5. Hasil dan Pembahasan

PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEBERADAAN SITU (STUDI KASUS KOTA DEPOK)

Oleh : ROSNILA

Sumber: http://www.damandiri.or.id/

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Kondisi Situ dan Perubahan Luas Situ di Kota Depok

Situ merupakan sumberdaya air permukaan yang penting bagi kehidupan  manusia. Namun akibat perubahan lingkungan menyebabkan ekosistem situ  terganggu. Permasalahan yang umum terjadi pada ekosistem situ di Kota Depok  adalah terjadinya sedimentasi, eutrofikasi, pengurugan dan alih fungsi lahan.  Salah satu indikasi bahwa situ tersebut mengalami gangguan terlihat dari semakin  berkurangnya daya tampung air situ sehingga luas situ menurun. Gambar 8  menunjukkan bahwa ketujuh situ (Situ Citayam, Cilangkap, Rawa Kalong,  Jatijajar, Cilodong,Tipar dan Pedongkelan) mengalami penurunan luas.

Gambar 8. Perubahan Luas Situ Selama 10 Tahun ( Tahun 1991 - 2001)

Kondisi umum ketujuh situ di Kota Depok ditunjukkan pada Lampiran 11.  Dari ketujuh situ tersebut hanya Situ Cilodong dan Situ Jatijajar yang memiliki kondisi yang relatif baik. Hal ini didukung oleh masih adanya vegetasi di Daerah Tangkapan Air (DTA) situ, sedangkan permukiman hanya sebagian kecil yang  berdekatan dengan jalan raya. Sedangkan Situ Citayam, Cilangkap, Tipar dan Situ Pedongkelan didominasi oleh permukiman dan lahan terlantar.

Ketersediaan air situ sangat tergantung dengan kondisi lingkungannya  terutama yang berada pada DTA situ. Faktor yang mempengaruhi ketersediaan air  situ adalah faktor tata guna lahan, fisik (curah hujan) dan aktivitas manusia  (pengurugan, pembuangan limbah dan lain-lain). Penggunaan lahan yang  mengarah pada aktivitas perkotaan dapat menyebabkan terjadinya  ketidakseimbangan sistem hidrologi. Ketika musim hujan, pada daerah ini terjadi  semakin besarnya aliran permukaan sedangkan proses infiltrasi semakin  berkurang, sehingga berimplikasi terjadinya pengikisan tanah (top soil) menuju ke  daerah yang lebih rendah yaitu kawasan situ. Tanah yang terbawa oleh air  mengakumulasi membentuk sedimentasi. Pola sedimentasi yang terjadi di areal  situ, di awali dari pinggiran situ sehingga lama kelamaan menuju ke arah dalam  situ. Proses ini menyebabkan situ mengalami pendangkalan. Proses pendangkalan  akan cepat terjadi apabila intensitas perubahan penggunaan lahan ke arah perkotaan semakin tinggi.

Disamping proses sedimentasi, percepatan pendangkalan situ dapat terjadi  apabila terjadi eutrofikasi. Eutrofikasi merupakan indikator bahwa suatu  ekosistem perairan mengalami gangguan. Pada kondisi ini terjadi peledakan  pertumbuhan suatu organisme akibat melimpahnya nutrien (zat makanan) bagi  organisme tersebut. Faktor yang memungkinkan terjadinya eutrofikasi di perairan  situ adalah akibat aktivitas perikanan dimana banyaknya pakan ikan yang masuk  ke dalam perairan situ. Disamping itu juga akibat buangan limbah rumah tangga ataupun industri yang mengandung zat-zat yang dibutuhkan oleh organisme  tersebut. Pada perairan situ, tumbuhan yang berkembang biak dengan cepat adalah  eceng gondok dan teratai. Tumbuhan ini memiliki sistem perakaran yang panjang  sampai ke dasar situ kemudian mengikat lumpur sehingga mempercepat proses  sedimentasi. Akibat terjadinya pendangkalan maka situ yang menjadi daratan  banyak dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian maupun untuk kawasan permukiman sehingga mengancam eksistensi situ.

Untuk mempertahankan ketersediaan air situ, diperlukan areal yang dapat  memasok air ke dalam situ yaitu areal yang didominasi oleh vegetasi. Vegetasi ini  mampu mengurangi aliran air permukaan karena pada waktu hujan air sebagian  tertahan di pohon, sebagian yang lain mengalami infiltrasi ke dalam tanah. Air  yang masuk ke dalam tanah sebagian menjadi air tanah dan sebagian yang lain diikat oleh akar tumbuhan. Sehingga kawasan ini merupakan kawasan resapan air.

Ditinjau dari skala Daerah Aliran Sungai (DAS), ketujuh situ yang telah  disebutkan di atas berada di bagian timur dan selatan Kota Depok. Kawasan  tersebut tercakup dalam DAS Ciliwung karena seluruh situ bermuara ke Sungai  Ciliwung. Kota Depok merupakan wilayah yang berada di bagian tengah DAS  Ciliwung sedangkan bagian hulu adalah Kawasan Puncak dan Bogor dan bagian  hilir adalah DKI Jakarta. Oleh karena itu situ merupakan salah satu kawasan  resapan air bagi DKI Jakarta. Dapat dikatakan bahwa situ merupakan komponen  sistem hidrologis yang perlu dilestarikan karena memiliki fungsi sebagai kawasan konservasi air dan tanah.

Dengan melihat kecenderungan situ mengalami penyusutan dari waktu ke  waktu perlu adanya pengendalian penggunaan lahan di DTA situ yang dalam hal ini terkait dengan tataruang wilayah dan perlunya keterlibatan masyarakat  terutama yang berada di sekitar situ dalam pengelolaan situ sehingga dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia.

5.2. Analisis Estimasi

5.2.1. Analisis Estimasi Perubahan Luas Situ

Untuk menduga perubahan luas situ dari tahun ke tahun digunakan  continuous time model (model linier) dengan asumsi bahwa perubahan laju  pertumbuhan relatif konstan. Analisis ini digunakan karena keterbatasan data  dimana data yang ada hanya dua titik waktu (Lampiran 3a). Tabel 8 menunjukkan  perubahan luas situ yang memiliki kecenderungan menurun dimana luas situ  mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Situ Jatijajar merupakan situ yang  sangat cepat mengalami perubahan dengan rata-rata laju penurunan -4.22% per  tahun dengan luas 8,95 ha pada tahun 1991 mengalami penurunan menjadi 5,45  ha pada tahun 2001. Rata-rata laju pengurangan yang paling rendah dari tujuh lokasi situ adalah Situ Cilodong sebesar -0,51% per tahun.

Luas situ sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang saling terkait  antara satu dengan lainnya yang terdapat di DTA situ. Faktor lingkungan yang  dimaksud adalah faktor biofisik (vegetasi, perubahan penggunaan lahan,  ketinggian, aksesibilitas dan lain-lain); sosial (pertumbuhan penduduk, perilaku  manusia seperti pembuangan limbah, kebijakan peruntukan lahan) serta faktor ekonomi (jenis pekerjaan).

Perubahan penggunaan lahan di areal Situ Cilodong tidak banyak  mengalami perubahan (Lampiran 1). Selama periode tahun 1991-2001 vegetasi  campuran masih mendominasi di kawasan ini dengan proporsi 9,35 ha (60,31%)  dari luas total DTA Situ Cilodong sebesar 15,51 ha pada tahun 1991 dan  mengalami pengurangan menjadi 8,71 ha (56,91%) dari total luas lahan pada tahun 2001.

Disamping itu karakteristik wilayah DTA situ ini lebih alami bila  dibandingkan dengan Situ Jatijajar. Kondisi air situ ini lebih jernih, tidak berbau  dan berpotensi sebagai tempat tujuan wisata. Hal ini menyebabkan kondisi alami situ, baik kualitas maupun kuantitas airnya, lebih dapat dipertahankan.

5.2.2. Analisis Estimasi Jumlah Penduduk

Diketahui bahwa jumlah penduduk merupakan salah satu indikator  terjadinya perubahan lingkungan termasuk perubahan penggunaan lahan.  Berdasarkan hasil analisis estimasi selama kurun waktu 10 tahun (1991-2001)  terlihat bahwa adanya kecenderungan peningkatan jumlah penduduk dari tahun ke  tahun seperti yang disajikan pada Gambar 9. Adapun analisis estimasi dilakukan  terhadap jumlah penduduk disebabkan oleh keterbatasan data jumlah penduduk per desa/kelurahan.

Analisis estimasi jumlah penduduk dalam kurun waktu tahun 1991-2001  terhadap ke-7 kelurahan di wilayah penelitian dengan menggunakan pendekatan  model pendugaan pertumbuhan eksponensial dan regresi linier sederhana  disajikan pada Lampiran 4. Pemilihan model yang tepat untuk menduga variabel tujuan adalah nilai koefisien determinasi yang cukup tinggi (R2 mendekati 1).

Gambar 9. Pertumbuhan Penduduk selama kurun waktu tahun 1991-2001

Rata-rata laju pertumbuhan penduduk periode tahun 1991-2001 pada tujuh  kelurahan lokasi penelitian tertera pada Tabel 9. Kelurahan Curug (Situ Rawa  Kalong) merupakan daerah yang sangat tinggi laju pertumbuhan penduduknya  (5,44% per tahun). Secara spasial, wilayah ini didominasi oleh penggunaan lahan  permukiman terutama kawasan industri seperti yang terlihat pada Lampiran 1.  Juga didukung oleh adanya sarana dan prasarana dimana daerah ini berada pada  jalur utama transportasi antara Bogor dan Jakarta sehingga daerah ini menjadi kawasan yang padat.

Berdasarkan data statistik (Kecamatan Cimanggis Dalam Angka, 2001)  Kelurahan Curug merupakan sentra industri terbesar, diikuti Kelurahan Tugu dan  Mekarsari di Kecamatan Cimanggis dengan jumlah 15 industri berskala besar dan  sedang. Secara otomatis kondisi ini banyak menyerap tenaga kerja yaitu sebesar 12.574 orang.

5.3. Dinamika Perubahan Penggunaan Lahan di Daerah Tangkapan Air Situ

5.3.1. Perubahan Penggunaan lahan

Berdasarkan hasil analisis perubahan penggunaan lahan dalam kurun  waktu 10 tahun (1991-2001) pada tujuh daerah tangkapan air situ (DTA situ) di  wilayah Kota Depok yaitu Situ Citayam, Cilangkap, Rawa Kalong, Jatijajar,  Cilodong,Tipar dan Pedongkelan nampak bahwa situ hampir di seluruh lokasi  mengalami perubahan. Rincian perubahan penggunaan lahan disajikan dalam  Lampiran 1. Lahan yang mengalami perubahan besar adalah vegetasi campuran.  Proporsi vegetasi campuran terbesar terdapat di DTA Situ Jatijajar yaitu 84,67%  (13.17 ha) dari luas total sebesar 15,56 ha pada tahun 1991 mengalami perubahan menjadi 9,24 ha (61,55%).

Proporsi perubahan penggunaan selama periode tahun 1991-2001 lahan  permukiman yang tercakup di seluruh wilayah penelitian mengalami peningkatan  luas, kemudian diikuti lahan terlantar (Lampiran 1). Peningkatan luas permukiman  terbesar terdapat pada DTA Situ Pedongkelan sebesar 46% selama kurun waktu  10 tahun dengan proporsi 1,6 ha (13,64%) pada tahun 1991 tetapi menjadi 6,91 ha  (59,65%) pada tahun 2001. Selanjutnya perubahan luas lahan terlantar terbesar  terdapat pada DTA Situ Cilangkap dengan luas 0,83 ha (5,06%) pada tahun 1991 meningkat menjadi 5,40 ha (37,49) pada tahun 2001.

Tidak demikian halnya dengan lahan tegalan dan vegetasi campuran yang  cenderung mengalami penurunan luas, sedangkan lahan sawah tidak memiliki  kecenderungan yang nyata. Penurunan luas lahan tegalan terbesar terdapat pada  DTA Situ Tipar dengan proporsi luas 20,81% (3,11 ha) pada tahun 1991 menurun menjadi 0,64 ha (4,31%) dari luas lahan total pada tahun 2001.

Selanjutnya periode tahun 1991-1997 luas vegetasi campuran memiliki  kecenderungan menurun. Secara parsial, diketahui bahwa lahan vegetasi  campuran mengalami penurunan terbesar terjadi di DTA Situ Tipar yakni sebesar  3,24 ha atau 21,65% dari total luas DTA Situ (Gambar 10). Penurunan tipe lahan  ini menaikkan luas lahan permukiman sebesar 13.69%. Berbeda dengan yang  terjadi di DTA Situ Citayam, luasan lahan terlantar mengalami peningkatan sebesar 2,03 ha (9,89%) selama periode tahun 1991-1997.

Gambar 10. Persentase Perubahan Penggunaan Lahan pada Tujuh DTA Situ Tahun 1991-1997

Gambar 11. Persentase Perubahan Penggunaan Lahan pada Tujuh DTA Situ Tahun 1997-2001

Gambar 11 menunjukkan persentase perubahan penggunaan lahan dalam  kurun waktu 4 (empat) tahun (tahun 1997-2001). Vegetasi campuran mengalami  penurunan, sebaliknya, permukiman dan lahan terlantar mengalami penambahan  luas. Hal ini dapat diketahui dari proporsi penggunaan lahan secara keseluruhan  yang didominasi oleh permukiman dan lahan terlantar. Seperti pada DTA Situ  Rawa Kalong dan Pedongkelan lebih dari separuhnya dari luas lahan total adalah permukiman masing-masing sebesar 72,68% dan 59,65% pada tahun 2001.

Terkait dengan peningkatan kawasan perumahan di kota Depok , Rustiadi  et al., (1999) menjelaskan bahwa pada proses suburbanisasi di Jakarta adanya  fenomena pertambahan penduduk sehingga penduduk asal Jakarta mencari lahan  untuk rumah tinggal yang lebih murah. Pada sisi lain, suburbanisasi seringkali  tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan riil lahan untuk aktivitas urban, terutama  kebutuhan perumahan tetapi seringkali hanya merupakan ajang pemenuhan  spekulasi dan investasi penduduk golongan menengah ke atas. Menurut Leaf  (1996) dalam Rustiadi et al., (1999), apabila dipandang pada sisi kebijakan  pemerintah, proses suburbanisasi di sekitar Jakarta (dalam hal ini Kota Depok)  pada dasarnya adalah juga sebagai dampak dari adanya kebutuhan politis pemerintah untuk membangun kota metropolitan modern.

Sedangkan peningkatan lahan terlantar terjadi juga akibat proses  suburbanisasi. Proses terjadinya suburbanisasi memiliki implikasi peningkatan  nilai lahan (land rent) karena tingginya kebutuhan akan lahan. Diduga  bertambahnya lahan terlantar disebabkan karena kepemilikan lahan tersebut sudah  berpindah tangan ke masyarakat DKI Jakarta. Menurut informasi masyarakat di  lokasi penelitian menyebutkan bahwa lahan terlantar tersebut banyak dimiliki oleh  pejabat pemerintah dan kelompok masyarakat menengah ke atas yang berdomisili  di Jakarta. Akhirnya penggunaan lahan yang memiliki nilai ekonomi rendah, yang  dalam hal ini vegetasi campuran mengalami konversi menjadi lahan terlantar pemukiman yang bernilai ekonomi lebih tinggi.

5.3.2. Laju Pengurangan dan Penambahan Luas Lima Jenis Penggunaan Lahan

Laju penambahan dan pengurangan penggunaan lahan selama kurun waktu  tahun 1991-2001 disajikan pada Tabel 10. Dari Tabel 10 diketahui jenis  penggunaan lahan terlantar di DTA Situ Jatijajar mengalami peningkatan yang  sangat besar dengan rata-rata laju penambahan sebesar 15,76% per tahun.  Sedangkan rata-rata laju penambahan permukiman tertinggi sebesar 7,66% per  tahun dijumpai di DTA Situ Pedongkelan. Sebaliknya, tegalan dan vegetasi  campuran justru mengalami penurunan yang cukup besar dengan rata-rata laju  penurunan luas berturut-turut sebesar -12,71% dan -12,28% per tahun. Hal yang  sama juga terjadi pada lahan sawah dengan rata-rata laju penurunan sebesar – 5,68% di DTA Situ Pedongkelan.

Kondisi ini sangat logis terjadi karena DTA Situ Pedongkelan merupakan  salah satu kawasan industri dan memiliki aksesibilitas dan kegiatan ekonomi yang  tinggi karena berbatasan langsung dengan Propinsi DKI Jakarta. Dalam hal ini  ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai mempercepat pertumbuhan  kegiatan ekonomi seperti makin banyaknya kawasan industri. Hal ini menjadi  faktor pendorong terjadinya peningkatan pertumbuhan penduduk yang pada gilirannya meningkatkan kebutuhan lahan areal permukiman, industri dan jasa.

Pada Gambar 12a sampai dengan Gambar 12g merupakan laju  penambahan/pengurangan penggunaan lahan di Daerah Tangkapan Air di ketujuh  lokasi situ yang diteliti. Di seluruh DTA situ antara tahun 1991-1997 dan 1997-  2001 yang mengalami peningkatan adalah lahan permukiman dan lahan terlantar, sedangkan vegetasi campuran mengalami penurunan.

Gambar 12a. Penambahan/Pengurangan Penggunaan Lahan di DTA Luas Situ Citayam

Gambar 12b. Penambahan/Pengurangan Penggunaan Lahan di DTA Situ Cilangkap

Gambar 12c. Penambahan/Pengurangan Penggunaan Lahan di DTA Situ Rawa Kalong

Gambar 12d. Penambahan/Pengurangan Penggunaan Lahan di DTA Situ Jatijajar

Gambar 12e. Penambahan/Pengurangan Penggunaan Lahan di DTA Situ Cilodong

Gambar 12f. Penambahan/Pengurangan Penggunaan Lahan di DTA Situ Tipar

Gambar 12g. Penambahan/Pengurangan Penggunaan Lahan di DTA Situ Pedongkelan

Pada Situ Citayam jenis penggunaan lahan permukiman telihat  peningkatan yang paling besar pada periode tahun 1997-2001 dengan laju sebesar  7,85%/tahun (Gambar 12a). Berbeda halnya dengan lahan terlantar terlihat bahwa  laju penambahan terbesar terjadi pada periode tahun 1991-1997 sebesar  9,89%/tahun. Pada periode yang sama vegetasi campuran terjadi penurunan yang  cukup besar juga dengan laju sebesar 12,50%/tahun. Fenomena ini terkait dengan  perembetan kenampakan dimana pada perubahannya diawali dengan adanya  lahan pertanian (tegalan dan lahan pertanian lainnya) ataupun lahan bervegetasi  lainnya mengalami konversi karena kepemilikan lahan banyak yang beralih ke  masyarakat perkotaan (DKI Jakarta) seiring dengan pertumbuhan penduduk sehingga lahan ini berubah menjadi permukiman.

Lahan permukiman yang terdapat di DTA Cilangkap (Gambar 12b) terlihat  mengalami peningkatan yang besar pada periode tahun 1991-1997 sebesar 4,43%  dan pada periode tahun 1997-2001 mengalami laju penambahan lagi  sebesar2,23%. Pada periode terakhir ini terlihat bahwa peningkatan permukiman  tidak sebesar sebelumnya karena kawasan ini sudah mengalami suburbanisasi sebelumnya sehingga lahannya telah didominasi oleh kawasan permukiman.

Pada DTA Situ Rawa Kalong terlihat lahan permukiman dan lahan  terlantar meningkat sebesar 9,68%/tahun dan 11,94%/tahun periode waktu 1997- 2001, sedangkan periode sebelumnya (1991-1997) vegetasi campuran mengalami  penurunan dengan laju sebesar 9,56%. Situ Cilodong merupakan situ yang paling  banyak didominasi oleh lahan bervegetasi yaitu vegetasi campuran, tegalan dan  lahan sawah, namun yang paling besar perubahannya adalah tegalan dengan laju penurunan sebesar 20,8%/tahun (1997-2001).

Terhadap laju penambahan lahan sawah terlihat perubahan yang tidak  konsisten di ketujuh situ. Hal ini diduga dalam analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) lahan sawah tersebut sebenarnya adalah lahan yang dimanfaatkan untuk sawah ketika situ mengalami pendangkalan atau pinggiran situ tertutup   gulma karena gulma tumbuh diawali dari pinggir danau. Tegalan hampir di   ketujuh situ mengalami penurunan luas dengan kisaran laju penurunan sebesar   20,82- 0,29%, kecuali yang berada di DTA Situ Jatijajar mengalami peningkatan   laju pada tahun 1997-2001 sebesar 4,48% dan 6,54% pada Situ Rawa Kalong   periode tahun 1991-1997. Hal ini diduga lahan kosong yang berada di lokasi   tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat secara temporal untuk kegiatan pertanian lahan kering.

5.4. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Luas Situ

Analisis ini menggunakan pendekatan model regresi linier berganda   seperti yang tersaji pada Tabel 11. Namun untuk menghindari multikolinieritas   dalam analisis regresi linier berganda dilakukan terlebih dahulu analisis korelasi   terhadap masing masing variabel bebas (Lampiran 7).   Berdasarkan uji analisis korelasi ternyata tidak satupun variabel bebas   (sembilan variabel) yang saling berkorelasi. Artinya persyaratan analisis regresi  terpenuhi sehingga dapat dilanjutkan analisis regresi linier berganda. Maka   pendugaan faktor-faktor yang mempengaruhi laju perubahan luas situ dapat diterangkan oleh satu persamaan regresi saja.

Dari persamaan model ini menunjukkan bahwa koefisien determinasi  sebesar 0,90. Dari angka ini memberikan indikasi bahwa parameter (variabelvariabel  penduga) yang dimasukkan ke dalam model regresi cukup mampu  menerangkan perilaku dari variabel laju perubahan luas situ sebesar 90%. Jadi  model yang dibangun sudah representatif karena mampu menerangkan pengaruh yang berarti terhadap laju penurunan luas situ.

Hasil analisis regresi linier berganda terhadap laju penurunan luas situ  menunjukkan bahwa variabel jarak desa tempat situ berada ke kabupaten yang  membawahi berpengaruh nyata positif pada taraf nyata 5% seperti yang  ditunjukkan pada Tabel 11. Hal ini berarti bahwa semakin jauh letak situ dari  ibukota kabupaten yang membawahi (Kota Depok) menyebabkan laju penurunan  luas situ luas situ semakin besar pula. Diduga fakta ini terjadi karena adanya  kaitan dengan pengawasan lembaga / institusi terkait. Semakin jauh lokasi situ  dari pusat pemerintahan (ibukota) kabupaten maka kontrol dalam pengawasan  baik dalam pengelolaan maupun pemeliharaan situ menjadi berkurang, sehingga laju penurunan luas situ semakin cepat.

Penjelasan lebih lanjut, mekanisme mengapa proses penurunan luas situ  makin cepat terjadi karena jauhnya lokasi situ memungkinkan semakin  berkurangnya perhatian ataupun kepedulian dalam memonitor eksistensi situ.  Berdasarkan tinjauan lapangan, kepedulian pemerintah (dinas terkait) berupa  pengendalian dan penertiban kepemilikan lahan oleh pihak yang berwenang di  Daerah Tangkapan Air (DTA) situ menjadi milik pribadi sehingga memperkecil  DTA situ. Sedangkan berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 14 Tahun  1998 (Anonimous, 1998) bahwa kawasan situ (termasuk DTA situ) merupakan  kawasan lindung yang merupakan milik negara. Disamping kurangnya penertiban  kepemilikan lahan, juga pembersihan situ dari gulma dan sampah lainnya dan  pengerukan situ tidak dilakukan secara berkala oleh dinas terkait sehingga proses  pendangkalan situ semakin cepat terjadi. Situ yang tidak terawat atau tidak adanya  pemeliharaan untuk kelestariannya memiliki kondisi yang jelek, banyak  ditumbuhi oleh gulma serta banyaknya kawasan permukiman di DTA situ lama kelamaan situ mengalami pendangkalan sehingga luas situ menyusut.

Variabel jarak desa ke kabupaten terdekat berpengaruh negatif pada taraf  nyata 5% terhadap laju penurunan luas situ. Hal ini berarti bahwa semakin dekat  lokasi situ terhadap ibukota kabupaten terdekat , mempercepat laju penurunan luas  situ. Hal ini diduga karena akesibilitas dengan kabupaten terdekat lebih lancar  dengan sarana dan prasarana transportasi yang memadai menyebabkan akses  terhadap ekosistem situ lebih mudah sehingga mempercepat penurunan kualitas  situ terutama terhadap luas situ. Artinya, kedekatan aksesibilitas terhadap situ  menyebabkan semakin besarnya intensitas dan besaran aktifitas sosial ekonomi masyarakat. Kegiatan ini akan berdampak terhadap lingkungan situ.

Kegiatan yang berdampak negatif adalah pembuangan limbah ke  lingkungan perairan situ akibat semakin banyaknya lahan terbangun untuk hunian,  industri dan jasa lainnya, pengurugan terhadap lahan di badan air situ dan DTA  situ akibat pendangkalan, sedimentasi, eutrofikasi dan lain-lain. Penumpukan limbah terutama sampah di areal situ juga memungkinkan luas situ semakin bekurang.

Variabel fisik lain yang berrpengaruh terhadap laju penurunan luas situ  adalah faktor kelerengan. berdasarkan analisis regresi linier berganda, kelerengan  berpengaruh positif pada taraf nyata 1% terhadap laju penurunan luas situ.  Semakin tinggi kelas kelerengan di DTA situ mempercepat penurunan luas situ.  Tingkat kelerengan yang semakin besar menunjukkan semakin curam suatu  daerah. Kelerengan yang curam mempercepat terjadinya erosi. Proses erosi  semakin besar terjadi bila berada pada kelerengan DTA situ yang semakin curam  karena erosi yang membawa sedimen (transpor sedimen) ke tempat yang lebih  rendah (ke arah badan air situ) lebih banyak sehingga terjadi sedimentasi sehingga proses penurunan luas situ semakin cepat.

Laju penambahan/pengurangan lahan permukiman berpengaruh positif  terhadap laju penurunan luas situ pada taraf nyata 10%. Hal ini berarti semakin  tinggi laju penambahan luas lahan permukiman menyebabkan semakin tinggi pula  laju penurunan luas situ. Fenomena ini diduga terjadi karena penambahan  permukiman yang berada pada DTA situ tidak berpengaruh baik terhadap  ketersediaan air di areal situ. Peningkatan luas lahan permukiman merupakan gejala proses suburbanisasi (pengembangan wilayah ke arah perkotaan), sehingga  lahan-lahan yang tadinya lahan hijau yang dimanfaatkan untuk aktifitas pertanian  dan lahan bervegetasi lainnya yang dimanfaatkan juga sebagai kawasan resapan air banyak beralih fungsi menjadi lahan terbangun / lahan permukiman seperti kawasan perumahan, industri, jasa dan lain sebagainya.

Berkenaan dengan peningkatan lahan permukiman di DTA situ dengan  ketersediaan air situ dapat dijelaskan bahwa lahan permukiman tidak memiliki  kemampuan untuk menyimpan air karena tidak adanya vegetasi yang dapat  menyimpan / meresapkan air. Kondisi ini mempercepat terjadinya erosi karena  ketika hujan turun, air limpasan lebih besar, sedangkan air yang meresap ke dalam  tanah lebih kecil. Erosi ini membawa lapisan atas air tanah (top soil) ke dalam situ sehingga terjadi sedimentasi yang akhirnya situ mengalami pendangkalan.

Disamping itu, fenomena lainnya akibat peningkatan lahan permukiman  adalah aktifitas masyarakat sekitar di areal situ seperti tempat buangan limbah  rumah tangga, limbah industri dan kegiatan perikanan serta aliran sungai / anak  sungai ke dalam situ yang banyak membawa zat-zat ataupun material lainnya  yang dapat menjadi sumber makanan bagi organisme yang terdapat di dalam situ  sehingga terjadi eutrofikasi. Eutrofikasi adalah berkembangnya suatu jenis  organisme secara tidak terkendali (blooming) akibat melimpahnya zat makanan bagi organisme tersebut.

Berdasarkan pengamatan lapangan, indikator yang menyebabkan areal situ  mengalami eutrofikasi adalah tumbuhnya gulma terutama jenis eceng gondok dan  teratai. Tumbuh-tumbuhan ini dapat ditemui pada hampir keseluruhan situ. Akar  tumbuh-tumbuhan kemudian mengikat sedimen (lumpur) yang berada di dasar  perairan situ, sehingga proses sedimentasi semakin cepat terjadi akhirnya  pendangkalan situ semakin cepat pula. Implikasi dari proses tersebut menyebabkan luas cakupan badan air (water body) situ semakin berkurang.

Sedangkan jenis penggunaan yang berpengaruh negatif terhadap laju  penurunan luas situ adalah laju perubahan lahan terlantar. Hal ini berarti bahwa  laju peningkatan luas lahan terlantar dapat mempertahankan ketersediaan air situ.  Diduga karena lahan terlantar yang memiliki karakteristik berupa rerumputan dan  semak masih mampu mengurangi air limpasan hujan bila dibandingkan dengan  lahan permukiman. Kondisi ini dapat mengurangi erosi kemudian berimplikasi  terhadap berkurangnya proses sedimentasi sehingga proses penurunan luas situ menjadi lebih kecil.

Hal yang sama juga terjadi pada jenis penggunaan lahan sawah. Laju  perubahan lahan sawah berpengaruh negatif terhadap laju penurunan luas situ  pada taraf nyata 10%. Artinya, semakin tinggi laju peningkatan / penambahan luas  lahan sawah akan memperkecil laju penurunan luas situ. Hal ini juga berkaitan  dengan stabilitas kondisi fisik lingkungan areal situ terutama terhadap kondisi tanah dan air.

Dengan adanya lahan sawah yang ada di DTA situ akan mempertahankan  ketersediaan air situ. ketika musim hujan lahan sawah dapat menjadi areal  penampungan sementara bagi air sebelum langsung mengalir ke dalam situ.  Kondisi ini dapat memperlambat terjadinya erosi yang banyak membawa  material-material tanah / lumpur sehingga dapat mengurangi pendangkalan situ.  Menurut Asdak (2002) menyatakan bahwa vegetasi yang memiliki  tumbuhan yang tinggi kurang memiliki kontrribusi yang nyata terhadap  penurunan erosi bila dibandingkan dengan vegetasi yang rendah. Vegetasi rendah  yang dimaksud adalah lahan yang didominasi oleh semak, rerumputan dan  tumbuhan perdu lainnya. Vegetasi ini lebih tahan terhadap percikan air hujan sehingga erosi dapat dikurangi.

Berkaitan dengan hipotesisi penelitian, hasil analisis regresi linier  berganda membuktikan bahwa lahan bervegetasi yang dalam hal ini jenis  penggunaan lahan terlantar dan lahan sawah mempengaruhi penurunan luas situ.  Berarti hipotesis penelitian (Ho) yang pertama telah terbukti (Ha diterima).  Sedangkan hipotesis penelitian (Ho) kedua yang menyatakan bahwa kepadatan  penduduk mengakibatkan situ mengalami penurunan. Ternyata dengan melakukan  analisis linier berganda penurunan luas situ tidak dipengaruhi oleh kepadatan penduduk sehingga Ho ditolak.

Pada Gambar 13a sampai dengan Gambar 13g memperlihatkan hubungan  antara luas situ (ha) dengan luas jenis penggunaan lahan (ha) pada masing-masing  DTA situ. Di seluruh situ yang diteliti terlihat bahwa luas situ memiliki  kecenderungan menurun pada periode waktu tahun 1991 – 1997 dan 1997 – 2001,  seiring dengan penambahan luas penggunaan lahan permukiman dan lahan  terlantar. Sebaliknya, pada periode waktu yang sama vegetasi campuran  mengalami penurunan luas. Penurunan luas vegetasi campuran yang cukup besar  terjadi di DTA Situ Cilangkap, Situ Tipar dan Situ Pedongkelan (Gambar 13b,  13f, dan 13g) masing – masing tahun 1991 sebesar 12,33 ha, 6,81 ha, dan 6,36 ha menjadi 2,02 ha, 1,18 ha, dan 0,46 ha pada tahun 2001.

Gambar 13a. Hubungan Luas Situ Citayam dengan Penggunaan Lahan Periode Tahun 1991-2001

Gambar 13b. Hubungan Luas Situ Cilangkap dengan Penggunaan Lahan Periode Tahun 1991-2001

Gambar 13c. Hubungan Luas Situ Rawakalong dengan Penggunaan Lahan Periode Tahun 1991-2001

Gambar 13d. Hubungan Luas Situ Jatijajar dengan Penggunaan Lahan Periode Tahun 1991-2001

Gambar 13e. Hubungan Luas Situ Cilodong dengan Penggunaan Lahan Periode Tahun 1991-2001

Gambar 13f. Hubungan Luas Situ Tipar dengan Penggunaan Lahan Periode Tahun 1991-2001

Gambar 13g. Hubungan Luas Situ Pedongkelan dengan Penggunaan Lahan Periode Tahun 1991-2001

Apabila dilihat dari proporsi luas penggunaan lahan di seluruh situ yang  diteliti terlihat bahwa vegetasi campuran yang paling dominan terdapat di DTA  Situ Jatijajar dan Situ Cilodong (Gambar 13d dan 13e), walaupun tetap  mengalami penurunan luas dari waktu ke waktu seiring dengan penurunan luas  situ masing – masing sebesar 13,17 ha dan 9,3 ha pada tahun 1991 menjadi 9,24 ha dan 8,71 ha pada tahun 2001.

Pada Situ Jatijajar, jenis penggunaan lahan tegalan juga mngalami  penurunan luas sebesar 0,54 ha dibarengi juga dengan penurunan luas situ sebesar  3,5 ha selama kurun waktu 10 tahun (1991 – 2001). Berbeda halnya dengan lahan  terlantar yang terdapat di DTA Situ Cilodong ternyata memiliki kecenderungan meningkat dimana pada tahun 1991 hanya 0,28 ha menjadi 0,92 ha tahun 2001.

Pada Situ Rawa Kalong terlihat bahwa luas situ mengalami penurunan  sebesar 3 ha selama kurun waktu 10 tahun dimana pada tahun 1991 seluas 10,31  ha menjadi 7,31 ha tahun 2001, begitu juga dengan vegetasi campuran yang  berada pada DTA situ tersebut mengalami penurunan luas pada tahun 2001 (0,82  ha), sedangkan tahun 1991 memiliki luas sebesar 4,03 ha. Namun permukiman  merupakan tipe lahan yang dominan di DTA Situ Rawa Kalong bila  dibandingkan dengan penggunaan lahan yang lain dengan kecenderungan yang  makin luas selama kurun waktu 10 tahun dimana pada tahun 1991 sebesar 11,78  ha meningkat menjadi 13,89 ha pada tahun 2001 seperti yang ditunjukkan pada  Gambar 13c. Sedangkan jenis penggunaan lahan sawah dan tegalan tidak memiliki kecenderungan perubahan yang jelas.

Hal yang menarik dari perubahan penggunaan lahan adalah pada DTA Situ  Tipar dan Pedongkelan terlihat terjadinya perubahan luas penggunaan lahan yang  cukup besar (Gambar 13g). Terutama vegetasi campuran mengalami penurunan  yang tajam dimana pada tahun 1991 masing-masing luasnya sebesar 6,81 dan 6,36  ha, kemudian pada tahun 1997 mengalami penurunan masing-masing sebesar 3,2  dan 2 ha, tahun 2001 hanya tersisa sebesar 1,18 dan 0,46 ha. Sementara luas Situ  Tipar dan Pedongkelan ini juga mengalami penurunan dimana pada tahun 1991  masing-masing sebesar 14,13 dan 7,74 ha menjadi 10,13 dan 5,54 ha pada tahun 2001.

5.5. Analisis Pemahaman dan Pemanfaatan Situ oleh Masyarakat

Analisis pemahaman dan pemanfaatan situ bagi masyarakat di sekitar situ  dilakukan dengan analisis uji t dan uji beda khi kuadrat pada 2 (dua) karakteristik  situ yang berbeda. Pertama, situ yang masih tergolong alami dengan ciri-ciri  secara fisik warna air yang masih jernih, di sekitarnya masih didominasi oleh  vegetasi campuran dan tegalan serta permukiman yang jarang. Kedua, situ yang  sudah terpengaruh oleh aktivitas manusia (tidak alami) dengan karakteristik  kualitas air yang keruh, disekitar situ didominasi oleh permukiman dan atau industri.

Berdasarkan pendapat masyarakat terhadap kondisi situ berdasarkan uji  beda (÷2) menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata antara rumah tangga yang  berada di sekitar situ yang dikategorikan masih alami dengan situ yang  terpengaruh oleh aktivitas manusia (Tabel 12 ). Hal ini didukung oleh sebagian  besar (57,7%) masyarakat menyatakan kondisi situ masih baik di sekitar situ yang  masih alami namun bila dibandingkan dengan masyarakat di sekitar situ yang  terpengaruh oleh kegiatan manusia hanya sebagian kecil (28,7%) yang menjawab  kondisi situ masih baik. Sebaliknya mayoritas responden menyatakan kondisi situ buruk pada situ yang terpengaruh oleh aktivitas manusia.

Berdasarkan observasi di lokasi penelitian, situ yang relatif alami memiliki  air yang lebih jernih, tidak berbau pada musim kering serta jenis dan kerapatan  vegetasi pada daerah tangkapan air situ lebih tinggi dibandingkan dengan situ  yang terpengaruh oleh kegiatan manusia. Sebaliknya kondisi fisik situ yang  terpengaruh oleh kegiatan manusia menunjukkan airnya keruh dan kadang-kadang  pada musim kemarau airnya berbau karena limbah rumah tangga dan limbah  industri masuk ke badan air situ. Contoh kasus yang terjadi di Situ Rawa Kalong  dan Tipar yang berdekatan dengan kawasan industri dimana sebagian masyarakat  tidak lagi memanfaatkan situ untuk budidaya ikan karena situ tidak layak lagi  menjadi tempat hidup ikan. Kalaupun ikan bisa dibudidayakan namun hasilnya tidak optimal karena tercemar oleh limbah terutama oleh limbah industri.

5.5.1. Karakteristik Rumah Tangga Responden

Hasil uji beda nilai rata-rata umur responden di kedua kelompok situ yaitu  situ yang relatif alami dan situ yang terpengaruh oleh kegiatan manusia  menunjukkan rata-rata umur responden pada kedua kedua kelompok situ tidak  berbeda nyata pada taraf kepercayaan 5% (Tabel 13). Hal ini menunjukkan bahwa  usia pada kedua kelompok situ tersebut relatif tidak jauh berbeda dengan rata-rata  usia responden di wilayah situ yang relatif alami 57 tahun sedangkan rata-rata  usia responden di situ yang terpengaruh oleh kegiatan manusia 54 tahun. Namun  Lebih rendahnya rata-rata usia di wilayah situ yang terpengaruh oleh kegiatan  manusia cukup logis karena di sekitar situ yang terpengaruh oleh kegiatan  manusia telah terjadi suburbanisasi dimana tingkat pertumbuhan jumlah  permukiman dan industri mulai berkembang. Hal ini berarti, pertumbuhan industri  dan perumahan berimplikasi terhadap peningkatan kebutuhan tenaga kerja.  Angkatan kerja ini didominasi oleh kelompok umur yang masih produktif (relatif muda).

Selanjutnya faktor umur dapat menjadi pertimbangan bagi besaran pendapatan seseorang. Ketika umur masih muda (produktif) maka energi dan  semangat bekerja lebih besar maka kesempatan mendapatkan pekerjaan yang  lebih baik akan lebih besar sehingga otomatis memperoleh pendapatan yang tinggi pula.

Tingkat pendapatan responden ternyata memiliki perbedaan antara situ  yang relatif alami dengan situ yang terpengaruh oleh kegiatan manusia dengan  menggunakan uji beda khi kuadrat pada taraf nyata 5% seperti yang tersaji pada  Tabel 14. Dengan melihat distribusi tingkat pendapatan responden di kedua  kelompok situ terlihat bahwa pendapatan masyarakat di sekitar situ yang  terpengaruh oleh kegiatan manusia lebih besar dibandingkan dengan situ alami.  Hal ini diduga karena sebagian besar masyarakat disekitar situ yang terpengaruh  oleh kegiatan manusia memiliki sumber penghasilan dari aktivitas urban seperti  sektor industri, dagang dan sektor jasa, sedangkan masyarakat yang berada di  sekitar situ yang relatif alami sumber penghasilan utamanya lebih banyak dari  aktivitas sektor pertanian. Adapun jenis pertanian yang dimiliki mereka adalah  pertanian lahan kering (sayur-sayuran, buah-buahan), sawah, perikanan (jaring apung dan pemancingan).

Hasil wawancara dengan penduduk di wilayah penelitian menunjukkan  pendapatan di sektor pertanian kurang mencukupi kebutuhan hidup mereka karena  hasil panen komoditi pertanian bernilai jual rendah. Kondisi ini diperparah oleh  kecenderungan masyarakat menjual lahan pertaniannya untuk kebutuhan hidup  sehingga banyak yang menganggur dan bekerja pada sektor non formal (kerja serabutan) karena minimnya pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki.

Pendapatan rumah tangga juga ditentukan oleh jenis sumber pendapatan  (pekerjaan). Sumber pendapatan rumah tangga dalam penelitian ini terdiri dari sumber pendapatan utama dan sumber pendapatan tambahan.

Sumber pendapatan utama masyarakat di kedua kelompok situ tertera pada  Tabel 15. Dari Tabel 15 nampak bahwa proporsi terbesar sumber pendapatan  utama masyarakat pada situ yang relatif alami yaitu sektor pertanian yaitu 42,1%,  sedangkan pada situ yang terpengaruh oleh kegiatan manusia hanya 17,8%.  Sebaliknya, pada situ yang terpengaruh oleh kegiatan manusia sebagian besar  (51,9%) sumber pendapatan utama penduduk dari kegiatan nonpertanian, sedangkan di sekitar situ yang relatif alami hanya 15,8%.

Kondisi ini erat kaitannya dengan tipologi wilayah yang sudah mengarah  pada proses suburbanisasi dimana pada situ yang terpengaruh oleh kegiatan  manusia telah menimbulkan gejala sosial ekonomi yang komplek seperti konversi  lahan pertanian ke aktivitas urban, spekulasi lahan dan lain-lain (Rustiadi et al.,  1999). Mengenai sumber pendapatan masyarakat yang mengarah pada aktivitas  urban maka sumber pendapatan yang sebelumnya berasal dari pertanian akibat  konversi lahan beralih pada sektor non pertanian. Hasil wawancara dengan  responden menunjukkan kebanyakan responden beralih profesi sebagai buruh  pabrik dan sektor non formal. Gejala ini berkaitan erat dengan pertumbuhan  struktur ekonomi wilayah yang banyak bergerak di bidang manufaktur dan jasa.  Multiplier effect yang timbul adalah semakin bertambahnya jenis pekerjaan baru  dan banyaknya angkatan kerja yang terserap seperti buruh pabrik, berdagang, karyawan swasta, wiraswasta, dan bidang jasa lainnya.

Hal yang kontras terjadi pada situ yang relatif alami bahwa sumber  pendapatan utama sebagian besar responden adalah sektor pertanian. Hal ini  dimungkinkan karena masih luasnya lahan pertanian di sekitar situ yang relatif  alami dan juga pemanfaatan situ yang relatif alami masih dominan dengan adanya  budidaya perikanan air tawar. Disamping, itu situ masih mampu mensuplai air  untuk pengairan lahan pertanian, meski dari waktu ke waktu lahan pertanian semakin sempit.

Jenis pekerjaan dapat menjadi indikator tingkat pendidikan. Artinya,  penduduk dengan tingkat pendidikan yang tinggi banyak berprofesi tidak  menggunakan tenaga fisik, tetapi menggunakan kemampuan berfikir. Sebaliknya,  penduduk yang berpendidikan lebih rendah atau tidak mengecap pendidikan  formal kebanyakan bekerja menggunakan kemampuan tenaga fisik, seperti buruh.  Dapat dikatakan pendidikan merupakan wahana yang ampuh untuk mengangkat  manusia dari berbagai ketertinggalan dan sebagai salah satu jalan yang cukup  efektif untuk melakukan mobilitas sosial dalam mencapai kehidupan yang lebih  baik. Para ahli menyatakan bahwa terdapat korelasi yang positif antara pendapatan  dan tingkat pendidikan (Ananta,1988). Maksudnya adalah semakin tinggi tingkat  pendidikan seseorang mempunyai kecenderungan semakin tinggi pula  pendapatan. Tabel 16 menggambarkan komposisi tingkat pendidikan masyarakat yang berada pada kedua jenis situ.

Tabel 16 menunjukkan bahwa mayoritas (63,7%) rumah tangga yang  berpendidikan maksimal SD terdapat di sekitar area situ alami. Sebaliknya, lebih  dari setengah (54,7%) dari total responden pada situ yang terpengaruh oleh  kegiatan manusia memiliki penddidkan di atas SD. Berdasarkan uji beda khi  kuadrat terdapat perbedaan yang nyata tingkat pendidikan masyarakat antara situ yang relatif alami dengan situ yang terpengaruh oleh kegiatan manusia.

Data tersebut menunjukkan bahwa perbedaan tingkat pendidikan pada  kedua lokasi situ disebabkan karena rumah tangga yang berada di sekitar situ yang  terpengaruh oleh kegiatan manusia lebih maju dan modern sehingga mereka  menganggap penting pendidikan. Fenomena ini seiring dengan permintaan  industri yang memerlukan tenaga kerja yang berkeahlian, sehingga diperlukan  pendidikan yang lebih tinggi. Berbeda dengan rumah tangga yang berada di situ  alami, lebih banyak bekerja dibidang pertanian yang tidak memerlukan keahlian khusus.

5.5.2. Pemahaman Masyarakat terhadap Eksistensi Situ

Terhadap pengetahuan masyarakat tentang pengurangan luas situ pada dua  kelompok situ yaitu situ yang relatif alami dan situ yang terpengaruh oleh  kegiatan manusia, hasil pengujian beda khi kuadrat menunjukkan tidak berbeda  nyata. Hal ini ditunjukkan dengan proporsi pendapat masyarakat sebagian besar  menjawab bahwa situ telah mengalami pengurangan luas baik pada situ yang  relatif alami maupun tercemar masing-masing sebesar 63,2% dan 69,8% (Tabel 17).

Menurut responden, seluruh situ di wilayah penelitian sebagian besar telah  mengalami penyusutan. Berdasarkan wawancara dengan masyarakat dapat  diketahui bahwa pendangkalan situ juga dipicu oleh aliran sungai yang membawa  lumpur masuk ke dalam situ. Akibatnya selain terjadinya pendangkalan juga  terjadi eutrofikasi karena lumpur yang terbawa banyak mengandung bahan  organik. Selain itu, menurut pendapat masyarakat bahwa adanya pengurugan situ  memperkecil luas situ. Sebagian besar masyarakat berpendapat situ pernah diurug  di kedua kelompok situ yaitu masing-masing sebesar 76,3% pada situ yang relatif  alami dan 64,3% pada situ yang terpengaruh oleh kegiatan manusia seperti yang  ditunjukkan oleh Tabel 18. Namun hasil uji beda khi kuadrat terhadap pernyataan  masyarakat tentang areal situ pernah diurug menunjukkan bahwa tidak terdapat  perbedaan yang nyata antara pendapat masyarakat di sekitar situ yang relatif alami dengan situ yang terpengaruh oleh aktivitas manusia.

Hasil observasi di lokasi penelitian menunjukkan pengurugan situ  dilakukan oleh masyarakat sendiri, namun ada juga yang dilakukan oleh investor  (swasta) untuk kawasan perumahan. Pengurugan yang dilakukan oleh masyarakat  sekitar akibat situ yang mengalami pendangkalan sehingga sebagian menjadi  daratan. Kawasan ini diklaim menjadi hak milik. Sedangkan pengurugan yang  dilakukan oleh swasta dilakukan berdasarkan izin aparat setempat. Kondisi ini  akan berakibat buruk terhadap eksistensi situ. Daerah tangkapan air situ menjadi  mengecil sehingga semakin sedikit daya tampung air oleh situ. Apabila tidak  dilakukan upaya penertiban areal situ kemungkinan akan terjadi penurunan luas situ dan mungkin situ berubah menjadi daratan.

Hasil uji beda khi kuadrat terhadap pendapat masyarakat tentang konversi  lahan memiliki pengaruh terhadap eksistensi situ menunjukkan respon yang  berbeda nyata antara masyarakat di sekitar situ yang relatif alami dengan situ yang  terpengaruh oleh kegiatan manusia (Tabel 19). Indikator yang mendukung  pernyataan ini adalah besarnya proporsi pendapat masyarakat yang menyatakan  situ dipengaruhi oleh konversi lahan yaitu 69% pada lokasi situ yang tercemar,  sedangkan situ yang relatif alami sebesar 60,5%. Artinya, konversi lahan  berpengaruh langsung terhadap kondisi situ. Lebih lanjut, menurut pendapat  masyarakat semakin luasnya lahan perumahan dan pembangunan sarana dan  prasarana telah menyebabkan kualitas situ semakin buruk. Jika dibandingkan  dengan sebelum dibangunnya kawasan permukiman, kondisi situ masih baik  sehingga banyak dimanfaaatkan untuk berbagai kebutuhan oleh masyarakat  sekitar. Artinya situ yang disekitarnya masih ditumbuhi oleh vegetasi pohon  relatif lebih baik dengan dengan situ yang disekitarnya merupakan kawasan  perumahan dan industri. Kebanyakan jenis tanaman yang tumbuh di sekitar situ  adalah tanaman yang menghasilkan buah (edible fruit) seperti pohon mangga,  jambu, jambu biji dan kelapa. Selain itu, juga ditumbuhi oleh tanaman pertanian tegalan seperti pisang, singkong, terong, pepaya dan lain-lain.

5.5.3. Peranan Situ Bagi Masyarakat Sekitar

Secara alami situ memiliki peranan yang besar terhadap lingkungan  termasuk manusia. Ekosistem situ mampu memberikan andil yang besar terhadap  kehidupan masyarakat seperti yang dipaparkan pada Tabel 20.

Hasil analisis khi kuadrat pengetahuan masyarakat tentang fungsi situ  terhadap lingkungan berbeda nyata pada taraf 5% antara masyarakat pada lokasi  situ yang relatif alami dan situ yang terpengaruh oleh manusia. Hal ini didukung  oleh proporsi jawaban masyarakat terhadap fungsi situ. Walaupun proporsi  pengetahuan masyarakat terhadap fungsi situ sebagai tandon air terhadap kedua  kelompok rumah tangga relatif sama (52,6% dan 50,4%), namun terhadap  fungsinya sebagai pengendali banjir dan sumber ekonomi memiliki perbedaan.  Masyarakat di sekitar situ alami, yang menjawab fungsi situ sebagai pengendali  banjir sebanyak 21,1%, sedangkan pada situ yang terpengaruh oleh kegiatan  manusia lebih besar yaitu 33,3%. Sedangkan proporsi yang menjawab fungsi situ  sebagai sumber ekonomi lebih besar pada situ yang relatif alami (26,3%) dibandingkan dengan situ yang terpengaruh oleh kegiatan manusia (16,3%).

Berkenaan dengan peranan situ dalam mempertahankan sumberdaya air  (tandon air), masyarakat sekitar situ dalam pemenuhan kebutuhan air baik untuk  kebutuhan rumah tangga maupun untuk kepentingan pertanian, sangat  mengandalkan situ. Menurut informasi masyarakat, ketersediaan air situ  merupakan indikator ketersediaan air sumur di rumah tangga mereka. Perubahan  penggunaan lahan yang pesat yang mengarah ke penggunaan lahan ke aktivitas urban menyebabkan air sumur mereka mulai mengalami pengurangan.

Hasil analisis fungsi situ mengindikasikan bahwa pengetahuan masyarakat  tentang situ cukup baik. Namun bila dikaitkan dengan partisipasi mereka terhadap  situ baik situ yang tergolong alami maupun situ yang terpengaruh oleh manusia  proporsi jawaban masyarakat ternyata sebagian besar tidak melibatkan diri atau  tidak berpartisipasi dalam pelestarian situ seperti terlihat pada Tabel 21.  Responden yang menyatakan ikut berpartisipasi dalam kelestarian situ pada dua  kelompok situ adalah 42,3% situ yang relatif alami dan 32,5% situ yang  terpengaruh oleh kegiatan manusia. Hasil analisis uji khi kuadrat menunjukkan  pendapat masyarakat dalam keterlibatannya dalam pelestarian situ pada situ yang  relatif alami dan situ yang terpengaruh oleh manusia tidak terdapat perbedaan pada taraf nyata 5%.

Hasil analisis ini sangat berkaitan dengan perilaku masyarakat sekitar situ  terhadap eksistensi situ. Umumnya masyarakat menganggap situ merupakan  tempat pembuangan limbah, baik limbah domestik maupun limbah industri.  Limbah domestik dapat berupa limbah rumah tangga yang mengalir ke badan air  situ dan limbah padat (sampah) yang dibuang ke lokasi situ. Disamping itu  budidaya ikan di lokasi situ juga dapat mencemari badan air situ apabila  pemberian pakan ikan berlebihan. Hal yang cukup membahayakan terhadap  lingkungan situ adalah pembuangan limbah cair industri terhadap situ. Menurut  informasi masyarakat di lokasi penelitian yang berdekatan dengan industri, biasanya limbah dialirkan ke situ pada saat musim hujan.

Perilaku ini dapat menyebabkan kualitas situ menjadi buruk. Meskipun  secara alamiah situ yang merupakan suatu ekosistem dapat mengasimilasi semua  material yang masuk ke dalam situ (limbah), apabila limbah yang masuk ke dalam  situ bertambah banyak seiring dengan pertambahan jumlah penduduk sehingga   melebihi kemampuan dalam mengasimilasikan maka zat pencemar tersebut,  mengakibatkan zat pencemar tidak terurai sehingga dapat mencemari lingkungan  situ terutama terhadap badan air situ. Pada kondisi ini dapat dikatakan bahwa daya  dukung lingkungan situ tidak mampu lagi mengasimilasi zat pencemar dengan baik.

Hasil pada Tabel 21 juga menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat  terhadap pelestarian situ masih rendah. Hal ini dapat berakibat buruk terhadap  eksistensi situ. Langkah-langkah yang diambil untuk mempertahankan eksistensi  situ adalah memberikan pengertian terhadap masyarakat dan melibatkan  masyarakat dalam pengelolaan situ mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan  dan evaluasi/ pemantauan. Selain itu, yang perlu menjadi bahan pertimbangan  adalah diperlukan juga partisipasi pelaku ekonomi (kalangan industri) yang berada  di sekitar situ (berhubungan langsung) maupun yang berada pada bagian hulu  (tidak langsung) terutama agar limbah industri mereka tidak dibuang ke badan air  situ. Oleh sebab itu, secara spasial maupun regional pengelolaan situ diharapkan  dilakukan secara terpadu dan komprehensif sehingga menjamin keberlanjutannya (sustainability).

Hasil analisis khi kuadrat pandangan masyarakat terhadap pemanfaatan  situ sebagai tempat pembuangan limbah oleh industri menunjukkan pandangan  masyarakat pada kedua kelompok situ memiliki perbedaan yang nyata (Tabel 22).  Pernyataan ini didukung oleh minoritas masyarakat yang menjawab industri tidak  membuang limbahnya ke dalam situ yaitu 27,1% pada situ yang terpengaruh oleh  kegiatan manusia. Namun sebaliknya sebagian besar (81,6%) masyarakat di situ  yang relatif alami menjawab industri tidak membuang limbahnya ke dalam situ.  Tidak demikian halnya dengan jawaban masyarakat di situ yang terpengaruh oleh  kegiatan manusia dimana mayoritas penduduk (72,9%) menyatakan situ sebagai tempat pembuangan limbah industri seperti yang ditunjukkan pada Tabel 22.

Dalam kaitan dengan pendapat masyarakat tentang situ merupakan tempat pembuangan limbah domestik nampak bahwa sebagian besar membenarkan baik pada situ yang relatif alami maupun situ yang terpengaruh oleh manusia dengan persentase jawaban berturut-turut sebesar 71,1% dan 89,1% (Tabel 23).

Responden yang tidak membenarkan pernyataan di atas, baik pada situ yang relatif alami maupun situ yang terpengaruh oleh manusia berturut-turut hanya sebesar 28,9% dan 10,9%.

Hasil analisis uji beda khi kuadrat menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata antara situ yang relatif alami dan tercemar. Hal ini dapat terlihat dari proporsi jawaban masyarakat yang menjawab situ sebagai tempat pembuangan limbah rumah tangga (domestik) di situ yang terpengaruh oleh kegiatan manusia lebih besar bila dibandingkan dengan di situ alami. Berdasarkan tinjauan lapangan hal ini cukup logis karena di sekitar situ yang relatif alami banyak rumah tangga yang memiliki saluran pembuangan limbah rumah tangga mereka mengalir ke situ, sedangkan pada situ yang relatif alami sebagian kecil yang mengalirkan limbahnya ke dalam situ, bahkan di lokasi Situ Cilodong tidak ada rumah tangga yang mengalirkan limbah rumah tangganya ke situ. Hal ini disebabkan selain perumahan jarang juga jarak rumah yang tidak terlalu dekat dengan situ.

Meskipun sebagian besar situ terpengaruh oleh manusia, namun budidaya ikan tetap dilakukan oleh masyarakat di sekitar situ. Pada situ yang terpengaruh oleh manusia hampir setengah (46,5%) dari masyarakat masih memanfaatkan situ untuk perikanan. Berbeda halnya di situ alami, dimana sebagian besar (71,1%) masyarakat masih memanfaatkan situ untuk usaha perikanan seperti tersaji pada Tabel 24.

Berdasarkan informasi masyarakat di sekitar situ yang relatif alami nampak bahwa masyarakat masih mengandalkan kegiatan usaha di situ yang relatif alami sebagai sumber pendapatan utama karena situ masih layak dijadikan media untuk budidaya ikan karena kualitas situ relatif masih baik. Berbeda halnya dengan situ yang terpengaruh oleh kegiatan manusia, dimana kualitas air kurang baik sehingga tidak semua jenis ikan dapat dibudidayakan, dan hanya ikan yang toleran dengan kualitas air tercemar (kurang baik) seperti jenis ikan lele, gabus dan lain-lain yang dapt dibudidayakan. Usaha perikanan yang banyak dilakukan adalah keramba apung, jaring apung, penangkapan dengan jala serta pemancingan.

Selain itu, situ juga dapat dinikmati sebagai tempat rekreasi (wisata). Situ dapat menjadi paru-paru di lingkungannya apabila kondisinya masih baik. Artinya, dengan kualitas air yang masih baik dan daerah sekitarnya yang masih banyak lahan terbuka hijau situ dapat menyejukkan pemandangan. Selama ini situ dimanfaatkan sebagai tempat arena bermain bagi anak-anak,olah raga dan pemancingan ikan.

Berbeda halnya dengan situ yang terpengaruh oleh kegiatan manusia dimana tidak banyak yang memanfaatkan situ yang terpengaruh oleh kegiatan manusia tersebut sebagai tempat wisata. Hal ini dapat diketahui dari proporsi responden yang hanya 47,3% menyatakan situ digunakan sebagai tempat wisata, sedangkan situ yang relatif alami sebagian besar responden (68,4%) menyatakan dimanfaatkan sebagai tempat wisata. Hasil analisis uji beda khi kuadrat menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata pemanfaatan situ sebagai tempat rekreasi/wisata antara situ yang relatif alami dengan situ yang terpengaruh oleh kegiatan manusia (Tabel 25). Sedikitnya reponden yang memanfaatkan situ sebagai tempat rekreasi karena di sekitar lingkungan situ banyak dibangun kawasan industri dan perumahan sehingga kualitas air menurun yang berakibat berkurangnya daya tarik situ sebagai areal wisata.

Apabila dilihat dari potensi kawasan situ dapat dikembangkan sebagai tempat tujuan wisata apabila lingkungan situ dikelola dengan baik. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah pelarangan pembangunan rumah di sekitar situ, tepatnya di kawasan penyangga situ (kawasan sempadan situ). Kedua, mencegah pembuangan sampah di sekitar situ yang dapat merusak pemandangan. Ketiga, pencegahan pembuangan limbah industri ke dalam situ serta pembangunan fasilitas sarana dan prasarana yang menunjang aktivitas pariwisata. Kegiatan ini dalam jangka pendek dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat dan jangka panjang dapat mempertahankan kelestarian situ.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: