M. Noerdjito, dkk.

EVALUASI KONDISI SITU: STUDI KASUS BEBERAPA SITU DAN RAWA DI DKI

Oleh: M. Noerdjito, R. Ubaidillah dan D.I. Hartoto.

Dalam: Editor: Rosichon Ubaidillah dan Ibnu Maryanto. Managemen Bioregional Jabodetabek: Profil dan Strategi Pengelolaan Situ, Rawa dan Danau.PUSLIT BIOLOGI LEMBAGA ILMU PENELITIAN INDONESIA Bogor, September 2003

Sumber  : http://docs.google.com/katalog.pdii.lipi.go.id/

Pendahuluan

Sebagai Ibukota negara, sudah selayaknalah Jakarta memiliki infrastruktur yang dapat dikatakan paling lengkap di Indonesia (Noerdjito dkk. 2003). Lengkapnya prasarana perhubungan, telekomunikasi serta energi listrik menyebabkan Jakarta menjadi tempat paling menguntungkan untuk kegiatan industri. Pertumbuhan pesat berbagai kawasan industri di Jabotabek memerlukan banyak tenaga kerja sehingga mempertinggi arus urbanisasi, memperbesar beberapa pusat pemukiman lama dan memunculkan pusat-pusat pemukiman baru. Kota Depok merupakan salah satu contoh pemukiman lama (kampung) yang berkembang menjadi kota. Disamping itu, masyarakat petani yang semula bermukim di Jabotabek juga bertambah sehingga memerlukan tambahan lahan garapan. Akibatnya, kawasan Jabodetabek yang merupakan bentang alam di sebelah utara gunung Gede-Pangrango- Salak-Halimun, telah mengalami perubahan pemanfaatan lahan yang cukup berarti (Roemantyo dkk. 2003).

Meningkatnya jumlah industri serta populasi penduduk menyebabkan kebutuhan air bersih di DKI Jakarta menjadi semakin bertambah. Pada saat ini, sebagian dari kebutuhan air bersih di DKI Jakarta dipenuhi dari air permukaan dan sebagian lagi dari air tanah. Seandainya kebutuhan air bersih relatif tetap sepanjang tahun dan ketersediaan air permukaan semakin berkurang pada musim kemarau maka penggunaan air tanah pada musim kemarau relatif bertambah. Sehingga, ketersediaan serta mutu air tanah pada musim kemarau menjadi sangat penting.

Sepanjang sejarah geologi, bentang alam dibentuk oleh air dimana sungai-sungai kecil di hulu saling berhubungan membentuk sungai besar di hilir. Komponen utama penciri suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah batas DAS, Sub-DAS, curah hujan, sungai, danau, akuifer, mengrove , tataguna lahan, penutupan vegetasi, dan semua aktivitas manusia di wilayah itu yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang (Haeruman, 2003). Pengelolaan DAS mencakup tataguna tanah dan kegiatan pemanfaatan tanah dan ruang yang memanfaatkan air secara optimal dan mencegah banjir, erosi dan kekeringan dengan indikator kemantapan air sungai dan kualitasnya. Semua komponen DAS, termasuk kota-kota dan kegiatan manusia, merupakan bagian dan terkait dengan berbagai daur ekologi yang membentuk DAS tersebut. Walaupun demikian, komponen yang terpenting dari DAS adalah daur air dan daur hara. Kualitas dan keberlanjutan berbagai siklus ekologi, terutama daur air dan daur hara inilah yang dimanfaatkan untuk memberi indikasi kelestarian fungsi suatu DAS.

Sepanjang tahun air tanah di DKI Jakarta diimbuh dari: (a) lereng utara gunung Gede-Pangrango-Salak-Halimun dan (b) sungai, situ serta rawa yang berada di wilayah Jabodetabek termasuk DKI Jakarta. Pada musim hujan seluruh tipe lahan di wilayah DKI dapat berfungsi sebagai pengimbuh air tanah. Suatu kenyataan bahwa dari tahun ke tahun air laut diduga semakin merembes ke kawasan Jabodetabek, hal ini hanya dimungkinkan jika akuifer tempat air tanah dalam keadaan tidak penuh, dan sekaligus menunjukkan bahwa pengisian air tanah di DKI Jakarta relatif lebih sedikit dari pada jumlah air tanah yang dimanfaatkan. Kenyataan lain, banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau menunjukkan bahwa sebagian besar air hujan yang jatuh di lereng utara gunung Gede-Pangrango-Salak-Halimun mengalir sebagai air larian dan hanya sedikit yang terbentuk menjadi air tanah. Selain itu, telah terjadi perubahan budaya masyarakat untuk segera mengalirkan air hujan ke sungai serta menyempitkan situ dan rawa sehingga memperkecil pengimbuhan air tanah. Untuk mengetahui bagian-bagian daur air di Jabodetabek yang mengalami gangguan perlu diurai masing-masing komponen habitat penyusun daur yang ada. Pada tulisan ini yang akan dibahas adalah situ dan rawa di wilayah DKI Jakarta.

Situ dapat dikategorikan sebagai lahan basah dengan sistem perairan tergenang. Situ dapat terbentuk secara buatan sebagai akibat dibendungnya suatu cekungan (basin) dan dapat pula terbentuk secara alami karena keadaan topografi yang memungkinkan terperangkapnya sejumlah air di dalamnya. Sumber air perairan situ dapat berasal dari mata air yang terdapat di dalamnya, dari masuknya air sungai dan/ atau limpasan air hujan (surface run-off). Keberadaan air di dalam situ dapat bersifat permanen atau sementara (Suryadiputra 2003). Rawa merupakan salah satu jenis lahan basah yang memiliki sistem perairan tergenang, dangkal, bertepian landai dan penuh tumbuhan air. Dikenal dua tipe perairan tawar yaitu rawa darat dan rawa pasang surut. Fluktuasi tinggi permukaan air rawa darat bersifat tengah tahunan yaitu dengan adanya musim hujan dan musim kemarau; sedangkan fluktuasi tinggi permukaan air rawa pasang’surut bersifat harian sesuai dengan tinggi rendahnya air laut.

Masalahnya, situ dan rawa yang sepanjang tahun menjadi pengimbuh air tanah di DKI Jakarta telah mengalami berbagai macam pencemaran sehingga memiliki peluang besar untuk ikut mencemari akuifer air tanah. Memanfaatkan air tanah yang telah tercemar sama artinya dengan menyebarkan bahan yang dapat menyebabkan keroposnya logam maupun menyebarkan berbagai jenis penyakit bagi masyarakat Pembersihan akuifer air tanah hanya dapat dilakukan dengan pencucian (dengan penggelontoran). Mengingat bahwa jumlah air tanah pada saat ini tidak mencukupi untuk memenuhi akuifer maka mencuci akuifer dengan cara penggelontoran merupakan hal yang sangat mustahil dapat dilaksanakan sehingga yang perlu segera dilakukan adalah (1) melindungi keberadaan situ dan rawa secara fisik maupun hukum, (2) menghilangkan masuknya bahan pencemar ke dalamnya membersihkan perairan tersebut dari bahan pencemar yang sudah terlanjur masuk ke dalam situ dan rawa, sehingga dapat secara optimal berfungsi sebagai pemasok air tanah di DKI Jakarta.

Secara alami, perairan tergenang berupa situ atau rawa merupakan bentuk sementara dari suatu bentang alam (Olem & Flock 1990). Sebagai akibat dari pergantian iklim, gerakan tanah, erosi, maupun sedimentasi, dalam kurun waktu puluhan sampai ribuan tahun, perairan tergenang berubah ukuran maupun kedalamannya sehingga akhirnya dapat berubah menjadi daratan. Pada umumnya proses alami yang terjadi adalah penumpukan hara, peningkatan produktivitas, dan pengisian secara perlahan-lahan dasar perairan dengan sedimen, lumpur, dan bahan organik dari daerah aliran sungai atau tepian perairan. Proses ini disebut sebagai eutrofikasi alamiah (natural eutrophication). Bentuk asli dari cekungan dan kemapanan relatif tanah di tepi perairan berpengaruh kuat terhadap umur situ. Umumnya tahapan suksesi suatu danau dinyatakan dalam tingkat trofik. Ada empat tingkat trofik, yaitu (1) Oligotrofik dimana perairan miskin hara dengan produktivitas biologinya sangat rendah atau hampir tidak ada. (2) Mesotrofik dimana perairan memiliki jumlah ketersediaan hara dan produktivitas biologinya sedang; (3) Eutrofik dimana perairan mengandung hara cukup banyak sehingga produktivitas biologinya tinggi; (4) Hipereutrofik dimana kandungan hara perairan sangat tinggi tetapi produktivitas biologinya menjadi sangat rendah karena perairan kekurangan oksigen. Pada tingkat hipereutrofik air sudah menjadi sangat kental karena bercampur dengan berbagai macam bahan pencemar yang sedikit demi sedikit mengendap dan memperdangkal perairan. Dengan aktivitas manusia, proses suksesi perairan tergenang dapat menjadi lebih cepat beberapa puluh kali (Olem & Flock 1990), Proses ini disebut sebagai eutrofikasi cultural (cultural eutrophication). Hal-hal yang mempercepat proses tersebut adalah aliran air permukaan di kawasan pemukiman, air limbah industri, pupuk serta pestisida serta sedimentasi. Oleh karena itu, untuk memulihkan dan mengatur mutu perairan perlu dilakukan dengan cara: (1) Menghilangkan penyebab eutrofikasi. Pendekatan ini termasuk pembatasan kesuburan perairan dengan regulasi penggunaan bahan yang membawa zat hara seperti residu pupuk pertanian; penggunaan deterjen, pembuangan air limbah, dll. (2) Mengambil kelebihan hara dengan mengatur populasi tumbuhan air di perairan.

Secara umum situ dan rawa memiliki fungsi sangat penting, di antaranya sebagai pemasok air ke dalam akuifer yang digunakan sebagai daerah resapan air tanah, peredam banjir, pencegah intrusi air laut, membantu memperbaiki mutu air permukaan melalui proses kimia- fisika-biologis yang berlangsung di dalamnya, prasarana irigasi, tempat rekreasi, tandon air, mengatur iklim mikro lingkungan, perikanan, maupun pendukung keanekaragaman hayati perairan (Suryadiputra 2003; Fakhrudin 1989). Dengan adanya berbagai perubahan pemanfaatan bentang alam di Jabodetabek maka perlu dipertanyakan apakah situ dan rawa yang berada di kawasan tersebut masih dapat memenuhi fungsinya, terutama dalam hal mengisi akuifer air tanah. Untuk itu maka perlu dilakukan, evaluasi umum dari berbagai situ dan rawa yang berada di DKI Jakarta. Evaluasi tersebut meliputi jumlah, luas serta mutu situ dan rawa yang berada di DKI Jakarta. Jika terjadi perubahan luas situ dan rawa, maka perlu dicarikan pemecahannya.

Perubahan situ dan rawa di DKI Jakarta

Roemantyo (dalam buku ini) melaporkan terjadinya perubahan pemanfaatan lahan yang cukup berarti di kawasan Jabodetabek. Dari 20 lembar peta jaman Belanda (Dutch map) yang dibuat antara tahun 1922 dengan 1943 telah di over-lay dengan peta dasar administrasi Jabodetabek 1999 berhasil diidentifikasikan bahwa di seluruh kawasan terdapat 315 situ dan rawa. Dari over-lay antara peta Belanda tersebut dengan peta Citra LANDSAT 2000 diketahui bahwa jumlah situ dan rawa tersebut telah berubah menjadi hanya tinggal 174 buah saja. Selain itu, penelusuran juga menemukan bahwa luas situ dan rawa sebelum 1943 mencapai 164,658 km2 tetapi sekarang tinggal 93,124 km2 (56,56%). Di wilayah DKI Jakarta, luas situ dan rawa sebelum tahun 1943 ada 25,955 km2, tetapi saat ini tinggal 10,958 km2 (42,22 %). Perubahan terjadi karena banyak di antara situ dan rawa sengaja ditutup, ditimbun atau diubah peruntukannya atau karena dijadikan tempat pembuangan sampah sehingga terjadi penyuburan dan pendangkalan. Sebagai contoh, (1) Situ Dirgantara yang terletak di Kelurahan Makasar Kecamatan Makasar Jakarta Timur, saat ini telah diuruk dan dijadikan lahan pertanian oleh penduduk sekitarnya; (2) Situ Marunda dengan luas sekitar 1.000 m2, 50% perairannya tertutup sampah dan 40% tertutup tumbuhan air, saat ini sedang terjadi proses pendangkalan oleh sampah dan pengurukan. Contoh lain di luar wilayah DKI Jakarta tetapi memiliki dampak besar terhadap wilayah tersebut adalah perubahan bentang alam mulai dari Ujung Karawang – Muara Gembong sampai sedikit di sebelah utara kota Kecamatan Babelan yang mulanya merupakan deretan rawa antara lain Rawa Bambukuning, Rawa Gadungan, Rawa Selabau, Rawa Kalimalang, Rawa Kaliabang, dan Rawa Kedungsikut (Dutch map Lembar Muara Bekasi, 37/XXXVII-B, 23B) saat ini telah dikembangkan menjadi sawah. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika pada saat banjir hampir seluruh bentang alam tersebut terendam air.

Pada buku Daftar Situ Waduk di Propinsi DKI Jakarta disebutkan adanya Situ Marunda seluas 0,1 hektar terletak di tepi Jl Cilincing Kesatriyan Jakarta Utara dan Rawa Wadas seluas 0,075 hektar terletak di tepi Jl Rawa Wadas Jakarta Timur (BPLHD Prop. DKI, 2003). Ukuran situ dan rawa tersebut demikian kecil tetapi tetap didata mungkin menunjukkan bahwa Pemda DKI Jakarta cukup memperhatikan adanya situ dan rawa yang terdapat di kawasannya. Namun bila kita perhatikan peta rupa bumi lembar Pondok Gede, di kawasan TMII terdapat empat buah perairan yang cukup besar tetapi di dalam buku BPLHD Prop. DKI Jakarta hanya disebutkan dua yaitu Waduk Archipelago Indonesia dan Situ Taman Mini Indonesia Indah. Selain itu, terdapat perbedaan jumlah situ dan rawa hasil inventarisasi Roemantyo dkk. (2003b) sebanyak 47 buah situ dan rawa; BPLHD DKI Jakarta menyebutkan 40 buah, sedangkan menurut catatan Direktorat Jenderal Bina Pengembangan Daerah ada 35 buah. Hal ini menunjukkan bahwa sampai saat ini inventarisasi situ dan rawa di DKI Jakarta belum dilakukan secara menyeluruh atau kriteria situ rawa yang di data tidak sama. Mengingat salah satu fungsi situ dan rawa adalah pengimbuh air tanah maka inventarisasi situ dan rawa di DKI Jakarta perlu dilakukan secara seksama.

Pada peta Belanda lembar Tanjungpriok 37/XXXVII-(A23A)/ disebelah utara lapangan terbang Kemayoran terdapat perairan yang cukup luas dan diberi nama Rawa Utanduri. Pada peta rupabumi Digital Indonesia 1:25.000, Lembar 1209-441 Jakarta, perairan tersebut dinamai Danau Cincin. Sedangkan pada buku Jakarta, Jabotabek, Street Atlas & Name Index (Ed 2001/02) pada peta 16 kolom O-R13-15 perairan yang sama diberi nama Waduk Sunter Barat. Pada buku yang sama, pada peta 26 kolom N-R 21-22 juga ada waduk yang disebut dengan nama Waduk Sunter Barat; perairan ini pada Peta rupabumi Digital Indonesia 1:25.000 Lembar 1209-441. disebut dengan nama Danau Sunter Barat. Dengan demikian pada buku Jakarta, Jabotabek, Street Atlas & Name Index (Ed 2001/02) terlihat adanya satu nama dipakai untuk dua perairan berbeda yang letaknya relatif berdekatan. Haï ini tentunya membuat peluang terjadinya kesalahan. Pada buku Daftar situ waduk di Propinsi DKI Jakarta (2003), Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Propinsi DKI Jakarta menyebut Rawa Utanduri dengan nama Situ Sunter Barat; jika tanpa kelengkapan lokasi di Jl Bisma Utara Kelurahan Papanggo maka para pengguna data dapat salah identifikasi, dan menganggap bahwa yang dimaksud adalah Danau Sunter Barat. Untuk menghindari kemungkinan terjadinya kekeliruan maka sebaiknya digunakan peta standar yang memiliki ketelitian yang lebih tinggi.

Pada buku Daftar Situ waduk di Propinsi DKI Jakarta (2003), BPLHD Prop. DKI menyebutkan adanya Situ Arman seluas 14 ha berlokasi di JI Tipar, kelurahan Pekayon Kecamatan Pasar Rebo dan Situ Pedongkelan seluas 3,5 ha di JI Rawa Gelam V, Kelurahan Jatinegara Kecamatan Cakung. Penelusuran pada buku Jakarta, Jabotabek, Street Atlas & Name Index (Ed 2001/02) diketahui bahwa pada peta 95 kolom M 94-85 Situ Arman sama dengan Pedongkelan dan terletak di wilayah Kabupaten Bogor; di Jl Rawa Gelam V sama sekali tidak tergambarkan adanya danau ataupun situ. Memperhatikan peta rupabumi Digital Indonesia 1:25.000, Lembar 1209-442 Cakung ternyata di Jl Rawa Gelam V terlihat tanda situ tetapi tanpa nama. Sedangkan pada peta rupabumi Digital Indonesia 1:25.000, Lembar 1209-423 Pasarminggu, tertulis adanya setu Arman yang termasuk ke dalam wilayah Jakarta dan berbatasan dengan Kabupaten Bogor. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua peta dapat dipakai untuk keperluan ini serta keterangan pada peta rupabumi Digital Indonesia 1:25.000 belum cukup untuk menunjang keperluan inventarisasi sebagai dasar pengelolaan situ dan rawa di DKI Jakarta. Oleh karena itu, untuk tujuan yang demikian penting dinilai perlu dibuatkan peta khusus atau mungkin peta dengan skala 1:10.000 atau dengan skala yang lebih besar lagi.

Dengan hilangnya dan mengecilnya luas berbagai situ dan rawa maka dapat dipastikan bahwa daya penambah imbuhan air tanah juga menjadi semakin rendah. Meningkatnya kebutuhan akan air tanah di DKI Jakarta sebagai akibat dari meningkatnya kebutuhan industri serta masyarakat dapat dipastikan meningkatnya defisit air tanah di daerah DKI Jakarta sendiri. Defisit air imbuhan air tanah secara bertahap harus dikurangi. Untuk itu, optimalisasi pengimbuhan air tanah dari situ dan rawa harus dijalankan di samping mengusahakan sebanyak mungkin permukaan tanah DKI Jakarta yang tidak mengalami pencemaran dapat berfungsi sebagai jalur imbuhan air tanah. Jika memungkinkan sebelum setiap halaman menyerapkan sekitar 83-90% air hujan yang jatuh (Asdak, 2002), perlu didahului dengan program Pemerintah Daerah untuk menyerapkan 90 % air hujan yang jatuh ke jalan serta bangunan Pemerintah ke dalam tanah. Untuk menjamin bahwa air yang diserapkan dalam keadaan bersih bebas dari Total Suspended Solid dan bahan pencemar lainnya sebaiknya penambahan air tanah melalui sumur resapan hanya dilakukan di daerah yang memiliki tingkat pencemaran sangat rendah; disamping itu, sebelum air dimasukkan ke dalam sumur resapan terlebih dahulu harus dilewatkan pada sistem penyaringan air. Berbagai macam rancangan sumur resapan telah dibuat, antara lain dikemukakan oleh Kusnadi (2000). Selain itu, Departemen Kimpraswil juga telah merancang pembuatan saluran air hujan pracetak berlubang- lubang dibagian bawah untuk lingkungan pemukiman.

Pada Situ Marunda sedang terjadi proses pendangkalan karena sampah dan pengurukan (BPLH, 2003). Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Situ Marunda dikelola oleh perorangan. Di Rawa Wadas juga terjadi proses pendangkalan karena sampah, lumpur, pasir dan proses pengurukan. Rawa Wadas dikelola oleh Pemda DKI Jakarta. Kedua contoh di atas menunjukkan bahwa keberadaan situ dan rawa yang secara bertahap terdesak baik didorong oleh adanya ledakan populasi gulma air, endapan lumpur dan pasir, penumpukan sampah maupun dengan sengaja ditimbun sehingga akhirnya hilang. Suatu hal yang sangat ironis jika Situ Marunda dikelola oleh perorangan karena Undang Undang Nomor 11 Tahun 1974 menyebutkan bahwa situ adalah daerah yang berada di bawah kekuasaan negara, dan karena itu harus dilestarikan. Sedangkan ancaman keberadaan situ karena terdesak adanya ledakan populasi gulma air, penumpukan sampah maupun dengan sengaja ditimbun dapat dikurangi jika Pemerintah Daerah menjalankan Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1990. Pasal 17 dan 18 dapat diartikan bahwa perlu dilakukan perlindungan situ/danau/ waduk dari kegiatan budidaya terhadap daratan sepanjang tepian situ/ danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik situ/danau/rawa antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Pelaksanaan peraturan tersebut sebaiknya langsung diikuti dengan membuat jalan lingkar sejauh mungkin dari batas air. Dengan demikian tidak akan ada pemukiman yang menempel pada tepi situ dan rawa bersangkutan sedangkan masyarakat di sekitar akan mengalihkan hadap rumahnya ke arah situ dan rawa. Untuk dapat mempertahankan kelestarian situ dan rawa lebih lanjut adalah membuat peta situ dan rawa oleh Badan Pertanahan Nasional.

Data fisik lainnya yang perlu dilengkapi adalah data batimetri (bathymétrie map) yang meliputi dimensi permukaan dan dimensi bawah permukaan. Dimensi permukaan umumnya mencakup panjang maksimum, lebar maksimum, lebar rata-rata, luas permukan, panjang garis tepi, serta indeks perkembangan garis tepi {shore line development index): Keadaan daratan yang berada di sekitar situ; yang dapat berfungsi sebagai sempadan ataupun pengaman; umumnya tidak dikemukakan. Dimensi permukaan akan lebih baik jika dikemukakan dalam bentuk peta. Sedangkan dimensi bawah permukaan mencakup kedalaman maksimum, kedalaman relatif, kedalaman rata-rata, kemiringan rata- rata, volume total air serta indeks perkembangan volume situ (volume development index). Data batimetri ini dapat dipakai untuk memantau penambahan endapan yang terjadi dan menentukan sampai sedalam berapa suatu situ perlu dikeruk. Selain besarnya kandungan bahan terlarut, kecepatan sedimentasi juga dipengaruhi oleh nilai hydraulic retention time. Nilai retention time merupakan hasil bagi dari volume situ dengan debit rata-rata. Semakin besar retention time maka semakin besar kesempatan padatan tersuspensi untuk mengendap di dasar perairan, semakin besar nilai retention time juga akan menambah tingkat penyuburan perairan. Oleh karena itu setiap situ dan rawa perlu diketahui fluktuasi nilai hydraulic retention íime-nya.

Perubahan kualitas air situ dan rawa di DKI Jakarta

Untuk mengetahui bahwa suatu perairan situ dan rawa telah berubah, diperlukan suatu pembanding. Situ dan rawa yang dianggap belum berubah adalah yang masih mempunyai integritas ekologi yang masih baik. Ciri-ciri perairan yang integritas ekologinya masih baik antara lain ditandai dengan populasi dan produktivitas plankton serta tumbuhan air yang relatif stabil sehingga kehidupan komunitas lain pada rantai pakan yang paling tinggi dalam perairan bersangkutan juga relatif stabil (Sulastri dalam buku ini). Komunitas ikan diperairan situ pada umumnya menduduki rantai tertinggi dalam jejaring makanan. Oleh karena itu pemantauan perubahan kualitas air dilakukan dengan membandingkan data yang ada dengan baku mutu perairan untuk perikanan baik yang dipakai oleh BPLHD DKI Jakarta tahun 2003 (Tabel 89), standar pencemaran yang disusun oleh Rump & Krist (1992) {Tabel 90), maupun standar yang dikeluarkan oleh Masyarakat Eropa (Effendi 2000).

Untuk mengetahui mutu air situ dan rawa di DKI Jakarta, digunakan data yang telah dikumpulkan oleh Bagian Pemantauan Sumber Daya Alam DKI; Secara acak tercuplik data bulan Agustus 2000 (Tabel 89). Parameter yang diukur terdiri atas (1) parameter fisik: Daya Hantar Listrik (DHL), Total Dissolved Solid (TDS), Total Suspended Solid (TSS), kekeruhan, suhu dan warna; (2) parameter anorganik: kadar amonia, besi, fluorida, kadmium, klorida, kromium, mangan, nikel, nitrat, nitrit, pH, fosfat, seng, sulfat, sulfida, tembaga, timbal; (3) parameter kimia organik: fenol, minyak lemak, deterjen, zat organik, Dissolved oxygen (DO), Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxigen Demand (COD); dan (4) parameter mikrobiologi: kandungan bakteri Koli (Coliform bacteria) dan bakteri Koli fekal (Faecal coli). Walaupun dinilai penting tetapi pengukuran kandungan Merkuri, Cadmium, Selenium dsb. (Laws 1981), di dalam perairan belum banyak dilakukan di Indonesia. Berbagai tulisan telah mengemukakan berbagai hal mengenai parameter pencemaran air, antara lain Effendi (2000).

Secara menyeluruh dapat dikatakan bahwa empat dari enam parameter fisik, yaitu DHL, TDS, TSS, dan kekeruhan pada situ dan rawa di DKI Jakarta umumnya telah melewati baku mutu yang diperkenankan; Sedangkan parameter suhu dan warna seluruhnya masih memenuhi baku mutu yang diperkenankan. Sebelas dari 17 parameter kimia anorganik, yaitu kandungan besi, fluorida, kadmium, kromium, mangan, nikel, nitrat, nitrit, seng, tembaga, dan timbal masih memenuhi baku mutu yang diperkenankan; Sedangkan amonia, klorida, pH, fosfat, sulfat, dan sulfida umumnya telah melewati baku mutu yang diperkenankan. Seluruh parameter kimia organik umumnya telah melampaui baku mutu yang diperkenankan; demikian juga kedua parameter di bidang mikrobiologi, yaitu kandungan bakteri Koli dan kandungan bakteri Koli fekal umumnya telah melewati baku mutu yang diperkenankan. Dari parameter fisik, jumlah situ dan rawa yang parameter kualitas airnya tidak memenuhi syarat adalah Daya Hantar Listrik (untuk 9 perairan), TSS (6), TDS (5) dan kekeruhan (3). Untuk parameter kimia anorganik adalah sulfida (pada 15 perairan), amonia (8), fosfat (8), sulfat (5), klorida (11) dan pH (2). Disisi lain parameter kimia organik yang melewati batas adalah COD (di 15 perairan), DO (14), BOD (14), fenol (13), deterjen (13), zat organik (14) dan minyak lemak (6). Parameter mikrobiologi khususnyajumlah bakteri Koli ditemukan melewati batas pada 15 perairan, sedangkan untuk bakteri Koli fekal ditemukan pada 12 perairan.

Daya hantar listrik

Daya Hantar Listrik (DHL) atau konduktivitas menggambarkan banyaknya garam-garam yang terionisasi atau terlarut dalam air. DHL lebih dari 500 mmhos/cm dapat menyebabkan ikan air tawar mengalami stress

Baku mutu DHL yang dipergunakan oleh BPLHD DKI Jakarta adalah 750 mmhos/cm. Dengan demikian DHL perairan situ dan rawa yang masih memenuhi baku mutu (Tabel 90) adalah Situ Lembang, Waduk Melati, Situ Babakan, Situ Ragunan, Situ Intercon, Situ Halim, dan Situ Cibubur, sedangkan situ dan rawa yang lain nilai DHLnya telah melewati baku mutu tersebut di atas. Keenam situ dan rawa yang memiliki DHL memenuhi syarat terletak di kawasan bagian selatan DKI Jakarta. Hal ini mengisyaratkan bahwa sumber peningkatan kadar garam-garaman di perairan adalah limbah industri. Dengan demikian kemungkinan pemecahan masalahnya adalah dengan memperketat pengawasan pengolahan limbah dari berbagai kegiatan industri yang ada di DKI Jakarta.

Padatan tersuspensi total

Padatan tersuspensi total (Total Suspended Solid = TSS) adalah jumlah bahan-bahan tersuspensi dengan diameter lebih dari 1 mm yang tertahan pada kertas saring dengan diameter pori 0,45 mm. TSS terdiri dari lumpur dan pasir halus serta jasad renik. Penyebab utama TSS adalah kikisan tanah atau erosi tanah yang terbawa ke badan air. TSS memberikan dampak negatif berupa penambahan percepatan pendangkalan. Alabaster & Lloyd (dalam Effendi 2000) menyebutkan adanya pengaruh TSS bagi perikanan; nilai TSS kurang dari 25 mg/L tidak berpengaruh, 25-80 mg/L sedikit berpengaruh, 81-400 mg/L kurang baik, lebih dari 401 mg/L tidak baik bagi kepentingan perikanan.

Baku mutu TSS yang dipergunakan oleh BPLHD DKI Jakarta adalah 100 mg/L. Dengan demikian TSS perairan situ dan rawa yang masih memenuhi baku mutu adalah Situ Pademangan, Situ Lembang, Situ Babakan, Situ Ragunan, Situ Intercon, Situ Cibubur, Danau Sunter, Waduk Pluit, Waduk PIK Utara dan Waduk PIK Selatan. Kesepuluh perairan ini masih cukup baik bagi kehidupan ikan; sedangkan situ dan rawa yang lain kurang mendukung kehidupan ikan air tawar. Jika memakai baku mutu yang disepakati oleh Masyarakat Eropa (TSS sebesar 25 mg/ L) maka perairan yang memenuhi syarat peruntukan kehidupan organisme akuatik hanya Situ Ragunan dan danau Sunter.

Selain tidak baik bagi perikanan, endapan lumpur serta TSS di dasar situ dan rawa dapat memperkecil daya resap air ke dalam tanah sehingga tujuan pemeliharaan situ dan rawa untuk menambah asupan air tanah tidak tercapai. Dalam hal ini pengerukan lumpur dinilai perlu untuk dilakukan. Namun jika kandungan air danau tercemar dengan bahan berbahaya maka pengerukan endapan justru akan memperlancar masuknya bahan pencemar ke dalam akuifer air tanah. Oleh karena itu pengerukan endapan sebaiknya dilakukan setelah air situ dan rawa tidak lagi tercemar. Bagi situ dan rawa yang memiliki outlet, program pengelontoran sebagaimana dilakukan di Kali Brantas perlu dipertimbangkan untuk dilakukan. Namun antara penggelontoran Kali Brantas dengan situ dan rawa yang terdapat di DKI Jakarta terdapat perbedaan. Kali Brantas keluar ke Selat Madura yang berarus kuat sehingga bahan pencemar segera terencerkan. Disisi lain, seluruh aliran sungai di DKI Jakarta bermuara di Teluk Jakarta yang perairannya relatif tenang. Akibatnya, bahan pencemar serta sedimen hasil penggelontoran dari situ dan rawa memiliki peluang besar untuk tetap tinggal di perairan bahari tersebut dan meningkatkan pencemaran dan sedimentasi yang sudah berlangsung. Untuk mengatasi hal tersebut, peran hutan bakau beserta perakarannya sebagai “penangkap” TSS beserta bahan pencemar lain dapat dikembangkan. Hutan bakau juga berperan dalam mengurangi intrusi air garam ke daratan.

Bahan terlarut total

Total Dissolved Solid (TDS) adalah jumlah bahan-bahan terlarut dengan diameter kurang dari 10 “6 mm dan koloid dengan diameter antara 10″6 sampai 10 ‘3 mm. TDS berupa senyawa-senyawa kimia dan bahan-bahan lainnya yang tidak tersaring pada kertas saring berdiameter pori 0,45 mm. Nilai TDS perairan sangat dipengaruhi oleh pelapukan, limpasan dari tanah, dan pengaruh antropogenik (berupa limbah domestik dan industri). Bahan-bahan tersuspensi dan terlarut pada perairan alami tidak bersifat toksik, akan tetapi jika jumlahnya berlebih, terutama TSS, hal ini dapat meningkatkan nilai kekeruhan yang selanjutnya akan menghambat penetrasi cahaya matahari ke kolam air yang akhirnya berpengaruh pada proses fotosintesis di perairan.

Baku mutu TDS yang dipergunakan oleh BPLHD DKI Jakarta adalah 500 mg/L. Dengan demikian TSS perairan situ dan rawa (Tabel 89) yang masih memenuhi baku mutu hanya Situ Pademangan, Situ Lembang, Rawa Badung, Waduk Melati, Situ Babakan, Situ Ragunan, Situ Intercon, Situ Halfan, Situ Cibubur, Empang Bahagia dan Danau Sunter. Mengingat situ dan rawa yang memiliki TDS besar terletak di daerah hilir maka diduga kuat penyebab tingginya TDS adalah limbah rumah tangga dan industri; seandainya tingginya TDS juga karena erosi maka dapat dipastikan bahwa erosi yang terjadi bersifat lokal. Untuk mengatasi hal ini perlu dibuatkan mekanisme pembersihan limbah rumah tangga sedemikian rupa sehingga air yang dialirkan ke sungai dalam keadaan bersih.

Kekeruhan

Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat dalam air. Kekeruhan disebabkan oleh bahan organik dan anorganik baik terlarut maupun tidak terlarut seperti lumpur, pasir halus, jasad renik, dsb. (David & Cornwell 1991). Kekeruhan terkait erat dengan TSS (Effendi, 2000). Kekeruhan yang tinggi dapat mengakibatkan terganggunya sistem osmoregulasi seperti pernafasan dan daya lihat organisme. Tingginya nilai kekeruhan juga menyulitkan usaha penyaringan dan mengurangi efektifitas pada proses penjernihan air. Satuan kekeruhan adalah unit turbiditas setara dengan lmg/LSi02.

Baku mutu kekeruhan yang dipergunakan oleh BPLHD DKI Jakarta adalah 100 mg/L. Dengan demikian kekeruhan perairan situ dan rawa (Tabel 89) yang masih berada dibawah baku mutu adalah Situ Pademangan, Situ Lembang, Rawa Badung, Situ Babakan, Situ Ragunan, Situ Intercon, Situ Halim, Situ Cibubur, Danau Sunter, Waduk Pluit, Waduk PIK Utara, Waduk PIK Selatan dan Situ Ria-rio. Kekeruhan pada perairan yang tergenang lebih banyak disebabkan oleh bahan tersuspensi berupa koloid dan partikel-partikel halus, kemungkinan kekeruhan pada ketiga perairan hilir Jakarta ini disebabkan oleh pencemaran minyak dari industri.

Klorida

Keberadaan pada perairan alami berkisar antara 2 – 20 mg/l. Unsur klor dalam air terdapat dalam bentuk ion klorida. Ion klorida adalah selain satu anion anorganik utama yang ditemukan pada perairan alamai melebihi anion halogen lainnya. Klorida biasanya terdapat dalam bentuk sodium klorida (NaCl), potasium klorida (KCl) dan kalsium Clorida). Ion klorida berperan dalam pengaturan tekanan osmotik sel. Klorida tidakbersifat racun bagi mahluk hidup. Kadar klorida di atas 250 mg/ L menyebabkan air terasa asin. Kadar klorida tinggi bersamaan dengan tingginya kadar kalsium dan magnesium menyebabkan perairan bersifat korosif.

Baku mutu klorida yang dipergunakan oleh BPLHD DKI Jakarta adalah 20 mg/L. Dengan demikian perairan situ dan rawa yang memiliki kandungan klorida di bawah baku mutu (Tabel 89) adalah Situ Lembang, Situ Ragunan, Situ Halim dan Situ Cibubur. Tingginya kandungan klorida di Waduk PIK Utara dan PIK Selatan diduga disebabkan karena kedua waduk tersebut mengandung air laut.

Ion sulfat

Ion sulfat bersifat larut dan merupakan bentuk utama sulfur teroksidasi adalah salah satu anion utama perairan. Sulfat adalah salah satu elemen esensial bagi mahluk hidup. Sulfat banyak digunakan dalam industri tekstil, penyamakan kulit, kertas, metalurgi, dan lain lain. Selain itu sulfat juga dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil. Di perairan, sulfur berikatan dengan ion hidrogen dan oksigen. Beberapa bentuk sulfur di perairan adalah ion sulfida (S2″), gas hidrogen sulfida (H2S), ferro sulfida (FeS), sulfur dioksida (S02), ion suffit (S03), dan ion sulfat (S04). Reduksi anion sulfat membentuk hidrogen sulfida (H2S) yang akan terlepas ke atmosfer dan menimbulkan bau yang kurang sedap. Di dalam air H2S membentuk keseimbangan dengan ion HS” dan ion S’ sesuai dengan kondisi pH. Pada pH 9 sebagian besar sulfur terdapat dalam bentuk ion HS”; sedangkan pada pH 5 sebagian besar sulfur terdapat dalam bentuk H2S. H2S bersifat mudah larut, toksik dan menimbulkan bau seperti telur busuk. Kadar sulfat melebihi 500 mg/L dapat mengakibatkan gangguan pada sistem pencernaan manusia. Kadar sulfida kurang dari 0,002 ml/L dianggap tidak membahayakan kelangsungan hidup organisme akuatik (McNeely dkk 1979).

Baku mutu sulfat yang dipergunakan oleh BPLHD DKI Jakarta adalah 50 mg/L. Dengan demikian kandungan sulfat perairan situ dan rawa (Tabel 89) yang masih berada di bawah ambang batas baku mutu adalah Situ Pademangan, Situ Lembang, Rawa Badung, Situ Babakan, Situ Ragunan, Situ Intercon, Situ Halim, Situ Cibubur, Empang Bahagia, Danau Sunter, Waduk Pluit. Sedangkan situ dan rawa yang memiliki kandungan sulfat melewati baku mutu adalah Situ Pendongkelan, Waduk Melati, Waduk PIK Utara, Waduk PIK Selatan, dan Situ Ria-rio. Sedangkan perairan situ dan rawa yang mengandung sulfida di bawah baku mutu 0,002 mg/L hanya Situ Pademangan.

Fosfor

Di perairan tidak ditemukan unsur fosfor dalam bentuk bebas sebagai elemen tetapi umumnya dalam bentuk anorganik yang terlarut (ortofosfat dan polifosfat) dan fosfor organik partikulat. Fosfor yang membentuk kompleks dengan ion besi dan kalsium pada kondisi aerobik bersifat tidak larut dan mengendap pada sedimen sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh alga akuatik (Jeffries & Mills 1996).

Baku mutu fosfat yang dipergunakan oleh BPLHD DKI Jakarta adalah 0,50 mg/ L. Dengan demikian kandungan fosfat perairan situ dan rawa (Tabel 89) yang masih berada dibawah baku mutu adalah Situ Pademangan, Situ Lembang, Situ Babakan, Situ Ragunan, Situ Intercon, Situ Halim, Situ Cibubur dan Danau Sunter. Situ lainnya melewati kadar fosfat yang melewati ambang yang diijinkan. Ini berarti situ dan rawa tersebut rawan untuk mengalami gejala eutrofikasi yang berupa ledakan populasi gulma.

Bila diperhatikan perairan yang tercemar berada di daerah hilir dimana usaha pertanian dapat dikatakan tidak ada maka salah satu sumber pencemaran fosfat diduga berasal dari penggunaan deterjen dan sebangsanya. Untuk mengatasi hal ini, penampungan limbah cair rumah tangga berupa kolam perlu dilakukan, kemudian dilakukan pengambilan fosfat dengan tetumbuhan air tertentu. Populasi tumbuhan air tersebut harus dikendalikan, sedangkan endapan yang terbentuk juga harus dikelola. Pengendalian penggunaan deterjen berfosfat nampak sudah saatnya dilakukan seperti halnya di negara-negara maju seperti Jepang dan Eropa.

Amonia

Amonia (NH3) dan garam-garamnya bersifat mudah larut dalam air. Amonia yang terdapat pada mineral masuk ke badan air melalui erosi tanah. Sumber amonia di perairan adalah hasil pemecahan nitrogen organik (protein dan urea) dan nitrogen anorganik yang terdapat dalam tanah dan air. Amonia dapat berasal dari dekomposisi biota akuatik yang telah mati yang dilakukan oleh mikroba dan jamur. Proses ini dikenal dengan istilah amonifikasi. Tinja dan biota akuatik yang merupakan limbah aktivitas metabolisme juga banyak mengeluarkan amonia. Sumber lain amonia di perairan adalah reduksi gas nitrogen yang berasal dari proses difusi udara atmosfer, limbah industri dan domestik.

Gas NH3 yang masuk ke dalam air akan segera berikatan dengan air membentuk senyawa ammonium hidroksida (NH4OH) yang dapat terionisasi menjadi ion ammonium (NH4+) dan ion hidroksil (OH”). Amonium hidroksida yang tidak terionisasi bersifat toksik terhadap organisme akuatik. Amonia bebas NH3 tidak dapat diukur secara langsung. Amonia yang terukur di perairan berupa amonia total (NH3 dan NH4). Hubungan antara kadar amonia total dengan amonia bebas tergantung pada pH serta suhunya. Amonia bersifat toksik bagi organisme akuatik. Avertebrata air lebih toleran daripada ikan terhadap toksisitas amonia. Ikan tidak dapat mentolerir amonium bebas dengan kadar yang terlalu tinggi karena dapat mengganggu proses pengikatan oksigen oleh darah dan pada akhirnya dapat mengakibatkan kesulitan bernafas seolah tercekik dan akhirnya mati {sufokasi).

Baku mutu amonia yang dipergunakan oleh BPLHD DKI Jakarta adalah 2 mg/L. Dengan demikian kandungan amonia perairan situ dan rawa (Tabel 89) yang masih berada dibawah baku mutu adalah Situ Pademangan, Situ Lembang, Situ Babakan, Situ Intercon, Situ Halim, Situ Cibubur, Danau Sunter, Waduk PIK Utara. Sedangkan situ dan rawa yang lain memiliki kandungan amonia melewati baku mutu. Jika memakai baku mutu yang disepakati oleh Masyarakat Eropa (kandungan amonia 0,04-1,0 mg/L) maka perairan yang memenuhi syarat peruntukan kehidupan organisme akuatik hanya Situ Pademangan, Situ Intercon, Situ Cibubur, danau Sunter, serta Waduk PIK Utara.

Untuk menghindari terjadinya penumpukan amonia di suatu situ dan rawa maka perlu dihindari pemasukan sampah ke dalam perairan. Selain itu pengambilan sampah yang sudah terlanjur masuk ke dalam suatu perairan perlu dilakukan secara terus menerus. Beberapa ahli berpendapat bahwa untuk mengurangi kesuburan suatu perairan dapat dilakukan dengan pengambilan secara teratur tumbuhan air yang tumbuh di dalamnya, dengan demikian secara bertahap unsur N serta P yang telah menjadi jaringan tumbuhan diangkat dari perairan. Bersama sampah yang masih terdapat di dalam perairan, tumbuhan tersebut kemudian dapat dibuat kompos. Petunjuk pembuatan kompos telah dibuat oleh Kelompok Pengembangan Potensi Mikroba Bidang Mikrobiologi, Puslit Biologi-LIPI.

Oksigen terlarut

Oksigen terlarut (Dissolved oxygen = DO) merupakan kebutuhan dasar oksigen untuk kehidupan tumbuhan dan binatang di dalam air. Oksigen terlarut dalam suatu perairan berfluktuasi tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi, tekanan atmosfer, dan jumlah serta jenis tumbuhan air. Kadar oksigen terlarut semakin berkurang dengan semakin meningkatnya suhu, ketinggian, dan berkurangnya tekanan atmosfer (Jeffries & Mills 1996). Kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi sejalan dengan terjadinya perubahan siang dengan malam serta kedudukan matahari. Dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan anorganik dapat mengurangi kadar oksigen terlarut sampai mencapai angka nol. Perairan yang diperuntukkan bagi kepentingan perikanan sebaiknya memiliki kadar oksigen tidak kurang dari 5 mg/L. Kadar oksigen terlarut kurang dari 4 mg/ L kurang baik bagi semua organisme perairan; kadar oksigen kurang dari 2 mg/L dapat mengakibatkan kematian ikan (UNESCO/WHO/UNEP 1992). Semakin rendah kadar oksigen terlarut menyebabkan daya racun seng, tembaga, timbal, dsb meningkat namun kadar oksigen terlarut yang tinggi meningkatkan korosivitas.

Baku mutu DO yang dipergunakan oleh BPLHD DKI Jakarta adalah 3 mg/ L. Bila oksigen terlarut untuk perairan situ dan rawa seperti yang tersaji dalam Tabel 89 dapat dikatakan bahwa hampir semua perairan tersebut mempunyai kandungan oksigen yang baik untuk kehidupan perairan kecuali Waduk Pluit dan Waduk Melati. Disisi lain ke empatbelas perairan yang memiliki DO tinggi ini memiliki daya korosivitas yang cukup tinggi sehingga dapat membahayakan/ merusak bagian bangunan maupun peralatan yang terbuat dari logam. Air dari perairan ini juga menjadi tidak sesuai jika dimanfaatkan sebagai pendingin mesin. Dilain pihak, Waduk Melati dan Waduk Pluit yang keduanya memiliki DO kurang dari 2 mg/L dapat dipastikan keduanya menjadi tidak sesuai untuk mendukung kehidupan ikan.

Kebutuhan oksigen biologi

Biological Oxygen Demand (BOD) menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh mikroba aerob untuk mengoksidasi bahan organik menjadi karbondioksida dan air (Davis & Cornwell 1991). Dengan kata lain BOD menunjukkan jumlah oksigen yang dikonsumsi oleh proses respirasi mikroba aerob.

Baku mutu BOD yang dipergunakan oleh BPLHD DKI Jakarta adalah 20 mg/L. Dengan demikian BOD perairan situ dan rawa yang masih memenuhi baku mutu adalah Situ Ragunan dan Waduk Sunter. Sedangkan situ dan rawa yang lain menunjukkan nilai BOD yang menunjukkan keadaan yang tercemar. Jika memakai baku mutu yang disepakati oleh Masyarakat Eropa (BOD 3 – 6 mg/ L) maka tidak satupun perairan situ dan rawa di DKI yang memenuhi syarat untuk kehidupan organisme akuatik.

Deterjen

Deterjen dalam arti luas adalah bahan yang digunakan sebagai pembersih. Deterjen mengandung bahan aktif surfaktan atau surface active agents. Selain sebagai bahan aktif deterjen, surfaktan juga dipakai sebagai bahan aktif sabun, shampoo, pelumas, emulsi, maupun flokulan. Surfaktan berfungsi menurunkan tekanan permukaan untuk melepaskan partikel-partikel yang dicuci. Surfaktan dapat dirombak oleh bakteri perombak. Hal yang mengganggu adalah banyaknya busa yang ditimbulkan sehingga sangat menurunkan masuknya cahaya ke dalam perairan. Haslam (1995) menambahkan bahwa surfaktan mengganggu transfer gas. Surfaktan berintegrasi dengan sel dan membran sel sehingga menghambat pertumbuhan sel. Selain mengandung surfaktan, deterjen juga mengandung polifosfat yang diperkirakan memberi kontribusi sekitar 50% fosfat di perairan. Keberadaan sulfat berlebih menstimulir terjadinya eutrofikasi (pengayaan) perairan.

Baku mutu kandungan deterjen yang dipergunakan oleh BPLHD DKI Jakarta adalah 0,50 mg/L. Dengan demikian (Tabel 89) dapat diketahui bahwa situ dan rawa yang memiliki mutu perairan yang masih baik hanyalah Situ Pademangan, Situ Babakan, Situ Ragunan. Perairan lainnya menunjukkan konsentrasi deterjen melampaui baku mutu yang ditetapkan.

Bila diperhatikan, lokasi situ dan rawa yang tercemar tersebut tersebar dari hulu sampai hilir, mulai kawasan pemukiman sampai kawasan industri. Hal ini menunjukkan bahwa pencemaran yang disebabkan oleh deterjen terjadi akibat kegiatan masyarakat maupun industri. Untuk mengatasi hal ini perlu ditimbulkan kesadaran kepada masyarakat untuk membatasi penggunaan deterjen serta industri untuk mengolah limbahnya sesuai dengan peraturan yang telah ada. Deterjen seringkah dibuat dari senyawa-senyawa yang mengandung fosfat yang bila terdapat dalam konsentrasi berlebihan berpotensi untuk menimbulkan eutrofikasi kultural. Pemerintah juga dapat mengeluarkan peraturan yang melarang penggunaan deterjen yang berfosfat.

Kebutuhan oksigen kimiawi

Kebutuhan Oksigen Kimiawi (Chemical Oxigen Demand = COD) menggambarkan jumlah total oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi secara kimiawi bahan organik, baik yang bisa didegradasi secara biologis (biodegradable) maupun yang sukar didegradasi secara biologis (non biodegradable), menjadi C02 dan H20. Pada prosedur penentuan COD, oksigen yang dikonsumsi setara dengan jumlah dikromatyang diperlukan dalam mengoksidari air contoh (Boyd 1988).

Baku mutu kandungan COD yang dipergunakan oleh BPLHD DKI Jakarta adalah 30 mg/L. Dengan demikian dariTabel 89 dapat diketahui bahwa situ dan rawa yang memiliki mutu perairan baik hanyalah Situ Ragunan.

Senyawa fenol

Senyawa fenol dihasilkan pada proses pemurnian minyak, industri kimia, tekstil, plastik, dan lain-lain. Kadar alami senyawa fenol sangat kecil, hanya beberapa mg/L. Keberadaan fenol di perairan mengakibatkan berubahnya sifat organoleptik air sehingga kadar yang diperkenankan pada air minum adalah 0,001 mg/L. Fenol bersifat toksik pada ikan pada kadar melebihi 0,01 mg/L. (UNESCO/WHO/ UNEP1992).

Baku mutu kandungan fenol yang dipergunakan oleh BPLHD DKI Jakarta adalah 0,002 mg/L. Dengan demikian dari Tabel 89 dapat diketahui bahwa situ dan rawa yang memiliki konsentrasi fenol yang relatif aman adalah Danau Sunter, Waduk Pluit, Waduk PIK Utara. Sedangkan situ dan rawa yang memiliki fenol melewati baku.

Minyak lemak

Diperkirakan terdapat sekitar 800 jenis senyawa minyak mineral yang terdiri dari hidrokarbon alif atik, aromatik, resin, dan aspal. Minyak tersebar di perairan dalam bentuk terlarut, lapisan film yang tipis di permukaan emulsi, dan fraksi terserap. Interaksi dari bentuk minyak ini di perairansangatkompleks dan dipengaruhi oleh wlai specific gravity, titik didih, tekanan permukaan, viskositas, kelarutan, dan penyerapan. Oleh karena sifat minyak yang terapung di perairan tawar maka pencemaran minyak akan mengurangi penetrasi cahaya ke dalam air. Fardiaz (1992) menyebutkan bahwa pada kedalaman 2 meter intensitas cahaya pada perairan tercemar minyak turun sebanyak 90 %. Selain itu,, lapisan minyak juga menghambat masuknya oksigen ke dalam perairan. Kadar minyak mineral dan produk-produk petroleum yang diperkenankan pada air minum berkisar antara 0,01 – 0,1 mg/L. Kadar yang melebihi 0,3 mg/L bersifat toksik terhadap beberapa jenis ikan air tawar (UNESCO/WHO/UNEP 1992).

Baku mutu kandungan minyak yang dipergunakan oleh BPLHD DKI Jakarta adalah 1,00 mg/L. Ditinjau dari parameter ini dapat diketahui bahwa situ dan rawa yang tidak tercemar hanyalah Situ Pademangan, Situ Lembang, Rawa Badung, Waduk Melati, Situ Babakan, Situ Ragunan, Situ Intercon, Situ Cibubur, danau Sunter, Waduk PIK Utara. Sedangkan situ dan rawa yang lain memiliki kadar fenol melewati baku mutu.

Bakteri indikator pencemaran

Air dapat merupakan medium pembawa mikroorganisme patogen yang berbahaya bagi kesehatan (Fardiaz 1992). Untuk mencegah penyebaran penyakit melalui air maka perlu dilakukan kontrol terhadap polusi air. Bakteri indikator pencemaran adalah bakteri yang dapat digunakan sebagai petunjuk adanya pencemaran kotoran manusia ataupun hewan. Manusia ataupun hewan yang meminum air yang tercemar mikroorganisme patogen dapat tertulari penyakit bersangkutan. Escherichia coli adalah salah satu bakteri yang tergolong kolif orm dan hidup secara normal pada kotoran manusia maupun hewan sehingga disebut sebagai bakteri Koli fecal. Adanya bakteri Koli fecal menunjukkan bahwa perairan tersebut mengandung kotoran manusia dan/ atau hewan.

Baku mutu kandungan coliform yang dipergunakan oleh BPLHD DKI Jakarta adalah 4 X103 individu/lOOmL. Dengan demikian  (Tabel 89) dapat diketahui bahwa situ dan rawa yang memiliki mutu  perairan baik adalah Situ Pademangan, Situ Lembang, Situ Pedongkelan,  Waduk Melati, Situ Babakan, Situ Ragunan, Situ Intercon, Situ Halim,  Situ Cibubur, Empang Bahagia, Danau Sunter, Waduk Pluit, Waduk PIK Utara, Waduk PIK Selatan, Situ Ria-rio. Sedangkan situ dan rawa yang memiliki koliform melewati baku mutu adalah Rawa Badung.

Baku mutu kandungan fecal coli yang dipergunakan oleh  BPLHD DKI Jakarta adalah 2 X104 individu /lOOml. Dengan demikian  (Tabel 89) dapat diketahui bahwa situ dan rawa yang memiliki mutu  perairan baik adalah Situ Pedongkelan, Rawa Badung, Waduk Melati,  Situ Ragunan, Situ Ria-rio. Sedangkan situ dan rawa yang memiliki  Koli fekal melewati baku mutu adalah Situ Pademangan, Situ Lembang,  Situ Babakan, Situ Intercon, Situ Halim, Situ Cibubur, Empang Bahagia, Danau Sunter, Waduk Pluit, Waduk PIK Utara, Waduk PIK Selatan.

Tingginya nilai parameter mikrobiologi menunjukkan bahwa  hampir seluruh situ dan rawa di daerah DKI Jakarta merupakan  penampung kotoran manusia. Oleh karena itu masuknya air tercemar  koli kedalam akuifer air tanah dan pemanfaatan air tanah secara besar-  besaran, memberi peluang tersebarnya berbagai macam penyakit  pencernaan. Untuk mengurangi atau meniadakan masuknya kotoran  hewan kealiran air, sebaiknya pemeliharaan hewan harus dengan pola  dikandangkan. Untuk menghindari tersebarnya kotoran manusia,  pembuatan kakus umum dan mengumpulkan di tangki septik yang dilengkapi dengan rembesan perlu disosialisasikan.

Pada saat ini sering dilakukan pengklasifikasian pencemaran  dengan standar yang disusun oleh Rump & Krist pada tahun 1992.  Parameter, yang dipergunakan meliputi kandungan TDS, TSS, BOD,  COD, Nitrogen, Klorida, alkalinitas, minyak dan lemak. Berdasarkan  jumlah kandungan diatas nilai tertentu dari masing-masing parameter  tersebut suatu perairan dikelompokkan kedalam tiga tingkat  pencemarannya, yaitu ringan, sedang, dan berat (Tabel 90). Dengan  menyatukan kandungan parameter tersebut dari masing-masing  perairan di DKI Jakarta maka diketahui bahwa seluruh situ dan rawa  telah mengalami pencemaran (Tabel 90). Pencemar utama disebabkan  oleh TSS dan menimpa seluruh situ dan rawa di DKI Jakarta, diikuti  Klorida pada Rawa Pedongkelan, Waduk Pluit, Waduk PIK Utara dan Waduk PIK Selatan. Mengingat letaknya di tepi pantai, kemungkinan besar tingginya kandungan klorida pada keempat perairan tersebut karena intrusi air laut. Pencemar ketiga disebabkab oleh TDS pada Waduk PIK Utara dan Waduk PIK Selatan. Ditinjau dari perairannya pencemaran yang relatif paling berat adalah Waduk PIK Selatan, diikuti Waduk PIK Utara, Rawa Pedongkelan, dan Waduk Pluit.

Sedangkan khusus dari persyaratan hidup ikan yang terdiri atas  parameter DHL, TSS, Sulfat, DO, BOD, COD, Minyak dan lemak (Tabel  91) maka dapat dilihat bahwa tidak ada satupun dari 16 situ dan rawa  di DKI Jakarta yang masih dapat mendukung kehidupan ikan dalam arti luas.

Langkah Pemecahan Masalah

Dari data tersebut diatas diketahui bahwa seluruh situ dan rawa  di DKI Jakarta telah mengalami pencemaran ringan sampai berat, dan  diikuti dengan proses pendangkalan. Pada saat ini hampir 60% situ  dan rawa di DKI Jakarta telah menjadi daratan sedangkan sebagian besar  dari yang tersisa tengah mengalami pelumpuran. Keadaan tersebut  sangat mengurangi kemampuan situ dan rawa dalam menyediakan air  tanah di DKI Jakarta secara mandiri. Salah satu cara untuk mengurangi  ketergantungan penyediaan air tanah di DKI Jakarta pada daerah lain  adalah mempertahankan kemampuan situ dan rawa sebagai pengimbuh  air tanah. Supaya situ dan rawa dapat memberi imbuhan air tanah secara  optimal maka lumpur yang berada di dasar perairan harus dihilangkan,  atau dikurangi dengan cara mengangkat. Dilain pihak, untuk  mempertahankan kemurnian air tanah maka air imbuhan harus berupa  air bersih dan tidak mengandung bahan pencemar. Untuk membantu  memperkecil jumlah limbah yang masuk ke perairan terbawa air run off  dapat dikembangkan vegetasi riparian danau. Oleh karena itu air yang  berada di dalam situ dan rawa maupun air yang masuk ke dalam situ  dan rawa harus berupa air yang bersih. Dari adanya berbagai bahan  pencemar didalam perairan situ dan rawa di DKI Jakarta, diketahui bahwa penyebab pencemaran adalah rumah tangga dan industri. Cara memecahkan masalah pencemaran situ dan rawa  sebenarnya telah diketahui, baik oleh masyarakat umum, para  industriawan, maupun para pengelola lingkungan yaitu dengan tidak  membuang sampah ke dalam perairan. Namun demikian, perilaku  masyarakat yang sering mengambil jalan pintas membuang sampah  sembarangan menambah proses pencemaran perairan berjalan terus.  Sebagai contoh, tidak adanya sistem ataupun sarana pengangkutan  sampah dari daerah padat penduduk ke tempat pembuangan sampah  akhir banyak anggota masyarakat mengambil jalan pintas membuang  sampah ke selokan atau sungai di depan rumahnya. Pada saat hujan  sampah tersebut akan hanyut, antara lain masuk ke situ dan rawa. Padahal sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kompos.  Walaupun sudah diketahui bahwa sampah organik dapat dimanfaatkan  untuk kompos tetapi pemisahan sampah organik dengan bahan yang  sulit didekomposisi tidak dijalankan. Sehingga daur ulangan sampah  menjadi kompos tidak mungkin dilakukan. Padahal, kompos salah  satunya diperlukan untuk menyuburkan hutan kota, akibatnya sampai saat ini hutan kota yang baik di DKI Jakarta menjadi sulit untuk dicapai.  Pembuatan kompos cara mutahir telah dipublikasikan oleh Puslit  Biologi-LIPI dan petunjuk percobaannya telah disajikan secara sederhana  sehingga sangat mudah untuk dipahami; perbedaannya hanya pada bahan dasar kompos yang berupa sampah pemukiman.

Permasalahan lain dari kawasan pemukiman miskin padat  penduduk adalah terbatasnya fasilitas untuk mandi, cuci dan kakus  (MCK). Oleh karena itu sebagian besar masyarakat melakukan  kegiatannya yang terkait dengan MCK disungai. Dampak yang terlihat  adalah tingginya kandungan bakteri Koli fekal di perairan situ dan rawa  yang berada di DKI Jakarta. Pembuatan MCK umum yang dapat  dipergunakan oleh 200 orang telah dirancang oleh Puslitbang  Pemukiman Kimpraswil tahun 2001. Rancangan tersebut kemudian  disusul dengan rancangan pembuatan tangki septik dengan sistem  resapan. Jika diinginkan, kotoran juga dapat dibuat gas bio. Deterjen  bekas cucian dapat ditampung sementara pada suatu bak, kemudian diperlakukan dengan berbagai mikroba sebagaimana dijelaskan oleh  Agustiani pada buku ini. Air yang telah bersih dapat dialirkan ke tangki  septik dan kemudian disalurkan ke resapan. Pusat Penelitian Biologi- LIPI telah menyiapkan mikroba untuk mengendalikan pencemaran oleh logam sebagaimana dikemukakan oleh Immanuddin pada buku ini.

Pencemaran dari kegiatan industri umumnya sangat spesifik  sesuai dengan jenis industrinya. Oleh karena itulah industri diwajibkan  untuk memproses air buangannya sehingga terbebaskan dari bahan  pencemar. Dengan limbah yang masih terkumpul dan diketahui  susunannya secara tepat dapat dipastikan bahwa proses pembersihannya  jauh lebih tepat, mudah dan murah. Permasalahan klasik adalah  lemahnya pengawasan terhadap pembuangan limbah industri. Di DKI  Jakarta telah ada perusahaan yang khusus menangani air limbah industri  kecil, sedangkan di negara maju setiap kawasan industri terdapat fasilitas   pembersih air buangan (Kenny 1979). Kesulitan yang dihadapi DKI  Jakarta adalah banyaknya industri yang masih berada di luar kawasan yang telah ditentukan.

Sambil membudayakan kebersihan lingkungan dan sungai,  membangun sarana dan prasarana pembuangan sampah dan MCK,  Pemerintah Daerah DKI Jakarta dapat melakukan inventarisasi situ dan  rawa yang ada di daerahnya dengan memanfaatkan peta yang benar.  Sosialisasi bahwa status hukum situ dan rawa berada dibawah  kekuasaan negara merupakan prioritas utama. Pengukuhan batas,  sempadan serta peta setiap situ dan rawa perlu segera dibuat dan  diumumkan oleh Badan Pertanahan Nasional. Situ dan rawa perlu  dilindungi dari desakan pemukiman antara lain dengan membuat jalan  melingkar beberapa meter dari tepi situ dan rawa sesuai dengan keadaan  situ dan rawa masing-masing. Untuk mempertahankan kelestarian situ  dan rawa, selain diperlukan pengelola yang baik, perlindungan terhadap  dimensi konektivitas perairan di DKI Jakarta juga harus dilakukan.  Perlindungan tersebut dapat dilakukan dengan kegiatan memelihara tali tali air (sungai, selokan, saluran irigasi, alur) penghubung perairan  situ dan rawa. Data fisik lainnya yang perlu dilengkapi adalah data batimetri. Peta kedalaman (bathymétrie map) situ dan rawa sangat  diperlukan untuk memantau penambahan endapan yang terjadi, menentukan volume air serta waktu situ dan rawa harus dikeruk.

Jika pencemaran air imbuhan situ dan rawa, yang disebabkan  oleh aktivitas masyarakat maupun industri mampu dikendalikan maka  situ dan rawa sudah dapat dibersihkan lumpurnya. Pengerukan akan  lebih mudah dilakukan pada akhir musim kemarau, sebelum musim  hujan datang. Untuk memperlambat proses pendangkalan maka alur  air imbuhan harus dibersihkan juga. Sedangkan alur air buangan jika  memungkinkan, sebaiknya juga dilakukan pengerukan. Diperkirakan  air imbuhan yang masuk kedalam situ dan rawa pada awal musim hujan  akan bersifat sebagai pencuci sisa bahan pencemar baik pada saluran  air maupun situ dan rawa itu sendiri, oleh karena itu akan sangat baik kalau pada awal musim hujan dilakukan pengurasan situ dan rawa, mungkin dengan bantuan pompa. Mengiringi dibersihkannya air dan  endapan lumpur di dasar perairan maka populasi berbagai jenis  plankton, bentos, cacing, serta biota air lainnya akan ikut berkurang atau  bahkan habis. Oleh karena itu setelah pembersihan situ dan rawa harus  diikuti dengan re-introduksi atau pemasukkan baru. Re-introduksi tidak  terbatas pada jenis yang ada pada saat perairan masih tercemar tetapi  perlu ditambah dengan jenis-jenis biota air yang hidup di perairan tidak  tercemar sebagaimana dikemukakan oleh Pratiwi pada buku ini. Untuk  mengurangi penyebaran endapan lumpur, di bagian depan situ dan rawa  dapat dibuat kolam pengendapan yang dilengkapi dengan sitem lahan  basah terkonstruksi (constructed wet land) dengan ukuran yang sesuai dengan debit air yang masuk.

Potensi sungai-selokan juga berperan dalam penambahan air  tanah di DKI. Tetapi permasalahan yang dihadapi sungai-selokan-parit  juga mengalami sedimentasi dan pencemaran air. Sebagian besar  langkah pembersihannya dilakukan dengan menghilangkan  penambahan bahan sedimentasi serta bahan tercemar dari rumah tangga  dan industri. Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan lingkungan serta semakin menumpuknya bahan pencemar di perairan  sungai yang juga dapat masuk ke akuifer air tanah maka mau-tidak- mau Pemerintah DKI Jakarta harus juga membersihkan sungai. Berbeda  dengan penggelontoran Kali Mas di Surabaya, dimana airnya dibuang  ke selat Madura yang berarus kuat sehingga pencemaran cepat menjadi encer; air sungai di DKI Jakarta akan terbuang ke teluk Jakarta dengan  arus lemah dan relatif berputar-putar sehingga kekentalan pencemar  akan bertahan dalam waktu lama. Untuk menangkap berbagai endapan  dalam air, peran hutan bakau sangat penting. Oleh karena itu pantai  Teluk Jakarta sebaiknya segera di hutan bakaukan kembali. Dari  pengalaman menghutankan dengan bakau di pantai Sanur hanya perlu waktu sekitar 5 tahun.

Tabel 89. Kesesuaian perairan situ dan rawa di DKI Jakarta untuk Perikanan (Agustus 2000) (Bapedalda DKI)

Daftar Pustaka Noerdjito, M., I. Maryanto, R. Ubaidillah, E. B. Prasetyo, 2003. Usulan  penyempurnaan pola Pengembangan wilayah jabodetabek  Dalam Manajemen Bioregional Jabodetabek: Tantangan dan  HflrapimUbaidillah, R., I. Maryanto, M. Amir, M. Noerdjito, E.  B. Prasetyo, R. Polosakan (ed.). Pusat Penelitian Biologi-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Hal 29 – 56.

Olem, H. & G. Flock, eds., 1990. Lake and restoration guidance manual. 2  eds. EPA 440/4-90-006. N. Am. Lake Manage. Soc. For U.S. Environ. Prot. Agency. Washinhton DC. (x + 326) hal.

Roemantyo, I. Maryanto, R. Ubaidillah, M. Amir, M. Noerdjito, W.  Widiono, 2003a. Pola perubahan pemanfaatan lahan DAS  Cisadane Hulu. Dalam Manajemen Bioregional Jabodetabek:  Tantangan dan Harapan. Pusat Penelitian Biologi-Lembaga Ilmu  Pengetahuan Indonesia Ubaidillah, R., I. Maryanto, M. Amir, M. Noerdjito, E. B. Prasetyo, R. Polosakan (ed.). Hal 69 – 80.

Rump, H.H. & H, Krist 1992. Laboratory manual for the examination of  water, waste water, and soil. led. VCH Verslagsgesellschaft mbH. Weinheim. Germany. 190 hal.

Suryadiputra, I. N. N., 2003. Penelitian situ-situ di Jabotabek. Dalam  Manajemen Bioregional Jabodetabek: Tantangan dan  Harapan.Ubaidillah, R., L Maryanto, M. Amir, M. Noerdjito, E.  B. Prasetyo, R. Polosakan (ed.) Pusat Penelitian Biologi-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Hal 205 – 228.

UNESCO/WHO/UNEP, 1992. Water quality assessments. Edited by Chapman, D. Chapman & Hall Ltd. London. 585 hal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: