Berita Situ Patinggi

April 2006

LSM Tuding Pemkot Komersilkan Setu Patinggi

Masyarakat sekitar dilarang memamfaatkan setu

Republika, Rabu, 19 April 2006

Sumber: http://www.infoanda.com/

DEPOK — Lumbung Informasi Rakyat (Lira) Kota Depok menduga Pemkot Depok telah menjual aset negara berupa Setu Patinggi yang terletak di Cimanggis kepada PT Karabha Digjaya — pengembang Emeralda Golf di masa kepemimpinan wali kota sebelumnya.

“Karena situ (setu) itu telah dikuasai penuh Emeralda Golf,” kata Wali Kota Lira, Cahyo Putranto, didampingi Sekretaris Daerah Lira Anton Permana, kepada Republika, Selasa (18/4). Menurut Cahyo, berdasarkan data yang diperolehnya, Emeralda awalnya mendapatkan surat izin pengelolaan dan pelestarian situ dari Kepala Dinas PU Pengairan Cabang Dinas Bogor tahun 1996. Surat itu bernomor 507/04/Air Cabang Bogor tertanggal 29 Januari 1996. “Waktu itu Depok masih di bawah Kabupaten Bogor.”

Namun, lanjutnya, sejak otonomi daerah diberlakukan, pihak Emeralda diketahui tidak pernah melakukan perpanjangan izin termasuk izin penerbitan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) kepada pemerintah setempat. Bahkan, hingga kini diketahui pemkot belum pernah menerima laporan berupa berkas dokumen Amdal dari Emeralda Golf. “Yang menjadi pertanyaan, mengapa pemkot menutup mata dan berdiam diri terhadap aksi pelanggaran dan kesewenang-wenangan yang selama ini dilakukan Emeralda.

Ada apa ini, atau memang sengaja dikomersilkan,” ujarnya. Dari penelusuran Lira atas laporan masyarakat sekitar, setu yang terletak di areal padang golf Emeralda itu telah dikuasai pihak pengembang. “Kami menganggap Emeralda telah melakukan pelanggaran ketika masyarakat dilarang untuk bisa memanfaatkan setu tersebut,” katanya.

Sekda Lira, Anton Permana, menambahkan, kesewenangan Emeralda diperkuat dengan temuan adanya penyempitan luas lahan setu dari 6,4 hektare menjadi 4,5 hektare. “Coba lihat sekarang, di lokasi itu dibangun jembatan. Mengacu peraturan dan perundang-undangannya, apapun sumber air, seperti sungai, laut, rawa, dan situ merupakan milik pemerintah bukan perseorangan atau badan usaha. Cahyo dan Anton mengaku, telah meminta klarifikasi kepada sejumlah pejabat terkait di Pemkot Depok. “Namun, jawabannya sekadar retorika,” kata Cahyo. “Dari kejanggalan ini, Lira menduga Situ Patinggi telah diperdagangkan oknum pejabat Pemkot Depok terkait di masa kepemimpinan wali kota lalu kepada Emeralda,” timpal Anton.

Untuk itu, Lira mendesak pihak Pemkot Depok untuk segera menjelaskan secara terbuka dan rinci kepada masyarakat luas mengenai persoalan ini. “Paling lambat satu bulan, agar polemik ini tidak berkepanjangan,” kata Anton. Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok, Welman Naipospos, mengatakan, sebetulnya tidak ada masalah dengan pengelolaan Setu Patinggi. “Setu Patinggi itu memang dirawat Emeralda Golf.”

Menurutnya perawatan setu oleh Emeralda berdasarkan rekomendasi Dinas PU Kabupaten Bogor sesuai surat Kepala Dinas PU Pengairan Cabang Dinas Bogor tahun 1996. “Itu suratnya kan juga sudah didapat Lira, makanya masalahnya dimana?” kata Welman. Namun demikian, Welman menegaskan, DPU akan memanggil Emeralda Golf Rabu (19/4) hari ini guna meminta klarifikasi selengkapnya tentang surat itu.

“Karena surat itu dikeluarkan waktu Depok masih masuk Bogor, surat-suratnya kan dari sana,” kata dia. Terkait tudingan Lira bahwa Pemkot Depok di masa wali kota sebelumnya sudah menjual Setu Patinggi kepada Emeralda, Welman menegaskan, masalahnya tidak sampai jauh ke arah itu. “Tidak, tuduhannya tidak sampau jauh ke sana,” katanya.

Ditanya kenapa Pemkot Depok luput mengawasi Setu Patinggi dan membiarkan Emeralda bertindak sewenang-wenang atas penggunaan setu tersebut, Welman menjawab konsentrasi pemkot lebih kepada sumber-sumber air yang memberi dampak buruk langsung kepada warga. “Bukannya kami luput atau tidak peduli, semua terkait prioritas dan kita juga kekurangan SDM dan anggaran,” kata Welman.

Terkait aset negara, Ketua Pansus Aset DPRD Kota Depok, Hasbullah M Ramhat, mengatakan, di Depok banyak aset negara yang hilang dan tak jelas rimbanya. Aset itu berupa kendaraan dan tanah yang tersebar di enam kecamatan di Kota Depok. “Karena sejauh ini tidak ada catatan dan data yang jelas tentang aset itu,” ujar Hasbullah.

Namun dia menambahkan, Pansus Aset DPRD Kota Depok terus melakukan inventarisasi terhadap aset itu, baik kendaraan, tanah atau bangunan ke seluruh kecamatan yang ada. Hasbullah meneruskan, dalam beberapa kali pertemuan dengan camat dan LPM kecamatan serta kelurahan, diketahui banyak tanah-tanah yang negara yang bermasalah. “Misalnya di Limo Depok, banyak tanah negara bermasalah, sehingga jika tidak segera dibenahi kemungkinan besar akan hilang.”

Kasus Situ Patinggi, DPU akan panggil Emeralda Golf

Monitor Depok, 19 April 2006

MARGONDA, MONDE: Pernyataan Lumbung Informasi Rakyat (Lira) Kota Depok yang menduga Pemkot Depok telah menjual Situ Patinggi kepada Emeralda Golf Cimanggis, membuat Pemkot Depok bereaksi.

Dinas Pekerjaan Umum (DPU) melalui Bidang Pengairan DPU menyatakan telah memanggil PT Karaba Digjaya, developer Emeralda terkait kabar tersebut.

“Kami telah melayangkan surat kepada PT Karabha Senin (17/4). Menurut rencana, mereka akan hadir besok [hari ini, Selasa],” kata Welman Naipospos, Kabid Pengairan DPU kepada Monde, kemarin.

Welman mengatakan akan menanyakan kepada PT Karabha tentang izin pengelolaan dan pelestarian Situ Patinggi.

“Situ Pattinggi itu milik Pemkot Depok. Saya ingin tanya darimana izin itu. Kalaupun dari pemerintah provinsi, selanjutnya kami akan mengkonfirmasikannya kepada provinsi. Termasuk soal dugaan kolusi,” tegasnya.

Pemanggilan itu ditempuh untuk membuktikan bahwa Pemkot Depok tidak tutup mata terhadap masalah, seperti yang dituduhkan Lira.

Sebelumnya, Lira menduga Pemkot Depok tutup mata atas kesewengan wenangan Emeralda Golf terhadap Setu Patinggi. Hal itu yang menjadi salah satu dasar dugaan bahwa Setu Patinggi telah dijual Pemkot Depok di masa kepemimpinan walikota sebelumnya.

Apalagi Emeralda diketahui tidak memperpanjang izin Amdalnya, sejak Depok lepas dari Kabupaten Bogor (Monde 17 April).

“Kami tidak tutup mata, apalagi sampai main mata. Tapi kami sangat berterimakasih kepada Lira atas informasi itu,” ujar Welman.

Dimintai tanggapannya soal sikap Emeralda yang tidak memperpanjang izin Amdal, Welman menandaskan bukan kewenangannya. Namun, kewenangan Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup. “Namun, hal itu juga akan kami tanyakan,” ujarnya.

Lebih lanjut Welman mengakui adanya penyempitan luas lahan Situ Patinggi. Menurut data yang dimilikinya, Situ Patinggi memiliki luas 6,4 hektare dan pada tahun 2002, susut menjadi 5,5 hektare.

Kendati demikian, dia mengatakan kondisi Situ Patinggi, belum separah dibandingkan beberapa dari 25 situ di wilayah Depok.

“Nggak usah jauh jauh, lihat saja Situ Rawa Besar. Penanganan Situ tentunya berdasarkan prioritas melihat kondisinya. Kami juga tidak menginginkan masyarakat membuat keramba ataupun yang merusak situ. Namun kita tidak mau saling tuduh,” katanya.

Lebih lanjut, Welman menegaskan, selama ini penanganan situ selalu dilihat cuma dari potensi kerusakannya atau daya rusak. Bukan kepada azas optimalisasi pemanfaatannya. “Seharusnya kita juga memikirkan soal pemanfaatannya,” katanya.(apk)

‘Setu Patinggi Tetap Milik Negara’

Sumber: http://www.infoanda.com/ 20 April 2006

DEPOK — Pemkot Depok masih mempelajari penyusutan lahan Setu Patinggi yang dikelola PT Karabha Digjaya, pengembang Emeralda Golf dari 6,4 hektare menjadi 5,5 hektare. Menurut Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok, Welman Naipospos, masalah Setu Patinggi tidak sampai sejauh yang dituduhkan LSM Lumbung Informasi Rakyat (Lira), yaitu adanya penjualan aset negara.

“Setu itu tetap milik negara, tapi kita akan tetap pelajari kasus ini sampai jelas sehingga tidak sampai terjadi polemik,” kata Welman kepada Republika, Rabu (19/4). Hal itu dikatakan Welman usai pertemuan dengan General Manager Emeralda Golf, Robert Evan, dan Legal Officer Emeralda Golf, Mahdum Rasyid, kemarin.

Welman mengaku memanggil pihak pengembang guna mengumpulkan informasi awal terkait laporan Lira (Republika 18/4). Mengenai dugaan adanya penyusutan lahan setu, Welman mengatakan, belum bisa memastikan kebenaran hal tersebut. Pasalnya, sampai sekarang DPU tidak memiliki data yang akurat tentang setu-setu yang ada di Depok. “Data setu yang ada di kita tidak lengkap, karenanya nanti kita akan tinjau langsung ke lapangan.”

Dia menambahkan, ada dua versi luas wilayah setu yang berbeda. Versi pertama yang dikeluarkan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Balai PSDA Wilayah Sungai Cisadane-Ciliwung, luas Setu Patinggi seluruhnya adalah 6,4 hektare dengan luas daerah berair 4,5 hektare. Versi kedua dikeluarkan Sub Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Pemrov Jawa Barat, luas Setu Patinggi seluruhnya adalah 5,5 hektare dengan luas daerah berair 4,5 hektare. “Karena itu nanti kita kaji ulang, berapa luas sebenarnya setu itu,” tegas Welman.

General Manager Emeralda Golf, Robert Evan, mengatakan, sejak diajukan permohonan pemanfaatan dan pengelolaan lahan Setu Patinggi, pihaknya tidak pernah mengubah dan mengurangi lahan setu dengan membuat bangunan apa pun. “Yang ada setu itu kita rawat dengan sangat baik, bahkan efek basahnya terus kita jaga sesuai kondisi semula,” ujarnya.

Dia juga mengaku sudah memiliki dokumen yang lengkap tentang pengelolaan setu dari Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat. Robert menegaskan, Emeralda Golf tidak pernah mengkomersialisasikan lahan setu untuk kepentingan perusahaannya. “Tidak ada komersialisasi, setu itu adalah bagian integral dari lapangan golf.”

Mengenai tudingan Lira bahwa Emeralda tidak pernah melakukan perpanjangan izin termasuk izin penerbitan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), Robert menegaskan, pihaknya justru menunggu aturan yang dikeluarkan pemerintah provinsi. “Aturannya kan keluar dari provinsi, kita sampai sekarang masih menunggu,” kata Robert seraya mengatakan Emeralda Golf selalu memperpanjang rekomendasi pengelolaan setu sampai tahun 2002. Soal larangan masyarakat mendatangi setu, dia mengatakan untuk menjaga keselamatan warga. Alasannya, setu itu merupakan bagian integral dari lapangan golf. Bila sembarang warga masuk tanpa diketahui, dikhawatirkan orang itu akan celaka terkena bola golf yang berkecepatan rata-rata 60 mil per jam. (c42 )

Soal dugaan penjualan Situ Patinggi, Emeralda diminta lengkapi dokumen

Monitor Depok, 20 April 2006

BALAIKOTA, MONDE : Pihak PT Karaba Digdaja selaku pengembang Emeralda Golf kemarin memenuhi panggilan Sub Bidang Pengairan Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Pemkot Depok untuk menjelaskan seputar kabar tentang status pengelolaan Situ Pattinggi, Cimanggis.

Pihak PT Karaba itu adalah General Manager PT Karaba Robert Ivan dan Legal Officer PT Karaba Mahdum Rasyid. Keduanya ditemui oleh Kabid Pengairan Dinas PU Welman Naipospos.

Dari pertemuan itu, DPU menilai dokumen yang dimiliki oleh PT Karaba dalam pengelolaan Situ Patinggi dari Pemprov Jawa Barat kurang lengkap. “Selanjutnya, kami meminta PT Karaba untuk melengkapi dokumen,” kata Welman.

Dokumen yang ditunjukan PT Karaba terdiri dari tiga dokumen yaitu, surat Dinas PU Pengairan dan Sumber Daya Air (SDA) cabang Bogor, Provinsi Jabar tentang pendirian jembatan di Situ tersebut tahun 1993. Surat tentang permohonan retribusi pemakaian tanah dari Dinas PU Pengairan dan SDA cabang Bogor Pemprov Jabar tahun 1993.

Selanjutnya, surat rekomendasi pengelolaan Situ Patinggi dari DPU Pengairan dan SDA cabang cabang Bogor tahun 1996, termasuk surat rekomendasi dari pengairan cabang SDA Bogor kepada Pemprov Jabar yang ditandatangani Balai SDA Provinsi Jabar. “ Kami menilai, semestinya surat itu langsung dari Kepala Dinas PU Jabar,” ungkap Welman.

Welman mengatakan tidak ada masalah dengan pengelolaan situ itu. Namun, dirinya berencana meninjau lokasi Situ Pattinggi untuk melihat kondisinya termasuk apakah ada penyusutan lahan situ.

Welman juga menanyakan kepada PT Karaba terkait status lahan itu. “PT Karaba mengatakan itu memang milik pemerintah,” katanya.(apk)

Mei 2006

Penyempitan Situ Patinggi parah, Lira pertanyakan tindaklanjut Pemkot

Monitor Depok, 8 Mei 2006

MARGONDA, MONDE : Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dinilai belum melakukan tindakan kongkret untuk menyelesaikan kasus dugaan penjualan Situ Patinggi di areal Emeralda Golf, Tapos, Cimanggis.

Pemanggilan pihak Emeralda Golf (PT Karabha Digdaya) oleh Dinas PU beberapa waktu lalu dinilai tidak jelas. Dinas PU diminta kembali menindaklanjutinya sekalus mengumumkan hasilnya kepada masyarakat luas.

Hal itu diungkapkan Walikota Lumbung Informasi untuk Rakyat (Lira) Cahyo Putranto, kepada Monde, kemarin.

“Pemkot Depok, dalam hal ini Bidang SDA Dinas PU terkesan masih mengambang dan tertutup dalam mengambil tindakan,” ujar Cahyo.

Menurut Cahyo, hal itu terbukti belum ada tindak lanjut dari Bidang SDA, setelah memanggil pihak Emeralda Golf pada 18 April lalu. “Situ Patinggi tetap dikuasai penuh oleh pihak Emeralda Golf dan hasil dari pemanggilan tersebut juga belum disampaikan secara terbuka kepada masyarakat luas,” ujarnya.

Menurut dia, pernyataan Kabid SDA Dinas PU Welman Naipospos yang menyebutkan adanya penyempitan luas Situ Patinggi dari 6,4 hekatare menjadi 5,5 hektare menjadi bukti tidak terpantaunya situ itu oleh Pemkot.

“Karena kenyataan di lapangan luas situ Patinggi sat ini hanya tinggal pada kisaran sekitar 2,5 hektare –3,5 hektare saja,” ujar Cahyo.

Pertanyakan sanksi

Lebih lanjut, Cahyo mengatakan langkah yang diambil Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH) dengan melakukan peninjauan dan menyampaikan suarat tertanggal 27 April no 660.1/523-DKLH perihal dokumen pengelolaan lingkungan kepada PT Karabha Digdata untuk segera membuat dokumen AMDAL diharapkan bukan tindakan sesaat.

“Teguran itu hendaknya menjadi awal baik untuk melakukan pendataan, teguran, penertiban, sanksi terhadap masih banyaknya perusahaan atau badan usaha du kota Depok yang belum memiliki dokumen AMDAL,” kata Cahyo.

Seperti diberitakan sebelunya, Lira menduga Pemerintah Kota Depok telah menjual aset negara berupa Setu Patinggi yang terlerak di Cimanggis kepada Emeralda Golf dengan developer PT Karabha Digjaya di masa kepemimpinan walikota sebelumnya. Pasalnya, menurut Lira, setu ini telah dikuasai oleh penuh oleh Emeralda Golf.

Pasalnya, berdasarkan data yang diperoleh Lira, pihak Emeralda awalnya telah mendapatkan surat izin pengelolaan dan pelestarian situ dari Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Cabang Dinas Bogor pada tahun 1996 degan surat no. 507/04/Air Cab.Bogor tertanggal 29 Januari 1996, ketika Depok masih di bawah kabupaten Bogor.(apk)

One Comment on “Berita Situ Patinggi”

  1. rudy Says:

    usut tuntas oknum pejabat yg menjual setu patinggi,hukum hrs berjalan.tolong pd pejabat yg terkait bagi masyarakat yg ingin rekreasi/mancing ikan untuk tdk dilarang mancing ikan di gorong-gorong air krn tdk menggangu aktivitas yg main golf,harap pihak golf maklum adanya krn situ tersebut sebenarnya milik negara/masyarakat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: