Harry Wiriadinata dan Fransisca M. Setyowati

TUMBUHAN RIPARIAN UNTUK DANAU, SITU DAN RAWA DI JABODETABEK

Oleh: Harry Wiriadinata dan Fransisca M. Setyowati

Dalam: Rosichon Ubaidillah dan Ibnu Maryanto ( Editor). Managemen Bioregional Jabodetabek: Profil dan Strategi Pengelolaan Situ, Rawa dan Danau. PUSLIT BIOLOGI LEMBAGA ILMU PENELITIAN INDONESIA Bogor, September 2003

Sumber: http://docs.google.com/katalog.pdii.lipi.go.id/

Pendahuluan

Danau dan situ atau waduk merupakan sebagian sistem perairan  tergenang dan umumnya berukuran cukup luas. Baik danau, situ dan  rawa alami maupun situ buatan berfungsi untuk menampung air,  sumber air dan konservasi lahan. Pengelolaan danau, situ dan rawa yang  baik dapat meningkatkan fungsi lahan tersebut sebagai tempat rekreasi,  wisata alam, kolam ikan dan untuk pengairan sawah/kebun secara  optimal. Sebaliknya tanpa pengelolaan yang baik dapat menyebabkan  adanya pendangkalan permukaan air serta menyempitnya luas area  lahan dan kekeringan. Danau/situ atau rawa sebagai mata rantai yang  mendukung kehidupan manusia seyogyanya dikelola secara baik dan  berkelanjutan sehingga menciptakan dukungan bagi kehidupan manusia yang lebih berkualitas.

Sejak jaman dulu danau/ situ maupun rawa alami dimanfaatkan  oleh masyarakat yang bermukim di sekitarnya. Kearifan masyarakat  mengenai pemanfaatan danau/ situ yang lestari terlihat dari masih adanya  danau/situ dan rawa tersebut. Adanya informasi serta berbagai  pengetahuan mengenai keberadaan, fungsi serta pentingnya suatu danau/  situ sangat mendukung kelestariannya. Keperdulian masyarakat mengenai  keberadaan danau/situ dan rawa yang baik terlihat dengan munculnya  berbagai reaksi terhadap adanya polusi yang mengotori danau/situ dan  rawa tersebut. Umumnya polusi disebabkan oleh adanya pembuangan  kotoran sisa pabrik, pakan ikan yang berlebihan maupun sampah serta lumpur sungai yang masuk ke dalam danau/situ dan rawa tersebut.

Keberadaan danau, situ dan rawa sekitar labotabek semakin  lama semakin memprmatinkan. Beberapa situ telah berubah menjadi  daratan sedang sisanya mempunyai debit air yang kecil dan  pendangkalan akibat lumpur. Adanya perubahan lahan disekitarnya  menjadi pemukiman dan pertanian menyebabkan makin sempitnya luas  situ. Hal tersebut disebabkan kurangnya perhatian terhadap  pengelolaannya. Ditinjau dari segi ekosistem, pengelolaan danau/situ  maupun rawa tidak hanya menyangkut administatif wilayah dimana  danau, situ itu berada tetapi juga harus meliputi wilayah bioregional,  wilayah aliran sungai atau hulu sungai yang airnya bermuara pada  danau/ situ tersebut. Kerusakan habitat, hutan di wilayah daerah aliran  sungai dapat menyebabkan erosi yang dapat menyebabkan  pendangkalan danau, situ. Oleh sebab itu perlu adanya antisipasi  pemilihan beberapa jenis tumbuhan yang dapat ditanam dan  dikembangkan di bagian hulu atau sekitar danau, situ yang dapat menyaring lumpur sehingga mengurangi pendangkalan danau, situ atau rawa

Riparian untuk mengurangi pendangkalan

Riparian mempunyai peranan penting mengurangi lajunya  pendangkalan dan beberapa kasus dimungkinkan riparian mampu  mengurangi pencemaran air yang terjadi di sungai atau situ. Di jumpai  ada beberapa jenis tumbuhan yang biasanya hidup atau dijumpai pada  tempat-tempat atau lahan di tepi aliran sungai. Untuk itu pemilihan jenis  tumbuhan dalam tulisan ini diharapkan dapat dipertimbangkan sebagai  alternatif untuk dapat ditanam di tepian sungai atau mulut sungai  menuju situ-situ atau danau. Tumbuhan yang yang dapat dianjurkan  untuk dipilih dikaitkan dengan faktor ekologi, ekonomi serta sosial yang  dapat menguntungkan masyarakat. Secara ekologi tumbuhan yang  dipilih adalah jenis yang umum dikenal, benih mudah didapatkan, cepat  tumbuh serta mempunyai daya adaptasi tinggi dan tidak merusak lingkungan.

Penanaman riparian sangat penting bagi pengelolaan situ karena  tumbuhan riparian menempati atau selalu hidup pada bagian tepi sungai  mulai dari bibir hingga tempat lereng di tepi sungai Tumbuhan tersebut  mempunyai perakaran yang kuat sehingga dapat menahan tanah  longsor sehingga tidak terjadi erosi. Berbagai jenis tumbuhan lainnya  tumbuh di air dan mempunyai perakaran yang melekat pada lumpur  sehingga dapat menahan kotoran maupun lumpur yang terbawa arus.  Komposisi tumbuhan yang hidup di tepian sungai tersebut sangat  bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Pada waktu banjir tumbuhan  riparian yang tumbuhan dekat pada permukaan air terutama tumbuhan  rheofit seringkah’ tetap bertahan selama tergenang air atau air meluap.  Berdasarkan fungsinya tumbuhan riparian dapat menahan lajunya  lumpur dan kotoran yang terbawa air sehingga keberadaan tumbuhan riparian ini ikut menjernihkan air yang mengalir.

Beberapa tumbuhan riparian

Kajian riparian yaitu terdiri dari terna semak dan pohon dilakukan  berdasarkan catatan yang ada pada Backer dan Bakhuizen (1963-1968), Keng (1978) Sunarno dan Rugayah. 1992 dan van Steenis (1949).

1. Terna-semak

Salah satu jenis dari suku bayam-bayaman (Amaranthaceae)  seperti Alternanthera sessilis umumnya selalu dijumpai tumbuh pada  tempat yang lembab dan berair. Terna ini tumbuh berkelompok dan  berbatang merayap dengan banyak percabangan. Pada buku-buku  batang terdapat akar yang melekat pada lumpur. Tumbuhan ini  berfungsi untuk mengikat lumpur. Perbanyakannya sangat mudah yaitu melalui setetk batang.

Suku talas-talasan (Araceae) merupakan tumbuhan yang dapat  diandalkan untuk menahan lumpur yang masuk ke danau/situ atau  rawa. Secara alami tumbuhan seperti Alocasia spinosa (talas liar), Colocasia  escalenta (talas), Lasia spinosa (talas duri) maupun Xanthorrhiza macrophylla  merupakan terna-terna yang umumnya dapat hidup pada tempay berair  maupun kering. Mereka umumnya mempunyai umbi dan banyak  perakaran. Tumbuhan ini mempunyai daun berlapis lilin  Herba Commelina nudiflora ( rumput jeboran-Commelinaceae)  tumbuh berkelompok di tempat yang lembab, berair maupun setengah  kering pada tempat terlindung. Tinggi 20-60 cm tumbuh tegak atau  menjalar, batang lunak dan beruas-ruas. Akar yang keluar pada rüas  berupa akar serabut yang melekat kuat pada lumpur. Perakaran serta perawakannya yang sangat rapat ini sangat efektif sebagai penangkap dan pengikat lumpur yang terbawa aliran air sungai.

Kelompok tumbuhan yang paling banyak dijumpai dan  memegang peranan sangat penting sebagai pengikat lapisan dan  endapan lumpur adalah Hydrilla verticilata (ganggeng, lukut cai- Hydrocharitaceae). Jenis ini merupakan tumbuhan air tawar yang  tenggelam, panjang hingga 2 m. Daun yang berbentuk pita dengan tepi  bergerigi tersusun rapat secara berkarang sepanjang batang. Tumbuhnya  secara berkelompok sehingga merupakan saringan lumpur yang terbawa arus aliran sungai.

Siapa yang tak mengenal teratai? Termasuk suku Nymphaeaceae  tumbuhan air Nymphaea lotus (teratai) selalu dijumpai tumbuh di air.  Teratai mempunyai bunga indah dan menarik perhatian. Daunnya  muncul dan tumbuh mendatar di permukaan air. Perakarannya yang  sangat kuat melekat pada dasar kolam atau tepian danau dan dapat menjernihkan air.

Tumbuhan liar dari suku Onagraceae seperti Ludwigia linifolia  dan Ludwigia peruviana selalu dijumpai tumbuh pada parit-parit, sawah  maupun tepian sungai. Herba ini tumbuh tegak, maupun menjalar,  kurang dari 1 m. Bunganya berwarna kuning. Jenis pertama mempunyai  daun yang lebih sempit dibanding jenis ke dua. Akar tumbuhan ini dapat mengikat lumpur.

Anggota suku rumput-rumputan (Poaceae) merupakan  kelompok yang sangat banyak jumlahnya dan salah satu jenis yang dapat  dikemukakan sebagai tumbuhan biasanya dijumpai di tempat berair  adalah Isaechmum muticum (rumput kawat). Tumbuh ditepian danau,  sawah secara berkelompok dan sangat rapat dapat menutupi daerah  yang luas. Oleh sebab itu tumbuhan rumput perlu mendapat perhatian  khusus untuk dipertimbangkan penanamannya di tepian sungai dan mulut danau karena dapat menahan lumpur dalam volum besar.

Dari suku empon-empon atau keluarga jahe-jahen  (Zingiberaceae) maka Etlingera punicea (tepus) merupakan tumbuhan  yang banyak dijumpai tumbuh di tepian sungai. Tumbuhan ini  berperawakan terna tahunan yang tumbuh berampun, berimpang dalam  tanah, tinggi daun dapat mencapai 7 m, dengan anak daun setengah  duduk berbentuk lanset. Perbungaan berwarna merah mencolok dan  perbuahannya berbentuk bulat, berdiameter 12 cm, terletak di permukaan tanah. Buah buni, aril dapat dimakan.

Pohon

Pohon merupakan komponen yang sangat efektif untuk ditanam  di bagian tepi sungai, danau/situ atau rawa karena berfungsi ganda. Selain mencegah erosi, pohon dapat meningkatkan penyerapan air hujan,  naungan bagi tumbuhan kecil yang tumbuh dibawahnya. Pohon riparian  dapat ditanam rapat berfungsi untuk pelindung tanaman industri seperti  kopi dan coklat. Beberapa jenis pohon dapat menghasilkan buah yang  dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan burung dan hewan. Mereka  juga merupakan sumber makanan, bahan obat, dll. Pohon yang telah  besar dapat diambil kayunya. Beberapa pohon untuk di tanam sebagai pohon riparian antara lain:

Tumbuhan dari suku Actinidiaceae seperti Saurauia nudiflora (ki  leho) merupakan pohon berukuran keen atau sedang, umum dijumpai  tumbuh di tepi sungai. Daun dan pepagan tumbuhan ini dipakai untuk campuran bahan jamu.

Pohon besar yang agak jarang tetapi banyak dikenal dari suku  kedongdong-kedongdongan (Anacardiaceae) seperti Dracontomelon dao  (dao) merupakan pohon besar dengan daun majemuk. Kayunya dapat diambil untuk bahan bangunan.

Dari suku palem (Arecaceae) maka tumbuhan Arenga pinnata  (aren) sangat cocok untuk dikemukakan. Pohon ini sangat bermanfaat  karena dari batangnya dapat dihasilkan sagu. Dari tangkai  perbungaannya dapat diambil nira untuk diolah menjadi gula merah.  Buah mudanya dimakan. Ijuknya dapat dimanfaatkan untuk kerajinan  tangan seperti sapu dan alat rumah tangga. Secara ekonomi pohon ini  dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Pohon Metroxylon sagu  (sagu) merupakan tumbuhan yang tumbuh berkelompok dan pada tempat yang berair. Dari batangnya dapat dihasilkan sagu.

Salah satu anggota Dilleniaceae yaitu Dillenia suffruticosa  (sempur air) selalu dijumpai tumbuh pada tempat lembab dan berair. Pohon berukuran sedang ini tumbuh soliter maupun berkelompok.

Anggota jarak-jarakan (Euphorbiaceae) seperti Aleurites  mollucana (kemiri) merupakan tumbuhan yang cepat tumbuh dan  perbanyakannya dilakukan melalui biji. Selain diambil bijinya yang  bernilai ekonomi, pohon kemiri juga dapat berfungsi sebagai pohon  pelindung untuk tanaman kopi dan coklat. Tumbuhan lain seperti  Bisclwfiajavanica merupakan tumbuhan cepat tumbuh yang sangat cocok ditanam sebagai pohon riparian.

Suku kacang-kacangan (Fabaceae) mudah dikenal karena  mempunyai bunga berupa kupu-kupu maupun bongkol seperti pada  bunga petai cina. Tumbuhan seperti Erythrina orientalis (dadap duri),  Erythrina subumbrans (dadap), Paraserianthes falcataria (jeungjing),  Pterocarpus indicus (angsana) merupakan pohon yang cepat tumbuh dan  dapat berfungsi sebagai pohon pelindung. Pohon yang besar dapat  menghasilkan kayu untuk keperluan kayu bakar, tiang dan papan yang  dapat diolah lagi untuk pembuatan peti dan perabotan rumah tangga.  Sedangkan kayu pohon Intsia bijuga (kayu merbau) merupakan salah satu kayu eksport yang bernilai tinggi dan banyak diminati.

  • Gliricidia maculate (gamal) sangat mudah ditanam melalui setek  batangnya. Jenis ini sebaiknya ditanam sebagai pagar dan rapat.  Walaupun tidak berukuran besar, namun mempunyai percabangan yang  banyak dan tahan terhadap pemangkasan. Ranting tumbuhan ini dapat dimanfaatkan untuk kayu bakar.
  • Saraca declinata (bunga sapu tangan) mempunyai perbungaan  yang indah berwarna kuning. Selain merupakan pohon yang indah, kayunya dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan.
  • Sesbania grandiflora (turi) merupakan tumbuhan cepat tumbuh  yang sudah banyak dikenal masyarakat. Kayunya dapat dimanfaatkan  untuk kayu bakar. Bunganya ada yang berwarna putih ada yang berwarna kemerahan. Bunga turi yang berwarna putih dapat dimakan.

Anggota suku dukuh-dukuhan (Meliaceae) yang biasanya sering  dijumpai tumbuh di tepian sungai adalah Dysoxylum gaudicandianum.  Merupakan pohon berukuran besar dan kayunya dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan.

Suku beringin-beringinan (Moraceae) terutama keluarga Ficus  spp. merupakan tumbuhan yang dapat diusulkan. Kebanyakan  tumbuhan Ficus yang masih kecil bersifat epifit sedang tumbuhan dewasa  berupa pohon yang mempunyai perakaran kuat. Banyak jenis Ficus  dijumpai tumbuh di tepi sungai. Perbungaan/perbuahan yang berbentuk  seperti buah dengan berbagai ukuran itu merupakan pakan burung dan hewan.

Dari suku jambu-jambuan (Myrtaceae) tak dapat dihindari dari  banyaknya pohon Syzygium spp. (jambu Mar) yang tumbuh di tepian  sungai. Umumnya pohon tersebut dapat menghasilkan buah yang  berfungsi sebagai pakan burung dan hewan lain. Batangnya yang kuat dan perakaran yang kadang-kadang membentuk seperti jala sangat efektif mencegah erosi.

Rasanya agak janggal kalau sampai ada yang tidak tahu pandan.  Dari suku pandan (Pandanaceae) terdapat banyak jenis pandan yang  umumnya mempunyai adaptasi tinggi terhadap lingkungan dan dapat  ditanam sebagai tanaman riparian. Jenis Fandanus tectorius (pandan pudak) dan P. amatyllifolius (pandan wangi) akan diketengahkan di sini. Pandan pudak mempunyai keragaman yang tinggi. Tumbuhan berupa  semak maupun pohon, mempunyai akar gantung yang banyak dan kuat.  Tumbuhnya berkelompok sehingga akar inilah yang berfungsi  menyaring kotoran yang terbawa arus air. Pembudidayaannya sangat  mudah, karena dapat diperbanyak dengan tunas batang atau setek  ujung. Secara ekonomi jenis ini sangat berguna karena daunnya  merupakan bahan anyaman untuk tikar, tas, topi dan kerajinan tangan  lainnya. Jenis ke-dua asalnya belum diketahui tetapi jenis ini banyak  ditanam di pekarangan rumah untuk dimanfaatkan daunnya yang  berfungsi sebagai penyedap, pewangi dan pemberi warna hijau pada  masakan maupun sebagai campuran rampai. Tumbuhan inipun mudah diperbanyak melalui setek ujung.

Anggota suku rumput-rumputan (Poaceae) yang berupa pohon  ini seperti Bambusa vulgaris (bambu tali) dan Gigantochloa atter (bambu  betung) selalu tumbuh berumpun kadang-kadang membentuk semak  atau hutan kecil. Kelompokan rumpun bambu ini dapat mencegah erosi.  Selain itu batang-batang bambu bermanfaat untuk kerajinan tangan dan meningkatkan industri rumah tangga.

Beberapa anggota suku kopi-kopian (Rubiaceae) yang hidupnya  selalu di tepi sungai adalah Myrmeconauclea strigosa dan Neonauclea  calyana. Tumbuhan ini sangat kuat terhadap terjangan air bah pada saat  air sungai banjir. Oleh sebab itu tumbuhan ini sangat berfungsi sebagai penahan erosi tanah.

Anggota suku terung-terungan (Solanaceae) yang merupakan  tumbuhan eksotik seperti Brugmansia candida mempunyai pertumbuhan  sangat cepat. Batang yang sudah tua dapat dimanfaatkan untuk kayu  bakar. Perbanyakannya selalui setek batang. Tumbuhan ini tumbuh  secara berkelompok sehingga sangat efektif untuk mencegah erosi dan pada parit-parit biasanya dapat menahan lumpur.

Pterospermum diversifolium (bayur-Sterculiaceae) merupakan  pohon tepi sungai yang sangat baik untuk dikembangkan karena  kayunya dapat dimanfaatkan untuk kayu bakar dan bahan bangunan.  Dari suku Urticaceae maka tumbuhan Debregaesia longifolia yang  merupakan perdu yang sangat cantik terutama pada waktu berbuah  sangat umum ditemukan di daerah yang berair atau tepi sungai.  Tumbuhan bawah yang cukup banyak dijumpai terutama pada lereng  adalah Elastostoma spp., Procris spp., dan Pika spp. Jenis yang sudah  umum dikenal masyarakat sunda adalah Pika melastomoides (pohpohan) yang daunnya dimanfaatkan sebagai lalab.

DAFTAR PUSTAKA

Backer, CA. & Bakhuizen v/d Brink Jr. 1963-1968. Flora of Java, 3 vols. Nordhoff.

H.Keng. 1978. Orders and f amilies of Malayan Seed Plants. Singapore University Press.

Sunarno, B. & Rugayah (Penyunting). 1992. Flora Taman Nasional Gede  Pangrango. Herbarium Bogoriense, Puslitbang Biologi LIPI, Bogor.

Van Steenis, C.G.G.J. 1949. Plora voor de schalen in Indonésie. Noordhoff-Batavia.

One Comment on “Harry Wiriadinata dan Fransisca M. Setyowati”

  1. jetro Says:

    famili dan jenis tumbuhan bawah..tlng datanya? trims


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: