Tarsoen Waryono (1)

BEBERAPA ASPEK  PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN SITU-SITU SEBAGAI WAHANA REKREASI DAN SUMBER PAD*)

Oleh: Tarsoen Waryono **)

Sumber: http://staff.blog.ui.ac.id/tarsoen.waryono/

*). Diskusi Pengembangan Situ-situ di Wilayah Kota Depok. Hari Lingkungan Hidup Pemda Kota Depok 5 Juni, 2001.
**). Staf Pengajar Jur. Geografi FMIPA Universitas Indonesia dan Tim Forum Pemerhati Lingkungan Kota Depok

Pendahuluan

Hijrahnya Universitas Indonesia yang berdomisili di perbatasan antara DKI Jakarta  (Jakarta Selatan) dan Jawa Barat (Kota Depok), nampaknya membawa makna yang cukup  berarti bagi tumbuh berkembangnya wilayah Kota Depok. Demikian halnya dengan definitif  diberlakukannya Otonomi Daerah (Otoda) tahun 2001, perubahan status pemerintahan Depok  menjadi “Kota” nampaknya kini telah sejajar dengan kota-kota lain, serta menjadi strategis  kedududukannya karena peranan fungsinya baik sebagai buffer cities dan atau counter magnet Jakarta sebagai Ibukota Negara.

Wilayah Kota Depok seluas 20.029 ha, berdasarkan karakteristik kondisi fisik  wilayahnya merupakan bentang hamparan resapan air, terdiri atas kawasan terbangun 8.640  ha, baik penggunaan tapak untuk pemukiman (7.084 ha), bangunan sarana pendidikan (224  ha), jasa perkantoran dan pusat-pusat kegiatan ekonomi (125 ha), kawasan industri (980 ha),  kawasan bangunan khusus (227 ha), dan sisanya seluas 11.389 ha, merupakan hamparan  penggunaan lain, meliputi hamparan kawasan budidaya 9.082 ha, sarana olah raga 311 ha,  situ-situ 119 ha, dan seluas 1.877 ha merupakan kawasan penggunaan lain-lain. Fenomena  alam yang spesifik hingga difungsikannya wilayah Depok sebagai kawasan resapan air,  nampaknya mendudukan posisi situ-situ yang kini tinggal 119 ha (9,2% dari luas wilayah Kota  Depok), untuk tetap dipertahankan, dilestarikan serta dimanfaatkan secara optimal. Hal ini  mengingat arti pentingnya potensi sumberdaya situ-situ atas peranan fungsi dan jasanya sebagai kawasan tandon air dan pengendali banjir.

Fenomena Alam Proses Terbentuknya Situ-situ

Proses pembentukan struktur geologi wilayah Depok, erat kaitannya dengan daerah-  daerah sekitarnya baik Bogor Barat maupun Bogor Utara (Cibinong, Klapanunggal). Formasi  ini terdiri dari batu pasir halus sampai kasar, konglomerat dan batu lempung berusia Miosen  Awal. Fakta fisik yang masih dapat dikenali, tersingkap di Selatan Tenggara Parung Panjang,  bagian Barat Laut Kabupaten Bogor. Pada kala Miosen Tengah terjadi proses Pesesaran  geser, terjadi di Timur Laut (Bogor Utara), dengan dua garis sesar yaitu, membentang mulai  dari Citerep, Cibubur dan berakhir di Jatinegara, dan paparan yang menjulang kearah Utara mencakup wilayah Cibinong, Parung hingga Pasar Minggu.

Pada kala Miosen akhir (Pleitosin Awal), wilayah-wilayah ini terangkat kembali, saat  terjadi aktivitas Gunung Api di bagian Selatan (Bogor Tengah), baik G. Gede, G. Pangrango  maupun G. Salak, yang menghasilkan batuan gunung api muda. Endapan-endapan vulkanik  ini terdistribusi secara alami dan menutup punggungan dan lembah hamparan muka bumi  mulai dari Citerep, Cibinong, parung, Depok, hingga Pasar Minggu dan Ulujami. Distribusi  endapan alluvial pada daerah-daerah cekungan (lembah), yang pada akhirnya terbentuklah situ-situ alami dan berangsur-angsur mulai dari Bogor Bagian Barat hingga DKI Jakarta.

Karakteristik, Penyebaran dan Ancamannya

Hamparan situ-situ berdasarkan proses pesesarannya dibedakan menjadi tiga bagian  hamparan, yaitu (a) hamparan bagian Barat menyusur dari daerah Bogor Barat, Parung dan  berakhir di daerah Ciputat (Situ Gantung), (b) hamparan bagian Timur mulai dari Cibubur  (Rawa Dongkal), Klapadua, dan berakhir di Senayan, dan (c) hamparan bagian Tengah mulai  dari Cibinong, komplek (baru) Pemda Bogor, Citayam-Depok, Pasar Minggu, dan Ulujami;  Karakteristik situ-situ secara alamiah pada hamparan Bagian Barat dan Timur,  dicirikan oleh pengaruh tata air permukaan dangkal hingga terbatas dengan mata-mata air  tanah. Oleh sebab itu limpasan air hujan merupakan sumber utamanya, hingga pada saat  musim kemarau kadang-kala terjadi kekeringan. Berbeda halnya dengan situ-situ di bagian  Tengah, cenderung dipengaruhi oleh tata air peralihan antara air permukaan dan air tanah  dalam, hingga tidaklah mengherankan apabila pada musim kemarau masih tersedia air,  bahkan melimpah karena bersumber dari mata air tanah dalam. Atas dasar itulah wilayah- wilayah yang dicirikan oleh kondisi situ-situ yang dipengaruhi oleh sumber air tanah dalam, sangatlah wajar hingga ditetapkan sebagai wilayah atau kawasan resapan air tanah.

Situ-situ di wilayah Kota Depok pada awalnya tercatat 26 lokasi (ą 235 ha), tersebar  secara sporadis di seluruh wilayah Depok; dan kini tercatat tinggal 19 buah atau seluas 119  ha. Berdasarkan kondisi fisiknya tergolong baik 6 buah (36,45 ha), kurang baik 4 buah (26  ha), rusak 4 buah (33,30 ha), dan tidak berfungsi sebagai kawasan tandon air 5 buah (23,25  ha). Ancaman terhadap keberadaan situ-situ di wilayah ini, selama 15 tahun terakhir  cenderung disebabkan oleh desakan alih fungsi status kawasan tandon air menjadi wilayah  pemukiman. Apabila kondisi ini terus dibiarkan, niscaya akan menimbulkan malapetaka yang  erat kaitannya dengan pelestarian sumberdaya air, serta berpengaruh langsung terhadap wilayah di bagian bawahnya.

Secara umum ancaman terhadap keberadaan dan kelestarian situ-situ di wilayah Kota  Depok, dapat dikelompokan menjadi tiga bagian yaitu; (a). Konversi atau alih fungsi status;  akibat semakin laju pertumbuhan penduduk, yang cenderung memacu kebutuhan ruang dan  lahan untuk kepentingan pemukiman, (b). Pendangkalan; endapan lumpur hasil sedimentasi  ditambah dengan limbah padat sampah organik yang bersumber dari rumah tangga; (c).  Pencemaran oleh limbah; baik yang bersumber dari home industri maupun limbah-limbah  rumah tangga yang terbawa oleh limpasan aliran air yang terakumulasi. Sebagai akibat yang  ditimbulkannya, dapat berpengaruh terhadap biota perairan, dan proses eutrofikasi (penyuburan), hingga semakin melimpahnya gulma air eceng gondok (Eichornia crassipes), yang  cenderung mempercepat pendangkalan, dan kekeringan karena tingginya penguapan.

Manajemen Pengelolaan Situ Secara Terpadu Berkelanjutan

Kondisi fisik wilayah situ-situ berdasarkan proses terbentuknya, pada hakekatnya  merupakan kunci dasar pendekatan sebagai bahan pertimbangan dalam manajemen  penangananya. Hal ini mengingat bahwa potensi daya dukung lingkungan situ-situ seperti  jenis tanah (batuan asal), besaran curah hujan, dan kondisi penutupan vegetasinya,  berpengaruh terhadap sifat fisik-kimia tanah, yang erat kaitannya dengan ancaman yang cukup potensial terhadap kelestarian dan keberadaan situ-situ.

Mencermati atas proses terbentuknya situ-situ, pendekatan konsepsi pengelolaannya,  seyogyanya didasarkan atas kaidah konservasi tanah dan air. Pemaduserasian antara  pemanfaatan situ secara optimal dengan upaya-upaya (olahdaya) pelestarian terhadap daya  dukung lingkunganya, merupakan alternatif yang dinilai terjitu. Membangun kawasan hijau  sebagai penyangga kawasan tandon air dalam bentuk hutan kota, dipaduserasikan dengan  pengembangan sarana rekreasi wisata air, nampaknya menjadi strategis untuk memulihkan  kembali keberadaan situ-situ yang kini dinilai sangat memprihatinkan. Untuk itu, harapan  munculnya arahan kebijakan sebagai kaidah dan rambu-rambu untuk tujuan penyelamatan,  pelestarian dan pemanfaatan secara optimal terhadap kawasan tandon air, akan mendudukan  posisi strategis atas prestasi yang dicapai oleh Pemda Depok dalam mempertahankan  wilayahnya sebagai kawasan resapan air tanah. Hal ini mengingat karena peranan fungsinya yang berpengaruh langsung terhadap wilayah di bagian hilirnya.

Rentrada (Rencana Strategi Pembangunan Daerah) Kota Depok, dalam kaitannya  dengan penanganan situ-situ secara terpadu dan berkelanjutan, paling tidak akan memuat  hal-hal sebagai berikut; (a) Pembangunan sumberdaya alam perairan dan lingkungannya,  diarahkan untuk mewujudkan keserasian antara kegiatan-kegiatan manusia dan ekosistem  yang mendukungnya, hingga tujuan terciptanya kota Depok yang indah, nyaman, bersih dan  menarik dapat diwujudkan, melalui kegiatan-kegiatan berbasis kemasyarakatan dalam hal  pembangunan berwawasan lingkungan, peningkatan budaya dan sadar terhadap pentingnya  keserasian lingkungan hidup. (2). Pemanfaatan sumberdaya air dan tanah yang mempunyai  nilai ekonomis dan fungsi sosial, diatur dan dikembangkan dalam pola tata ruang yang  terkoordinasi, melalui berbagai penggunaan yang jelas. Tata guna air dan lahan  diselenggarakan secara terpadu, hingga menjamin kelestarian fungsi lingkungan hidup sebagai pendukung kawasan tandon air.

Agar tujuan dan sasaran kebijakan pengelolaan dan pengembangan ekosistem  perairan (situ-situ), secara terpadu dan berkelanjutan dapat diimplementasikan secara  rasional, pendekatan utamanya dilakukan melalui perbaikan kawasan penyangga situ-situ,  dalam bentuk perbaikan habitat baik melalui rehabilitasi kawasan, pemilihan jenis budidaya  yang dinilai sesuai (cocok) dengan kondisi habitat dan ekosistemnya, serta jelas Instansi yang  bertanggung-jawab menanganinya sesuai dengan kewenangannya.

Aspek Pengelolaan dan Pengembangan Situ-situ  Aplikasi pengelolaan dan pengembangan ekosistem perairan pada dasarnya  dilakukan melalui penyusunan rencana tapak yang merupakan langkah awal dalam tahapan  penyusunan konsep desain detail engineringnya. Dalam penyusunannya, dirumuskan sebagai  gambaran alokasi dan penempatan (tata letak) pengisian ruang tapak pengembangan  ekosistem perairan secara terpadu, yang mencakup beberapa unsur perpaduan antar lokasi,  kondisi fisik wilayah dan lingkungan di sekitarnya, yang erat kaitannya dengan aspek pemanfaatannya.

Didasari atas kriteria dasar pengelolaan dan pengembangan situ-situ secara terpadu  berkelanjutan, seperti uraian terdahulu dengan memperhatikan aspek daya dukung fisik  wilayahnya, untuk itu dalam perencanaanya perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: (a)  Aspek kelembagaan; situ-situ di wilayah Kota Depok secara ekologis, hendaknya dipandang  sebagai satu kesatuan kawasan tandon air yang mempunyai keterkaitan satu dengan lainnya.   Sehubungan dengan hal tersebut, maka pengelolaannya perlu direncanakan secara terpadu  dengan melibatkan beberapa Instansi terkait, yang meliputi unsur pemerintah, swasta dan  masyarakat sebagai stake holder, (b) Aspek Teknis; secara teknis pengelolaan dan  pengembangan situ-situ harus melibatkan beberapa disiplin ilmu, karena dalam pelestarianya  mencakup upaya konservasi sumberdaya air, tanah dan ekosistemnya, yang erat kaitannya  dengan kondisi fisik wilayah pada masing-masing situ, (c) Aspek IPTEK; pentingnya ilmu  pengetahuan dan teknologi dalam pengelolaan dan pengembangan situ-situ, karena erat  kaitannya dengan upaya pemanfaatan secara optimal baik untuk kepentingan rekreasi dan  wisata air, budidayaan perikanan, serta pemanfaatan untuk kepentingan pengairan (irigasi),  dan (d) Aspek sumber PAD; pengelolaan sumberdaya perairan secara terpadu berkelajutan,  melalui manajemen yang rasional, selain mampu dan menjamin atas peningkatan pendapatan  masyarakat sekitar, juga merupakan sumber PAD yang seiring dan sejalan dengan tingkat profesional manajemen pengelolaannya.

Akhirnya disimpulkan bahwa keberhasilan pengelolaan situ-situ secara terpadu  berkelanjutan, sebagai sumber pendapatan asli daerah (PAD) dan peningkatan pendapatan  masyarakat sekitar (PPM), berdasarkan peranan fungsinya (pengatur tata air, iklim mikro,  habitat flora dan fauna, wahana rekreasi, dan penopang budidaya pertanian), sangat ditentukan oleh partisipatif para stake holder dan tingkat profesi-nalisme penangannya.

Uraian Penutup

Mencermati potensi situ-situ di Kota Depok dalam kaitannya dengan Wilayah  Pengelolaan Resapan Air di JABODETABEK; nampaknya kini telah tiba saat bahwa penataan  dan pengembangan tata ruang wilayah Depok lebih cenderung untuk di arahkan guna  mendukung potensi sumberdaya air tanah dalam. Hal ini mengingat bahwa wilayah Kota  Depok lebih dari 78,2% merupakan wahana alamiah sumber pengatur tata air tanah di  sekitarnya.

Terdegradasinya kawasan-kawasan tandon air (situ-situ) di Wilayah Kota Depok,  pengelolaannya lebih rasional dengan memberdayakan masyarakat di sekitarnya hingga  terciptanya keterpaduan dalam pengelolaan yang berkelanjutan. Hal ini mengingat bahwa  selain sebagai sumber PAD juga menjamin peningkatan pendapatan masyarakat di sekitarnya.

Agar gagasasn di atas dapat diimplementasikan, nampaknya kerjasama antara  Pemda Kota Depok dengan FMIPA Universitas Indonesia menjadi strategis kedududukannya  dalam kaitannya untuk menindaklanjuti pentingnya pengelolaan kawasan konservasi wilayah tandon air di Kota Depok dan sekitarnya.

Daftar Pustaka

Achmadi, UF, 1978. Efek Pencemaran Air Tanah terhadap Masyarakat Perkotaan. Widyapura, XII. Tahun 1878.

Adiwilaga, M; et all, 1998. Strategi Pengelolaan Situ-situ: Studi Kasus Program  Pengelolaan Situ Cikaret, Cibinong, Kabupaten Bogor. Workshop Pengelolaan Situ- situ di Wilayah DKI Jakarta. Kerjasama Bapedalda dengan Fakultas Kehutanan IPB Bogor.

Arif, B. 1998. Peranan Sektor Pengairan dalam pengelolaan situ-situ di wilayah Jabatabek.  Workshop Pengelolaan Situ-situ di Wilayah DKI Jakarta. Kerjasama Bapedalda dengan Fakultas Kehutanan IPB Bogor.

Anonimuos, 1990. Kumpulan per-Undang-undangan (Lingkungan Hidup dan, Konser-vasi Sumberdaya Alam).

________, 1997. Pemantapan data Situ-situ/waduk di DKI Jakarta dan Sekitarnya. Dinas Kehutanan DKI Jakarta.

Biampoen, 1984. Masalah Kualitas Lingkungan Hidup Manusia, Pendekatan Perencanaan Kota. Makalah Seminar Badan Pembinaan Kesehatan Jiwa Masyarakat.

Dinas Kehutanan DKI Jakarta, 1997. Informasi Cagar Alam Di DKI Jakarta. Publikasi Dinas Kehutanan DKI Jakarta.

Dinas Tata Kota DKI Jakarta, 1998. Kebijaksanaan Rencana Tata Ruang Wilayah Terhadap  Keberadaan Lahan Basah di DKI Jakarta. Seminar dan Pameran Lahan Basah,  Dalam Rangka memperingati lahan basah sedunia tahun 1998. Komisi Nasional Pengelolaan Lahan Basah, Jakarta

FMIPA-Universitas Indonesia, 1989. Kumpulan Makalah Seminar Nasional Kesehatan Lingkungan Hidup Di Perkotaan Menjelang Tahun 2000.

Gunawan, E. 1988. Kebijaksanaan Pengelolaan Situ-situ di Wilayah Jabotabek. Workshop  Pengelolaan Situ-situ di Wilayah DKI Jakarta. Kerjasama Bapedalda dengan Fakultas  Kehutanan IPB Bogor.

Lesmana, H. 1998. Peranan Situ-situ Buatan di Kawasan Industri MM 2100. Workshop  Pengelolaan Situ-situ di Wilayah DKI Jakarta. Kerjasama Bapedalda dengan Fakultas Kehutanan IPB Bogor.

Notodihardjo. Mardjono, 1979. Pengembangan Wilayah Sungai di Indonesia. Departemen Pekerjaan Umum.

Sandy.IM, 1978. Geomorfologi Terapan. Jurusan Geografi FMIPA-UI.

Sitanala Arsyad, 1989. Konservasi Tanah dan Air. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Sugandhy, A. 1998. Peran Ekosistem Lahan Basah Dalam Memelihara Kualitas Lingkungan  Hidup. Seminar dan Pameran Lahan Basah, Dalam Rangka memperingati lahan basah sedunia tahun 1998. Komisi Nasional Pengelolaan Lahan Basah, Jakarta.

Waryono, T dan Suprijatna, N. 1997. Aspek Pemberdayaan Atas Kekurang Perdulian  Masyarakat Terhadap Pengelolaan Keanekaragaman Hayati. Jurusan Geografi FMIPA- Universitas Indonesia.

Waryono,. T. 1997. Prisip Dasar manajemen Konservasi Biologi Untuk Mencapai Tujuan. Program Pasca Sarjana Biologi Universitas Indonesia.

_______________, 1997. Konsepsi Dasar Pembangunan Hutan Kota di DKI Jakarta. Makalah Utama Pelatihan Petugas Hutan Kota. Dinas Kehutanan DKI Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: