Yusli Wardiatno, dkk

PROFIL DAN PERMASALAHAN PERAIRAN TERGENANG (SITU, RAWA DAN DANAU)

Oleh: Yusli Wardiatno, Ivana Anggraeni, Rosichon Ubaidillah, Ibnu Maryanto B,”

Sumber:   http://elib.pdii.lipi.go.id/

Ringkasan

Situ atau embung/ waduk, empang, danau dan rawa merupakan bagian dari ekosistem perairan darat tergenang. Berbagai istilah dalam reservoir air seperti yang telah diungkapkan pada pada Bab I dalam buku ini sepintas mempunyai arti yang sama, namun ternyata mereka memiliki ciri khas masing-masing. Walaupun berbeda dalam kategori dimensinya ada sebagian kesamaan fungsi yaitu kemampuaimya untuk dapat digunakan sebagai pengendali banjir, penyimpan dan reservoir air, perikanan, atau tempat rekreasi.

Dari segi kegunaan perairan tergenang atau reservoir yang berupa situ, rawa dan danau sangat penting bagi penampung sementara akan limpahan lebihan air di waktu hujan dan mempertahankannya diwaktu musim kemarau. Kegunaan utama tersebut bukanlah rahasia umum dan diketahui oleh masyarakat, namun masalah yang sangat dikhawatirkan adalah kecepatan berubahnya fungsi sistem perairan darat tersebut menjadi penampung berbagai macam polutan dan limbah baik pabrik maupun rumah tangga seperti data kasus yang terungkap dari hasil monitoring BAPEDALDA Iakarta (2002) tentang pencemaran dan kualitas air situ dan rawa Jakarta.

Kekhawatiran keseluruhan situ, danau dan rawa sebagai penampung limbah tentu perlu dibuktikan terutama dengan melihat keseluruhan keberadaan tipologi perairan tergenang. Oleh sebab itu  sebelum melakukan langkah pengelolaan yang baik sistem perairan tergenang terutama situ, rawa dan danau, maka perlu diungkapkan data-data profil dan permasalahan situ, rawa dan danau di Jabodetabek yaitu seperti yang akan di bahas pada naskah ini.

Menurut Suryadiputra (2003) keberadaan situ di Jabodetabek kira-kira tinggal 164 buah, sedangkan berdasarkan hasil citra landsat 2000 seperti yang dituangkan pada uraian Bab III di depan di dalam buku ini kira-kira ada 174 buah sistem perairan tergenang. Pada penulisan profil dalam bab ini tidak dapat mengungkap profil situ, danau dan rawa secara keseluruhan satu per satu tetapi hanya 26 (15%) profil yang akan dibahas dan diharapkan dapat mewakili semua problema perairan tergenang di Jabodetabek. Ke 26 situ rawa dan danau tersebut mewakili daerah administrasi Bogor-Depok, Tangerang, Iakarta dan satu buah dari Kabupaten Cianjur yaitu Danau Telaga Warna. Situ, danau dan rawa yang menjadi kajian pada tulisan ini adalah, Cigudeg, Cikaret, Cibuntu, Cilalala, Cilodong, Citatah, Citayam, Dua, Akuarium, Gede, Gunung Putri, Iatijajar, Leutik, Perikanan, Rawabesar, Rawakalong, Tengah, Tonjong, Telagawarna, Lido (Bogor), Archipelago, Sunter Timur, Taman Akuarium, Babakan, Ragunan Baru (Iakarta) dan Cipondoh (Tangerang). Beberapa situ dan rawa yang sudah diteliti dan dipantau secara akurat oleh beberapa instansi seperti Situ Bojongsari oleh Puslit Limnologi-LIPI dan sebagian dari 16 situ, rawa di Iakarta oleh Bapedalda Iakarta yang sengaja tidak kami bahas secara rinci.

Berdasarkan profil dan status situ, rawa dan danau yang ada di wilayah Jabotabek yang dirangkum dari 26 lokasi, mencakup pembahasan masalah parameter fisik, kimia dan biologi dari masing-masing situ, rawa dan danau. Setidaknya terdapat gambaran dan permasalahan umum yang menyangkut kondisi fisik (morfometri) dan kualitas air situ. Permasalahan utama mengenai fisik terjadi di hampir semua situ, rawa dan danau adalah penyusutan luas dan pendangkalan. Penyusutan luas bervariasi antara 20 hingga 60%, suatu angka penyusutan yang sudah harus menjadi perhatian serius pemerintah   daerah maupun pemerhati situ. Apalagi dikaitkan dengan salah satu fimgsi situ sebagai daerah resapan air.’

Penyusutan luas ini umumnya terjadi akibat sinergisnya 2 faktor,  yakni faktor alam dan ulah manusia.  Pada saat musim kemarau berkepanjangan, suplai air ke situ-situ akan minimal sehingga seringkali bagian tepi yang cukup dangkal akan tidak terairi sama sekali. Di lain pihak, karena secara umum letak situ berdekatan dengan pemukiman, tidak sedikit penduduk yang dengan sengaja memanfaatkan kondisi ini dengan mengkonversi bagian situ yang kering atau dangkal menjadi lahan pertanian dan atau perikanan. Agar rawa di daerah Jabotabek  tidak semakin banyak yang berkurang luasannya atau bahkan hilang sama sekali, diperlukan upaya-upaya pemeliharaan dan pengelolaan yang terintegrasi antara masyarakat dan pihak pemerintah. Pengertian mengenai betapa-pentingnya situ bagi kehidupan masyarakat umum akan sangat bermanfaat bila diberikan secara kontinu, agar keinginan menjaga kelestarian situ timbul pada masyarakat.

Permasalah fisik berikutnya adalah pendangkalan. Masalah ini juga cukup krusial, mengingat hampir semua situ, rawa dan danau di Iabotabek merupakan perairan dangkal dengan kedalaman rata-rata  antara 2 – 5 meter. Apabila hal ini dibiarkan maka fenomena hilangnya  situ di wilayah Iabotabek akan semakin sering terjadi. Salah satu  penyebab proses pendangkalan selain retention time yang lama, juga  keberadaan tanaman seperti eceng gondok (Eicchomia crassipes) air yang  sistem perakarannya dapat menjadi sediment trap. Padahal di banyak  kasus tanaman air ini sering menjadi dominan di perairan situ dan dapat  menutupi lebih dari separuh permukaan air situ. Untuk menangani hal  ini, kerja bersama membersihkan tanaman air pada situ merupakan salah  satu cara termurah. Penyebab pendangkalan lainnya bisa berupa unsur  kesengajaan masyarakat, pemerintah ataupun pihak swasta yang menginginkan terkonversinya situ menjadi daratan.

Selain masalah fisik, kualitas air merupakan permasalahan yang tengah terjadi di perairan tergenang di wilayah Iabotabek. Berdasakan status trofik ………….

…………………

dari Jabotabek dan (2) mengingat analisa kualitas air rawa dan situ yang dilakukan oleh BAPEDALDA Iakarta tahun 2000 tentang kualitas air sudah mengkhawatirkan mendekati batas ambang yang tidak diperbolehkan untuk konsumsi karena tercemarnya ecolli, amonium, logam berat, fenol dan unsur organik dan anorganik lainnya. Untuk itu pembuangan limbah cair perumahan atau pabrik perlu diatur agar pemanfaatan dan pengelolaan situ harus diformulasikan dengan tepat agar keberadaannya tetap lestari mengingat peran dan multifungsi situ  yang signifikan bagi masyarakat. Dengan mempertahankan keberadaan  situ rawa dan danau berarti juga akan lnenyelamatkan keanekaragaman hayati yang hidup dalam ekosistem tersebut.

LIDO

A. Lokasi

Situ Lido (5°36′ 104°49′ BT) terletak di Desa Wateg Iaya (500 m dpl), Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Iawa Barat. Luas situ sekitar 21 ha dengan batas di bagian utara dan timur merupakan daerah pemukiman penduduk, sedangkan bagian selatan dan barat merupakan perkebunan karet dan areal persawahan. Situ ini termasuk kategori situ buatan yang dibuat pada abad ke-18 yaitu ketika dibendungnya Sungai Ciletuk untuk pembangunan jalan raya Bogor-Sukabumi (Didin 1999).

Situ Lido merupakan bentuk perairan tergenang terbuka, bentuknya tidak beraturan, banyak dijumpai teluk~teluk sempit dengan tepi situ banyak yang curam atau berkisar pada ketinggian 10 m di atas permukaan air. Tepi-tepi situ tersebut ditumbuhi oleh belukar dan pohon karet. Kedalaman dasar situ dapat mencapai_19,8 m. Basmi (1991) berpendapat bahwa kedalaman air dekat inlet (sumber air masuk) berkisar antara 6-8 m, sedangkan dekat outIet_(tempat air keluar)  kedalarnannya berkisar antara 6-12 m (Didin 1999).

Situ Lido mempunyai satu daerah inlet-dan dua daerah outlet.Sumber-utamaair berasal dari aliran Sungai Ciletuk dengan total debitpada musim penghujan sekitar 500-700 l/detik, sedangkan pada musim kemarau hanya sekitar 100-2oo l/detik. Sumber air situ lainnya diterima dari air permukaan dan air dalam tanah (groundwater) dari lahan di sekitarnya. Tepi daerah masukan air merupakan daerah persawahan (Didin 1999).

Jika dibandingkan kondisi air sungai dengar ak sim pada masam
hujan, maka situ relatif lebihnjernih daripada air sungai. Hal im’
disebabkan oleh adanya daerah persawahan di dekat.sungai yang
mengalirkan lumpur ke aliran sungai. Sementara itu, dua daerah
pengeluarannya (outlet) berpintu, dengan debit air yang diatur sama
yaitu sebesar 52 I / detik. Air yang dialirkan melalui saluran pembuangan
ini digunakan sebagai air untuk keperluan irigasi (Didin 1999).
Sampai sekarang, situ Lido dipergunakan untuk kegiatan
pariwisata air dan juga airnya dimanfaatkan untuk kepentingan rumah
tangga dan kegiatan perikanan jaring apung. Budidaya jaring apung
ini mulai dikembangkan sekitar tahun 1978 oleh Balai Penelitian
Perikanan Air Tawar (BALITKANWAR) Bogor yang selanjutnya diikuti
penduduk setempat. Situ Lido sebelumnya hanya berfungsi sebagai
reservoir, yaitu tempat untuk menampung air dalam memenuhi
kebutuhan penduduk dan irigasi (Didin 1999).

B. Kondisi Parameter Fisika, Kimia, dan Biologi

1. Parameter Fisika dan Kimia

Kondisi parameter kualitas air perairan Situ Lido dianalisis oleh
Haryani (1984), Santana (1991), Purwaningsih (1992) dan Didin ( 1999).
Berdasarkan hasil penelitian Haryani (1984) pada bulan Mei-
Iuni tahun 1984, Situ Lido memiliki kisaran suhu antara 21-30 °C,
sedangkan penelitian Purwaningsih (1992) menghasilkan kisaran suhu
antara ’26-28 “C, Santana (1991) mendapatkan kisaran antara 26-28 “C,
dan penelitian Didin (1999) memliki kisaran 22-28°C. Kisaran tersebut
tidak berbeda nyata dengan kisaran suhu yang baik untuk kehidupan
organisme di perairan yaitu antara 25-32 “C dan tidak banyak
berfluktuasi (Boyd, 1990).

Hasil penelitian Haryani (1984) mendapatkan nilai kecerahan
berkisar antara 43,79-123,57 cm. Tingginya nilai kecerahan diduga-karena
kondisi musim kemarau yang dicirikan dengan sedikitnya curah hujan
sehingga proses teraduknya tanah di dasar perairan kemungkinan kecil
terjadi, dan juga diduga karena kemampuan cahaya matahari untuk
melakukan penetrasi ke dalam suatu lapisan kolom perairan. Menurut
Boyd dan Lichkoppler (1979), nilai kecerahan 30-60 cm pada umumnya
masih baik untuk produksi perikanan, sedangkan nilai kecerahan yang
kurang dari 30 cm akan mengurangi sumber cahaya bagi fotosintesa
dan kecerahan lebih dari 60 cm akan menembus ke bagian yang lebih
dalam akan mendorong pertumbuhan tumbuhan air.

Hasil pengukuran kekeruhan yang dilakukan oleh Purwaningsih
(1992) berkisar antara 0,73-15,67 NTU, sedangkan penelitian Santana
(1991) pada bulan Desember tahu.n 1990 sampai Ianuari tahun 1991
berkisar antara 6,13-30,80 NTU. Nilai kekeruhan yang relatif rendah ini
diduga karena pengaruh musim. Pada musim kemarau bahan-bahan
tersuspensi dan senyawa-senyawa koloid cenderung tertumpuk dan
terakumulasi di dasar perairan. Hasil yang berbeda terjadi pada musim
hujan, curah hujan menyebabkan tanah di dasar perairan teraduk
sehingga air menjadi keruh.

Muatan padatan tersuspensi berk-isar antara 0,08-0,19 mg/1,
sedangkan muatan padatan terlarutnya berkisar antara 0,56-24,89 mg/
1 Purwaningsih (1992). Bila dihubungkan dengan nilai kekeruhannya
maka terdapat kesesuaian antara keduanya. Derajad keasaman (pl-I)
6,1-8,4 (Haryani 1984), 6,0-7,0 (Santana 1991), dan pada bulan Iuni tahun 1992 didapatkan kisaran pH 6,61-8,92 (Purwaningsih 1992) Kisaran pH
tersebut tidak berbeda nyata dengan küaran nilai pH yang wajar bagi
kehidupan biota perairan yaitu berkisar 6,5-8,5 (Pescod, 1973).
Berdasarkan PP No. 82 tahun 2001 tentang baku mutu air golongan III
dan IV, nilai pH pada kisaran tersebut sesuai untuk kegiatan perikanan
dan pertanian yaitu berkisar antara 6-9.

Kandungan oksigen terlarut di Situ Lido berkisar antara 4,5-10,20
mg/1 (Haryani 1984), 2,02-3,23 mg/l (Santana 1991), di-dasar perairan
0,41-5,27 mg/l (Didin 1999). Tinggi rendalmya nilai oksigen ini dapat
disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain besarnya kandungan
padatan total (padatan terlarut dan tersuspensi) yang mempengaruhi
penetrasi cahaya matahari yang dibutuhkan oleh fitoplankton, algae,
maupun tumbuhan air untuk melakukan fotosintesis sehingga
menghasilkan oksigen terlarut dalam air, kelimpahan jumlah
fitoplankton, algae, dan tumbuhan air, serta pergerakan air yang akan
mempengaruhi proses difusi oksigen dari udara ke dalam air.
Berdasarkan PP No. 82 tahun 2001 tentang baku mutu air golongan III
dan IV, nilai DO pada kisaran tersebut kurang sesuai untuk kegiatan
perikanan dan pertanian yaitu disyaratkan > 32 mg/ 1.

Kandungan karbondioksida di Situ Lido 3,5-14,00 mg/ I (Haryani
1984), 2,79-7,59 mg/ 1 (Santana 1991). COI biasanya dihasilkan melalui
proses respirasi organisme ataupun proses dekomposisi bahan organik
di perairan. Pada daerah l yang banyak tumbuhan airnya, CO2
dimanfaatkan untuk pembentukan bahan organik dalam proses
fotosintesis sehingga jumlahnya berkuiang. Kandungan CO2 yang
kurang atau sama dengan 12 mg/ 1 tidak akan berbahaya bagi organisme
akuatik di daerah tropis asalkan kandungan oksigen terlarutnya tidak
kurang dari 2 mg/ 1. (Pescod 1973).

Hasil pengukuran TOM (Total Organic Matter) berkisar antara
189,6-1-447,28 mg/ 1 (Santana 1991). Besarnya kandungan bahan organik
total tersebut diduga karena adanya masukan bahan organik allochtonous
dari dua kegiatan budidaya jaring apung yaitu jaring apung milik
BAL1n<ANv\fA1i-dan penduduk.

Nilai kesadahan berkisar antara 14,76-119,31 mg/ 1 sedangkan
kisaran alkalinitas berkisar antara 69,10-109,90 mg/ 1 dengan kadar nitrit
0,008-0,015 mg/ 1. Nilai amonia didapatkan antara 0,000-0,30 mg/ 1
(Haryani 1984). Penelitian Purwaningsih (1992) memperoleh kisaran
amonia, nitrit, nitrat bertutut-turut adalah antara 0,006-0,144 mg/ 1, 0,001-
0,087 mg/ L dan 0,01-2,64 mg/ l. Kisaran amonia yang didapatkan Didin
(1999) selama penelitiannya berkisar antara 0,00-0,72 mg/ I. Kisaran ini
tergolong kecil dan tidak membahayakan bagi kehidupan biota air.
Kandungan nitrit dan amonia perairan di bawah 1 mg/ 1 tidak
membahayakan untuk kegiatan perikanan, dan kandungan amonia
sebesar 1 mg/ 1 dapat menghambat daya serap haemoglobin terhadap
oksigen yang menyebabkan ikan mati kekurangan oksigen (Pescod 1973).
Berdasarkan PP No. 82 tahun 2001 tentang baku mutu air golongan III
dan IV , nilai nitrit pada kisaran tersebut masih sesuai untuk kegiatan
perikanan dan pertanian yaitu disyaratkan < 0,06 mg/ l.

Kandungan nilai fosfat berkisar antara 0,015-0,16 mg/ l (Haryani
1984), atau kisaran kandungan fosfat dan fosfat total berturut-turut
adalah antara 0,001-0,223 mg/ 1 dan 0,038-0,428 mg/ l (Purwaningsih
1992). Kisaran ini masih cukup baik untuk pertumbuhan fitoplankton
di perairan Situ Lido. –

Berdasarkan nilai kisaran setiap parameter yang diukur, secara umum air Situ Lido masih menggambarkan kondisi air yang baik untuk
mendukung kehidupan organisme di dalamnya termasuk ikan. Dengan
demikian, kualitas perairan Situ Lido masih sesuai bagi peruntukannya
sebagai sumber air untuk kegiatan perikanan dan pertanian. Kriteria
kelayakan perairan Situ Lido berdasarkan peruntukannya di lapangan
disajikan pada Tabel 17. _ r ‘ –
Tabel 17. Kriteria kelayakan perairan Situ Lido berdasarkan baku mutu
air golongan l`II (perikanan) danIV (pertanian dan industri)
Parameter Klsaran Satuan Golongan ‘Gēlongan Keterangan
nilai III IV
Suhu 21-30 °C – Normal ±3 Sesuai
S U Pi-1 6,37-6,93 J di sai S s-900 sesuai
S ”W 7 Disyaratkan 7 S Kurang
D0 0,41-10,20 mg/1’ ~ >-3 – sesuai
Nam- S di 0 ‘ di
Nitrogen – – u `
0,001 0,087 mg/ 1 Maks 0,06 V Ses ai
Status trofik yang dinilai atas dasar kualitas air memiliki kisaran
antara oligotrofik hingga eutrofik. Kondisi perairan yang oligotrofik
hingga mesotrofik didapatkan berdasarkan konsentrasi nutrien
khususnya nitrat yang memiliki kisaran nilai antara 0-2,64 mg/ l. Status
perairan yang eutrofik dapat dilihat dari nilai kecerahan. .
110Page 11

Y. Wardiatno, I. Anggraeni, R. Ubaidillah, I. Maryanto
2. Parameter Biologi
a. Plankton
1. Fitoplankton
‘ Penelitian fitoplankton di Situ Lido dilakukan Maha (1995)
dan Naim (1996) memperoleh 28 genus fitoplankton yang termasuk
dalam 5 kelas. Kelima kelas yang ditemukan adalah Chlorophyceae (14
genus), Bacillariophyceae (8 genus), Cyanophyceae (2 genus),
Euglenophyceae (2 genus), dan Dinophyceae (2 genus) (Tabel 17) .
Kelimpahan fitoplankton tertinggi adalah dari genus Cemtium
(Dinophyceae). Menurut Wetzel (1983), suatu perairan yang didominasi
oleh dinoflagelata (Ceratium dan Peridinium) merupakan perairan
mesotropik. Selanjutnya pengamatan lain yang dilakukan oleh Naim
(1996) diperoleh hasil yang sedikit berbeda yaitu dijumpai 7 kelas yang
meliputi 39 genus yaitu Chlorophyceae (19 genus), Bacillariophyceae
(7 genus), Cyanophyceae (5 genus), Euglenophyceae (1 genus),
Dinophyceaea (3 genus), Xanthophyceae (3 genus) dan
Chloromonadophyceae (1 genus). Perbedaan dari dua penelitian tersebut
ada kemungkinan disebabkan karena perbedaan waktu bulan
pengambilan yaitu antara musim kemarau dan hujan.
Fitoplankton yang ditemukan, Cemtium dari kelas Dinophyceae
mempunyai frekuensi kemunculan paling sering (Maha 1995).
Keinunculannya yang sering juga dikuatkan dengan kelimpahannya
yang tinggi. Disamping kelas Dinophyceae yang melimpah di perairan,
kelas lain seperti Chlorophyceae, Cyanophyceae, Bacillariophyceae dan
Euglenophyceae juga mempunyai kelimpahan yang tidak sedikit (Naim
1996).
Berdasarkan hasil analisa, kelimpahan fitoplankton di Situ Lido
berkisar antara 12217-3249705 ind/ 1. Kelimpahan fitoplankton di
perairan tergenang Lido termasuk tinggi dan atas dasar kelimpahannya
perairan tergenang Lido memiliki tingkat kesuburan mesotrofik sampai
eutrofik (Naim 1996). Ienis-jenis fitoplankton yang didapatkan di Situ
111Page 12

Profil dan Pemmsalahan Situ, Rawa dan Danau
Lido ba1-dasa;-kan perbedaan bulan pengambilan Zygnema, Spimgym,
Cosmarium, Micrasterias, Ciosterium, Gonatozygon, Kirchneriella, Franceia,
Coelastrum, Voivox, Eudorina, Botryococcus, Golenkinia, Pediastrum
(Chlorophyceae), Coscinodiscus, Cyclotella, Diatoma, Synedra, Fmgilarfa,
Nifzschig, Navigula, Suriella (Bacillariophyceae), Oscillatoria, Spimlina
(Cyanophyceae), Phacus, Astasia (Euglenophyceae), Peridinium, Cemiium
(Dinophyceae) (Mei-juni) (Maha 1995), Ceratium (Dinophyceae),
Goniochloris, Chlorocloster (Xanthophyceae), Zygnema, Spirogyra,
Cosmarium, Micmsterias, Closterium, Gomztozygon, Eudorimz, Ulhofrix,
Coelastmm, Asterococcus, Sphaerocystis, Protocoēgus (Chlorophyceae),
Pinnularia, Melosira, Synedm, Nitzschia, Ncwicula (lšacillariophyceae),
Euglemz (Euglenophyceae), dan Spimlina (Cyanophyceae), (Januari-
F<=.-bma±i)_ (Naim 1996). _
Hasil penelitian Maha (1995) mengungkapkan bahwa indeks
keanekaragaman berkisar antara 0,013-1,847, indeks keseragaman
berkisar antara 0,007-0,97-1 ‘dan indeks dominansi berkisar antara 0,300-
0,_998. Sebagai pembanding atas dasar penelitian Naim (1996)
mendapatkan indeks keanekaragaman, indeks keragaman, dan
dominansi berturut-turut berkisar antara 0-0,8210 dan 0,21-1,00.
2. Zooplankton , ._ .
Effendi (1997) mengatakan bahwa komposisi jenis zooplankton
di Situ Lido terdiri dari 5 kelompok besar yaitu Rotifera, Cladocera,
Copepoda, Nauplius, dan larva Insecta. Setara umum jenis-jenis yang
sering ditemukan dengan kelimpahan relatif tinggi adalah Nauplius,
Polym-thra, Anuraeopsis, Hexarthra, dan Cyclops, sedangkan jenis
Zooplankton yang jarang ditemukan adalah Teiramastix, Trichocerca,
Ascomorpha, Dipleuchlam’s,’ Pamcolurella, dan Chaoboms. Daphnia dan
Kemtella merupakanljenis yang berada diantaranya.
Dari persentase kelimpahan jumlah individu/ l zooplankton,
umumnya rotifera memiliki persentase yang tertinggi dan larva serangga
air memiliki persentase terendah. Nilai rata-rata persentase komposisi
112Page 13

Y. Wardiatno, I. Anggraeni, R. Ubaidillah, I. Maryanto
rotifera berkisar antara 50,04-66,94%, Cladocera 7,05-17,38%, Copepoda
7,9-17,38%, Nauplius 14,87-26,33%, dan larva Insecta 0,15-3,08%.
– b. Benthos ‘
Berdasarkan penelitian Santana (1991), makrozoobenthos yang
didapat di perairan Situ Lido terdiri dari 10 jenis yaitu Chaoboms sp.,
Pentaneura sp., Miathyria sp., Melanoides spp.-, Brotfa sp., Bellamyajavanica,
Gyraulus, Helobdella stagmzlisudan Lumbriculus sp. yang dibedakan menjadi
kelompok Diptera, Odinata, Gastropoda, Hirudinea dan Oligochaeta.
Penelitian Didin (1999) mendapatkan 7 spesies yang digolongkan
kedalam 3 kelas yaitu Gastropoda, Oligochaeta, dan Insecta. Kelas
Gastropocla yang bersifat fakultatif diwakili oleh spesies Wattelbledia,
Anentome, Ame:-ianna dan Acella haldemam’. Kelas Oligochaeta diwakili
oleh spesies Branchium sowerbyi, sedangkan kelas Insecta diwakili oleh
spesies Clmoborus sp. dan Pentnneura sp. Nilai indeks keanekaragaman
C-I’), keseragaman (E) dan dominansi © pada kedalaman masing-masing
adalah berkisar antara 0,17-1,79; 0,17-0,56; 0,43-0,95 (Santana 1991),
sedangkan hasil penelitian Didin (1999) mendapatkan nilai indeks
keanekaragaman dan keseragaman berkisar antara 0,31-1,81 dan 0,15-
0,871 Hal ini menunjukkan bahwa kondisi populasi makrozoobenthos
di Situ Lido memiliki tingkat keanekaragaman dan keseragaman rendah.
Di lokasi tersebut penyebaran jumlah individu tiap jerus tidak merata
dan kondisi kestabilan komunitas cenderung rendah dan ada spesies
yang mendominasi.
c. Ikan
Dijumpai beberapa jenis ikan yang dibudidayakan di jaring
apung Situ Lido, diantaranya adalah ikan mas (Cyprinus carpio), gurame
(Osphronemus goramy), dan ikan nila (Oreochromis niloticus) yang
dikembangkan pada dua kompleks kegiatan budidaya sekitar outlet
(Didin 1999).
113Page 14

I
I
:
i
i
Profil dan Pemmsalahan Situ, Rawa dan Danau
d. Tumbuhan air –
Dijumpai ada beberapa jenis tumbuhan air di Situ Lido,
diantaranya ganggeng Hydrilla verticillata, Nafas indica, kiambang (Salvinia
sp.) dan eceng gondok (Eichhomia crassipes) (Santana 1991). I
e. Coliform _
Berdasarkan hasil pengamatan Purwaningsih (1992),
kelimpahan Escherichia :oli dan total coli pada lokasi yang dimanfaatkan
sebagai MCK (Mandi Cuci Kakus) relatif lebih tinggi dibanding lokasi
lainnya di Situ Lido. Secara umum keliirlpahan bakteri kelompok
coliform di Situ Lido telah melewati batas minimum yang diijinkan oleh
WHO (1978) untuk pemanfaatan air situ sebagai tempat rekreasi.
114Page 15

Y. Wardiatno, I. Anggraeni, R. Ubaidillah, l. Maryanto
TELAGA WARNA
A. Lokasi
Danau Telaga Warna prmcak terletak di Kecamatan Cisarua
Kabupaten Bogor. (6° 42’LS; 106 °, 59’BT) Ā
B. Morfometri
1. Dimensi Permukaan
Panjang maksimum Telaga Warna, yaitu jarak dua titik terjauh
pada permukaan garis tepi telaga adalah 166 meter, sedangkan lebar
maksimumnya, yaitu sebesar 121,5 meter (Mahasiswa BDP dan MSP
Pak Perikanan 1989)._ Luas permukaan danau yaihrluas wilayah
permukaan yang terendam air sebesar 00119375 Km? Mahasiswa BDP
dan MSP Fak Perikanan, 1997) dalam laporannya mengemukakan bahwa
panjang maksimum dan lebar maksimum Telaga Warna masing-masing
adalah 136 meter dan 35 meter, luas permukaan Telaga Warna sebesar 5
ha. Perbandingan ukuran luas tersebut mempunyai arti bahwa untuk
kurun 8 tahun telah terjadi penyusutan luas.
Hasil pengukuran garis keliling telaga sebesar 500 meter.
Selanjutnya hasil pengukuran indeks perkembangan garis tepi
didapatkan nilai sebesar 1.291. Indeks ini dipakai untuk melihat bentuk
danau. Dari nilai tersebut diduga Telaga Warna berbentuk ellips yang
mendekati bundar dengan kemiringan rata-rata Telaga Warna adalah
0.263 (Mahasiswa BDP dan MSP Fak Perikanan, 1989). Semakin curam
suatu danau, semakin sedikit daerah litoramya dan hal ini berpengaruh
bagi produkti-vitasnya.
2. Dimensi di Bawah Permukaan
Kedalaman maksimum telaga adalah 8,8 meter. Nilai kedalaman
relatif Telaga Warna adalah 7,1% (Mahasiswa BDP dan MSP Fak
115Page 16

Profil dan Permasalahan Situ, Rawa dan Danau
Perikanan, 1989). Kedalaman relatif adalah nilai yang diperlukan untuk
melihat stabilitas strafikasi di danau. Iika bernilai lebih besar dari 4%
maka diduga danau tersebut memiliki kondisi stabilitas yang tinggi.
Danau Telaga Warna berdasarkan pernyataan tersebut termasuk danau
yang memiliki kestabilan stratitikasi yang tinggi. Kedalaman rata-rata
Telaga Warna adalah merupakan parameter yang digunakan untuk
melihat produktivitas dan tingkat kesuburan suatu danau. Semakin kecil
nilainya semakin besar nilai produktivitas yang diperoleh. Telaga warna
memiliki nilai yaitu kurang dari setengah dari kedalaman
maksimumnya, yaitu 4,183 meter. l
Volume ‘danau merupakan volume total air yang ada dalam
danau yang diukur berdasarkan penjumlahan strata-strata kedalaman
yang ada. Volume total air di Telaga Warna sebesar 49943142 liter.
Volume development (perkembangan volume) adalah salah satu cara
untuk melihat bentuk dasar danau.” Yang memiliki nilai lebih besar dari
0,5 seperti yang terdapat di Telaga Warna (1,42626’7’765) diduga memiliki
dasar danau yang rata; ‘ _
C. Kondisi Parameter Fisika,’Kimia dan Biologi
.1..Kondisi Parameter Fisika dan Kimia
Suhu air berkisar antara 21,5-22,5 “C (Mahasiswa BDP dan MSP
Fak Perikanan 1997), suhu tersebut bervariasi menurut kedalaman
(Mahasiswa BDP dan MSP Fak Perikanan 1989). Semakin dalam semakin
rendah suhunya. Secara keseluruhan suhu di Telaga Warna termasuk
rendah (dingin), hal ini diduga karena faktor ketinggian.
Warna’ perairan di Telaga Warna tampak hitam hampir di
sekeliling danau kecuali pada bagian inlet, coklat pada bagian tengah
dan hijau pada bagian pinggir dekat tempat peristirahatan/ bangunan
di dekat pintu masuk, hal ini dimaklumi karena pada bagian tersebut
terdapat tumbuhan air Hyclrilla verticillata. Sedangkan pengamatan
dengan menggunakan skala Forel u1< 2 0. Ini berarti bahwa perairan
116Page 17

Y. Wardiatno, I. Anggraeni, R. Ubaidillah, l. Maryanto
Telaga Wama memiliki tingkat produktif sedang karena warna ,airnya
bening atau tak berwarna (Mahasiswa BDP dan MSP Fak. Perikanan
1997).
‘ Kekeruhan Telaga Warna berkisar antara 2,6-5,5 (Mahasiswa
BDP dan MSP Fak. Perikanan, 1997). Nilai kekemhan pada ketiga stasiun
menunjukkan bahwa perairan Telaga Warna masih jernih dengan tingkat
kekeruhan tergolong rendah. Pengukuran Daya Hantar Listrik (DHL)
pada Telaga Wama sebesar 57,8 umhoss/ cm (Mahasiswa BDP dan MSP
Fak. Perikanan 1997).
Nilai TDS pada perairan Telaga Warna berkisar antara 28-31
mg/l (Mahasiswa BDP dan MSP Fak Perikanan 1997). Secara umum
dapat dikategorikan bahwa nilai TDS dengan kisaran seperti itu masih
termasuk ke dalam kisaran rendah, sebab rata-rata nilai TDS di perairan
kurang lebih 120 mg/l.
Kandungan padatan tersuspensi total (TSS) pada air Telaga
Wama diperoleh nilai sebesar 0,09 mg/ l. Nilai ini merupakan padatan
tersuspensi dengan kualitas air yang tidak membahayakan bagi
perikanan, karena tergolong rendah (Mahasiswa BDP dan MSP Fak
Perfleman 1997). ‘
Menurut laporan mahasiswa BDP dan MSP Fak Perikanan (1997)
kisaran pH yang terdapat pada perairan Telaga Warna berkisar antara
6,8-7,1 dan 5,2-7,5 (Mahasiswa BDP dan MSP Fak. Perikanan, 1989).
Kisaran ini merupakan kondisi normal untuk perairan karena pH
optimum untuk perairan adalah 6,5-8,5 (Pescod 1973).
Kandungan oksigen terlarut (DO) yang terukur pada tiga stasiun
pengamatan tergolong baik karena berkisar antara 7,10-8,33 mg/ 1
(Mahasiswa BDP dan MSP Fak Perikanan 1997). Oksigen terlarut (DO)
pada permukaan telaga adalah 7,02 mg/1, pada kedalaman 1 m dan 3 m
kandungan DO masing-masing 6,04 mgl dan 3,90 mg/1. Pada kedalaman
5-8 m sudah tidak terkandung oksigen lagi. Semakin dalam perairan
maka kandungan DO semakin rendah.
117Page 18

F
s
I
Profil dan Permasalahan Situ, Rawa dari Danau
Kandungan karbondioksida yang terukur pada pengamatan
pada tiga stasiun didapatkan kisaran 1,078-2,156 mg/ 1 atau bertambah
dengan semakin bertambahnya kedalaman; pada kedalaman 0 m hingga
1 m tidak terukur adanya karbondioksida, dan mulai ditemukan pada
kedalaman ‘3 m dengan nilai 3,596 mg/ 1, pada kedalaman 8 m sebesar
18,777 mg/ l (Mahasiswa BDP dan MSP Fak Perikanan, 1989).
Hasil pengukuran nilai daya mengabung asam yang merupakan
ukuran banyaknya karbonat dan bikarbonat yang terlarut dalam air
sebesar 24 mg/ l tiap stasiun dan 46 mg/ 1 tiap stasiun untuk alkalinitas
totalnya. Selanjutnya besarnya nilai alkalinitas totalnya berkisar antara
28-80 mg/ 1. Nilai _alkalinitas bertambah seiring bertambahnya
kedalaman. Hal ini terkait dengan kandungan CO2 di perairan.
Kesadahan total yang diperoleh dari pengamatan sebesar 23,023
mg/ 1. Sedangkan kesadahan Ca* di tiga stasiun berkisar antara 16,016-
18,018 mg/ 1. Pengukuran kesadahan Ca* yang dilakukan berkisar
antara 22-26 mg/ 1. Kesadahan di Telaga Warna masih tergolong baik
bagi kegiatan perikanan. Ā
_Berdasarkan pengamatan Mahasiswa (1997) pada tiga stasiun
dihasilkan nilai BOD sebagai berikut: 7,6 mg/ 1 (stasiun 1), 7,90 mg/ 1
(stasiim 2) dan 6,6 mg/ 1 (stasiun 3). Kisaran nilai 6,5-8 mg/1 termasuk
dalam kriteria nilai tercemar sedang. Nilai BOD meningkat dengan
meningkatnya kedalaman. Hal ini diduga disebabkan karena pada
kedalaman yang lebih besar makin banyak kandungan bahan organik
yang diuraikan oleh rnikroorganisme, sehingga dibutuhkan lebih banyak
oksigen. ‘ _
Nilai TOM pada perairan Telaga Warna bervariasi menurut
stasiun. Nilai TOM di dtasiun 1, 2 dan 3 masing-masing adalah sebesar
9,164 mg/ 1, 13,588 mg/1 dan 9,769 mg/1(Ma11asiswa Boraan MSP Fak
Perikanan 1997). v
Nilai COD Telaga Warna berkisar antara 11,57-12,62 mg/ 1
(Lestari dkk., 1997). Berdasarkan klasifikasi Lee dkk. (1979) maka kisaran
nilaui ini termasuk dalam setengah tercemar.
118Page 19

Y. Wardiatno, I. Anggraeni, R. Ubaidillah, I. Maryanto
Nilai rata-rata kandungan ammonia di Telaga Warnamenm-ut
Mahasiswa BDP dan MSP Fak Perikanan (1997) sebesar 0,66 ing/1,
Sedangkan kandungan nitrit dan nitrat masing-masing berkisar antara
0-0,4 mg/ I dan 0,0-0,02 mg/ I. Menurut Gunawati (1984) bahwanilai
nitrat sebesar 0,0-1,0 mg/ I termasuk dalam kesuburan rendah.
Kandungan nilai rata-rata orthofosfat dan total fosfat air Telaga
Warna masing-masing adalah sebesar 0,039 dan 0,189. Berdasarkan Liaw
(1969), yaitu atas dasar nilai total fosfat kualitas air sangat baik,
sedangkan berdasarkan orthofosfat-nya kualitas airnya cukup baik.
Sulfat yang terukur pada perairan air tawar berkisar antara
0,048~0,072 mg/ I (Mahasiswa BDP dan MSP Fak Perikanan, 1997) dengan
nilai total besi berkisar antara 0,010-0,09 mg/ 1. Hal ini berarti bahwa
perairan tersebut masih baik bagi perkembangan ikan dan belum
tercemar. Kisaran nilai ini tidak berbeda dengan kriteria besi total untuk
perairan alami yaitu 0,05-0,020 mg/ I. (Hariyadi (1995). _
2. Kondisi Parameter Biologi
Nekton yang terlihat dari permukaan telaga adalah ikan mas
(Cyprinus carpio) dan tumbuhan yang terlihat di dalam telaga adalah
Hydrilla.
Plankton yang diduga mendominasi perairan Telaga Warna di
permukaan adalah jenis Synedm tmchellomonas, Fragillaria dan
Botryococcus. Plankton lainnya yang ditemukan antara lain Mallomomzs,
Cosmarium, Euglemz, dan Spimlimz dan ZoopIanl<ton yang didapatkan
diantaranya adalah Philodina.
119Page 20

Profil dan Permasalahan Situ, Rawa dan Danau
CIBUNTU
A. Lokasi- . _ .
Situ Cibuntu terletak Desa Cibinong, Kecamatan Cibinong,
Kabupaten Bogor, Iawa Barat, dengan luas area 14 ha dan kedalaman
maksimum 1,15 m., namim menurut keterangan penduduk, pada tahun
1980 kedalaman perairan Situ Cibuntu mencapai 2 m dan luas perairan
sekitar 3 ha (Fahrudiani 1997). Menurut Sulawesty dkk. (2000) Situ
Cibuntu memiliki luas area 15.295 mz (±1,5 ha) atau sudah mengalami
penyusutan dengan panjang garis pantai 1523495 m. ‘Pengurangan luas
Situ Cibuntu diakibatkan oleh terjadinya pendangkalan terutama di
daerah inlet yang telah terbentuk delta.
Kedalaman maksimum 2 m dengan kedalaman rata-rata 0,88
m. Perairan dengan kedalaman rata-rata rendah umumnya akan
memiliki rasio lapisan fotlk dan afotik yang tinggi. Hal ini erat kaitannya
dengan semakin dalamnya perairan maka cahaya matahari akan
menembus sampai ke lapisan dasar perairan sehingga fotosintesis masih
dapat aktif dan sediaan oksigen besar. Sebelah barat Situ Cibuntu adalah
kebun campuran, sedangkan di sebelah utaranya terdapat kebun
singkong, pisang, dan kebun campuran. Letak tanah disebelah selatan
situ (daerah inlet) yang terdapat areal persawahan memiliki kondisi yang
miring dan lebih tinggi dari daripada letak situ (Nugroho 2002).
Bentukmorfologi Situ Cibuntu sangat sederhana karena tidak
terdapat teluk-teluk kecuali pada daerah spillway (saluran buangan air
agar volume situ tidak melebihi yang Ukurannya yang kecil
mengakibatkan situ sangat rawan terhadap kerusakan. Menurut Suryono
dan Aisyah (2000) kemarau yang panjang pada tahun 1996 menyebabkan
terjadinya pendangkalan dan penurunan luasan permukaan perairan.
Tahun 1998 dilakukan perbaikan secara keseluruhan mulai dari saluran
air masuk dan keluar, serta pinggiran dan dasar situ, sehingga dapat
dikatakan bahwa ekosistem Situ Cibuntu merupakan ekosistem baru
120

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: