Berita Situ Citayam

April 2007

Warga Depok Nyemplung ke Situ Citayam

Sumber:  http://www.hupelita.com/ 30 April 2007

Depok, Pelita-Sekitar 5.000 warga Depok beramai-ramai nyemplung (masuk) ke dalam Situ Citayam di Kelurahan Bojong Pondok Terong, Pancoran Mas, Minggu (29/4).

Para warga yang turun langsung turun kedalam setu yang memiliki luas 6,5 hektar ini untuk memanen beragam ikan dalam kegiatan pesta rakyat ngebuk (ngobok-ngobok) Setu Citayam.

Acara itu dihadiri Walikota Depok Nurmahmudi Ismail, Camat Pancoran Mas Teddy Hasanudin, Danramil Panmas, Kapolsek Panmas AKP Gusti Ayu S, serta para lurah se Kecamatan Panmas.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kota Depok Hamid Wijaya yang turut hadir meramaikan pesta rakyat tersebut mengatakan, pesta rakyat ini merupakan yang pertama kali digelar dalam rangka memperingati HUT ke-8 Kota Depok.
Untuk menyukseskan kegiatan itu, sejak 10 bulan lalu sebanyak 27.000 jenis bibit ikan mujair, nila, emas, gurame, dan gabus. Ikan-ikan tersebut bisa dipanen warga, katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Ngubek Situ Citayam, H. Saalih mengatakan acara ini merupakan inisiatif dari Kelurahan Bojong Pondok Terong dan pihak LPM yang direspon pihak Kecamatan Pancoran Mas. (ck60)

Juni 2008

Mandiri tanam 500 pohon di Setu Citayam

Monitor Depok, 2 Juni 2008

CITAYAM, MONDE: Perubahan iklim dan rusaknya ekosistem di sejumlah wilayah Indonesia membuat miris Mahasiswa Pecinta Alam Atmajaya. Depok sebagai daerah resapan hujan, dinilai mempunyai peran sangat besar bagi Jakarta.

Bisa dikatakan kerusakan lingkungan hidrologis di Depok bisa menyebabkan petaka bagi Ibukota republik ini.

Karenanya pada Sabtu (31/5), mereka menggandeng Bank Mandiri menanam 500 pohon jati cepu di kawasan Setu Citayam, Pancoran Mas. Ratusan pohon ini diharapkan bisa memperindah kawasan Setu Citayam dengan luas 12 hektare.

Menurut ketua pelaksana penanaman pohon, Edo Tambun, manusia, hewan dan tumbuhan adalah mahluk yang terkena imbas pemanasan ini.

“Kerusakan ini dapat diredam dengan penanaman pohon, yang mempunyai potensi besar untuk mendinginkan kota. Cara ini juga sangat efektif untuk menghilangkan karbondioksida di udara,” ujarnya.

Wakil Rektor III Universitas Atmajaya, Drs Yohannes Temaluru, menambahkan acara ini digelar dalam rangka melaksanakan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabdian pada masyarakat.

“Kegiatan ini dipilih untuk menjaga kelestarian, keindahan, dan kesehatan bumi,” demikian Yohannes.

Camat Pancoran Mas, Rd Sudrajat menyambut baik kegiatan penanaman pohon ini. Apalagi menurutnya, setu berfungsi sebagai daerah resapan air, pemasok cadangan air tanah, pendingin suhu udara kota, pengendali banjir, wisata olahraga air, habitat satwa liar, dan tentu saja menambah keindahan kota.

“Saya sangat mendukung gerakan penanaman pohon ini. LSM, dan Pokja Setu Citayam pun ikut saya libatkan. Semoga hal ini kelak turut menyumbangkan oksigen, setidaknya bagi masyarakat di sekitar sini,” katanya.(ap)

 Mei 2011

Ngubek Situ Citayam Rusuh, Disporsenibud Bohongi Perserta

Sumber: http://iskandarhadji.blogspot.com/ 01 Mei 2011

DEPOK, Kegiatan ‘Ngubek Situ Citayam’ yang diselenggarakan Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, Seni, dan Budaya (Disporsenibud) Kota Depok untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) kota berikon Belimbing Dewa ke-12 itu berubah menjadi amuk massa. Motor Yamaha Mio, TV 21’, kulkas, mesin cuci, sepeda, dan helm, yang telah disiapkan panitia sebagai doorprize diceburkan massa ke dalam situ. Tenda panitia pun turut dirobohkan dan dibakar. Bahkan, sepeda air berbentuk bebek-bebekan milik Kelompok Kerja (Pokja) Situ Citayam turut dirusak. “Dinas Pariwisata sudah membohongi kita. Katanya mereka menebar ikan baru dalam jumlah banyak. Nyatanya ikan yang ada di dalam situ, dan ditangkapi warga merupakan ikan lama,” kata Yahya, 34, Minggu (1/5).

Yahya meminta Pemerintah Kota (Pemkot) mengembalikan uang pendaftaran kepada seluruh peserta sebesar Rp20 ribu. Sebab, acara tidak berlangsung seperti janji panitia penyelenggara. “Sebanyak 5000 warga terdaftar mengikuti kegiatan ini. Semuanya dipungut biaya Rp20 ribu. Keuntungan mereka sangat berlipat-lipat. Pemkot jangan hanya mau mencari untung,” ujarnya sambil menendang tenda panitia yang telah roboh.
Yahya mengaku rela menggadaikan handphone milik adiknya untuk mendaftar. Ia berharap mendapatkan ikan mas dan mujair dalam jumlah banyak. Sehingga ikan tersebut bisa dimakan dan dijual. “Kenyataanya sungguh tidak masuk diakal. Tidak ada satupun ikan emas di dalam situ,” katanya sambil menahan tangis.

Pernyataan senada juga diutarakan, Nurlela, 40. Menurutnya, panitia terlampau mencari keuntungan sehingga melupakan kewajibannya manaruh ikan. Padahal, janjinya melempar ikan kedalam situ sebanyak 2 ton. Bahkan, kata dia, ada rumor kalau panitia hanya menebar ikan ke dalam situ sebanyak 2 kwintal. “Saya sangat kecewa, panitia sudah membohongi warga. Ikan yang dijanjikan panitia ternyata tidak ada. Saya sudah beli tiket banyak dan membayar mahal, tapi apa yang saya dapat. Bayangkan saja, kalau Rp 20 ribu di kalikan 5000 orang pastinya banyak,” katanya.

Nurlela meminta panitia bertanggungjawab dan mau mengembalikan uang warga. Ia sama sekali tidak habis pikir, kenapa panitia memungut uang dari warga. Padahal, HUT Depok sudah didanai melalui APBD. Ia juga mengaku sedih melihat banyak warga datang jauh-jauh, namun tidak satupun ikan didapat. “Ngapain kita bayar mahal-mahal, kalau ternyata ikannya tidak ada. Ini namanya pembohongan, katanya pesta rakyat memperingati HUT kota Depok. Tapi, masa warga ditipu,” katanya kesal.

Hingar bingar ‘Ngubek Situ Citayam’ rupanya tidak hanya bergaung diseputaran Depok. Gaung pesta rakyat itu juga terdengar hingga Tanggerang Selatan (Tangsel) dan Kota Bekasi. Asep, 37, warga Kota Tangsel, mengaku kecewa berat menyaksikan prilaku panitia yang memungut biaya pesta rakyat. “Saya sudah beberapa kali datang ke acara ngubek situ di Depok ini. Tidak ada satupun dipungut biaya. Baru kali ini acara ngubek situ dipungut biaya. Malangnya sudah dipungut biaya, panitia seperti menghilang,” ujarnya.

Asep dapat memaklumi kalau pemugutuan uang administrasi Rp20 ribu disertai dengan banyaknya ikan yang disediakan. Nyatanya, kata dia, peserta hanya dapat kaos dan ikan mujaer kecil. “Ingat, uang Rp20 ribu bagi warga itu sangat besar jumlahnya. Uang itu dapat digunakan untuk membeli ikan sebanyak tiga kilo gram. Saya berani bayar hanya karena ingin ikut memeriahkan HUT Depok,” katanya.

Kapolresta Kota Depok Komisaris Besar (Kombes) Fery Abraham mengaku langsung datang ke lokasi begitu mendengar ada amuk massa di acara pesta rakyat. Ia masih mencari pemicu kemarahan masyarakat. Namun, ada indikasi pemicu kemarahan adalah karena panitia memungut bayaran sebesar Rp 20 ribu. Sayangnya ikan yang dicempelungkan ke situ tidak sebanding dengan massa yang datang. “Pihaknya masih melakukan penyelidikan apakah ada unsur kesengajaan atau tidak. Yang ngamuk ini masyarakat awam, kekecewaannya spontan dan tak ada provokasi. Akibatnya perahu piknik dibakar massa, panggung isinya hadiah ikut terbakar TV motor dan kulkas, habis semua. Kami amankan TKP dan panggil panitia. Kalau terbukti ada unsur penipuan akan kita proses hukum,” ujarnya.

Kericuhan baru mulai mereda pada saat beberapa personil polisi memadamkan kobaran api. Kapolres meminta kepada warga untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Sementara, panitia penyelenggara saat dihubungi masih menjalani pemeriksaan di Polsek Pancoran Mas. Sebelumnya, acara dibuka secara simbolik oleh Walikota Depok Nur Mahmudi ismail dengan melepaskan beberapa ikan ke dalam Situ Citayam

Pesta Rakyat di Depok Rusuh

Antara/Fathahilah/vg

Penulis : Kisar Rajaguguk
Sumber:  http://www.mediaindonesia.com/01 Mei 2011

DEPOK–MICOM: Pesta rakyat tahunan Ngubek Situ Citayam di Kota Depok , Jawa Barat, berakhir rusuh hingga tenda panitia dibakar massa.

“Saya kesal karena ikan yang dijanjikan banyak ternyata hanya sedikit, banyak perserta yang tidak dapat padahal sudah bayar,” kata salah seorang peserta Ngubek Situ Nurlela, di Depok, Minggu (1/5).

Acara tersebut dibuka secara simbolis oleh Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail dengan melepaskan beberapa ikan ke dalam situ Citayam, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, Jawa Barat. Pesta rakyat Ngubek Situ Citayam merupakan acara tahunan dalam

rangkaian hari ulang tahun Kota Depok yang jatuh pada 27 April 2011 yang lalu. Setiapa tahun acara tersebut gratis dan kali ini peserta harus bayar Rp20.000 per orang.

“Saya mau bayar karena panitia janji akan menyebar 2 ton ikan, tapi katanya hanya dua kuintal,” kata dia.

Panitia memyiapkan hadiah door prize yaitu motor yamaha mio serta barang-barang elektronik seperti televisi, mesin cuci, kulkas dan lainnya. Namun hadiah tersebut diceburkan ke dalam situ dan dibakar warga.

Kekesalan warga tidak berhenti mereka melanjutkan dengan melempar kursi ke dalam setu dan membakar tenda panitia. Aksi rusuh tersebut tidak bisa dikendalikan oleh aparat keamanan yang jumlahnya terbatas.

Ia menyesalkan tindakan panitia yang dinilainya telah membohongi warga yang telah membayar Rp20 ribu tapi ikannya hanya sedikit. Dikatakannya para peserta diperkirakan berjumlah sekitar 5.000 orang. “Kalau biaya ikut serta dikalikan 5.000 orang, panitia pasti untung besar,” katanya.

Dikatatakannya panitia harus bertanggungjawab dengan mengembalikan uang yang menjadi biaya pendaftaraan. “Udah bayar mahal masa tidak dapat apa-apa,” kesalnya.

Maryono, peserta lainnya juga mengungkapkan hal yang sama. Ia mengatakan tahun lalu tidak bayar acara “Ngubek Situ”, tapi kenapa tahun ini bayar. “‘Lagian’ ikan tersebut juga kecil-kecil dan sedikit,” kata dia. “Kalau bayar nggak masalah tapi ikannya harus gede-gede,” ujarnya.

Kejadian tersebut katanya telah membuat masyarakat marah. “Masa ulang tahun Depok warga dibohongi,” katanya.

Menanggapi kerusuhan dalam acara “Ngubek Situ” Kapolres Kota Depok AKBP Fery Abraham mengatakan bahwa pihaknya masih menyelidiki kejadian kerusuhan tersebut, apakah ada unsur sengaja atau tidak. Dikatakannya panitia memungut bayaran bagi warga yang masuk sebesar Rp20 ribu, namun hasil tangkapan ikan peserta tidak sebanding dengan massa yang datang sehingga mereka merasa kecewa dan tertipu.

Menurut dia, kekecewaan masyarakat dinilai spontan karena merasadibohongi panitia, untuk mendaptakan keterangan lanjutan pihaknya telah memeriksa sejumlah panitia. “Kalau terbukti ada unsur penipuan akan kita proses secara hukum,” tegasnya. (Ant/KG/OL-2)

Polsek Depok Tetapkan Tersangka Kerusuhan Citayam

Sumber:  http://www.detikpertama.com/ 31 Mei 2011

DEPOK – Kepolisian Sektor (Polsek) Depok, Jawa Barat menetapkan satu tersangka kasus kericuhan di Situ Citayam saat perayaan hari ulang tahun Kota Depok. Tersangka diduga melakukan penipuan dalam kegiatan ‘Ngubek Situ’.

Kanit Reskrim Polsek Pancoran Mas, AKP Syah Johan mengatakan tersangka bernama Marhasan yang menjadi ketua Pokja Situ Citayam. “Kami tetapkan seorang tersangka yaitu Marhasan selaku Ketua Pokja Situ Citayam,” ujar AKP Syah Johan, kepada wartawan, Senin (30/5/2011).

Sebelumnya, Polsek Pancoran Mas memeriksa 35 orang saksi yang terdiri dari panitia penyelenggara, penyebar ikan, penjual ikan dan peserta. Marhasan diduga melakukan penipuan. “Dari hasil pemeriksaan, Marhasan diduga melakukan penipuan dan dikenakan pasal 378 tentang penipuan dengan ancaman penjara diatas 4 tahun,” tegasnya.

Polsek Pancoran Mas juga mengamankan barang bukti berupa 1 lembar kuitansi, 25 kupon peserta, dua spanduk, dua kantong plastik ikan dan foto ikan delapan lembar. Pihaknya juga berhasil mengamankan uang sebesar Rp7,5 juta.

“Dari total 2 ton yang dijanjikan akan disebar, hanya 750 kg saja ikan yang disebar. Ini yang menyebabkan peserta merasa dirugikan dan ditipu,” jelasnya.

Kata Johan, sebelumnya Marhasan juga telah mengeluarkan uang senilai Rp13 juta untuk membeli ikan sebanyak 750 kg. Tersangka saat ini tidak ditahan karena dinilai pro aktif dan tidak menghilangkan barang bukti.

“Dengan pertimbangan tertentu, tersangka tidak ditahan. Besar kemungkinan, ke depan tersangka bisa bertambah,”tegasnya.

Sebelumnya, ribuan warga mencari ikan di Situ Citayam, mengamuk dan membakar hadiah doorprize, termasik membakar sepeda air di situ Citayam . Kericuhan dipicu karena warga tidak mendapatkan ikan mas berukuran besar dengan memungut biaya Rp 20 ribu. Panitia berjanji menyebar ikan mas sebanyak 2 ton, namun nyatanya bohong belaka. (fer)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: