Rosichon Ubaidillah dan Ibnu Maryanto

MANAJEMEN BIOREGIONAL JABODETABEK: Profil dan Strategi Pengelolaan Situ, Rawa dan Danau

Editor:  Rosichon Ubaidillah dan Ibnu Maryanto

PUSLIT BIOLOGI LEMBAGA ILMU PENELITIAN INDONESIA Bogor, September 2003

Sumber : http://docs.google.com/katalog.pdii.lipi.go.id/

RINGKASAN EKSEKUTIF DAN REKOMENDASI

Dilandasi oleh letak yang strategis dari segi politik dan  pertahanan, serta mudahnya penyediaan berbagai faktor pendukung  yang diperlukan maka sejak tahun 1945 Jakarta telah dipilih menjadi  Ibukota Negara Republik Indonesia. Penetapan Jakarta sebagai Ibukota  Negara menyebabkan kota ini selalu dilengkapi dengan sarana dan  prasarana komunikasi dan perhubungan mutakhir. Lengkapnya sarana  dan prasarana tersebut menyebabkan kota Jakarta menjadi sangat sesuai  untuk pengembangan berbagai macam industri. Akibatnya, di DKI  Jakarta industri tumbuh pesat yang kemudian mengembang ke wilayah Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi (JABODETABEK).

Sebagai konsekuensi untuk mencukupi pertumbuhan industri  sedikit banyak akan mengubah pola penggunaan lahan. Seperti yang  tertuang dalam Bab m yang menunjukkan bahwa dibandingkan dengan  tahun 1922-1943 ada sekitar 42% lahan basah atau areal perairan tergenang yang berupa situ dan rawa di Jabodetabek telah berubah fungsi menjadi daratan dan digunakan sebagai lahan pemukiman dan
industri.

Tumbuhnya berbagai industri di Jabotabek menyebabkan  daerah ini harus mendatangkan tenaga kerja dari berbagai daerah  sehingga menjadikan Jabotabek sebagai kawasan urbanisasi yang secara tidak langsung juga memerlukan areal lahan untuk pemukiman.

Sangat banyaknya jumlah industri serta tingginya tingkat  urbanisasi di Jabodetabek, paling tidak, menyebabkan tiga hal, yaitu:  (1) Meningkatnya kebutuhan lahan untuk lokasi pabrik dan pemukiman;  (2) Meningkatnya kebutuhan air bersih untuk industri serta rumah  tangga. Sebagian besar air bersih diambil dari air tanah; (3) Meningkatnya sampah industri dan sampah rumah tangga.

Suatu kenyataan bahwa intrusi air laut di kawasan Jabodetabek  semakin hari semakin parah. Hal ini mungkin disebabkan oleh: (a)  jumlah air tanah yang dimanfaatkan, baik untuk keperluan industri maupun rumahtangga, jauh lebih banyak dari pada air tanah yang terbentuk; (b) pembentukan air tanah semakin menurun.

Menurut peraturan seperti yang dibahas dalam Bab I,  pengambilan air tanah berdasarkan Peraturan Menteri Pertambangan  dan Energi No. 03/P/M/Mentamben/1983,. seharusnya hanya  dilakukan setelah memperoleh ijin dari Direktur Jenderal cq. Direktur  Direktorat Geologi Tata Lingkungan sehingga pengambilan air. tanah  dapat dibatasi sesuai dengan ketersediaannya. Namun kenyataan di  lapangan lain; setiap orang atau perusahan yang memerlukan air tanah,  tanpa mengajukan permohonan untuk mengambil air tanah, langsung  melakukan pengeboran sendiri. Dalam hal ini, Pemerintah Daerah yang  berfungsi sebagai pengawas di daerah tidak dapat berbuat banyak.  Akibatnya, pengambilan air tanah di Jabodetabek tidak dapat dipantau  dan dikendalikan lagi. Intrusi air laut ke daratan antara lain mempercepat laju pengkaratan baja dari tulang bangunan dan  mempercepat rapuhnya dinding bangunan. Dalam hal ini yang paling  banyak menderita adalah masyarakat umum. Untuk menghindari  kerugian yang lebih besar, Pemerintah Daerah diharapkan dapat segera turun tangan mengatasi masalah ini.

Secara hidrologis yaitu yang tertera dibahas dalam Bab II dalam  buku ini diketahui bahwa pada musim hujan pengimbuhan air tanah di  dataran rendah Tangerang, Jakarta dan Bekasi dapat terjadi melalui  hampir seluruh permukaan lahan Jabodetabek sendiri. Sedangkan pada  musim kemarau seharusnya pengimbuhan dapat terjadi mulai dari hutan  lindung di daerah hulu, sungai, situ sampai rawa di hilir; Namun oleh  karena terjadi pergeseran tataguna (Bab II) lahan dari kawasan alami  dan pertanian menjadi kawasan industri maka sebagian masyarakat  petani “terpaksa berpindah” membuka kawasan alami maupun hutan  lindung di daerah hulu menjadi kawasan pertanian. Perubahan- perubahan ini menyebabkan semakin banyaknya lahan terbuka dan  berdampak pada berkurangnya air hujan yang dapat tertahan oleh  lapisan serasah dan humus hutan serta air yang terserap ke dalam tanah  membentuk air tanah; sedangkan sebagian besar air hujan yang turun  langsung mengalir dipermukaan tanah dan terbuang ke sungai.  Banyaknya air yang tidak dapat disimpan oleh humus serta yang terserap  menjadi air tanah terlihat dari terjadinya banjir pada musim hujan dan  kekeringan pada musim kemarau. Langkah yang harus ditempuh untuk  menghindarimusibah banjir dankekéringan secara berkelanjutan adalah  menahan lajunya air yang mengalir dipermukaan tanah sehingga cukup  tersedia waktu air terserap ke dalam tanah yang sebagian akan mengisi akuifer air tanah. .

Salah satu tempat yang relatif paling baik sebagai tempat  terjadinya penyerapan air adalah situ dan rawa. Permasalahannya, luas  situ dan rawa di jabodetabek saat ini hanya tinggal kurang dari setengah  luasnya sebelum masa kemerdekaan. Situ dan rawa yang tersisapun  keadaannya sudah tidak ideal lagi sebagai »saluran” pengisi akurfer air  tanah. Hal ini disebabkan karena sebagian besar situ dan rawa di daerah  Jabodetabek telah tertutup lumpur, terisi gulma, ataupun dengan sengaja
ditimbununtukkeperluanlain.Halyanglebihmembahayakanlagrdan  hasil kajian terhadap situ, rawa dan danau di Jabodetabek sebanyak 39  atau 22% dari jumlah situ, rawa dan danau yang ada menunjukkan  bahwa kondisi saat ini umumnya telah mengalami pencemaran berat  (Bab III). Pencemaran tersebut terbukti dapat dideteksi dengan biaya murah melalui kelimpahan biodeversitas planktonya (Bab II).

Sebagian besar pencemaran disebabkan akibat dari buangan  limbah industri atau rumah tangga (Bab ID). Memanfaatkan air tercemar  sebagai asupan air tanah sama halnya dengan menyebarkan berbagai  macam penyakit serta bahan pembuat karat ke kawasan pemukiman  serta kawasan industri. Secara tidak sadar sebagian pengelola situ telah  melakukan pengerasan situ dengan pembetonan pinggiran dinding situ.  Pembetonan akan berakibat penyerapan air sebagai sumber cadangan  air tanah akan berkurang; tetapi sebaliknya juga diuntungkan karena  akan mengurangi pemanfaatan atau intrusi air tanah yang sudah  tercemar. Oleh karena itu agar fungsi situ dapat dipulihkan sebagai  sumber bahan asupan air tanah pencemaran air harus dihilangkan  melalui penanaman riaparian dan pengimbuhan bakteri pengikat bahan pencemar yaitu seperti tersaji pada Bab IV.

Dampak langsung dari pencemaran air sebenarnya sudah lama  dirasakan karena sejumlah ikan (118 jenis) yang seharusnya ada di  kawasan Jabodetabek pada saat ini telah menurun tajam bahkan  kemungkinan sudah tidak dapat dijumpai lagi seperti contoh ikan Betta picta yang seharusnya banyak di jumpai di perairan di sekitar Bogor atau Pangio kuhlii dari perairan sekitar Jakarta yaitu seperti yang tertuang dalam Bab II.

Memperhatikan bahwa dibangunnya kawasan industri di Jabotabek telah menimbulkan dampak intrusi air garam, banjir dimusim  hujan dan kekeringan dimusim kemarau menandakan bahwa kawasan Jabodetabek telah jenuh. Oleh karena itu kiranya sudah saatnya untuk  mempelajari kemungkinan membangun kawasan industri di luar Jawa, misalnya di Lampung.

Untuk memulihkan fungsi situ, rawa dan danau sebagai pengimbuh air tanah perlu dilakukan:

1. Melaksanakan perundang-undangan yang berlaku.

  • Sebagaimana tertulis di dalam UU No 11/1974 air beserta sumber-sumbernya, termasuk kekayaan alam yang terkandung di  dalamnya, dikuasai oleh negara. Dengan demikian Pemerintah  maupun Pemerintah Daerah harus mendata seluruh Situ yang  berada di wilayahnya serta mengelolanya sebagaimana mestinya.
  • Peraturan Pemerintah No 32/1990 Ps 17 & 18 menyebutkan   bahwa sempadan situ selebar 50 -100 meter dari permukaan air tertinggi, sebanding dengan luas situnya.
  • Melaksanakan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Kep-03/ MENLH/1/1998 tentang Baku limbah cair bagi kawasan
    industri.
  • Menyusun Peraturan Pemerintah perihal pengelolaan limbah rumah-tangga.

2. Meniadakan pencemaran air teristimewa sumber air situ, rawa yang berasal dari sungai dengan jalan:

  • Membuat dan menampung air limbah rumah-tangga,  membersihkan secara gabungan dari bahan pencemar, setelah  airnya bebas dari bahan pencemar baru dialirkan ke perairan  umum, situ atau rawa. Penghilangan bahan pencemar dapat  dilakukan dengan mengintroduksi berbagai macam jenis bakteri pengikat bahan pencemar (Bab IV)

3. Merehabilitasi situ dan rawa dengan jalan:

  • Membuat peta Batimetri setiap situ dan rawa.
  • Menanggulangi proses sedimentasi dengan mengetahui penyebabnya.
  • Membuat jalan melingkari situ dan rawa di batas sempadan sehingga sebagai pembatas kawasan situ dan rawa.
  • Menghijaukan sempadan situ dengan ekosistem alami sehingga sempadan situ berfungsi sebagai penahan erosi.
  • Membuat lahan basah terkonstruksi yang dilengkapi dengan tetumbuhan riparian, baik yang berada di pingir situ maupun di luar areal situ tempat dimana situ mendapatkan sumber masuknya air.
  • Menghidupkan tali-tali air sehingga sumber air situ dan rawa lebih terjamin.
  • Mengeruk lumpur dan sampah yang berada di dalam situ dan rawa beserta tali-tali airnya.

Editor
Rosichon Ubadillah
Ibnu Maryanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: