Roemantyo, dkk.

PERUBAHAN JUMLAH SITU  JABODETABEK TAHUN 1922 – 1943 dan 2000.

Oleh: Roemantyo,  M. Noerdjito, Diah Prabandani, Ibnu Maryanto

Sumber: http://docs.google.com/katalog.pdii.lipi.go.id/

Pendahuluan

Situ dan waduk, danau dan rawa dapat dikategorikan sebagai  salah satu jenis lahan basah, mempunyai sistem perairan yang tergenang  dan berair tawar. Situ dapat terbentuk secara buatan yaitu berasal dari  dibendungnya suatu cekungan {basin) dan dapat pula terbentuk secara  alami yaitu karena kondisi topografi yang memungkinkan  terperangkapnya sejumlah air. Sumber air lahan tersebut dapat berasal  dari mata air yang terdapat di dalamnya, dari masuknya air sungai dan  atau limpasan air permukaan/hujan [surface run-off). Keberadaan air di  dalam lahan tergenang dapat bersifat permanen atau sementara  (Suryadiputra 2003). Selanjutnya Suryadiputra (2003) mengemukakan  bahwa rawa merupakan salah saru jenis lahan basah, memiliki sistem  perairan tergenang, dangkal, bertepian landai dan penuh tumbuhan air.  Dikenal dua tipe perairan tawar yaitu rawa darat dan rawa pasang surut.  Fluktuasi tinggi permukaan air rawa darat bersifat tengah tahunan, yaitu  untuk musim hujan dan musim kemarau, sedangkan fluktuasi tinggi  permukaan air rawa pasang surut bersifat harian sesuai dengan pasang surutnya air laut.

Secara umum dapat diketahui bahwa situ dan rawa memiliki  fungsi sangat penting, diantarany a sebagai pemasok air ke dalam akuifer  yang digunakan sebagai daerah resapan air tanah/recharging zone,  peredam banjir, pencegah intrusi air laut, membantu memperbaiki mutu  air permukaan melalui proses kimia-fisik-biologis yang berlangsung di  dalamnya, irigasi, rekreasi, tandon air/reservoir, mengatur iklim mikro,  perikanan, pendukung keanekaragaman hayati perairan, dsb.  (Suryadiputra 2003). Sehubungan dengan perubahan pemanfaatan  bentang alam di Jabodetabek maka perlu dipertanyakan apakah situ,  danau dan rawa yang berada di Jabodetabek masih dapat memenuhi  fungsinya sebagaimana dikemukakan oleh Suryadiputra (2003) tersebut  perlu dilakukan penilaian umum dari berbagai situ  dan rawa yang berada di Jabodetabek. Penilaian meliputi jumlah, luas  serta mutu situ dan rawa yang berada di Jabodetabek. Jika terjadi  perubahan luas situ rawa, maka perlu dicarikan pemecahannya sehingga daur air sebagai penunjang utama kehidupan manusia dapat dijaga.

Mengingat pentingnya peranan situ tersebut dalam mendukung  proses ekologis dan kehidupan di sekitarnya, maka dilakukan suatu  kajian mengenai perubahan jumlah situ /rawa yang terdapat di kawasan Jabodetabek

Metoda pengumpulan dan analisa data

Untuk mendapatkan gambaran umum kondisi situ dan rawa  lama digunakan peta rupa bumi tahun 1922-1943, skala 1:50.000 yang  berasal dari “Dutch map”. Sedangkan untuk mendapatkan gambaran  kondisi situ dan rawa saat ini digunakan citra satelit tahun 2000 untuk  kawasan Jabodetabek yang kemudian diolah sehingga di peroleh peta  dengan skala 1 : 25.000. Untuk memperoleh informasi lain terutama  mengenai posisi administratif dari masing-masing situ/ rawa digunakan  peta dasar batas administratif daerah Jabodetabek (Bakosurtanal, 1999).  Untuk proses analisis peta digunakan beberapa software ArcView untuk  spasial analisis dan Erdas Imagine untuk digunakan sebagai alat identifikasi situ/rawa.

Situ dan rawa yang terdapat pada peta dasar Dutch map (1922-  1943) dicatat posisi geografinya berdasarkan referensi koordinat yang  terdapat pada peta. Selain itu dicatat namanya bila ada dan dihitung  luasnya dengan menggunakan alat pungukur luas “planimeter”. Hasil  pencatatan posisi koordinat ditabulasikan dengan format derajat desimal,  agar mudah dibaca dengan software ArcView.

Berdasarkan citra tahun 2000 diidentifikasi posisi situ dan rawa  maupun kawasan-kawasan lahan basah lain, dan kemudian dipetakan  pada peta dasar batas administratif (Bakosurtanal 1999) sehingga mudah  diidentifikasi posisinya dan luasnya. Identifikasi citra dengan  menggunakan Erdas Imagine, untuk mendapatkan gambaran umum  pemanfaatan lahan di sekitar kawasan situ dan rawa maupun kawasan  lahan basah lain. Kawasan yang telah diidentifkasi kemudian dibuat  petanya sebagai bahan untuk analisis secara spasial, yaitu dengan cara  membandingkan peta lama (1922-1943) dengan peta baru hasil olahan  dari citra.

Perubahan Jumlah & Luas Situ Rawa Di Jabodetabek

1. Posisi dan jumlah situ berdasarkan peta lama (1922 -1943)

Dari 26 lembar peta dasar Dutch map yang telah di over-lay  dengan peta dasar administratif Jabodetabek 1999 diketahui bahwa, di  seluruh kawasan Jabodetabek dapat diidentifikasi sebanyak 317 situ- rawa (Tabel 14. Gambar 17).

Gambar 17. Posisi Situ dan Rawa berdasarkan data Dutch map, 1922 -1943 (Dot bulat merupakan posisi situ dan rawa)

Dari Tabel 14 tampak bahwa menurut peta lama Dutch map  (1922-1943) di daerah Jakarta terdapat situ sebanyak 6 buah dengan  perkiraan total luas 0,325 km2 dan 76 buah rawa dengan perkiraan luas   25,63 km2. Didaerah Jakarta Barat situ dan rawanya tersebar di 5  Kecamatan yaitu Cengkareng,, Grogol Petamburan, Kebon Jeruk,  Kembangan dan Taman Sari kesemuanya teridentifikasi sebagai rawa- rawa yang luasnya diperkirakan.mencapai 0,52 km2. Daerah Jakarta  Utara terdapat 47 situ dan rawa seluas 22,8 km2 yang sebagian besar  terdapat di kecamatan Cilincing 17 situ dan rawa, Pademarigan 14 situ/  rawa, Tanjung Priok 10 situdan rawa. Penjaringan 5 buah dan Kelapa  Gading 1 buah. Di Jakarta Pusat terdapat 3 situ seluas 0,15 km2 yang  tersebar di kecamatan Sawah Besar (2 buah) dan Kecamatan Senen (1  buah). Di Jakarta Timur terdapat di 7 kawasan dengan perkiraan total  luas 2335 km2 yaitu Cakung (6 buah), Makasar (4), Cipayung dan Ciracas  (masing-masing 3 buah), Matraman (2 buah), Jatinegara dan Kramat Jati  masing-masing 1 buah. Sedangkan di Jakarta Selatan terletak di 3  kecamatan dengan luas 0,13 km2 yaitu Jagakarsa (2 buah), Pancoran dan Tebet masing-masing 1 buah (lihat Tabel 15).

Di Daerah Tangerang yang meliputi kota dan kabupaten  Tangerang tercatat ada 82 situ dan rawa dengan perkiraan total seluas  19,427 km2 yang terdapat di 16 kecamatan, yaitu Sepatan (11 buah),  Pakuhaji (9), Mauk (8), Kosambi dan Teluknaga (7), Rajeg (6), Curug (5),  Pasar Kemis (4), Pámulang, Legok (masing-masing 2), serpong dan  Balaraja (1). Sedangkan di Kota Tangerang di 4 kecamatan, yaitu di  Kecamatan Batuceper tercatat 8 buah, Benda 6 buah, Jatiuwung 3 buah dan Kecamatan Cipondoh ada 2 buah (lihat tabel 15).

Berdasarkan peta lama di daerah Bekasi (Kabupaten dan Kota)  tercatat ada sekitar 82 situ dan rawa dengan total perkiraan luas 102,725  km2, yang tersebar di 12 kecamatan. Di kecamatan Babelan tercatat ada  sekitar 14 buah, kemudian Tarumajaya dan Pondok Gede masing-masing  10 buah, Tambun 8 buah, Muara Gembong, Tambelang, Bekasi Selatan  dan Bekasi Barat masing-masing 7 buah, Cabangbungin 5 buah, Cibitung  2 buah serta Kecamatan Bekasi Utara 3 buah dan Bekasi Timur 1 buah (lihat tabel 15).

Di daerah Bogor (Kabupaten dan Kota) berdasarkan peta lama  tercatat ada sekitar 71 sita dan rawa yang tersebar di 21 kecamatan  meliputi perkiraan total luas 7,9 km2. Paling banyak di kecamatan  Cimaggis dengan jumlah situ dan rawa 8 buah, kemudian di kecamatan   Parung ada 7 buah, Kemang, Citeureup, Gunung Sindur, Sawangan  masing-masing 5 buah, Ciampea, Cibinong, Gunung Putri, Rumpin,  masing-masing 4 buah, Bojong Gede dan Cigudeg 3 buah, Tanah Sereal,  Pancoran Mas, Jasinga, Gileungsi dan Leuwiliang masing-masing 2 buah,  Kota Bogor Utara, Sukmajaya, Famijahan dan Darmaga masing-masing 1 buah (lihat tabel 15).

2. Posisi dan jumlah situ dan rawa dan lahan basah lain berdasarkan citra satelit tahun 2000

Dari analisis citra satelit tahun 2000 dapat diperoleh’ informasi  bahwa teridentifikasi terdapat 174 situ/ waduk, danau dan rawa di  kawasan Jabodetabek, dengan rincian sebarannya 114 situ di 27 kecamatan dan 60 rawa di 14 kecamatan (Tabel 15. Gambar 18).

Gambar 18. Posisi situ dan rawa berdasarkan Citra Satelit tahun 2000 (poligon hijau merupakan posisi situ dan rawa)

Analisis yang dilakukan di kawasan Jakarta diidentifikasi  ditemukan ada 30 situ dengan perkiraan luas 1,6466 km2 dan 17 rawa dengan  perkiraan luas 93124 km2. Rawa-rawa di kawasan Jakarta yang meliputi  kota-kota Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Jakarta Timur dan  Jakarta Barat ini tersebar di 9 kecamatan yaitu Penjaringan 5 rawa, Cilincing  dan Tanjung Priok masing-masing 3 rawa dan Cengkareng, Grogol  Petamburan, Tanah Abang, Tebet, Koja dan Pademangan masing-masing  1 buah. Sedangkan dari ke 30 situ di Jakarta tersebar di 19 kecamatan, yaitu  Tanah Abang, Ciracas, Tanjung Priok, masing-masing 3 situ, Pancoran,  Kelapa Gading, Cilandak, Jagakarsa dan Kebayoran Lama dengan masing- masing 2 situ serta Kebon Jeruk, Menteng, Kebayoran Baru, Cengkareng,  Cakung, Cipayung, Pasar Rebo, Cilincing, Pademangan, Pulo Gadung dan Setia Budi masing-masing 1 buah situ (lihat Tabel 14 dan 15).

Di daerah Tangerang yang meliputi kabupaten dan kota  Tangerang, Banten tercatat ada 7 situ dengan perkiraan luas 0,9182 km2  dan 35 rawa dengan perkiraan luas 25,4675 km2. Situ di kawasan ini  tersebar di 4 kecamatan yaitu, Tangerang, Pamulang, Legok dengan  masing-masing 2 situ dan Ciputat 1 situ. Sedangkan rawanya tersebar di  7 kecamatan, yaitu Batuceper (10 rawa), Teluknaga, Mauk, Kosambi  dengan masing-masing ditemukan 5 buah rawa, Pakuhaji (4 buah), Cikupa (3 buah), Sepatan (2 buah) dan Legok (1 buah) (lihat Tabel 14 dan 15).

Di daerah Bekasi yang meliputi kabupaten dan kota Bekasi, Jawa  Barat tercatat ada 5 buah situ dengan perkiraan luas 0,5508 km2 dan 23  buah rawa dengan perkiraan luas 52,1776 km2. Hasil analisis dapat  diidentifikasi bahwa 5 buah situ di kawasan ini tersebar di Kecamatan  Pondokgede (2 buah), Tarumajaya, Cibitung dan Babelan masing-masing  1 buah. Sedangkan rawa di kawasan ini tersebar di 6 kecamatan yaitu  Tembelang dengan jumlah terbanyak yaitu 9 rawa, kemudian disusul  dengan Tarumajaya dengan 5 rawa, Muara Gembong 4 rawa, Babelan 3  rawa dan Cibitung serta Bekasi Selatan dengan masing-masing 1 buah rawa (lihat tabel 14 dan 15).

Hasil analisis citra untuk kawasan Bogor yang meliputi  kabupaten dan kota Bogor menunjukkan bahwa jumlah situ di kawasan  ini cukup tinggi yaitu sebanyak 72 situ dengan perkiraan luas 0,0975  km2 dan hanya 1 buah rawa dengan perkiraan luas 0,0807 km2. Situ di  kawasan Bogor ini tersebar di 20 kecamatan kabupaten dan kota Bogor  dengan rincian catatan bahwa di Cimanggis dan Gunung Putri  diidentifikasi ditemukan situ yang terbanyak, yaitu masing-masing  sebanyak 7 buah. Kemudian disusul dengan kecamatan Parung sebanyak  6 situ, Kemang, Bojong Gede, Cibinong, Gunung Sindur dan Sukmajaya  dengan masing-masing 5 situ, Pancoran Mas, Sawangan dan Limo  dengan 4 buah situ, Beji dan Cileungsi dengan 3 situ, Kota Bogor Utara  dan Citerureup 2 situ, serta Rumpin, Sukaraja, Darmaga, Kota Bogor  Tengah dan Kota Bogor Timur masing-masing 1 buah situ. Sebuah rawa  diidentifikasi terdapat di kecamatan Kemang kabupaten Bogor (lihat tabel 14 dan 15).

3. Analisis terhadap perubahan situ/rawa

Dari analisis spasial data peta lama Dutch map (1922-1943) dan  citra satelit tahun 2000 diperoleh data seperti pada tabel 16. Dari tabel 2  tampak bahwa ada perbedaan jumlah dan luas situ rawa yang cukup  mencolok. Data jumlah situ pada tahun 2000 menunjukkan adanya  perbedaan jumlah sebesar 38 buah situ lebih banyak jika dibandingkan  dengan data tahun 1922 -1943 yang jumlahnya hanya 76 buah. Meskipun  jumlah situ lebih sedikit bila ditinjau dari segi luas, total luas situ tahun  1922-1943 ternyata lebih besar ukurannya dari data total luas situ data  terakhir (tahun 2000). Perbedaan luas situ.tahun 1922-1943 mencapai angka 40,76 % lebih luas dibanding dengan data tahun 2000.

Dari gambaran yang diperoleh dari citra satelit didapatkan  adanya spot-spot situ yang memiliki lokasi sangat berdekatan satu  dengan yang lain. Kemungkinan spot-spot yang tampak tersebut  merupakan situ besar yang kemudian terfragmentasi karena sebab-sebab  tertentu, seperti terpotong oleh jalur jalan, bangunan, proyek perumahan,  pendangkalan air ataupun sebab-sebab lain seperti pengalihan fungsi  dan pemanfaatan lahan menjadi sawah atau kawasan agribisnis produktif lain. Sumber informasinya berasal dari citra satelit  pengambilan pada bulan Juni tahun 2000. Pada saat ini kondisi kawasan  Jabodetabek sudah mulai berkurang curah hujannya. Kemungkinan yang  lain adalah situ baru memang dibangun di beberapa tempat seperti pada beberapa pemukiman elite di sekitar Jabodetabek.

Meskipun jumlah situ pada tahun 2000 lebih banyak (114 situ)  kapasitas daya tampung situnya lebih kecil bila dibandingkan dengan  daya tampung situ pada tahun 1924-1944 (76). Hal ini dapat dilihat dari  perkiraan luas situ tahun 2000 yang lebih sempit bila dibandingkan  dengan perkiraan luas situ pada tahun 1922-1940. Dengan perkiraan  kedalaman air situ yang umumnya tidak begitu dalam maka volume air situ yang dapat ditampung juga tidak akan terlalu besar.

Dari Tabel 16 juga tampak bahwa jumlah situ terbanyak terdapat  di daerah Bogor (data lama 65 dan data baru 72). Di daerah Bogor  memang cukup banyak ditemukan situ meskipun ukurannya tidak terlalu besar. Sedangkan di Jakarta jumlah situ memang meningkat  cukup banyak dari 6 buah di tahun 1922-1943 menjadi 30 buah situ di  tahun 2000. Hal ni juga menunjukkan bahwa pembuatan situ baru  diperkirakan banyak dilakukan oleh Pemerintah Kota. Kemungkinan  hal ini berhubungan dengan pembangunan pemukiman baru di kawasan  kota Jakarta. Kawasan yang diidentifikasi terdapat penambahan jumlah situ dari citra satelit umumnya merupakan kawasan pemukiman.

Jumlah situ dan perkiraan luas situ di daerah Tangerang dan  Bekasi tampak tidak seperti di daerah Jakarta maupun Bogor, Namun  ada kecederungan yang sama bahwa jumlah situ tahun 2000 lebih tinggi  dibandingkan dengan data lama (1922-1943).

Berbeda dengan situ, pengurangan jumlah rawa terjadi cukup  nyata dari peta lama (tahun 1922-1943) dibandingkan dengan data situ  tahun 2000 (citra lansat tahun 2000) yaitu sebesar 81 buah. Pengurangan  jumlah rawa ini secara nyata juga menurunkan luas rawa di tahun 2000  sebesar kira-kira 41,23 %. Penguragan jumlah rawa ini tampak terjadi di  semua kawasan Jabodetabek, dengan pegurangan jumlah terbesar  terdapat di kawasan Jakarta yaitu sebanyak 59 rawa hilang, Bekasi 57  rawa hilang, Tangerang 43 hilang, dan Bogor hanya tercatat adai rawa yang masih tersisa dari sekitar 6 buah rawa di tahun 1922-1943.

Pengurangan luas perkiraan rawa di Jabodetabek jelas berpengaruh  terhadap daya tampung volume air rawa. Hal ini juga tampak dari  perubahan staus lahan yang semula adalah rawa telah berubah untuk  keperluan lain. Umumnya rawa menjadi lebih sempit luasnya dan bahkan  di beberapa darah di Jakarta, Bekasi dan Bogor telah berubah status lahannya.

Tampaknya fragmentasi rawa juga terjadi di hampir seluruh  kawasan Jabodetabek yang kemungkinan besar karena pendangkalan,  perubahan status lahan rawa menjadi kawasan industri agribisnis  (sawah, tambak empang dan lahan kering untuk palawija), industri  manufaktur maupun sarana dan prasarana industri, sarana jalan maupun pemukiman penduduk.

Strategi konservasi situ dan rawa

Mengingat situ maupun rawa di kawasan Jabodetabek memiliki  peranan yang sangan penting, maka pengelolaan situ dan rawa di  kawasan ini memerlukan perhatian yang lebih baik. Selain sebagai  habitat dan penyeimbang lingkungan di sekitarnya, meskipun perannya  kurang begitu besar, situ dan rawa ini dapat menampung sementara luapan air pada saat musim hujan.

Perubahan yang terjadi pada situ maupun rawa seperti sengaja  ditutup atau diuruk untuk diubah peruntukkannya atau karena sebab- sebab yang lain akan menyebabkan perubahan ekologi di sekitar  kawasan tersebut. Kondisi ini dapat berpengaruh lebih serius bila perubahannya sudah sulit untuk dikendalikan.

Dengan hilangnya berbagai situ dan rawa serta mengecilnya luas  situ-rawa maka dapat dipastikan bahwa daya menambah imbuhan an taran juga semakin rendah. Meningkatnya kebutuhan akan air tanah di  daerah hilir sebagai akibat dari meningkatnya kebutuhan industri serta  masyarakat dapat dipastikan meningkatnya devisit air tanah di daerah  hilir Jabodetabek. Defisit air imbuhan air tanah tersebut secara bertahap dan sistematis harus dikurangi.

DAFTAR PUSTAKA

Dutch map 1922-1940. Direktorat Geologi, Bandung.

Haeruman, H, Js, 2003. Pengelolaan Ekosistem Kawasan Pegunungan  Sebagai Suatu Bioregion yang Penting. Dalam. Manajemen  Bioregional Jabodetabek: Tantangan dan Harapan. Ubaidillah, R., I.  Maryanto, M. Amir, M. Noerdjito, E. B. Prasetyo, R. Polosakan  (ed.). Pusat Penelitian Biologi-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Hal 1-12.

Noerdjito, M., I. Maryanto, R. Ubaidillah, E. B. Prasetyo, 2003. Usulan  Penyempurnaan Pola Pengembangan Wilayah Jabodetabek. Dalam Manajemen Bioregional jabodetabek: Tantangan dan Harapan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: