Berita Situ Universitas Indonesia

Agustus 2002

Pengelolaan Setu UI Jadi Percontohan

Radar Depok, 4 Agustus 2002

Balaikota, RD- Setu yang terdapat di lingkungan Kampus Universitas Indonesia (UI) dapat dijadikan percontohan pengelolaan setu dan danau di Kota Depok. Airnya bersih, tidak ada sampah, tidak berbau dan sistem masuk dan keluarnya air dari danau itu diatur sedemikian rupa.

“Mulai  dari air sampai lingkungan di sekitar setu betul-betul dipelihara dan dipertahankan keasliannya. Yang dirasakan sekarang ini, jika kita ada di sana, udara sejuk dan bersih  serta pemandangan indah akan kita rasakan. Nah pengelolaan semacam itulah yang seharusnya dicontoh. Khususnya masyarakat, agar dapat menjaga keaslian dan kebersihan setu di sekitartempat tinggalnya,” ujar Kabag TU Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok , Supayat saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (30/7).

Yang terlihat sekarang ini, lanjutnya, hampir sebagian besar setu yang ada di Kota Depok kondisinya mengkhawatirkan. Luasnya mulai menyusut, seperti Setu Rawa Besar. Pinggiran setu menjadi tempat pembuangan sampah. Bahkan ada yang sengaja dijadikan kawasan pemukiman.  Demikian pula dengan saluran pembuangan airnya tersumbat sampah, sehingga sirkulasi airnya tersumbat.  Kondisi ini menimbulkan pemandangan kotor dengan menyebar aroma yang tidak sedap.

Padahal, masyarakat sekitar seharusnya dapat  segera menyadari pentingnya fungsi setu.  Bukan hanya bagi warga Depok sendiri, tetapi juga bagi daerah sekitarnya. Khususnya Jakarta yang membutuhkan resapan air tanah untuk menekan intrusi air laut.  Selain itu berfungsi sebagai penampung air hujan sebelum dialirkan kembali ke kawasan yang lebih rendah.

“Kalau kondisinya sudah rusak, dibutuhkan dana cukup besar untuk membersihkan dan memperbaikinya. Uang sebesar Rp. 1 miliar saja masih kurang untuk memperbaikinya. Cobalah kita bersama-sama mulai sekarang memelihara setu-setu itu. Dengan demikian kita bisa sekaligus menciptakan lingkungan yang benar-benar kita dambakan,” lanjutnya.

Berdasarkan data yang dihimpun, dibutuhkan dana sebesar Rp. 40 miliar untuk merehabilitasi danau, setu dan sejumlah sumber-sumber air yang ada di Kota Depok. Pemkot setempat dibantu dengan Pemda DKI Jakarta bersama-sama secara bertahap akan melakukan rehabilitasi sumber-sumber air tersebut. Selain itu, kedua pemerintah kota mencari terobosan lain dengan mencari bantuan dari pihak luar.  Diantaranya daqri JICA (Japan International Cooperation Agency) dan bantuan Bank Dunia dan Bank Asia (ash)

September 2006

Sampah Depok Kotori Situ UI

Republika,  11 September 2006

Sumber: http://www.infoanda.com/

DEPOK — Keindahan situ-situ (danau) yang berada di Universitas Indonesia kerap terganggu dengan sampah-sampah yang berasal dari Kota Depok. Bahkan menurut Setyo Supriyadi, direktur Umum dan Fasilitas UI, bila musim hujan tiba, sampah-sampah yang masuk ke situ-situ UI itu bisa mencapai puluhan kubik setiap hari.

“Setiap harinya UI menerima kiriman sampah dari Depok tak kurang dari 20 meter kubik,” kata Setyo, akhir pekan lalu. Bila musim penghujan, lanjutnya, UI selalu mengerahkan enam truk pembuang sampah berkapasitas 4-10 kubik untuk mengangkut sampah-sampah di situ tersebut. “Bisa dibayangkan, sampah pasokan dari Depok bisa 60 meter kubik per hari kalau hujan. Ini jelas merepotkan kami.”

Dikatakan, sampah-sampah yang kebanyakan berupa plastik dan sampah rumah tangga itu masuk melalui sungai atau kali yang melintasi kampus UI dan tersambung ke situ. Setyo mengatakan, dalam hal pengangkutan sampah, UI sudah memiliki truk pengangkut sendiri di tiap fakultasnya. “12 unit truk ini mengangkut sampah dari UI ke TPA.”

Ke depan, lanjutnya, UI sedang mengembangkan alat pengelola sampah yang lebih modern. “Prototype mesin sampah sudah ada dan masih diuji coba. Sekarang kami letakkan di dekat asrama mahasiswa,” jelasnya.

Terkait masalah ini, sebelumnya Wali kota Depok, Nur Mahmudi Ismail, menegaskan, pengolahan sampah di Depok nantinya akan dikonsentrasikan pada tiap kecamatan, termasuk kampus, pusat perbelanjaan, dan sebagainya. “Sehingga tidak terpusat pada satu tempat atau TPA saja.”

Keberadaan TPA, menurut dia, seringkali menimbulkan masalah kesehatan bagi warga sekitar lantaran pengelolaannya yang kurang baik. Untuk itu, Pemkot Depok akan memperkenalkan teknik baru yang merupakan perbaikan dan pembaruan dari teknik lama dengan memisahkan sampah organik dan sampah anorganik. “Sampah organik itu nanti akan diolah menjadi kompos,” katanya.

Data dari Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kota Depok, produksi sampah di Depok mencapai 1.446 kubik per hari atau sekitar 43.400 kubik per bulan. “Karenanya ini masalah yang sangat serius untuk diperhatikan,” kata Nur. (c42 )

Februari 2007

Setu UI masih berfungsi antisipasi banjir

Monitor Depok, 22 Februari 2007

Sumber: http://docs.google.com/:webdev.ui.ac.id/

KAMPUS UI-MONDE. Setu-setu  di areal Kampus UI sejauh ini masih berfungsi baik sebagai pengendali banjir dan daerah resapan air. Setu di kawasan ini pun diyakini berpotensi sebagai obyek wisata air.

Semua setu ini merupakan penahan air yang mengalir ke Jakarta. Jika volume air tidak diatur, Jakarta tentunya akan kebanjiran.

“Saat salah satu daerah di Jakarta Selatan kebanjiran, warga berbondong-bondong datang ke sini dan meminta  kami menutup pintu air setu,” ujar Donny Dhaneswara, kepala Unit Pelaksana Teknis Pembinaan Lingkungan Kampus (UPT PLK) UI.

Mereka menduga, lanjutnya, UI membuka pintu air setu padahal  itu tidak pernah dilakukan.  Setelah melihat sendiri pintu setu tertutup, mereka baru mengerti bahwa bukan setu UI yang menyebabkan terjadinya banjir.

“Mereka ternyata baru tahu kalau UI juga kebanjiran akibat menahan volume air yang melimpah. Ketinggian air waktu itu bahkan melebihi batas turap setu  dan menggenangi sebagian jalan.”

UI bertekad menjaga keberadaan dan fungsi  setu sebagaimana mestinya dengan melakukan normalisasi  setu dengan melakukan pengerukan dan pembuatan setu baru.  “Pengerukan ini untuk tetap menjaga kedalaman setu dan menghindari pendangkalan  akibat tumbunan sampah,” ujar Donny.

Baroto, staf  UPT PLK UI Divisi Pelestarian dan Kebersihan Setu, menambahkan keberadaan setu telah dirasakan manfaatnya a.l. menahan air untuk daerah hilir (Jakarta) dan volume air sumur warga tidak berkurang meski musim kemarau.

“Saya berharap  warga ikut berpartisipasi menjaga kebersihan dan   kelestarian setu dengan tidak mengotorinya dan menjala sebab akan merusak ekosistem  dan regenerasi ikan di dalamnya. “

Pihaknya pun akan menjaga kelestarian setu dengan melakukan pembersihan berkala. Selain itu,   debit air tetap dijaga meskipun  musim kemarau agar tidak kekeringan  yang menyebabkan ikan mati.

Seperti diketahui, nama enam setu di Kampus UI merupakan nama bunga dan dan kepanjangan dari kata “kampus” yaitu Kenanga, Agathis, Mahoni, Puspa, Ulin dan Salam.

“Selain enam setu itu ada dua lagi yaitu satu danau kecil dan satu lagi yang tengah dibuat, namun belum dinamai. Mungkin diberi nama Salam 1 dan 2 untuk memudahkan nama dan singkatannya, ” ungkap Donny Dhaneswara. (m-9)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: