3. Metodologi Penelitian

PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEBERADAAN SITU (STUDI KASUS KOTA DEPOK)

Oleh : ROSNILA

Sumber: http://www.damandiri.or.id/

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Waktu dan Lokasi

Penelitian Penelitian ini dilakukan pada Bulan November 2003 sampai dengan Bulan Mei 2004. Lokasi penelitian dilaksanakan di Kota Depok (Gambar 4).

3.2. Penentuan Sampel dan Responden

Teknik penetapan lokasi situ dilakukan secara non acak terpilih (purposive sampling) di daerah suburban (desakota) yaitu Kota Depok yang berbatasan langsung dengan Kota Jakarta dengan asumsi bahwa wilayah ini mengalami perubahan penggunaan lahan yang pesat akibat perembetan kenampakan perkotaan DKI Jakarta sehingga mempengaruhi luas situ. Pemilihan lokasi juga dilakukan pada daerah yang mengalami perubahan penggunaan lahan dengan luas situ lebih besar dari 5 hektar. Pembenaran ini dilakukan atas dasar pertimbangan dalam ketelitian pengukuran luas situ secara spasial dan ketersediaan data. Situ yang terpilih berjumlah 7 (tujuh) situ tersebar di Kecamatan Cimangggis 5 situ (Situ Cilangkap, Rawa Kalong, Pedongkelan, Tipar, dan Situ Jatijajar), Kecamatan Sukmajaya 1 situ (Situ Cilodong) serta Kecamatan Pancoran 1 situ (Situ Citayam). Distribusi ke tujuh situ tersebut terlihat pada Gambar 4. Adapun dalam pemilihan gambar terhadap seluruh situ tersebut diperoleh dari peta citra landsat tahun 1991. Sebaran situ terlihat jelas pada peta citra landsat tahun 1991 bila dibandingkan dengan peta citra landsat tahun 1997 dan 2001.

Unit data yang dianalisis adalah desa/kelurahan yang berbatasan langsung dengan situ. Teknik pengambilan data dan informasi terhadap masyarakat dilakukan secara non acak terpilih (purposive sampling). Responden adalah  penduduk yang memiliki ketergantungan terhadap situ atau penduduk yang  memanfaatkan situ yang berada di Daerah Tangkapan Air (DTA) situ.  Pengambilan contoh dikumpulkan sebanyak 10% dari jumlah rumah tangga yang  berada di wilayah cakupan situ yang mengalami konversi. Jumlah responden di masing-masing daerah tangkapan (DTA) wilayah situ dapat dilihat pada Tabel 3.

Sedangkan penetapan Daerah Tangkapan Air (DTA ) situ adalah wilayah  yang memiliki keterkaitan langsung terhadap situ yang membentuk suatu  ekosistem. Faktor-faktor yang memiliki keterkaitan tersebut meliputi hidrologi, kelerengan, tata guna lahan dan manusia.

3.3. Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara  pengamatan langsung (observasi), wawancara dan pengumpulan data sekunder  seperti disajikan pada Tabel 4.

Gambar 2. Peta Distribusi Situ di Wilayah Penelitian

3.4. Analisis Data

3.4.1. Analisis Dinamika Perubahan Pemanfaatan Lahan di Kawasan Situ

Analisis dinamika perubahan pemanfaatan lahan di sekitar kawasan situ  (DTA situ) dan perubahan luas situ dilakukan secara deskriptif. Adapun daerah  tangkapan air situ diukur dari titik terluar badan air situ sejauh 100 m ke arah luar.  Pengumpulan data penggunaan lahan dan luas situ dilakukan pada tiga titik waktu  yaitu tahun 1991,1997 dan tahun 2001 dilakukan melalui interpretasi citra penginderaan jauh. Pelaksanaan interpretasi citra dilakukan dalam tiga tahap:

1. Tahap persiapan

Tahap ini meliputi tahap studi pustaka dan pengumpulan data  penginderaan jauh (berupa citra landsat) tahun 1991, 1997 dan tahun 2001 dan  data penunjang (Peta Rupa Bumi tahun 1990 & 2000 dan Peta Penggunaan Lahan Kota Depok).

2. Tahap interpretasi, uji lapang dan interpretasi ulang

Kegiatan interpretasi meliputi interpretasi perubahan penggunaan lahan  dan luas situ, penggambaran peta tematik hasil interpretasi, memplot data tematik  ke peta kerja (hasil digitasi), pengeditan dan pelabelan peta tematik.

Kegiatan uji lapang dengan melakukan pengecekan hasil interpretasi citra  berupa tutupan lahan dengan pengamatan maupun pengukuran langsung di  lapangan dengan menggunakan GPS untuk menentukan lokasi suatu titik. GPS  adalah sistem pencarian posisi dengan akurasi tinggi berbasis satelit dan dapat diakses oleh siapapun dan dimanapun di seluruh permukaan bumi.

Berikutnya interpretasi ulang bertujuan untuk menilai ulang dan  memperbaiki data awal yang salah setelah pengecekan lapangan serta menambah atribut yang kurang. Kegiatan ini meliputi tutupan lahan, perbaikan basis data dan perbaikan peta-peta tematik.

Perbedaan penarikan batas satuan lereng, tutupan lahan hasil interpretasi  dengan kenyataan di lapangan dikoreksi melalui interpretasi ulang. Dengan demikian kesalahan penarikan batas satuan lahan akan dapat diatasi.

3. Tahap penyajian hasil

Penyajian hasil dan analisis peta tematik dilakukan dengan Sistem  Informasi Geografis (SIG) melalui proses tumpang tindih terhadap peta tematik yaitu peta penggunaan lahan dan luas situ.

Selanjutnya data olahan tersebut dianalisis untuk mengetahui:

a. Kondisi dan penyebaran berbagai jenis penggunaan lahan di sekitar kawasan situ
b. Identifikasi adanya alih fungsi lahan pada suatu periode waktu tertentu.
c. Hubungan antara alihfungsi lahan dengan karakteristik situ, dengan  mengkaji perubahan penggunaan lahan selama kurun waktu tertentu, perkembangan penduduk dan luasan kawasan situ.

3.4.2. Teknik Pendugaan Pertumbuhan

Pendugaan pertumbuhan secara matematis dapat diduga dengan fungsi  pertumbuhan atau peluruhan (growth/decay function) dari segala aspek. Model ini  dapat digunakan untuk menduga perubahan seiring dengan waktu. Model pertumbuhan umum menggunakan persamaan sebagai berikut :

Ada 2 (dua) model pertumbuhan yang sering dipakai yaitu (1) discrete  time model dan (2) continuous time model. Model discrete time didasarkan pada  asumsi bahwa pertumbuhan terjadi secara agregat dengan laju pertumbuhan yang relatif konstan, dengan persamaan sebagai berikut:

Model ini digunakan untuk menduga laju perubahan luas situ dan perubahan penggunaan lahan periode tahun 1991 sampai dengan tahun 2001.

Sedangkan continuous time model terdiri dari 3 (tiga) model yaitu :

1. Model Pertumbuhan Linier

Model ini merupakan model pendugaan pertumbuhan dengan menggunakan asumsi bahwa perubahan laju pertumbuhan relatif konstan.

2. Model pertumbuhan eksponensial.

Model ini merupakan model pertumbuhan yang didasarkan pada asumsi bahwa persentase laju pertumbuhan relatif berubah.

3. Model Pertumbuhan Jenuh.

Model ini merupakan model pertumbuhan dengan asumsi bahwa laju dan  persentase pertumbuhan senantiasa berubah, dimana ada satu titik tertentu saat pertumbuhan akan berhenti/jenuh bahkan turun (leveling off).

Peubah yang diukur dengan menggunakan model ini adalah perubahan  luas situ, perubahan penggunaan lahan dan pertumbuhan penduduk tahun 1991  hingga 2001. Model terbaik dipilih berdasarkan nilai koefisien determinasi (R2)  terbesar. Umumnya model yang baik memiliki R2 yang cukup tinggi, yaitu mendekati 1.

3.4.3. Analisis Faktor yang Mempengaruhi Luas Situ.

Analisis korelasi digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan antara  dua peubah yang diasumsikan berpengaruh terhadap perubahan luas situ, sebagai  salah satu pertimbangan dalam melihat ada atau tidaknya hubungan sebab akibat  antar peubah tersebut. Dalam analisis korelasi sederhana, keeratan hubungan  antara dua peubah akan ditunjukkan apakah berkorelasi positif, negatif atau tidak berkorelasi. Dua peubah dinyatakan berkorelasi positif bila memiliki  kecenderungan yang searah. Sebaliknya, jika kedua peubah tersebut berkorelasi  negatif dinyatakan memiliki kecenderungan tidak searah (berbanding terbalik).  Dua peubah disebut tidak berkorelasi atau tidak memiliki hubungan sama sekali  jika nilai koefisien korelasi mendekati nol. Hal ini berarti perubahan nilai pada salah satu peubah tidak diikuti oleh perubahan pada peubah lainnya.

Koefisien korelasi yang menyatakan besarnya hubungan antara dua peubah dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut :

Selanjutnya dilakukan analisis regresi berganda (multiple regression)  untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap luas situ.  Persamaan model regresi berganda mencerminkan hubungan fungsional antara  peubah tidak bebas (Y) dengan peubah bebas (X), dengan mengikuti model sebagai berikut:

Simbol, peubah dan unit analisis yang digunakan tertera pada Tabel 5.  Pengujian hipotesis tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap  keberadaan situ dilakukan dengan melihat besarnya koefisien regresi setiap faktor/peubah bebas dengan menggunakan uji F.

Nilai F hitung diperoleh dari persamaan:

Kaidah pengujian:F hitung < F tabel terima Ho dan F hitung > F tabel tolak Ho

Jika pengujian menolak Ho, maka model tepat untuk meramalkan pengaruh antara peubah bebas dengan peubah-peubah tidak bebas.

3.4.4 Analisis Wawasan Masyarakat Sekitar Situ dan Pemanfaatan Situ

Analisis ini berupa analisis deskriptif dengan menggunakan uji khi kuadrat  dan uji beda nilai tengah pada dua karakteristik situ yang berbeda yaitu situ yang  masih dikategorikan sebagai situ yang relatif alami dan situ yang terpengaruh oleh  kegiatan manusia. Adapun parameter yang diuji adalah kondisi sosial ekonomi masyarakat serta pendapat masyarakat terhadap eksistensi situ serta pemanfaatan situ. Simbol, peubah dan unit analisis yang digunakan tertera pada Tabel 6.

Adapun penghitungan uji khi kuadrat mengikuti persamaan sebagai berikut:

Selanjutnya penghitungan uji beda nilai rata-rata dilakukan uji t dengan menggunakan rumus:

1.7. Kerangka Berpikir

Jumlah penduduk yang semakin meningkat menyebabkan kebutuhan  penduduk meningkat pula. Demikian juga dengan kemajuan teknologi yang  semakin pesat menyebabkan meningkatnya laju pembangunan. Akibatnya adalah  semakin besarnya perubahan penggunaan lahan. Perubahan ini terjadi karena  adanya faktor pendorong (driving force) diantaranya adalah faktor kelembagaan (kebijakan pemerintah), faktor fisik, sosial dan ekonomi.

Secara spasial, penggunaan lahan di daerah perkotaaan dari waktu ke  waktu akan mengalami perluasan wilayah ke arah pinggiran perkotaan. Umumnya  pada wilayah pinggiran perkotaan ini penggunaan lahannya didominasi oleh lahan  pertanian. Namun demikian, akibat terjadinya pergeseran arus urbanisasi telah  menyebabkan terjadinya perubahan penggunaan lahan ke arah penggunaan perkotaan. Gejala ini ikut mempengaruhi nilai lahan. Peruntukan lahan yangbernilai ekonomi rendah akan mengalami konversi ke peruntukan lahan yang bernilai ekonomi yang lebih tinggi.

Terkait dengan perubahan penggunaan lahan, faktor lain yang ikut  berperan penting adalah kedekatan dengan pusat pertumbuhan ekonomi dan  pemerintahan. Juga ditambah dengan mudahnya wilayah tersebut dijangkau  dengan sarana transportasi mempercepat pergeseran fungsi lahan menjadi kawasan pemukiman, industri dan kawasan terbangun lainnya.

Aktifitas perkotaan memiliki dampak positif dan negatif terhadap  kehidupan manusia dan lingkungan. Dampak negatif yang sangat penting dan  memerlukan perhatian serius adalah kerusakan lingkungan. Kondisi ini bisa  terjadi jika dalam kegiatan pembangunan tidak memperhatikan keberlanjutan sumberdaya alam.

Kerusakan lingkungan yang sangat menonjol dan berpengaruh terhadap  sistem penyangga kehidupan adalah kerusakan ekosistem situ. Ekosistem situ  berfungsi sebagai sumber kehidupan seperti sumberdaya air, perikanan, rekreasi  dan juga berperan dalam keseimbangan hidrologi diantaranya penampung air  hujan dan pengendali banjir. Kerusakan ini banyak dipengaruhi oleh faktor  biofisik dan sosial ekonomi seperti aksesibilitas, jenis penggunaan lahan, peningkatan jumlah penduduk dan kegiatan ekonomi masyarakat.

Situ yang berada pada wilayah yang mengalami urbanisasi akan  mengalami pengurangan luas dan daerah tangkapan airnya karena perubahan  penggunaan lahan terbangun sehingga memperkecil areal penyimpan air. Kondisi  ini juga diperparah dengan perilaku masyarakat dan pelaku ekonomi di sekitar situ yang berakibat buruk terhadap eksistensi situ. Pengurugan sebagian daerah

tangkapan situ dan badan air situ merupakan salah satu indikator penurunan luas  situ. Disamping itu, pembuangan sampah domestik dan limbah industri  mempercepat terjadinya penurunan kualitas dan kuantitas badan air situ (water body).

Fenomena ini dapat dijelaskan bahwa semakin banyaknya lahan terbangun  yang berada di sekitar kawasan situ mengakibatkan semakin besarnya air  permukaan limpasan ketika musim hujan. Sebaliknya, areal resapan air berupa  lahan bervegetasi (lahan hijau) yang berfungsi sebagai konservasi air dan tanah  semakin mengecil sehingga terjadi erosi yang semakin besar, sehingga  mempercepat terjadinya proses sedimentasi mengakibatkan kawasan situ tersebut  mengalami pendangkalan. Demikian juga pembuangan limbah menyebabkan  terjadinya pertumbuhan populasi suatu jenis hewan ataupun tumbuhan air yang  tidak terkendali yang lebih dikenal dengan eutrofikasi seperti gulma dan eceng gondok.

Akibat negatif yang ditimbulkan terhadap situ mengakibatkan  pemanfaatan situ tidak optimal. Implikasi yang timbul adalah semakin sedikit  jumlah dan jenis hewan atau pun tumbuhan yang bernilai ekonomi bagi  masyarakat akibat semakin buruknya kualitas air situ. Selain itu, nilai estetika  pemandangan di kawasan tersebut menurun sehingga tidak dapat lagi  dimanfaatkan sebagai kawasan wisata. Demikian juga terjadi pengurangan  kualitas dan kuantitas air tanah di sekitar situ yang pada gilirannya mempengaruhi  ketersediaan air baku bagi kebutuhan masyarakat di sekitar situ. Secara rinci  sistematika kerangka berpikir penelitian dan kerangka pendekatan operasional berturut-turut disajikan pada Gambar 3 dan 4.

One Comment on “3. Metodologi Penelitian”

  1. hanafiah maulidah Says:

    Hallo, anda melakukan penelitian disitu pladen? Kebetulan saya tertarik untuk melakukan penelitian ditempat yang sama. Bisa sharing? Terimakasih🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: