2. Tinjauan Pustaka

PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEBERADAAN SITU (STUDI KASUS KOTA DEPOK)

Oleh : ROSNILA

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sumberdaya Lahan

Sumberdaya lahan merupakan sumberdaya alam yang sangat penting  untuk kelangsungan hidup manusia karena diperlukan dalam setiap kegiatan  manusia, seperti untuk pertanian, daerah industri, daerah pemukiman, jalan untuk  transportasi, daerah rekreasi atau daerah-daerah yang dipelihara kondisi alamnya  untuk tujuan ilmiah. Sitorus (2001) mendefinsikan sumberdaya lahan (land  resources) sebagai lingkungan fisik terdiri dari iklim, relief, tanah, air dan  vegetasi serta benda yang ada di atasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap  penggunaan lahan. Oleh karena itu sumberdaya lahan dapat dikatakan sebagai  ekosistem karena adanya hubungan yang dinamis antara organisme yang ada di atas lahan tersebut dengan lingkungannya (Mather, 1986).

Dalam rangka memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia yang terus  berkembang dan untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi,  pengelolaan sumberdaya lahan seringkali kurang bijaksana dan tidak  mempertimbangkan aspek keberlanjutannya (untuk jangka pendek) sehingga  kelestariannya semakin terancam. Akibatnya, sumberdaya lahan yang berkualitas   tinggi menjadi berkurang dan manusia semakin bergantung pada sumberdaya  lahan yang bersifat marginal (kualitas lahan yang rendah). Hal ini berimplikasi  pada semakin berkurangnya ketahanan pangan, tingkat dan intensitas pencemaran  yang berat dan kerusakan lingkungan lainnya. Dengan demikian, secara  keseluruhan aktifitas kehidupan cenderung menuju sistem pemanfaatan sumberdaya alam dengan kapasitas daya dukung yang menurun. Di lain pihak, permintaan akan sumberdaya lahan terus meningkat akibat tekanan pertambahan
penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita (Rustiadi, 2001).

2.2. Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan (land use) adalah setiap bentuk campur tangan  (intervensi) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya  baik material maupun spiritual (Vink, 1975). Penggunaan lahan dapat  dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar yaitu (1) pengunaan lahan pertanian dan (2) penggunaan lahan bukan pertanian.

Penggunaan lahan secara umum tergantung pada kemampuan lahan dan  pada lokasi lahan. Untuk aktivitas pertanian, penggunaan lahan tergantung pada  kelas kemampuan lahan yang dicirikan oleh adanya perbedaan pada sifat-sifat  yang menjadi penghambat bagi penggunaannya seperti tekstur tanah, lereng  permukaan tanah, kemampuan menahan air dan tingkat erosi yang telah terjadi.  Penggunaan lahan juga tergantung pada lokasi, khususnya untuk daerah-daerah  pemukiman, lokasi industri, maupun untuk daerah-daerah rekreasi (Suparmoko, 1995).

Menurut Barlowe (1986) faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan  lahan adalah faktor fisik dan biologis, faktor pertimbangan ekonomi dan faktor  institusi (kelembagaan). Faktor fisik dan biologis mencakup kesesuaian dari sifat  fisik seperti keadaan geologi, tanah, air, iklim, tumbuh-tumbuhan, hewan dan  kependudukan. Faktor pertimbangan ekonomi dicirikan oleh keuntungan, keadaan  pasar dan transportasi. Faktor institusi dicirikan oleh hukum pertanahan, keadaan politik, keadaan sosial dan secara administrasi dapat dilaksanakan.

2.3. Perubahan Penggunaan Lahan

Perubahan penggunaan lahan adalah bertambahnya suatu penggunaan  lahan dari satu sisi penggunaan ke penggunaan yang lainnya diikuti dengan  berkurangnya tipe penggunaan lahan yang lain dari suatu waktu ke waktu  berikutnya, atau berubahnya fungsi suatu lahan pada kurun waktu yang berbeda.  (Wahyunto et al., 2001). Perubahan penggunaan lahan dalam pelaksanaan  pembangunan tidak dapat dihindari. Perubahan tersebut terjadi karena dua hal,  pertama adanya keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin  meningkat jumlahnya dan kedua berkaitan dengan meningkatnya tuntutan akan mutu kehidupan yang lebih baik.

Para ahli berpendapat bahwa perubahan penggunaan lahan lebih  disebabkan oleh adanya kebutuhan dan keinginan manusia. Menurut McNeill et  al., (1998) faktor-faktor yang mendorong perubahan penggunaan lahan adalah  politik, ekonomi, demografi dan budaya. Aspek politik adalah adanya kebijakan  yang dilakukan oleh pengambil keputusan yang mempengaruhi terhadap pola  perubahan penggunaan lahan. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 3 yang menjelaskan skenario perubahan penggunaan lahan.

Selanjutnya pertumbuhan ekonomi, perubahan pendapatan dan konsumsi  juga merupakan faktor penyebab perubahan penggunaan lahan. Sebagai contoh,  meningkatnya kebutuhan akan ruang tempat hidup, transportasi dan tempat  rekreasi akan mendorong terjadinya perubahan penggunaan lahan. Teknologi juga  berperan dalam menggeser fungsi lahan. Grubler (1998) mengatakan ada tiga hal  bagaimana teknologi mempengaruhi pola penggunaan lahan. Pertama, perubahan teknologi telah membawa perubahan dalam bidang pertanian melalui peningkatan produktivitas lahan pertanian dan produktivitas tenaga kerja. Kedua, perubahan  teknologi transportasi meningkatkan efisiensi tenaga kerja, memberikan peluang  dalam meningkatkan urbanisasi daerah perkotaan. Ketiga, teknologi transportasi dapat meningkatkan aksesibilitas pada suatu daerah.

Menurut Adjest (2000) di negara Afrika Timur, sebanyak 70% populasi  penduduk menempati 10% wilayah yang mengalami perubahan penggunaan lahan  selama 30 tahun. Pola perubahan penggunaan lahan ini disebabkan karena  pertumbuhan penduduk, kebijakan pemerintah pada sektor pertanian dan  transmigrasi serta faktor sosial ekonomi lainnya. Akibatnya, lahan basah yang  sangat penting dalam fungsi hidrologis dan ekologis semakin berkurang yang pada akhirnya meningkatkan peningkatan erosi tanah dan kerusakan lingkungan  lainnya. Konsekwensi lainnya adalah berpengaruh terhadap ketahanan pangan yang berimplikasi semakin banyaknya penduduk yang miskin.

Perubahan penggunan lahan di suatu wilayah merupakan pencerminan  upaya manusia memanfaatkan dan mengelola sumberdaya lahan. Perubahan penggunaan lahan tersebut akan berdampak terhadap manusia dan kondisi  lingkungannya. Menurut Suratmo (1982) dampak suatu kegiatan pembangunan  dibagi menjadi dampak fisik-kimia seperti dampak terhadap tanah, iklim mikro,  pencemaran, dampak terhadap vegetasi (flora dan fauna), dampak terhadap  kesehatan lingkungan dan dampak terhadap sosial ekonomi yang meliputi ciri  pemukiman, penduduk, pola lapangan kerja dan pola pemanfaatan sumberdaya alam yang ada.

Penelitian yang membahas tentang perubahan penggunaan lahan dan  dampaknya terhadap biofisik dan sosial ekonomi telah banyak dilakukan.  Penelitian terhadap struktur ekonomi, yang dilakukan Somaji (1994) menyatakan  bahwa pada tahun 1984 wilayah industri berperan sebanyak 13,05% dan  meningkat menjadi 14,65% pada tahun 1990. Nilai ini dicapai akibat dari  kecepatan alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian selama kurun waktu  1981-1990 sebanyak 0,46%. Penelitian Janudianto (2003) menjelaskan perubahan  penggunaan lahan di Sub DAS Ciliwung Hulu didominasi oleh kecenderungan  perubahan lahan pertanian (sawah) menjadi lahan pemukiman dan perubahan  hutan menjadi lahan perkebunan (kebun teh). Hasil penelitian Heikal (2004)  menunjukkan penggunaan lahan di DAS Ciliwung Hulu berpengaruh nyata  terhadap peningkatan selisih debit maksimum-minimum sungai. Penurunan luas hutan dan luas sawah meningkatkan selisih debit maksimum-minimum,  sedangkan peningkatan luas pemukiman dan kebun campuran meningkatkan selisih debit.

2.4. Sumberdaya Air Permukaan: Situ

Air merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan, kesehatan, dan eksistensi  manusia serta bagi berkembangnya makhluk hidup lainnya. Menurut Asdak  (2002) sumberdaya air mengalami siklus yang dikenal dengan siklus hidrologi.  Akibat energi matahari terjadi proses evaporasi pada permukaan bumi yang  menghasilkan uap air. Uap air ini akan mengalami kondensasi dan turun sebagai  hujan. Air hujan sebagian tertahan ditajuk tumbuhan dan sebagian lagi jatuh ke tanah.

Di permukaan tanah, hujan terbagi menjadi air aliran permukaan (run off),  evaporasi dan infiltrasi. Sedangkan aliran permukaan dan air infitrasi akan  mengalir ke sungai sebagai debit aliran. Hutan mempunyai daya serap air hujan  yang besar serta mencegah terjadinya aliran permukaan yang berlebihan. Sebagian  besar dari aliran permukaan, air hujan langsung dan sebagian dari air mata air  memasok air untuk danau, rawa, waduk, situ dan badan air lainnya seperti sungai.  Sungai pada akhirnya bisa bermuara pada danau, waduk, situ, rawa, laut dan perairan lainnya.

Daerah perdesaan banyak memiliki lahan yang memiliki vegetasi yang rapat  bila dibandingkan dengan perkotaan. Kalau daerah pedesaan berubah menjadi daerah perkotaan maka akan terjadi perubahan lingkungan yang besar. Banyak  tempat-tempat yang mengalami perkerasan, seperti pembangunan perumahan, infrastruktur dan bangunan lainnya merubah struktur tanah terutama pada  permukaannya dan keadaan vegetasi semula. Dalam kondisi seperti ini laju  infiltrasi air hujan masuk ke dalam tanah menjai rendah. Sebaliknya, air  permukaan akan lebih banyak dibandingkan dengan air yang masuk ke dalam  tanah melalui infiltrasi (Sudarmadji, 1988). Menurut Kibler (1982) dalam Rogers  (1998) akibat yang terjadi karena proses urbanisasi (urbanisasi) terhadap hidrologi adalah seperti tertera pada Tabel 2.

Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan sumberdaya air adalah air  yang terperangkap di cekungan tanah yang dikenal sebagai situ. Pengertian situ sebenarnya belum ada kesepakatan oleh para ahli. Suryadiputra (1999)  mendefinisikan situ adalah salah satu jenis lahan basah (umumnya berair tawar)  dengan sistem perairannya tergenang. Situ dapat terbentuk baik secara alamiah  (natural) karena kondisi topografi yang memungkinkan terperangkapnya  sejumlah air ataupun buatan manusia (artificial) yang merupakan sumber air baku  bagi berbagai kepentingan kehidupan manusia. Sumber air yang ditampung pada umumnya berasal dari air hujan, sungai atau saluran pembuang dan mata air. Sementara itu menurut Bappeda Tangerang (1987), situ adalah suatu wadah genangan air di atas permukaan tanah yang terbentuk baik secara alami maupun  buatan yang airnya berasal dari tanah atau air permukaan, sebagai siklus hidrologi  yang potensial dan berfungsi antara lain sebagai sumber air untuk keperluan irigasi, air baku, air minum, pengendalian banjir dan kegiatan lain.

Menurut Aboejoeno (1999), situ merupakan salah satu sumberdaya air yang  mempunyai fungsi dan manfaat sangat penting bagi kehidupan dan  lingkungannya, sehingga keberadaan situ-situ dalam suatu wilayah sangat  potensial untuk menciptakan keseimbangan hidrologi dan keanekaragaman hayati  serta potensial meningkatkan kesejahteraan kehidupan masyarakat. Alikodra (1999) menjelaskan beberapa fungsi penting situ yaitu :

1. Sebagai sumber air bagi kehidupan

Banyak situ-situ terutama di Jabotabek yang dimanfaatkan sebagai sumber air  oleh masyarakat. Masyarakat di sekitar situ umumnya memanfaatkan situ  untuk keperluan MCK dan sebagian lagi menggunakan situ sebagai sumber air  minum. Selain itu, situ juga dimanfaatkan sebagai sumber air untuk irigasi maupun industri.

2. Pengaturan tata air dan pemasok air tanah

Dalam pengaturan tata air (fungsi hidrologi) situ merupakan tempat  penampungan air, baik yang berasal dari hujan maupun sumber air mengalir  (sungai). Air yang tertampung di dalam suatu situ merupakan pemasok air ke  aquifer, air tanah atau situ lainnya yang letaknya lebih rendah. Dengan  demikian keberadaan situ sangat penting dalam mempertahankan air tanah dangkal yang merupakan sumber air bagi masyarakat sekitarnya.

3. Pengendali banjir

Pada waktu musim hujan situ-situ dapat menyimpan kelebihan air, baik air  yang berasal dari air hujan maupun dari sungai. Pada waktu musim hujan  sungai akan kelebihan air dan meluap masuk ke dalam situ yang ada dan  dalam waktu tertentu air akan tersimpan. Dengan demikian situ-situ akan  dapat mengurangi volume air pada waktu musim hujan sehingga mengurangi  terjadinya banjir sekaligus mempertahankan persediaan air pada musim  kemarau. Salah satu penyebab terjadinya banjir di DKI Jakarta diduga adanya  penimbunan situ/rawa sehingga kelebihan volume air hujan meluap ke daerah pemukiman.

4. Pengatur iklim makro

Proses evapotranspirasi yang terjadi di sebuah situ dapat menjaga kelembaban  di daerah sekitarnya. Selain itu, situ yang luas dan memiliki hutan/pepohonan  yang baik akan mampu menyimpan air hujan dan kelembaban dapat dipertahankan sepanjang waktu.

5. Pengendap lumpur dan pengikat zat pencemar

Adanya vegetasi yang tumbuh di situ-situ akan memperlambat aliran air. Hal  ini menyebabkan air akan tertahan lebih lama dan menyebabkan terjadinya  pengendapan lumpur-lumpur yang terbawa aliran air. Selain itu, adanya  vegetasi, melalui sistem perakarannya, dapat menyerap unsur hara dan mengikat polutan-polutan terutama limbah B3.

6. Habitat berbagai jenis flora/fauna

Adanya situ-situ dalam satu kesatuan ekosistem merupakan habitat berbagai jenis flora dan fauna. Berbagai jenis flora dan fauna kehidupannya sangat tergantung dengan adanya situ. Berbagai jenis burung dan tumbuhan tertentu  serta hewan-hewan air dapat hidup dan berkembang biak tergantung dari  keberadaan situ, sehingga situ turut membantu melestarikan keanekaragaman hayati.

7. Tempat rekreasi/wisata

Di wilayah Jabotabek banyak situ yang digunakan untuk memelihara ikan dan  taman pemancingan. Situ-situ yang cukup luas biasanya dikelola secara  komersial sebagai tempat rekreasi yaitu sebagai tempat olah raga air dan  taman perahu. Dengan demikian keberadaan situ secara ekonomi mampu  menunjang pendapatan masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung.

8. Budidaya perikanan

Banyak situ khususnya di wilayah Jabotabek yang dimanfaatkan oleh  masyarakat untuk budidaya ikan. Jenis ikan yang dibudidayakan umumnya adalah ikan mas atau tawes dengan sistem keramba.

Menurut Suryadiputra (1999) bahwa terdapat kaitan antara eksistensi situ  dengan perubahan penggunaan lahan yang berada di sekitar situ. Akibat  percepatan pertumbuhan penduduk di Jabotabek menyebabkan ekosistem perairan  (lahan basah) terganggu. Gangguan paling utama adalah semakin kecilnya luas  situ (water body) akibat pendangkalan. Pendangkalan terjadi akibat proses sedimentasi yang cepat sehingga memperkecil luas situ yang ada.

Dilihat dari perspektif historis terbentuknya situ, Wayono (1999)  memaparkan bahwa situ di Jabotabek terbentuk dari proses geologi. Daerah yang meliputi Lebak Timur, Bogor Barat dan Bogor Utara (Cibinong dan

Klapanunggal), merupakan formasi geologi tertua (Formasi Rengganis) yang  terdiri dari batu pasir halus-kasar, konglomerat dan batu lempung berusia Miosen  Awal. Formasi ini masih tersingkap di Selatan Tenggara Parung Bangsa, bagian  Barat Laut Kabupaten Bogor. Pada saat Miosen Tengah terjadi pengangkatan,  terlipat dan tersesarkan. Persesaran turun terutama terjadi di barat laut (Lebak),  dan di DKI Jakarta dapat ditelusuri mulai dari Grogol hingga ke Kembangan  Timur. Persesaran geser terjadi di timur laut (Bogor Utara) dengan garis sesar  mengarah ke utara selatan, yang membentang mulai dari Jatinegara, Cibubur dan  berakhir di Citereup, menjulang ke arah selatan mencakup wilayah Cibinong, Parung hingga Pasar Minggu.

Pada saat Plistosen awal, wilayah ini terangkat kembali dan di bagian utara  Jakarta di tandai dengan gundukan pantai. Antara Pliosen dan Plistosen terjadi  aktifitas gunung api di bagian selatan (Bogor Tengah, Gunung Gede, Pangrango  & Gunung Salak) yang menghasilkan batuan gunung api muda. Endapan vulkanik terdistribusi hingga saat ini menutupi hingga bagian selatan dan tengah Jakarta
dengan ketebalan ± 300 m.

Pada saat yang sama juga terjadi aktifitas gunung api di Banten Barat  (Gunung Karang) dan menghasilkan endapan vulkanik (tuf, breksi, batu apung  yang terendapkan) hingga Tangerang dan wilayah DKI Jakarta (Kecamatan  Cengkareng dan Kalideres). Distribusi endapan vulkanik inilah secara alami  menutup punggungan dan lembah hamparan muka bumi hasil pembentukan pada  saat Miosen. Pada saat itu terjadi perubahan bentang alam mulai dari Citereup ke  arah utara (Cibinong, Parung, Depok, hingga Pasar Minggu dan Ulujami), yang pada saat Miosen membujur ke arah barat timur, hingga berubah arah utara selatan. Distribusi endapan endapan aluvial pada daerah-daerah cekungan
(lembah) akhirnya terbentuklah situ-situ alami (Wayono, 1999).

2.5. Sistem Informasi Geografis

Dalam rangka mendeteksi perubahan yang terjadi di permukaan bumi  diperlukan suatu teknik yang dapat mengidentifikasi perubahan-perubahan atau  fenomena melalui pengamatan pada berbagai waktu yang berbeda. Menurut Singh  (1989) salah satu data yang paling banyak digunakan adalah data penginderaan  jauh dari satelit yang dapat mendeteksi perubahan karena peliputannya yang  berulang-ulang dengan interval waktu yang pendek dan terus menerus.  Penginderaan jauh merupakan suatu teknik untuk mengumpulkan  informasi mengenai obyek dan lingkungannya dari jarak jauh tanpa sentuhan  fisik. Biasanya menghasilkan beberapa bentuk citra yang selanjutnya diproses dan  diinterpretasi untuk menghasilkan data yang bermanfaat untuk aplikasi sesuai dengan kebutuhannya (Lo, 1996).

Sedangkan definisi Sistem Informasi Geografis (SIG) menurut Chrisman  (1997) adalah suatu sistem perangkat lunak maupun keras, data, orang, organisasi  dan institusi yang melakukan pengumpulan, penyediaan, analisis menyimpulkan  informasi yang meliputi area di bagian bumi. Jadi data tersebut dapat berupa data  spasial dan tabular yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan.  Analisis spasial dikembangkan untuk mengisi kebutuhan akan permodelan  dan penganalisisan data spasial. Rustiadi et al. (1999) mendefinisikan analisis  spasial sebagai suatu kemampuan umum untuk memanipulasi data spasial ke  dalam bentuk-bentuk yang berbeda dan mengekstraksi pengertian tambahan sebagai hasilnya. Analisis spasial berbeda dengan peringkasan (summarization) data spasial.

Rustiadi et al. (1999) mendefinisikan analisis spasial sebagai suatu  kumpulan dari teknik-teknik analisis kejadian-kejadian geografis di mana hasilhasil  analisis tergantung pada susunan spasial kejadian-kejadian tersebut. Bentuk  dari ‘kejadian geografis’ ini dinyatakan dalam kumpulan obyek titik, garis, atau  area. Dengan demikian, analisis spasial membutuhkan informasi nilai – nilai atribut maupun geografi dari obyek – obyek yang dikumpulkan tersebut.

One Comment on “2. Tinjauan Pustaka”

  1. FaRock Says:

    saya mengutip sebagian kalimat di atas untuk pengumpulan bahan/referensi skripsi saya …
    terimakasih _\

    Fb:Jeck FaRock


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: