Kualitas Air Situ

Kualitas Air Situ Di Depok

Sumber: Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Kota Depok Tahun 2009

pH Air

Berdasarkan hasil analisis terhadap nilai parameter pH pada kualitas air situ di beberapa lokasi di Depok diketahui bahwa nilai pH masih berada pada kisaran yang sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan yaitu antara 6-9.

Gambar 2.16. Nilai pH di Beberapa Situ di Depok, 2009 Keterangan: 1.Situ Bahar 2. Situ Asih 3. Situ Bojong Sari 4.Situ Pengasinan 5. Situ Jatijajar 6. Situ Cilangkap 7.Situ Rawa Besar 8. Situ Pladen 9. Situ Pengarengan 10. Situ Gadog 11 Situ Pancoran Mas 12. Situ Cilodong 13. Situ Buperta 14. Situ Rawa Kalong 15. Situ Studio Alam 16. Situ Tipar 17. Situ UI 18. Situ Pendongkelan

TDS dan TSS

Berdasarkan hasil analisis terhadap parameter TDS (total disolved solid) dan TSS (total suspended solid) pada kualitas air situ di beberapa lokasi pengamatan pada umumnya masih di bawah baku mutu yang ditetapkan, kecuali konsentrasi TSS di lokasi pengamatan Situ Tipar yang telah melampaui nilai baku mutu. TDS biasanya disebabkan oleh bahan anorganik yang berupa ion-ion yang biasa ditemukan di perairan. Nilai TDS perairan sangat dipengaruhi oleh pelapukan batuan, limpasan dari tanah, dan pengaruh antropogenik (berupa limbah domestik dan industri). Bahan-bahan tersuspensi dan terlarut pada perairan alami tidak bersifat toksik, akan tetapi jika berlebihan, terutama TSS, dapat meningkatkan nilai kekeruhan, yang selanjutnya akan menghambat penetrasi cahaya matahari ke kolom air dan akhirnya berpengaruh terhadap proses fotosintesis di perairan.

Gambar 2.17. Konsentrasi TDS dan TSS di Beberapa Situ di Depok, 2009 Keterangan: 1.Situ Bahar 2. Situ Asih 3. Situ Bojong Sari 4.Situ Pengasinan 5. Situ Jatijajar 6. Situ Cilangkap 7.Situ Rawa Besar 8. Situ Pladen 9. Situ Pengarengan 10. Situ Gadog 11 Situ Pancoran Mas 12. Situ Cilodong 13. Situ Buperta 14. Situ Rawa Kalong 15. Situ Studio Alam 16. Situ Tipar 17. Situ UI 18. Situ Pendongkelan

Nitrat dan Nitrit

Berdasarkan hasil analisis parameter Nitrat dan Nitrit pada kualitas air situ di beberapa lokasi pengamatan di sekitar Depok diketahui bahwa konsentrasi Nitrat di semua lokasi pengamatan masih di bawah baku mutu yang ditetapkan. Sedangkan untuk konsentrasi Nitrit pada umumnya telah melampaui baku mutu yang ditetapkan. Tingginya konsentrasi Nitrit biasanya disebabkan oleh terganggunya proses reduksi nitrat atau denitrifikasi pada kondisi anoksik (tidak ada oksigen). Proses ini juga melibatkan jamur dan bakteri. Dinitrogen oksida adalah produk utama dari denitrifikasi pada perairan dengan kadar oksigen sangat rendah, sedangkan molekul nitrogen adalah produk utama dari proses denitrifikasi pada perairan dengan kondisi anaerob.

Gambar 2.18. Konsentrasi Nitrat dan Nitrit di Beberapa Situ di Depok, 2009. Keterangan: 1.Situ Bahar 2. Situ Asih 3. Situ Bojong Sari 4.Situ Pengasinan 5. Situ Jatijajar 6. Situ Cilangkap 7.Situ Rawa Besar 8. Situ Pladen 9. Situ Pengarengan 10. Situ Gadog 11 Situ Pancoran Mas 12. Situ Cilodong 13. Situ Buperta 14. Situ Rawa Kalong 15. Situ Studio Alam 16. Situ Tipar 17. Situ UI 18. Situ Pendongkelan

BOD dan COD

Berdasarkan hasil analisis terhadap parameter BOD dan COD di semua lokasi pengamatan pada umumnya telah melampaui baku mutu yang ditetapkan. Hal ini diduga disebabkan karena telah terjadi pencemaran bahan organik baik oleh kegiatan domestik maupun industri.

Gambar 2.19. Konsentrasi BOD, dan COD di Beberapa Situ di Depok, 2009 Keterangan: 1.Situ Bahar 2. Situ Asih 3. Situ Bojong Sari 4.Situ Pengasinan 5. Situ Jatijajar 6. Situ Cilangkap 7.Situ Rawa Besar 8. Situ Pladen 9. Situ Pengarengan 10. Situ Gadog 11 Situ Pancoran Mas 12. Situ Cilodong 13. Situ Buperta 14. Situ Rawa Kalong 15. Situ Studio Alam 16. Situ Tipar 17. Situ UI 18. Situ Pendongkelan


Total Fosfat

Konsentrasi Total Fosfat berdasarkan hasil pemantauan Tahun 2009 menunjukkan nilai konsentrasi yang masih berada di bawah baku mutu yang ditetapkan. Selain berasal dari dekomposisi bahan organik, sumber antropogenik sumber fosfor adalah limbah industri dan domestik, yakni fosfor yang berasal dari deterjen. Limpasan dari daerah pertanian yang menggunakan pupuk juga memberikan kontribusi yang cukup besar bagi keberadaan fosfor.

Fosfor banyak digunakan sebagai pupuk, sabun, atau deterjen, bahan industri keramik, minyak pelumas, produk minuman dan makanan, katalis, dan sebagainya. Dalam industri, polifosfat ditambahkan secara langsung untuk mencegah terjadinya pembentukan karat dan korosi pada peralatan logam. Namun demikian, fosfor tidak bersifat toksik bagi manusia, hewan, dan ikan.

Gambar 2.20. Konsentrasi Total Fosfat di Beberapa Situ di Depok, 2009 Keterangan: 1.Situ Bahar 2. Situ Asih 3. Situ Bojong Sari 4.Situ Pengasinan 5. Situ Jatijajar 6. Situ Cilangkap 7.Situ Rawa Besar 8. Situ Pladen 9. Situ Pengarengan 10. Situ Gadog 11 Situ Pancoran Mas 12. Situ Cilodong 13. Situ Buperta 14. Situ Rawa Kalong 15. Situ Studio Alam 16. Situ Tipar 17. Situ UI 18. Situ Pendongkelan


Parameter lain

Berdasarkan hasil analisis terhadap parameter lainnya seperti Zn, Fenol, amonia, klorida, sulfat, deterjen, Fe, Co, F, dan Mn pada semua lokasi pengamatan pada umumnya masih di bawah baku mutu yang ditetapkan. Senyawa fenol yang merupakan senyawa aromatik dengan satu atau beberapa gugus hidroksil yang terikat secara langsung pada cincin benzena, dihasilkan dari proses pemurnian minyak, industri kimia, tekstil, plastik, dan lain-lain. Kondisi tercemarnya sungai-sungai di sekitar Depok oleh hal-hal tersebut di atas dapat diduga sebagai penyebab tingginya konsentrasi fenol.

Sedangkan Zn termasuk unsur yang terdapat dalam jumlah berlimpah di alam. Ion seng mudah terserap ke dalam sedimen dan tanah. Seng termasuk unsur yang esensial bagi makhluk hidup, yakni berfungsi untuk membantu kerja enzim. Seng juga diperlukan dalam proses fotosintesis sebagai agen bagi transfer hidrogen dan berperan dalam pembentukan protein. Davis dan Cornwell (1991) menyatakan bahwa seng tidak bersifat toksik pada manusia, akan tetapi pada kadar yang tinggi dapat menimbulkan pada air.

Untuk Amonia, walaupun tidak ada baku mutu yang mengaturnya tetapi tetap perlu mendapat perhatian mengingat keberadaan senyawa ini terkait dengan masalah kebauan yang dapat ditimbulkannya.

Fecal Coliform dan Total Coliform

Berdasarkan hasil analisis terhadap parameter mikrobiologi konsentrasi Fecal Coliform dan Total coliform di semua lokasi pengamatan pada umumnya masih di bawah baku mutu yang ditetapkan, kecuali di lokasi Situ Bahar. Keberadaan Total Coliform mengindikasikan adanya pencemaran dari limbah domestik, selain itu keberadaan bakteri E.coli juga menunjukkan adanya pencemaran dari limbah ekskreta manusia. Hal ini perlu diperhatikan karena mengindikasikan adanya bakteri patogen di perairan tersebut dan mengingat fungsi badan air tersebut sebagai sumber air bersih. Pemanfaatannya sebagai sumber air bersih dapat dilakukan asalkan telah melalui proses sterilisasi untuk meniadakan keberadaan bakteri patogen.

Gambar 2.21. Konsentrasi Fecal Coliform dan Total Coliform di Beberapa Situ di Depok, 2009. Keterangan: 1.Situ Bahar 2. Situ Asih 3. Situ Bojong Sari 4.Situ Pengasinan 5. Situ Jatijajar 6. Situ Cilangkap 7.Situ Rawa Besar 8. Situ Pladen 9. Situ Pengarengan 10. Situ Gadog 11 Situ Pancoran Mas 12. Situ Cilodong 13. Situ Buperta 14. Situ Rawa Kalong 15. Situ Studio Alam 16. Situ Tipar 17. Situ UI 18. Situ Pendongkelan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: