Berita Situ Asih Pulo

Juli 2007

Setu Asih Pulo jadi obyek wisata

Monitor Depok, 2 Juli 2007

RANGKAPAN JAYA, MONDE: Obyek wisata air di Depok bertambah satu. Walikota Nur Mahmudi Ismail, kemarin meresmikan Setu Asih Pulo di Kelurahan Rangkapan Jaya Pancoran Mas sebagai obyek wisata air yang diharapkan mampu menambah pemasukan daerah.

Sebelumnya Depok sudah punya dua obyek wisata air yaitu Setu Pengasinan Sawangan dan Setu Citayam Pancoran Mas. Pemkot Depok berharap ke depan keberadaan daerah resapan air yang jumlahnya 30 setu dapat diberdayakan.

Keberadaan sarana wisata Setu Pulo Asih memang telah dirindukan banyak warga Rangkapan Jaya.

Setidaknya dengan adanya wisata air ini warga tidak perlu mengeluarkan energi lebih karena telah ada di daerah sendiri. Wisata air ini memang layak disyukuri karena biayanya sangat terjangkau.

“Nantinya setiap warga yang mempergunakan sarana di sini (Setu Asih Pulo –Red) dikenai retribusi, tetapi terjangkau,” jelas Mahmudin Sudin, Ketua Pokja Setu Asih ketika ditemui Monde sebelum peresmian kemarin.

Mahmudin mengatakan sebenarnya wacana menuju wisata setu telah lama digagas, tetapi baru kali ini terealisasi. Ia mengatakan persiapan menuju setu wisata air telah dilakukan sejak Oktober 2006. Terlalu banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum Setu Pulo Asih menjadi wisata air.

Untuk mempersiapkan Setu Pulo Asih menjadi wisata air telah menghabiskan anggaran Rp300 juta yang berasal dari swadaya masyarakat dan Lempalhi.

Sebelum secara resmi menjadi wisata air dalam jangka waktu tiga bulan akan dilakukan uji coba terlebih dulu atau promosi. “Selama masa promosi pengelola belum dapat memberikan kapastian berapa retribusi yang diambil dari pengguna sarana hiburan,” tambah Mahmud.

Sarana yang diberikan di wisata air ini adalah getek satu buah dan parahu bebek atau sepeda air sebanyak empat buah. Untuk menjamin keselamatan pengunjung, pihak pengelola menyediakan alat penyelamat berupa pelampung. Nantinya setiap orang diimbau menggunakan pelampung demi keselamatan jiwa.

Setidaknya ada 17 pelampung yang telah disiapkan oleh pengelola setu dimana 13 pelampung dari Depok Rescue dan sisanya dari Lempalhi. Jika memang mendukung, setiap pengunjung akan dikenai retribusi Rp3.000 per orang untuk sepeda air dan Rp2.000 untuk getek.

“Untuk menunjang agar setu terkesan lebih eksotis kami berencana menaruh ikan hias yang berwarna sehingga menjadi pemandangan menarik,” tambah Mahmud.

Terpisah, Gagah Sunu Sumantri, Kepala Kantor Pariwisata, Seni, dan Budaya menjelaskan dengan adanya tambahan sarana wisata ini sangat berpotensi menjadi kelebihan Kota Depok.

“Masih banyak setu yang tidak terawat, maka dari itu kami berharap semua setu di Depok secara keseluruhan bisa menjadi wisata air yang patut dibanggakan,” jelasnya.

Keberadaan wisata air ini pun berpotensi bagi pendapatan Pemkot Depok yang dampaknya bisa dirasakan semua kalangan. Jika PAD bisa masuk maka secara tidak langsung keberadaan wisata air berperan dalam pembangunan Kota Depok.

Dengan rencana tol yang akan melewati Rangkapan Jaya maka keberadaan Setu Asih Pulo sangat berpotensi dan berpeluang besar menjadi hiburan alternatif.(m-8)

Oktober 2007

Tiga Situ di Depok Jadi Wisata Air

Sumber: http://www.hupelita.com/ 27 Oktober 2007

Depok, pelita
Kota Depok yang dikenal banyak memiliki Situ, menjadi peluang dan potensi bagi Pemkot untuk dapat memanfaatkan keberadaan Situ yang tersebar di enam kecamatan di Depok. Depok kini memiliki tiga situ yang dijadikan obyek wisata air, kata Kepala Kantor Pariwisata & Seni Budaya, Gagah Sunu Sumantri kepada wartawan dalam acara pembukaan obyek wisata air Situ Asih Pulo di Rangkapan Jaya, Pancoran Mas Depok, Minggu (01/06).

Wisata yang dibuka Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail, didampingi Camat Pancoran Mas Rd Adjat Sudrajat, Ketua Lempalhi Depok, angoota DPRD, LPM dan Pengurus Pokja Setu Asih Pulo. Selain itu, Situ Pengasinan dan Situ Citayam juga jadi obyek wisata.

Sedangkan, keberadaan Kelompok Kerja (Pokja) di setiap Situ sangat di butuhkan untuk menjaga dan melestarikannya. Jika pengunjung semakin banyak, akan dikenakan restribusi yang otomatis bisa nambah PAD.

Sementara menurut Ketua Pokja Situ Asih Pulo, Mahmudin Sudin mengatakan, persiapan untuk membuat obyek wisata air Situ Asih Pulo dimulai sejak Oktober 2006, dan sekarang sudah terwujud dengan sarana yang dimilikinya berupa 1 unit Rakit, 4 Unit Sepeda air, dan pelampung sebanyak 14 pc.kami mengajukan ini semua ke Lempalhi, dan telah menghabiskan dana sedikitnya Rp. 300 juta jelasnya. (ck-60)

April 2009

Kondisi Enam Situ di Depok Mirip Situ Gintung

Tempo Interaktif, 1 April 2009

Sumber: http://www.apeksi.or.id/

DEPOK – Kepala Bidang Sumber Daya Air pada Dinas Bina Marga Kota Depok, Jawa Barat, Welman Naipospos mengungkapkan, ada enam situ di wilayahnya yang berpotensi jebol seperti Situ Gintung. Untuk mencegahnya butuh dana puluhan miliar rupiah.

“Keenam situ tersebut mirip Situ Gintung baik fungsi maupun posisi,” kata Welman, Rabu (1/4). Keenam waduk atau danau kecil itu adalah Situ Asih Pulo di Rangkapanjaya, Situ Pedongkelan di Tugu, Cimanggis, Situ Bojong Sari di Sawangan, Situ Pangarengan di Cisalak, Situ Bahar di Limo, Cinere, dan Situ Sido Muktidi Sukmajaya.

Dari segi fungsinya, menurut Welman, keenam situ tersebut dulunya berfungsi untuk mengaliri persawahan. Lantaran itu, posisi situ lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Hanya saja, seiring perkembangan, daerah sekitar situ yang dulunya merupakan persawahan sekarang berkembang menjadi permukiman.

Welman menambahkan, untuk menertibkan permukiman warga yang berada di daerah sekitar situ tidak mudah. Pasalnya, penertiban pemukiman menyangkut tata ruang dan permukiman serta status tanah. Welman tidak tahu perubahan fungsi lahan persawahan menjadi perumahan. “Saya tidak bisa menjelaskan kenapa perumahan ada di sekitar situ”, ujarnya.

Welaman mengatakan, apabila mengacu pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, pembenahan situ menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Tapi, dalam praktiknya tidak bisa hanya menyerahkan kepada pemerintah pusat semata.

“Kami sudah mengusulkan dana bantuan sekitar Rp 20 miliar ke pemerintah provinsi untuk pembenahan situ,” kata dia. Dana tersebut untuk normalisasi situ dan penertiban badan air dan banguan di sepanjang sepadan situ. Jumlah total seluruh situ di Depok ada 26. Kondisi dari situ tidak sama. Ada yang mirip dengan Situ Gintung, ada yang posisinya sejejar dengan permukiman warga. “Kami inginnya semua situ diperbaiki.”

Situ Gintung di Cireundeu, Ciputat, Tangerang, Banten, jebol Jumat pekan lalu. Situ seluas 21 hektare itu airnya menerjang sebanyak 319 rumah penduduk dan menewaskan sedikitnya 100 orang serta puluhan hilang. Jebolnya tanggul diduga akibat perawatan situ yang kurang maksimal.

Maret 2011

Setu Pulo asih di Kerjakan asal-asalan

Media Nasional, 04 Maret 2011

Sumber: http://rikisympathy.blogspot.com/

DEPOK, MEDIA NASIONAL –
Proyek pengembangan objek wisata Setu Pulo Asih di Kelurahan Rangkapan Jaya, Kecamatan Pancoranmas senilai Rp 123.700.500,- yang di gelar Dinas Pemuda, Olah raga, Pariwsata, Seni dan Budaya (Pemor Parsenibud) Kota Depok disinyalir dikerjakan dengan asal-asalan.

Bahkan, hingga batas akhir pengerjaan proyek yang jatuh pada tanggal 28 Desember 2010 lalu, pekerjaan tersebut ternyata tidak selesai seratus persen. Dari pantauan Media Nasional dilapangan (Januari – Februari 2011, red), masih banyak sekali terlihat kekurangan di sana-sini.

Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Dinas Pemor Parsenibud Kota Depok, Sukadi yang ditemui di ruang kerjanya membantah bahwa dalam proses pelaksanaan pekerjaan tersebut, pihaknya (Dinas Pemor Parsenibud, red) terlalu banyak meminta fee atau ‘jatah’ dari kontraktor pelaksana proyek sehingga pekerjaan terlihat ambradul seperti yang terjadi saat ini.

Lebih jauh dipaparkan Sukadi, pekerjaan proyek pengembangan objek wisata Setu Pulo Asih di Kelurahan Rangkapan Jaya tersebut meliputi dua kegiatan pekerjaan, yakni Pembangunan Terminal Air dan Pembangunan Dermaga.

“Untuk pekerjaan pembangunan Terminal Air dikerjakan oleh CV. Agung Jaya dengan nilai pekerjaan sebesar Rp 46.605.500,-. Sementara untuk pekerjaan pembangunan Dermaga dilaksanakan oleh CV. Mitra Teknikindo dengan nilai pekerjaan sebesar Rp 70 jutaan”, papar Sukadi menambahkan.

Sementara itu, Kabid Pariwisata, Seni dan Budaya sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Nita Ita Hernita yang juga merupakan atasan Sukadi mengaku tidak tahu menahu mengenai teknis dan waktu pelaksanaan pekerjaan tersebut.

Menurut Nita (sapaannya), pada saat pekerjaan tersebut dilaksanakan, ia sedang mengambil cuti untuk melahirkan sehingga tidak tahu menahu mengenai teknis dan waktu pelaksanaan pekerjaannya.

“Karena saya sedang cuti, maka tanggung jawab diambil alih oleh Pengguna Anggaran (PA) yang dalam hal ini adalah Kepala Dinas”, ungkap Nita di ruang kerjanya.

Sayangnya, setiap kali akan dikonfirmasi terkait hal ini, Kepala Dinas Pemor Parsenibud yang juga selaku Pengguna Anggaran (PA), Asep Roswanda tidak pernah bisa ditemui dikantornya. (iki)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: