Randy Indira Kusuma, dkk

MAKALAH TENTANG SITU JATIJAJAR

Oleh: 1) Randy Indira Kusuma, 2) Melinda Denitasari, 3) Rizka Rahma Darmayanti, 4) Irwan Sanjaya

Sumber:  http://randysangvokalis.blogspot.com/

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,Kelompok kami telah dapat menyelesaikan penyusunan tugas “MAKALAH TENTANG SITU JATIJAJAR”,yang telah di lengkapi dengan data-data yang cukup jelas,akurat,dan tepat.Di sertai berupa gambar-gambar.

Tujuan utama penyusunan MAKALAH TENTANG SITU JATIJAJAR adalah untuk mengetahui dan mempelajari sejarah tentang SETU JATIJAJAR secara efektif dan efisien.

Di samping itu,melalaui makalah ini ,kami penyusun mengajak para pembaca untuk mengenal dan mengerti tentang setu-setu yang ada di Depok,Jawa Barat.

Namun kami menyadari bahwa makalah yang kami buat ada kekurangan penyusunan dan penjelasannya,dan kami mohon para pembaca makalah ini memakluminya.Dan kamipun berharap adanya kritik ataupun pendapat dari pembaca makalah ini sehingga makalah yang kami buat menjadi lebih sempurna.

Semoga makalah ini dapat memberikan tambahan pengetahuan dalam bidang pendidikan umumnya dari kami sebagai penyusunan makalah ini bagi para pembaca.

BAB 1 PENDAHULUAN

Situ dan waduk, danau dan rawa dapat dikategorikan sebagai salah satu jenis lahan basah, mempunyai sistem perairan yang tergenang dan berair tawar. Situ dapat terbentuk secara buatan yaitu berasal dari dibendungnya suatu cekungan {basin) dan dapat pula terbentuk secara alami yaitu karena kondisi topografi yang memungkinkan terperangkapnya sejumlah air. Sumber air lahan tersebut dapat berasal dari mata air yang terdapat di dalamnya, dari masuknya air sungai dan atau limpasan air permukaan/hujan [surface run-off). Keberadaan air di dalam lahan tergenang dapat bersifat permanen atau sementara (Suryadiputra 2003). Selanjutnya Suryadiputra (2003) mengemukakan bahwa rawa merupakan salah saru jenis lahan basah, memiliki sistem perairan tergenang, dangkal, bertepian landai dan penuh tumbuhan air. Dikenal dua tipe perairan tawar yaitu rawa darat dan rawa pasang surut. Fluktuasi tinggi permukaan air rawa darat bersifat tengah tahunan, yaitu untuk musim hujan dan musim kemarau, sedangkan fluktuasi tinggi permukaan air rawa pasang surut bersifat harian sesuai dengan pasang surutnya air laut.

Secara umum dapat diketahui bahwa situ dan rawa memiliki fungsi sangat penting, diantarany a sebagai pemasok air ke dalam akuifer yang digunakan sebagai daerah resapan air tanah/recharging zone, peredam banjir, pencegah intrusi air laut, membantu memperbaiki mutu air permukaan melalui proses kimia-fisik-biologis yang berlangsung di dalamnya, irigasi, rekreasi, tandon air/reservoir, mengatur iklim mikro, perikanan, pendukung keanekaragaman hayati perairan, dsb. (Suryadiputra 2003). Sehubungan dengan perubahan pemanfaatan bentang alam di Jabodetabek maka perlu dipertanyakan apakah situ, danau dan rawa yang berada di Jabodetabek masih dapat memenuhi fungsinya sebagaimana dikemukakan oleh Suryadiputra (2003) tersebut perlu dilakukan penilaian umum dari berbagai situ dan rawa yang berada di Jabodetabek. Penilaian meliputi jumlah, luas serta mutu situ dan rawa yang berada di Jabodetabek. Jika terjadi perubahan luas situ rawa, maka perlu dicarikan pemecahannya sehingga daur air sebagai penunjang utama kehidupan manusia dapat dijaga.

Mengingat pentingnya peranan situ tersebut dalam mendukung proses ekologis dan kehidupan di sekitarnya, maka dilakukan suatu kajian mengenai perubahan jumlah situ /rawa yang terdapat di kawasan Jabodetabek.

1.1 Metoda Pengumpulan dan Analisa Data

Untuk mendapatkan gambaran umum kondisi situ dan rawa lama digunakan peta rupa bumi tahun 1922-1943, skala 1:50.000 yang berasal dari “Dutch map”. Sedangkan untuk mendapatkan gambaran kondisi situ dan rawa saat ini digunakan citra satelit tahun 2000 untuk kawasan Jabodetabek yang kemudian diolah sehingga di peroleh peta dengan skala 1 : 25.000. Untuk memperoleh informasi lain terutama mengenai posisi administratif dari masing-masing situ/ rawa digunakan peta dasar batas administratif daerah Jabodetabek (Bakosurtanal, 1999). Untuk proses analisis peta digunakan beberapa software ArcView untuk spasial analisis dan Erdas Imagine untuk digunakan sebagai alat identifikasi situ/rawa.

Situ dan rawa yang terdapat pada peta dasar Dutch map (1922- 1943) dicatat posisi geografinya berdasarkan referensi koordinat yang terdapat pada peta. Selain itu dicatat namanya bila ada dan dihitung luasnya dengan menggunakan alat pungukur luas “planimeter”. Hasil pencatatan posisi koordinat ditabulasikan dengan format derajat desimal, agar mudah dibaca dengan software ArcView.

Berdasarkan citra tahun 2000 diidentifikasi posisi situ dan rawa maupun kawasan-kawasan lahan basah lain, dan kemudian dipetakan pada peta dasar batas administratif (Bakosurtanal 1999) sehingga mudah diidentifikasi posisinya dan luasnya. Identifikasi citra dengan menggunakan Erdas Imagine, untuk mendapatkan gambaran umum pemanfaatan lahan di sekitar kawasan situ dan rawa maupun kawasan lahan basah lain. Kawasan yang telah diidentifkasi kemudian dibuat petanya sebagai bahan untuk analisis secara spasial, yaitu dengan cara membandingkan peta lama (1922-1943) dengan peta baru hasil olahan dari citra.

1.2 Perubahan Jumlah & Luas Situ Rawa Di Jabodetabek

1. Posisi dan jumlah situ berdasarkan peta lama (1922 -1943)

Dari 26 lembar peta dasar Dutch map yang telah di over-lay dengan peta dasar administratif Jabodetabek 1999 diketahui bahwa, di seluruh kawasan Jabodetabek dapat diidentifikasi sebanyak 317 situ- rawa((Tabel 14. Gambar 17).

Gambar 17. Posisi Situ dan Rawa berdasarkan data Dutch map, 1922 -1943

(Dot bulat merupakan posisi situ dan rawa)

Dari Tabel 14 tampak bahwa menurut peta lama Dutch map (1922-1943) di daerah Jakarta terdapat situ sebanyak 6 buah dengan perkiraan total luas 0,325 km2 dan 76 buah rawa dengan perkiraan luas 25,63 km2. Didaerah Jakarta Barat situ dan rawanya tersebar di 5 Kecamatan yaitu Cengkareng,, Grogol Petamburan, Kebon Jeruk, Kembangan dan Taman Sari kesemuanya teridentifikasi sebagai rawa- rawa yang luasnya diperkirakan.mencapai 0,52 km2. Daerah Jakarta Utara terdapat 47 situ dan rawa seluas 22,8 km2 yang sebagian besar terdapat di kecamatan Cilincing 17 situ dan rawa, Pademarigan 14 situ/ rawa, Tanjung Priok 10 situdan rawa. Penjaringan 5 buah dan Kelapa Gading 1 buah. Di Jakarta Pusat terdapat 3 situ seluas 0,15 km2 yang tersebar di kecamatan Sawah Besar (2 buah) dan Kecamatan Senen (1 buah). Di Jakarta Timur terdapat di 7 kawasan dengan perkiraan total luas 2335 km2 yaitu Cakung (6 buah), Makasar (4), Cipayung dan Ciracas (masing-masing 3 buah), Matraman (2 buah), Jatinegara dan Kramat Jati masing-masing 1 buah. Sedangkan di Jakarta Selatan terletak di 3 kecamatan dengan luas 0,13 km2 yaitu Jagakarsa (2 buah), Pancoran dan Tebet masing-masing 1 buah (lihat Tabel 15).

Di Daerah Tangerang yang meliputi kota dan kabupaten Tangerang tercatat ada 82 situ dan rawa dengan perkiraan total seluas 19,427 km2 yang terdapat di 16 kecamatan, yaitu Sepatan (11 buah), Pakuhaji (9), Mauk (8), Kosambi dan Teluknaga (7), Rajeg (6), Curug (5), Pasar Kemis (4), Pámulang, Legok (masing-masing 2), serpong dan Balaraja (1). Sedangkan di Kota Tangerang di 4 kecamatan, yaitu di Kecamatan Batuceper tercatat 8 buah, Benda 6 buah, Jatiuwung 3 buah dan Kecamatan Cipondoh ada 2 buah (lihat tabel 15).

Berdasarkan peta lama di daerah Bekasi (Kabupaten dan Kota) tercatat ada sekitar 82 situ dan rawa dengan total perkiraan luas 102,725 km2, yang tersebar di 12 kecamatan. Di kecamatan Babelan tercatat ada sekitar 14 buah, kemudian Tarumajaya dan Pondok Gede masing-masing 10 buah, Tambun 8 buah, Muara Gembong, Tambelang, Bekasi Selatan dan Bekasi Barat masing-masing 7 buah, Cabangbungin 5 buah, Cibitung 2 buah serta Kecamatan Bekasi Utara 3 buah dan Bekasi Timur 1 buah (lihat tabel 15).

Di daerah Bogor (Kabupaten dan Kota) berdasarkan peta lama tercatat ada sekitar 71 sita dan rawa yang tersebar di 21 kecamatan meliputi perkiraan total luas 7,9 km2. Paling banyak di kecamatan Cimaggis dengan jumlah situ dan rawa 8 buah, kemudian di kecamatan Parung ada 7 buah, Kemang, Citeureup, Gunung Sindur, Sawangan masing-masing 5 buah, Ciampea, Cibinong, Gunung Putri, Rumpin, masing-masing 4 buah, Bojong Gede dan Cigudeg 3 buah, Tanah Sereal, Pancoran Mas, Jasinga, Gileungsi dan Leuwiliang masing-masing 2 buah, Kota Bogor Utara, Sukmajaya, Famijahan dan Darmaga masing-masing 1 buah (lihat tabel 15).

2. Posisi dan jumlah situ dan rawa dan lahan basah lain berdasarkan citra satelit tahun 2000

Dari analisis citra satelit tahun 2000 dapat diperoleh’ informasi bahwa teridentifikasi terdapat 174 situ/ waduk, danau dan rawa di kawasan Jabodetabek, dengan rincian sebarannya 114 situ di 27 kecamatan dan 60 rawa di 14 kecamatan (Tabel 15. Gambar 18).

Analisis yang dilakukan di kawasan Jakarta diidentifikasi ditemukan ada 30 situ dengan perkiraan luas 1,6466 km2 dan 17 rawa dengan perkiraan luas 93124 km2. Rawa-rawa di kawasan Jakarta yang meliputi kota-kota Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Jakarta Timur dan Jakarta Barat ini tersebar di 9 kecamatan yaitu Penjaringan 5 rawa, Cilincing dan Tanjung Priok masing-masing 3 rawa dan Cengkareng, Grogol Petamburan, Tanah Abang, Tebet, Koja dan Pademangan masing-masing 1 buah. Sedangkan dari ke 30 situ di Jakarta tersebar di 19 kecamatan, yaitu Tanah Abang, Ciracas, Tanjung Priok, masing-masing 3 situ, Pancoran, Kelapa Gading, Cilandak, Jagakarsa dan Kebayoran Lama dengan masing- masing 2 situ serta Kebon Jeruk, Menteng, Kebayoran Baru, Cengkareng, Cakung, Cipayung, Pasar Rebo, Cilincing, Pademangan, Pulo Gadung dan Setia Budi masing-masing 1 buah situ (lihat Tabel 14 dan 15).

Di daerah Tangerang yang meliputi kabupaten dan kota Tangerang, Banten tercatat ada 7 situ dengan perkiraan luas 0,9182 km2 dan 35 rawa dengan perkiraan luas 25,4675 km2. Situ di kawasan ini tersebar di 4 kecamatan yaitu, Tangerang, Pamulang, Legok dengan masing-masing 2 situ dan Ciputat 1 situ. Sedangkan rawanya tersebar di 7 kecamatan, yaitu Batuceper (10 rawa), Teluknaga, Mauk, Kosambi dengan masing-masing ditemukan 5 buah rawa, Pakuhaji (4 buah), Cikupa (3 buah), Sepatan (2 buah) dan Legok (1 buah) (lihat Tabel 14 dan 15).

Di daerah Bekasi yang meliputi kabupaten dan kota Bekasi, Jawa Barat tercatat ada 5 buah situ dengan perkiraan luas 0,5508 km2 dan 23 buah rawa dengan perkiraan luas 52,1776 km2. Hasil analisis dapat diidentifikasi bahwa 5 buah situ di kawasan ini tersebar di Kecamatan Pondokgede (2 buah), Tarumajaya, Cibitung dan Babelan masing-masing 1 buah. Sedangkan rawa di kawasan ini tersebar di 6 kecamatan yaitu Tembelang dengan jumlah terbanyak yaitu 9 rawa, kemudian disusul dengan Tarumajaya dengan 5 rawa, Muara Gembong 4 rawa, Babelan 3 rawa dan Cibitung serta Bekasi Selatan dengan masing-masing 1 buah rawa (lihat tabel 14 dan 15).

Hasil analisis citra untuk kawasan Bogor yang meliputi kabupaten dan kota Bogor menunjukkan bahwa jumlah situ di kawasan ini cukup tinggi yaitu sebanyak 72 situ dengan perkiraan luas 0,0975 km2 dan hanya 1 buah rawa dengan perkiraan luas 0,0807 km2. Situ di kawasan Bogor ini tersebar di 20 kecamatan kabupaten dan kota Bogor dengan rincian catatan bahwa di Cimanggis dan Gunung Putri diidentifikasi ditemukan situ yang terbanyak, yaitu masing-masing sebanyak 7 buah. Kemudian disusul dengan kecamatan Parung sebanyak 6 situ, Kemang, Bojong Gede, Cibinong, Gunung Sindur dan Sukmajaya dengan masing-masing 5 situ, Pancoran Mas, Sawangan dan Limo dengan 4 buah situ, Beji dan Cileungsi dengan 3 situ, Kota Bogor Utara dan Citerureup 2 situ, serta Rumpin, Sukaraja, Darmaga, Kota Bogor Tengah dan Kota Bogor Timur masing-masing 1 buah situ. Sebuah rawa diidentifikasi terdapat di kecamatan Kemang kabupaten Bogor (lihat tabel 14 dan 15).

3. Analisis terhadap perubahan situ/rawa

Dari analisis spasial data peta lama Dutch map (1922-1943) dan citra satelit tahun 2000 diperoleh data seperti pada tabel 16. Dari tabel 2 tampak bahwa ada perbedaan jumlah dan luas situ rawa yang cukup mencolok. Data jumlah situ pada tahun 2000 menunjukkan adanya perbedaan jumlah sebesar 38 buah situ lebih banyak jika dibandingkan dengan data tahun 1922 -1943 yang jumlahnya hanya 76 buah. Meskipun jumlah situ lebih sedikit bila ditinjau dari segi luas, total luas situ tahun 1922-1943 ternyata lebih besar ukurannya dari data total luas situ data terakhir (tahun 2000). Perbedaan luas situ.tahun 1922-1943 mencapai angka 40,76 % lebih luas dibanding dengan data tahun 2000.

Dari gambaran yang diperoleh dari citra satelit didapatkan adanya spot-spot situ yang memiliki lokasi sangat berdekatan satu dengan yang lain. Kemungkinan spot-spot yang tampak tersebut merupakan situ besar yang kemudian terfragmentasi karena sebab-sebab tertentu, seperti terpotong oleh jalur jalan, bangunan, proyek perumahan, pendangkalan air ataupun sebab-sebab lain seperti pengalihan fungsi dan pemanfaatan lahan menjadi sawah atau kawasan agribisnis produktif lain. Sumber informasinya berasal dari citra satelit pengambilan pada bulan Juni tahun 2000. Pada saat ini kondisi kawasan Jabodetabek sudah mulai berkurang curah hujannya. Kemungkinan yang lain adalah situ baru memang dibangun di beberapa tempat seperti pada beberapa pemukiman elite di sekitar Jabodetabek.

Meskipun jumlah situ pada tahun 2000 lebih banyak (114 situ) kapasitas daya tampung situnya lebih kecil bila dibandingkan dengan daya tampung situ pada tahun 1924-1944 (76). Hal ini dapat dilihat dari perkiraan luas situ tahun 2000 yang lebih sempit bila dibandingkan dengan perkiraan luas situ pada tahun 1922-1940. Dengan perkiraan kedalaman air situ yang umumnya tidak begitu dalam maka volume air situ yang dapat ditampung juga tidak akan terlalu besar.

Dari Tabel 16 juga tampak bahwa jumlah situ terbanyak terdapat di daerah Bogor (data lama 65 dan data baru 72). Di daerah Bogor memang cukup banyak ditemukan situ meskipun ukurannya tidak terlalu besar. Sedangkan di Jakarta jumlah situ memang meningkat cukup banyak dari 6 buah di tahun 1922-1943 menjadi 30 buah situ di tahun 2000. Hal ni juga menunjukkan bahwa pembuatan situ baru diperkirakan banyak dilakukan oleh Pemerintah Kota. Kemungkinan hal ini berhubungan dengan pembangunan pemukiman baru di kawasan kota Jakarta. Kawasan yang diidentifikasi terdapat penambahan jumlah situ dari citra satelit umumnya merupakan kawasan pemukiman.

Jumlah situ dan perkiraan luas situ di daerah Tangerang dan Bekasi tampak tidak seperti di daerah Jakarta maupun Bogor, Namun ada kecederungan yang sama bahwa jumlah situ tahun 2000 lebih tinggi dibandingkan dengan data lama (1922-1943).

Berbeda dengan situ, pengurangan jumlah rawa terjadi cukup nyata dari peta lama (tahun 1922-1943) dibandingkan dengan data situ tahun 2000 (citra lansat tahun 2000) yaitu sebesar 81 buah. Pengurangan jumlah rawa ini secara nyata juga menurunkan luas rawa di tahun 2000 sebesar kira-kira 41,23 %. Penguragan jumlah rawa ini tampak terjadi di semua kawasan Jabodetabek, dengan pegurangan jumlah terbesar terdapat di kawasan Jakarta yaitu sebanyak 59 rawa hilang, Bekasi 57 rawa hilang, Tangerang 43 hilang, dan Bogor hanya tercatat adai rawa yang masih tersisa dari sekitar 6 buah rawa di tahun 1922-1943.

Pengurangan luas perkiraan rawa di Jabodetabek jelas berpengaruh terhadap daya tampung volume air rawa. Hal ini juga tampak dari perubahan staus lahan yang semula adalah rawa telah berubah untuk keperluan lain. Umumnya rawa menjadi lebih sempit luasnya dan bahkan di beberapa darah di Jakarta, Bekasi dan Bogor telah berubah status lahannya.

Tampaknya fragmentasi rawa juga terjadi di hampir seluruh kawasan Jabodetabek yang kemungkinan besar karena pendangkalan, perubahan status lahan rawa menjadi kawasan industri agribisnis (sawah, tambak empang dan lahan kering untuk palawija), industri manufaktur maupun sarana dan prasarana industri, sarana jalan maupun pemukiman penduduk.

1.3 Strategi Konservasi Situ dan Rawa

Mengingat situ maupun rawa di kawasan Jabodetabek memiliki peranan yang sangan penting, maka pengelolaan situ dan rawa di kawasan ini memerlukan perhatian yang lebih baik. Selain sebagai habitat dan penyeimbang lingkungan di sekitarnya, meskipun perannya kurang begitu besar, situ dan rawa ini dapat menampung sementara luapan air pada saat musim hujan.

Perubahan yang terjadi pada situ maupun rawa seperti sengaja ditutup atau diuruk untuk diubah peruntukkannya atau karena sebab- sebab yang lain akan menyebabkan perubahan ekologi di sekitar kawasan tersebut. Kondisi ini dapat berpengaruh lebih serius bila perubahannya sudah sulit untuk dikendalikan.

Dengan hilangnya berbagai situ dan rawa serta mengecilnya luas situ-rawa maka dapat dipastikan bahwa daya menambah imbuhan an taran juga semakin rendah. Meningkatnya kebutuhan akan air tanah di daerah hilir sebagai akibat dari meningkatnya kebutuhan industri serta masyarakat dapat dipastikan meningkatnya devisit air tanah di daerah hilir Jabodetabek. Defisit air imbuhan air tanah tersebut secara bertahap dan sistematis harus dikurangi.

BAB II  SEJARAH SETU

2.1 Mengenal Lingkungan Setu Jatijajar

Situ tersebut teletak Terletak di Kelurahan Jatijajar dan Kecamatan Cimanggis. Kondisi setu relatif cukup baik dengan sebagian tebing yang sudah diturap dan air relatif jernih.Dalam hal ini yang dikhawatirkan adalah semakin meluasnya lahan pertanian ke arah setu, yang dapat menimbulkan dampak negatif seperti seperti pengkayaan perairan (eutrofikasi), sedimentasi dan pendangkalan.

Sumber: Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Kota Depok Tahun 2006

Gambar 2.1 Menunjukkan bahwa permukiman di sekitar setu tidak terlalu padat, dan sebagian besar dimanfaatkan untuk keramba jaring apung dan pemancingan.

Di sekeliling Situ akan di buat parkiran yang cukup untuk beberapa mobil,Sayangnya belum semua jadi dengan sempurna sebagian masih berupa conblok yang sudah lepas disana sini,tetapi ini Cuma sekitar 25% saja,.Selain itu sudah bagus.

Gambar 2.2 Menunjukkan bahwa permukiman di sekitar setu akan di buat sebuah parkiran mobil.

Untuk yang hobi memancing di sekitar danau terdapat banyak warung-warung yang menyediakan perlengkapan memancing,Jadi kalau anda tertarik memancing silahkan datang tanpa repot membawa alat pancing atau umpan pancing segala.

Gambar 2.3 Menunjukkan bahwa permukiman di sekitar setu terdapat pemancingan dan warung berupa saung di keramba jaring apung dan pemancingan.

Situ Jatijajar mempunyai luas sekitar 6,5 ha.Kedalaman Situ Jatijajar bisa mencapai sekitar 1-4 meter.Menurut warga sekitar Situ Jatijajar,Konon kata nya Situ Jatijajar ini mempunyai fenomenal alam yang begitu masih memiliki mitos-mitos misteri dari orang zaman dahulu.Di Sana tidak boleh berkata yang sembarangan,belaga songo,maupun sombong.Jika kita berbicara tidak sopan,maka akan terjadi sesuatu yang begitu mengerikan dan mengalami kesialan yang di luar dugaan.Jadi berbicara yang sopan kalau perlu diam saja.

Gambar 2.4 Menunjukkan bahwa di daerah setu ini mempunyai fenomenal alam yang misteri.

Sumber: Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Kota Depok Tahun 2009

2.2 KONDISI PERMUKAAN SETU JATIJAJAR

Situ Cilodong dalam sejarahnya ternyata juga pernah mengalami kerusakan. Namun sudah pernah diperbaiki. Disebutkan Bulan Oktober tahun 2004, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok pernah menyebutkan 26 situ yang ada di Kota Depok tercemar limbah berbahaya dan mengalami banjir, “Salah satunya adalah Situ Jatijajar”. Akibatnya, kualitas air situ tersebut menjadi buruk dan tidak layak untuk tempat budidaya ikan. Dari 26 situ yang tercemar di Depok, Situ yang dinilai terparah adalah Situ Rawa Kalong di Kelurahan Curug, Situ Tipar di Kelurahan Mekar Sari, Situ Cilangkap di Kelurahan Cilangkap, Situ Gadog di Kelurahan Cisalak Pasar, Situ Jatijajar di Kelurahan Jatijajar, Kecamatan Cimanggis, Situ Pengarengan di Kelurahan Bhakti Jaya, Situ Cilodong di Kelurahan Cilodong, Kecamatan Sukma Jaya, dan Situ Rawa Besar di Kelurahan Depok, Pancoran Mas. Kepala BLH Kota Depok Rahmat Subagio, mengatakan data tersebut didapat berdasarkan laporan dari Kelompok kerja (Pokja) Situ di setiap kelurahan kala itu. Selain tercemar limbah rumah tangga, beberapa situ juga tercemar limbah industri.

Kerusakan ini sebenarnya buah dari lantaran tidak dirawat. Sehingga luasnya berkurang dan terus menyempit akibat terdesak pertumbuhan permukiman liar. Kabarnya Pemerintah Kota (Pemkot) Depok tak punya dana untuk menyelamatkan semua situ. Itu sebabnya, Pemkot Depok ‘nekat’ meminta bantuan dana ke Pemerintah Pronvisi (Pemprov) DKI Jakarta pada tahun 2004.

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (Bimasda) Kota Depok Herman Hidayat mengakui Pemkot Depok meminta bantuan dana ke DKI Jakarta. Selain itu, katanya, Pemkot Depok juga sudah berkoordinasi dengan Pemprov DKI untuk menyelamatkan situ-situ. “Pemprov DKI Jakarta sudah memberi dana Rp 1 miliar untuk menyelamatkan Situ Tipar di Kecamatan Cimanggis. DKI mau membantu karena situ itu berada di perbatasan Depok dan Jakarta,” ujarnya.

Disebutkan, tahun 2004 situ seluas 6,5 ha itu sudah dikeruk karena sangat dangkal akibat sedimentasi. Kelak juga dilakukan penurapan guna mengembalikan fungsi situ sebagai tangkapan air. “Selain Situ Bahar, Situ Citayam, Situ Jatijajar, Situ Sidamukti dan Situ Cilodong juga telah dinormalisasi menggunakan dana Rp 850 juta dari APBD Kota Depok,” katanya.

Camat Sukma Jaya Musit Hakim, juga pernah mengakui bahwa dua situ di wilayahnya tidak terawat, yakni Situ Pengarengan dan Situ JatiJajar. Seperti Situ Pengarengan, paparnya, tercemar limbah rumah tangga. Selain itu, dinding tanggul situ sudah keropos, sehingga sewaktu-waktu bisa jebol. “Saya sudah melaporkan kondisi Situ Pengarengan dan Situ Jatijajar ke Wali Kota agar mendapat perhatian,” tuturnya.

Tahun 2004 pemerintah pusat pernah menganggarkan dana Rp 100 miliar untuk melakukan perbaikan sarana air di Jakarta dan sekitarnya. Proyek perbaikan dan pengembangan sarana air di tahun 2004 itu akan dikelola oleh Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (PIPWSC).

Dengan anggaran itu, PIPSWC yang berada di bawah Direktorat Sumber Daya Air Wilayah Tengah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Depkimpraswil), tahun itu mengerjakan beberapa proyek pembangunan sarana pengendalian banjir, pengamanan pantai, pembangunan proyek Banjir Kanal Timur, dan pengelolaan sumber daya air di Jakarta.

Untuk diketahui, program kerja PIPSWC meliputi pengendalian banjir dan pengamanan pantai, proyek yang akan dikerjakan adalah pembangunan prasarana pengendalian banjir. Yaitu, proyek normalisasi dan pengamanan sungai, waduk dan pompa, atau pintu air. Anggaran yang dialokasikan untuk proyek ini adalah sebesar Rp 15,5 miliar. Proyek normalisasi ini termasuk pengerukan dan perbaikan yang akan dilakukan di Cengkareng

Drain (1 kilometer), Kali Mookervart (1 kilometer), perbaikan tebing kali Ciliwung di Katulampa (0,8 kilometer), pengerukan dan penguatan tebing Banjir Kanal Barat, perlindungan dan penguatan tebing Kali Bekasi (2 kilometer), perbaikan dan pemeliharaan pompa Ancol, dan perbaikan Kali Tanjungan.

Untuk program pengembangan dan pengelolaan sumber air akan menitikberatkan pada pembangunan jaringan drainase Kebun Raya Bogor dan rehabilitasi waduk/bendung-bendung embung. Sepuluh lokasi yang akan direhabilitasi atau dikeruk adalah Situ Ciriung, Situ Pengasinan, Situ Rawa Sudat, Situ Kelapa Dua (tahap II), Situ Kemang, Situ Rawa Jejer, Situ Gunung Puteri, Situ Citayam dan Cibeureum,Situ Jatijajar, Situ Rawakalong dan Cikaret, dan Situ Moyang.

Di samping itu, pemeliharaan situ akan dilakukan di 14 lokasi, yaitu Situ Gede, Situ Babakan, Situ Kebantenan, Situ Cangkring, Situ Cibubur, Situ Cicadas, Situ Pondok Cina, Situ Pedongkelan, Situ Cilodong, Situ Cicuruy, Situ Pladen, Situ Iwul, Situ Cikeas, dan Situ Burung. Total biaya yang dianggarkan untuk pengembangan dan pengelolaan sumber air ini adalah sebesar Rp 8,37 miliar.

Jadi Situ Jatijajar ini sebagai bagian dari situ-situ yang dimiliki Depok telah mendapat program perawatan dari pemerintah.Sebagai Warga Depok,bila anda ingin melihat lebih dekat dan mengenal apa saja yang ada di Seputar Depok. Anda bisa berkunjung ke sana. Bila naik kendaraan sendiri anda bisa melalui rute Jalan Margonda,Kemudian dari arah lampu merah Margonda langsung belok kanan dari perempatan Cisalak.Selanjutnya anda lurus terus menuju Simpangan Depok.Setelah itu ada lampu merah yang mau menuju ke arah Cibinong.Nah,Dari lampu merah anda langsung belok kiri menuju Perumahan JatiJajar.Selanjutnya dari Perumahan Jatijajar anda masuk terus melewati jembatan.Setelah melewati jembatan anda belok kanan ada tanjakkanDi sana terdapat warung.Langsung belok Kanan. Kalau mau naik angkutan umum, Anda bisa naik angkot dari arah Auri atau Pasar Cisalak,Yang jurusan Simpangan Depok.Dari Simpangan Depok anda turun di depan Perumahan Jatijajar.Setelah itu anda bisa naik ojek di Perumahan JatiJajar.

BAB III  PENGEMBANGAN MANFAAT MULTIGUNA SITU SEBAGAI WUJUD OTONOMI DAERAH

3.1 Tahapan Pengembangan

Untuk dapat mengembangkan potensi multiguna situ pertama-tama yang perlu diperhatikan adalah di mana situ tersebut berlokasi, sumber air dari situ, kondisi daerah tangkapan airnya, kemudian bagaimana kondisi situ serta permasalahannya saat itu, berapa luasnya dan bagaimana pengelolaannya. Dengan informasi tersebut situ dapat dihitung berapa biaya yang dibutuhkan untuk membawa situ pada tahap memenuhi prasyarat untuk dikembangkan serta biaya yang dibutuhkan untuk keperluan pemeliharaan dan operasi pengendalian banjir. Selanjutnya informasi mengenai kemungkinan pengembangan multiguna situ dapat digunakan untuk memperkirakan biaya yang dibutuhkan untuk membangun prasarana multiguna situ serta nilai keuntungan yang diharapkan.

Tiap situ mempunyai karakteristik masing-masing, hingga cara pengembangannya tergantung dari ciri khas masing-masing situ yang tergantung pula dari lokasi di mana situ itu berada. Tidak semua potensi manfaat situ perlu dikembangkan. Situ di daerah pedesaan tentu berbeda pengembangannya dengan situ yang berada di daerah perkotaan. Situ di daerah pedesaan yang jauh dari keramaian dapat menjual sisi keindahan situ yang masih alami serta suasana yang jauh dari keramaian.

Misal Situ Sampireun di Kabupaten Garut (milik perorangan) yang menjual tempat peristirahatan tepi situ yang sunyi alami dan tradisional.

Situ Babakan di Jakarta Selatan menjual perumahan tepi situ yang berbasis budaya Betawi.

Situ Tanah Tingal di Kabupaten Tangerang (milik perorangan) menjual sarana olahraga air dan fasilitas out bound pada sempadannya.

Situ Taman Ria Senayan, menyediakan ruang untuk rumah-rumah makan karena lokasinya yang dekat dengan pusat kegiatan olahraga, bisnis dan pemerintahan.

Situ dengan klasifikasi lokasi A –pada daerah komersil- pada umumnya sudah dikelola oleh suatu Badan usaha hingga untuk pengembangannya tidak kesulitan dalam pengadaan dana. Situ dengan klasifikasi lokasi C –pada daerah yang dikelola pengembang– menjadi tanggung jawab pengembang yang bersangkutan untuk mengelola dan mengembangkannya. Pada situ dengan klasifikasi lokasi B -dalam daerah permukiman pada umumnya- upaya pengembangannya akan sedikit lebih kompleks karena permasalahan yang ada. Pemerintah sebagai pemilik situ tidak mempunyai cukup dana untuk memelihara lebih-lebih untuk mengembangkan situ. Untuk dapat menarik keikutsertaan modal swasta dalam pengembangan situ Pemerintah secara formal harus membentuk terlebih dahulu Badan Usaha Milik Negara yang mengurus pengelolaan situ.

Gambar berikut memberikan bagan alir (flow chart) prosedur perencanaan dan pelaksanaan pengembangan situ sebagai unit ditinjau dari aspek kondisi situ khususnya untuk situ yang berada dalam lingkup permukiman -klasifikasi B- di mana pengaruh masyarakat sekitar situ sangat kuat dalam menentukan arah pengembangan situ. Gambar 4. 1 Bagan Alir Pelaksanaan Pengembangan Situ (Untuk situ di dalam lingkup daerah permukiman).

3.2 Pengaruh Daerah Tangkapan Air Situ

Untuk situ yang tanahnya berstatus Hak Penguasaan Provinsi atau Hak Penguasaan Kabupaten/ Kota, diproses untuk dapat menjadi tanah yang dikuasai oleh Departemen Pekerjaan Umum dengan Hak Pakai, dengan memperhatikan Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah No. 11 Tahun 2001 tentang Pedoman Pengelolaan Barang Daerah, khususnya Bab VII Bagian Keempat tentang Pelepasan Hak atas Tanah.

Agar pemanfaatan multiguna situ dapat berlangsung dalam waktu lama perlu diperhatikan pula kondisi Daerah Tangkapan Air (DTA) dari situ, karena sangat berpengaruh pada keberadaan situ, ketersediaan air dan kualitas air yang masuk ke situ. Perkembangan daerah permukiman yang cepat di Jabodetabek akan berakibat buruk pada situ-situ yang ada.

Perkembangan daerah pemukiman di DTA situ akan berakibat:

  • Debit banjir akan lebih besar hingga mungkin mempercepat kerusakan sarana dan prasarana operasional pemanfaatan situ.
  • Mata air yang ada dalam situ mengecil alirannya, hingga muka air situ turun pada musim kemarau akibatnya manfaat situ menjadi tidak maksimal lagi.
  • Sisa galian tanah akibat pengembangan pemukiman akan terbawa aliran masuk ke situ menjadi sedimen yang akan mempercepat pendangkalan situ.
  • Limbah daerah permukiman yang berupa sampah dan air limbah permukiman akan memperburuk kualitas air situ.

Tidak mungkin untuk menghentikan berkembangnya suatu daerah khususnya untuk daerah Jabodetabek, yang mungkin dilakukan adalah mengantisipasi akibat yang ditimbulkan oleh adanya perkembangan tersebut.

Peran pemerintah Kota dan Kabupaten sangat penting untuk dapat mengendalikan kecepatan perkembangan daerah pemukiman khususnya yang berada didalam DTA suatu situ. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota dan Kabupaten (bila sudah ada) harus dipegang teguh hingga kemungkinan berkembangnya DTA situ menjadi daerah pemukiman yang lebih padat dapat diperkirakan dengan pasti.

BAB V PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Setelah penyusunan makalah penelitian tentang Setu Jatijajar ini selesai,maka kami penulis dapat menyimpulkan bahwa penelitian ini akan sangat berguna bagi kalian yang memiliki pengetahuan untuk bisa mengetahui sejarah-sejarah setu yang berada di daerah KOTA DEPOK dan Berbagi pengalaman dari kami agar membantu kalian untuk bisa menjaga kelestarian alam dan lingkungan.

BAB VI  DAFTAR PUSTAKA

1. Dutch map 1922-1940. Direktorat Geologi, Bandung.

2. Haeruman, H, Js, 2003. Pengelolaan Ekosistem Kawasan Pegunungan Sebagai Suatu Bioregion yang Penting. Dalam. Manajemen Bioregional Jabodetabek: Tantangan dan Harapan. Ubaidillah, R., I. Maryanto, M. Amir, M. Noerdjito, E. B. Prasetyo, R. Polosakan (ed.). Pusat Penelitian Biologi-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Hal 1-12.

3. Noerdjito, M., I. Maryanto, R. Ubaidillah, E. B. Prasetyo, 2003. Usulan Penyempurnaan Pola Pengembangan Wilayah Jabodetabek. Dalam Manajemen Bioregional jabodetabek: Tantangan dan Harapan.

4. Sumber: Profil Kelompok Kerja (Pokja) Kota Depok, 2006. USAID LGSP. Gugus Kerja Good Governance, Jaringan Kerja untuk Advokasi Anggaran (GKGG JANGKAR).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: