sisanya 11 situ belum diketahui. Situ Rawa Besar, Pancoran Mas 13 Ha (28,34 Ha), Situ Binong/Cibinong, Pancoran Mas, Situ Citayam 12 Ha (27,25 Ha), Kel. Pondok Terong 7 Ha (8 Ha), Situ Babakan, Situ Kedaung, Situ Rawa Kalong, Curug, Cimanggis 8,25 Ha, Situ Jatijajar, Cimanggis, Situ Pengarengan, Bhakti Jaya, Sukmajaya (Taman Duta, Bukit Cengkeh I+II), Situ Tipar, Mekarsari, Pancoran Mas (dekat pintu tol Cibubur), Situ Pengasingan, Sawangan (sudah kering, perumahan), Situ Krukut, Limo, Cinere 7 Ha, Situ Cinere, Situ Cilodong, Kel. Baru, Kec. Sukma Jaya 9 Ha (10,6 Ha).
  • Di Kota Tangerang, 8 situ dengan luas 270,30 Ha tinggal 130,40 Ha (51,76 persen). Situ Rawa Cipondoh 119 Ha (170 Ha), dan Situ Besar.
  • Di Kabupaten Tangerang, 37 situ dengan luas 1.065,05 Ha tinggal 686,7 Ha (menyusut 35,52 persen). Situ Kelapa Dua 23 Ha (39 Ha), Situ Gintung 21,4 Ha (31 Ha), Situ Rompang 1,7 Ha (10 Ha), Situ Garukgak 130 Ha, Situ Tujuh Muara, Pamulang, Situ Pondok Benda, Pamulang, Situ Ciledug, Situ Pamulang.
  • Di Kota Bekasi, Situ Rawa Gede (Situ Gede) Kel. Bojong Menteng, Kec. Rawa Lumbu, Situ Lumbu Kel. Bojong Rawa Lumbu, Kec. Rawa Lumbu, Situ Rawa Pulo (Situ Pulo) Kel. Jatikarya, Kec. Jatisampurna, Situ Harapan Baru di Perum Harapan Baru kel. Kota Baru, Kec.Bekasi Barat.
  • Di Kabupaten Bekasi, 13 situ, tetapi baru berhasil didata 9 situ 51,2 Ha (75,7 Ha) atau menyusut 24,5 Ha (32,36 persen). Situ-situ yang beralih fungsi: Situ Cibereum, Situ Rawa Been, Situ Ceper.
  • Bencana: Situ mengalami sedimentasi/pendangkalan lumpur (42 persen), konversi menjadi sawah/kebun/ladang, permukiman, perkantoran dan fasiltas umum (34,9 persen), tempat pembuangan sampah/limbah (2,4 persen), eutrofikasi (blooming gulma air, 5 persen), dan lainnya (15,7 persen). Faktor utama penyebab permasalahan adalah perubahan tata guna lahan di sekitar situ (dari peruntukan kawasan hijau lindung menjadi permukiman dan perdagangan) dan masuknya bahan-bahan kontaminan (tempat pembuangan sampah/limbah, unsur yang mempercepat pertumbuhan gulma air). Ketidakjelasan kewenangan dan tanggung jawab pengelolaan situ menyebabkan pelaksanaan rehabilitas situ menghadapi kendala sosial dan administratif, penguasaan lahan oleh kelompok-kelompok masyarakat tertentu, pemberian izin pengusahaan situ. Pendangkalan situ mengakibatkan berkurangnya volume/daya tampung air aitu sehingga meningkatkan potensi banjir, berpengaruh terhadap siklus hidrologi dan perubahan iklim, dan nilai estetikanya. Konversi lahan di ekosistem (ekosistem perairan) menjadi eksistem daratan/terrestrial menyebabkan ekosistem lingkungan di sekitar juga berubah dan ada yang punah sehingga mengganggu keseimbangan alam.
  • Peraturan Perundang-undangan tentang Situ:
    UU Nomor 23 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup
    UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
    UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
  • Kewenangan dan Tanggung Jawab Pengelolaan Situ:
    Badan Situ: Departemen Pekerjaan Umum (DPU), Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA), Badan Wialayah Sungai Ciliwung-Cisadane.
    Tata Ruang: Pemerintah Kabupaten/Kota – Dinas Tata Kota, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pariwisata, Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Badan Pertanahan Nasional Daerah.

Tanya Jawab:

(T) Djauhari:
Bagaimana keterkaitan Tata Ruang dengan Peta Hijau Situ? Bagaimana dengan masterplan DKI, sepertinya yang ditata adalah kawasan sekitar situ saja?

(J) Nirwono Joga:
Untuk Situ-situ di Jakarta kondisinya sangat menghawatirkan dan terjadi penyusutan, dari  semula 50an sekarang tinggal 17 situ. Kalau di Jakarta, situ-situ ini tidak dapat masuk ke  rencana tata ruang, karena kewenangannya ada di bawah Departemen PU Bagian Sumber  Daya Air. Menurut UU disebutkan bahwa air merupakan kebutuhan khalayak banyak, oleh  karena itu pengelolaannya diatur oleh pusat. Di kantor pusat (PU) memiliki data lengkap,  tetapi tidak ada data di pemerintah daerah yakni Pemkab dan Pemkot (daerah yang terdapat  situ). Salah satu alternatif agar situ-situ terawat, maka situ bisa ditata dengan konsep tata ruang terbuka hijau sehingga situ-situ bisa masuk dalam Dinas Pertamanan Kota.

(T) Taufik Rahzen:
Ada 3 kalangan yang bertanggung jawab terhadap situ, yaitu pemerintah, swasta, dan  masyarakat. Peran masyarakat sangat diperlukan, maka perlu ada gerakan cepat dalam  upaya penanganan Situ, apalagi momentumnya saat ini sangat tepat. Misal, untuk pengelolaan Situ bisa diambil dari sistem perpajakan yang dibayar oleh masyarakat.

(J) Nirwono Joga:
Sebenarnya kenyataan di lapangan, tanah-tanah di sekitar Situ sudah banyak dikapling-  kapling oleh masyarakat, mereka menganggap ini tanah tidak bertuan dan harga jualnya  juga tinggi. Banyak rumah mewah di sekitar Situ, banyak juga yang telah tinggal di sekitar  Situ lebih dari 20 tahun dan ada yang mempunyai surat tanah dan izin bangunan. Berarti ini menunjukkan pemerintah tidak peduli.

(T) Pia Alisjahbana:
Apakah Pemerintah Daerah tidak bertanggung jawab?

(J) Nirwono Joga:
Di sekitar Situ terdapat bangunan sekolah negeri baik itu tingkat SD atau SMU yang  lokasinya berada di pinggiran Situ. Bahkan pemerintah yang semestinya melarang  berdirinya bangunan di sekitar Situ justru mengabaikan atau tidak peduli dengan bangunan  yang telah berdiri atau di bangun di sekitar Situ. Misal, di Depok, sekitar 3 km dari Situ  terdapat Kantor Wali Kota. Letak Situ tidak lagi dapat dilihat karena sudah dikepung oleh  bangunan dan rumah-rumah penduduk.

(T) Djauhari:
Banyak Situ yang terkenal karena ada kaitannya dengan sejarah atau cerita/legenda rakyat.  Misal, di Situ Gintung terkenal dengan cerita buaya putihnya yang bisa jadi melindungi  situ tersebut. Dengan jebolnya Situ Gintung apakah situ tersebut akan dikembalikan seperti semula atau akan dijadikan lahan tata ruang hijau?

(J) Nirwono Joga:
Masyarakat kita memang masih percaya dengan hal-hal seperti itu yang ternyata malah  mampu membuat masyarakat menjaga dan merawat hal tersebut. Misalnya bagaimana  orang Bali merawat tumbuhan karena kekhawatiran akan akibat yang ditimbulkan bila  tidak dirawat, atau misalnya hutan larangan yang malah membuat masyarakat menjaga  keberadaan hutan tersebut. Waktu itu Bapak Jusuf Kalla setuju bahwa Situ akan diperbaiki  lagi, tapi tidak seluas sebelumnya, agak dikecilkan sedikit dan kanan kirinya dijadikan  taman. Tapi masalahnya, luas Situ Gintung yang tadinya 31 Ha sekarang menjadi 21 Ha  akan menjadi masalah. Situ Gintung jebol karena tidak mampu menampung debit air yang  banyak, sehinga tekanan menjadi tinggi dan pintu air tidak ada yang berfungsi, sehingga  mengakibatkan jebolnya tanggunl Situ Gintung. Jika dikecilkan dan tidak bisa menampung  debit air yang banyak, maka dikemudian hari akan menjadi masalah lagi. Untuk menatanya  harus ditata secara keseluruhan termasuk kawasan yanga berada di sekitar Situ. Tidak  hanya sebagian-bagian saja, seolah-olah hanya tambal sulam. Dari pengamatan terakhir sampai saat ini belum ada perbaikan yang berarti di Situ Gintung.

(T) Catrini P. Kubontubuh:
Mencermati penanganan pasca bencana Situ Gintung, sangat ironis mendengar bahwa  sebulan setelah peristiwanya, ternyata sampai saat ini belum ada perbaikan yang nyata  terhadap situ tersebut. Dalam hal ini perlu peran media untuk menghangatkan kembali pemberitaan dan mengingatkan pemerintah untuk segera bertindak.
Adanya Peta Hijau Situ tentunya akan sangat bermanfaat, namun sasarannya akan lebih  kepada kalangan intelektual, dalam hal ini penting untuk meningkatkan kepedulian  masyarakat luas tentunya dengan pendekatan yang sesuai misalnya pendekatan budaya.  Dengan demikian kita bisa mengisi ruang-ruang yang kosong yang belum dioptimalkan oleh peran pemerintah.
BPPI sendiri sedang merintis program penyelamatan pusaka ketika terjadi bencana, bekerja  sama dengan Blue Shield, sebuah organisasi internasional yang bergerak dalam heritage  emergency response. Melihat banyaknya kelambatan dalam penanganan bencana oleh  pemerintah, dan tentunya setiap kali bencana maka kebutuhan dasar yaitu makanan, tempat  tinggal, dll yang menjadi prioritas sementara object heritage tidak terperhatikan, maka  BPPI mengajak semua pihak untuk bisa bergerak untuk upaya penyelamatan tanggap darurat ini.

(J) Nirwono Joga:
Sebenarnya kepedulian pemerintah maupun masyarakat terhadap bencana hanya beberapa  bulan saja, kurang-lebih 3 bulan, lewat dari 3 bulan sudah tidak ada kepedulian atau lupa  dengan kejadiannya. Bahkan pada saat kejadian banyak sekali masyarakat yang datang ke lokasi hanyalah untuk menonton dan bukan untuk memberikan pertolongan yang berarti.

Kesimpulan:

  1. Melihat peran masyarakat, pemerintah, dan swasta di mana peran yang paling aktif  ternyata peran masyarakat, maka perlu ada gerakan untuk mendukung peningkatan  peran masyarakat seperti gagasan peta hijau situ-situ. Setelah kepedulian meningkat,  langkah selanjutnya adalah penataan situ, baik melalui penegakan peraturan, penataan  sekitar situ, dan pelaksanaan konsep-konsep penataan situ untuk rekreasi air, ruang terbuka hijau, dll yang sesuai.
  2. Perencanaan terpadu, komitmen, dan konsistensi dari pemerintah daerah dan DPRD  merupakan kunci keberhasilan pelestarian situ yang ramah lingkungan. Pembangunan,  penataan, dan pengelolaan kawasan situ harus melibatkan partisipasi (peran serta)  warga, merumuskan arah dan strategi pembangunan kawasan situ sebagai arena  akselerasi transformasi sosial. Pemerintah dan warga dapat mulai merencanakan  program pengembangan situ yang berkelanjutan. Pemerintah daerah merehabilitasi situ  harus diikuti sosialisasi yang mendorong warga untuk berpartisipasi pindah (relokasi)  secara sukarela bergeser (bukan digusur) ke kawasan terpadu yang lebih aman dan ramah lingkungan.
  3. BPPI bersama KeSali, Komunitas Peta Hijau Jakarta mengajak semua komponen untuk  bersama-sama bergerak untuk penyelamatan situ-situ. Beragam pendekatan  menyeluruh seperti pendekatan budaya, intelektual, penataan ruang, dll perlu segera dilakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: