Kompas

Peremajaan Situ Rawa Besar Menanti Dukungan Warga

Kompas, 2 Januari 2003

Depok, sebagai daerah tangkapan dan resapan hujan mempunyai peran sangat besar bagi Jakarta. Boleh dikata, kerusakan lingkungan hidrologis di Depok bisa menyebabkan petaka bagi ibu kota Republik ini. Maka, kerusakan situ-situ (danau alami) di Depok bisa memperparah banjir di Jakarta.

AKAN lebih cantik lagi kalau Pemerintah Provinsi Jakarta mau membantu upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Depok yang akan meremajakan situ-situnya. Juga, mestinya, membantu Kabupaten Bogor untuk memperbaiki kondisi di kawasan Puncak.

Khusus untuk situ-situ, Pemerintah Kota Depok saat ini mempersiapkan peremajaan Situ Rawa Besar yang semula memiliki luas 35 hektar dan kini tinggal 13 hektar. Namun, ternyata itu tidak mudah. Akhir- akhir ini malah muncul kendala yang makin menyulitkan peremajaan situ yang berlokasi di dalam kota itu.

Salah satu kendala yang membuat pelik upaya peremajaan itu adalah bertambahnya warga yang menghuni kawasan di sekitar situ dalam beberapa bulan terakhir. Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Depok Lukman Hakim, jumlah warga yang pada awal tahun 2003 baru 230 keluarga, sekarang sudah lebih dari 450 keluarga.

Untuk sementara, mereka memang menempati rumah- rumah petak atau kamar kos yang disewakan penghuni lama, tetapi tidak tertutup kemungkinan mereka pada akhirnya akan mengapling areal situ, atau setidaknya di sempadan situ. Paling tidak, para pemilik kontrakan akan semakin berani mengokupasi lahan situ untuk membangun kontrakan baru.

Sejauh ini, aparat Pemkot Depok belum memastikan dari mana pendatang baru itu berasal, tetapi Lukman menduga, mereka merupakan bagian dari korban penggusuran di Jakarta dan Bogor.

Para pendatang yang menghuni permukiman kumuh (squatter) di sekitar situ itu umumnya bekerja di sektor informal, seperti menarik becak, kuli pasar dan bangunan, dan sejenisnya.

Keberadaan warga yang menyewakan rumah petak dan kamar di sempadan Situ Rawa Besar itulah salah satu penyebab terus bertambahnya penghuni kawasan di sekitar situ. Padahal, pendekatan yang ditempuh Pemkot Depok untuk mengurangi jumlah penghuni permukiman liar itu dengan pendekatan sosial-budaya dan ekonomi. Bukan pendekatan hukum yang berujung pada penggusuran disertai ancaman kekerasan seperti yang terjadi di Jakarta berulang kali.

Intinya, warga di sekitar situ itu disejahterakan terlebih dulu. Harapannya, setelah sejahtera, mereka akan keluar dari lingkungan situ untuk menetap di lokasi yang lebih layak.

Dalam konsep dan teori, pendekatan itu tampaknya ideal dan sepertinya mudah dilaksanakan. Dalam praktiknya, ternyata tak semudah itu. Banyak kendala dihadapi.

Kesulitan lain yang dihadapi adalah kemampuan dana untuk membangun rumah untuk merelokasi penghuni liar itu. Saat ini, rumah yang dibangun baru 63 unit. Lokasinya masih di wilayah Kecamatan Pancoran Mas, tak jauh dari situ.

Selain jumlahnya yang masih sangat kurang, rumah yang disediakan itu juga lebih pantas disebut kamar-kamar kos dengan ukuran 3 x 4 meter yang benar-benar hanya untuk berteduh dan beristirahat. Adapun untuk keperluan mandi, cuci, kakus, dan dapur disediakan terpisah dan dipakai beramai-ramai.

Sekarang, rumah-rumah itu sudah siap dihuni, tetapi belum ditetapkan siapa-siapa yang berhak menempatinya.

SITU Rawa Besar di Kota Depok dengan berbagai persoalannya kini masih memberikan hiburan bagi warga. Selasa (2/12) siang, misalnya, puluhan warga tampak menikmati pemandangan dan memancing ikan di tempat itu.

Satu-satunya perahu penyeberangan yang ada sungguh dimanfaatkan para pengunjung, khususnya anak-anak sekolah.

Secara ekonomis, situ seluas 13 hektar dimanfaatkan warga setempat untuk memelihara ikan dengan menggunakan karamba apung.

Untuk pengembangan ke depan, Wali Kota Depok Badrul Kamal kini telah melirik semua potensi pariwisata yang dimiliki Situ Rawa Besar ini. Apalagi keberadaannya di kawasan pusat komersial Kota Depok yang mudah terjangkau dari kota-kota besar, seperti Jakarta dan Bogor.

Persiapan menjadikan Situ Rawa Besar sebagai tempat pariwisata pun ditempuh. Konsep peremajaan dipersiapkan instansi Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda). Blok plan tentang peremajaan kawasan Situ Rawa Besar kini terpampang di salah satu ruang utama kantor Bappeda Depok. Di sana terpampang rencana berbagai sarana pariwisata air yang dipadu dengan berbagai sarana pusat niaga dan komersial di tengah kota.

Menurut Lukman Hakim, peremajaan Situ Rawa Besar memegang peranan sangat penting untuk mendorong peremajaan 29 situ lainnya di Depok.

Peremajaan Situ Rawa Besar yang setidaknya membawa pesan revitalisasi berbagai situ di kawasan penyangga Ibu Kota Jakarta ini sangat diperlukan untuk menampung dan meresapkan air ke dalam tanah. Pada akhirnya, ketersediaan air bersih dari dalam tanah dapat terjaga, baik untuk wilayah Depok sendiri maupun daerah di bawahnya, Jakarta.

Adanya banyak situ yang tejaga kondisinya dengan baik di wilayah Depok setidaknya akan meminimalisasi ancaman banjir di Jakarta pada musim hujan. Adapun pada musim kemarau juga bisa meminimalisasi kekeringan.

Hanya sayangnya, tidak semua situ di Depok saat ini dalam kondisi baik. Dari 30 situ yang tercatat di Bappeda Kota Depok, saat ini ada lima situ yang sudah hilang (mati), terutama karena diuruk untuk tempat tinggal warga. Kelimanya adalah Situ Ciming di Kecamatan Sukmajaya, Situ Lembah Gurame di Kecamatan Pancoran Mas, Situ Pengasinan dan Pasir Putih di Kecamatan Sawangan, dan Situ Krukut di Kecamatan Limo.

Sejauh ini, tidak didapat catatan berapa luas Situ Ciming dan Situ Lembah Gurame sebelum diuruk warga. Yang jelas, Situ Ciming kini sudah menjadi kompleks perumahan, sedangkan Situ Lembah Gurame berubah menjadi tegalan dan sebagian masih dimanfaatkan sebagai empang atau kolam.

Data yang tercatat di Bappeda adalah Situ Pengasinan (5 ha), Situ Pasir Putih (8 ha), dan Situ Krukut (9 ha). Ketiga lahan eks situ itu sekarang telah menjadi perkampungan, perumahan, tegalan, sawah, maupun empang.

Mengenai status kepemilikan, Situ Pengasinan saat ini tidak jelas dimiliki siapa, sedangkan situ eks Situ Pasir Putih sudah berada di tangan perorangan. Hanya lahan eks Situ Krukut yang kini berada di bawah pengawasan Pemkot Depok meskipun sebagian di antaranya telah dihuni warga.

Berdasarkan kondisi terakhir, Situ Bojong Sari (28,25 ha) yang berlokasi di Kecamatan Sawangan merupakan situ terbaik di Kota Depok yang masih dimiliki pemerintah setempat. Namun, di sekitar Situ Bojong Sari saat ini juga telah disewa pihak swasta untuk lapangan golf.

Kondisi terbaik kedua adalah Situ Rawa Besar di Kecamatan Pancoran Mas yang kini diutamakan Pemkot Depok untuk diremajakan.

Selebihnya, rata-rata luas situ yang ada di Depok berada di bawah 10 hektar. Situ Pitara di Kecamatan Pancoran Mas hanya 0,6 ha dan merupakan situ terkecil yang ada di Depok sekarang.

KONSEP peremajaan Situ Rawa Besar jika benar-benar terlaksana, memberikan harapan baik bagi perwujudan Depok sebagai kota permukiman berwawasan lingkungan. Akan tetapi, Pemkot Depok masih dihadapkan pada kesulitan tatanan infrastruktur perkotaan, seperti tidak adanya jaringan drainase menuju instalasi pengolah limbah akhirnya.

“Limbah rumah-rumah sekarang masuk semua ke Situ Rawa Besar. Air menjadi keruh, bercampur minyak, sehingga tidak baik untuk ikan,” kata Sukerdi, salah seorang warga di sempadan Situ Rawa Besar yang masih memiliki bisnis ikan hias dan ikan konsumsi.

Sukerdi juga memiliki beberapa karamba apung, tetapi tidak sepenuhnya digunakan memelihara ikan. Sebagian di antaranya dibiarkan terbengkalai karena kualitas air di situ tersebut semakin memburuk.

Sebagai penghuni sempadan situ, Sukerdi terus terang mengaku enggan pindah dari sempadan Situ Rawa Besar. Begitu pun, katanya, warga lainnya. Sebab, mereka sudah membangun rumah permanen dan menempatinya selama bertahun- tahun. Apalagi, lokasi permukiman mereka saat ini sangat strategis.

Betapa kurang disadarinya upaya menjaga atau mewujudkan kelestarian lingkungan yang bermanfaat bagi kehidupan banyak orang. Sudah saatnya pemerintah daerah, seperti Pemkot Depok, yang merencanakan peremajaan Situ Rawa Besar dengan solusi lebih manusiawi itu didukung segenap anggota masyarakatnya. Akan lebih cantik kalau Jakarta juga membantu…. (Kompas) Peremajaan Situ Rawa Besar Menanti Dukungan Warg a Depok, sebagai daerah tangkapan dan resapan hujan mempunyai peran sangat besar bagi Jakarta. Boleh dikata, kerusakan lingkungan hidrologis di Depok bisa menyebabkan petaka bagi ibu kota Republik ini. Maka, kerusakan situ-situ (danau alami) di Depok bisa memperparah banjir di Jakarta.

AKAN lebih cantik lagi kalau Pemerintah Provinsi Jakarta mau membantu upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Depok yang akan meremajakan situ-situnya. Juga, mestinya, membantu Kabupaten Bogor untuk memperbaiki kondisi di kawasan Puncak.

Khusus untuk situ-situ, Pemerintah Kota Depok saat ini mempersiapkan peremajaan Situ Rawa Besar yang semula memiliki luas 35 hektar dan kini tinggal 13 hektar. Namun, ternyata itu tidak mudah. Akhir- akhir ini malah muncul kendala yang makin menyulitkan peremajaan situ yang berlokasi di dalam kota itu.

Salah satu kendala yang membuat pelik upaya peremajaan itu adalah bertambahnya warga yang menghuni kawasan di sekitar situ dalam beberapa bulan terakhir. Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Depok Lukman Hakim, jumlah warga yang pada awal tahun 2003 baru 230 keluarga, sekarang sudah lebih dari 450 keluarga.

Untuk sementara, mereka memang menempati rumah- rumah petak atau kamar kos yang disewakan penghuni lama, tetapi tidak tertutup kemungkinan mereka pada akhirnya akan mengapling areal situ, atau setidaknya di sempadan situ. Paling tidak, para pemilik kontrakan akan semakin berani mengokupasi lahan situ untuk membangun kontrakan baru.

Sejauh ini, aparat Pemkot Depok belum memastikan dari mana pendatang baru itu berasal, tetapi Lukman menduga, mereka merupakan bagian dari korban penggusuran di Jakarta dan Bogor.

Para pendatang yang menghuni permukiman kumuh (squatter) di sekitar situ itu umumnya bekerja di sektor informal, seperti menarik becak, kuli pasar dan bangunan, dan sejenisnya.

Keberadaan warga yang menyewakan rumah petak dan kamar di sempadan Situ Rawa Besar itulah salah satu penyebab terus bertambahnya penghuni kawasan di sekitar situ. Padahal, pendekatan yang ditempuh Pemkot Depok untuk mengurangi jumlah penghuni permukiman liar itu dengan pendekatan sosial-budaya dan ekonomi. Bukan pendekatan hukum yang berujung pada penggusuran disertai ancaman kekerasan seperti yang terjadi di Jakarta berulang kali.

Intinya, warga di sekitar situ itu disejahterakan terlebih dulu. Harapannya, setelah sejahtera, mereka akan keluar dari lingkungan situ untuk menetap di lokasi yang lebih layak.

Dalam konsep dan teori, pendekatan itu tampaknya ideal dan sepertinya mudah dilaksanakan. Dalam praktiknya, ternyata tak semudah itu. Banyak kendala dihadapi.

Kesulitan lain yang dihadapi adalah kemampuan dana untuk membangun rumah untuk merelokasi penghuni liar itu. Saat ini, rumah yang dibangun baru 63 unit. Lokasinya masih di wilayah Kecamatan Pancoran Mas, tak jauh dari situ.

Selain jumlahnya yang masih sangat kurang, rumah yang disediakan itu juga lebih pantas disebut kamar-kamar kos dengan ukuran 3 x 4 meter yang benar-benar hanya untuk berteduh dan beristirahat. Adapun untuk keperluan mandi, cuci, kakus, dan dapur disediakan terpisah dan dipakai beramai-ramai.

Sekarang, rumah-rumah itu sudah siap dihuni, tetapi belum ditetapkan siapa-siapa yang berhak menempatinya.

SITU Rawa Besar di Kota Depok dengan berbagai persoalannya kini masih memberikan hiburan bagi warga. Selasa (2/12) siang, misalnya, puluhan warga tampak menikmati pemandangan dan memancing ikan di tempat itu.

Satu-satunya perahu penyeberangan yang ada sungguh dimanfaatkan para pengunjung, khususnya anak-anak sekolah.

Secara ekonomis, situ seluas 13 hektar dimanfaatkan warga setempat untuk memelihara ikan dengan menggunakan karamba apung.

Untuk pengembangan ke depan, Wali Kota Depok Badrul Kamal kini telah melirik semua potensi pariwisata yang dimiliki Situ Rawa Besar ini. Apalagi keberadaannya di kawasan pusat komersial Kota Depok yang mudah terjangkau dari kota-kota besar, seperti Jakarta dan Bogor.

Persiapan menjadikan Situ Rawa Besar sebagai tempat pariwisata pun ditempuh. Konsep peremajaan dipersiapkan instansi Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda). Blok plan tentang peremajaan kawasan Situ Rawa Besar kini terpampang di salah satu ruang utama kantor Bappeda Depok. Di sana terpampang rencana berbagai sarana pariwisata air yang dipadu dengan berbagai sarana pusat niaga dan komersial di tengah kota.

Menurut Lukman Hakim, peremajaan Situ Rawa Besar memegang peranan sangat penting untuk mendorong peremajaan 29 situ lainnya di Depok.

Peremajaan Situ Rawa Besar yang setidaknya membawa pesan revitalisasi berbagai situ di kawasan penyangga Ibu Kota Jakarta ini sangat diperlukan untuk menampung dan meresapkan air ke dalam tanah. Pada akhirnya, ketersediaan air bersih dari dalam tanah dapat terjaga, baik untuk wilayah Depok sendiri maupun daerah di bawahnya, Jakarta.

Adanya banyak situ yang tejaga kondisinya dengan baik di wilayah Depok setidaknya akan meminimalisasi ancaman banjir di Jakarta pada musim hujan. Adapun pada musim kemarau juga bisa meminimalisasi kekeringan.

Hanya sayangnya, tidak semua situ di Depok saat ini dalam kondisi baik. Dari 30 situ yang tercatat di Bappeda Kota Depok, saat ini ada lima situ yang sudah hilang (mati), terutama karena diuruk untuk tempat tinggal warga. Kelimanya adalah Situ Ciming di Kecamatan Sukmajaya, Situ Lembah Gurame di Kecamatan Pancoran Mas, Situ Pengasinan dan Pasir Putih di Kecamatan Sawangan, dan Situ Krukut di Kecamatan Limo.

Sejauh ini, tidak didapat catatan berapa luas Situ Ciming dan Situ Lembah Gurame sebelum diuruk warga. Yang jelas, Situ Ciming kini sudah menjadi kompleks perumahan, sedangkan Situ Lembah Gurame berubah menjadi tegalan dan sebagian masih dimanfaatkan sebagai empang atau kolam.

Data yang tercatat di Bappeda adalah Situ Pengasinan (5 ha), Situ Pasir Putih (8 ha), dan Situ Krukut (9 ha). Ketiga lahan eks situ itu sekarang telah menjadi perkampungan, perumahan, tegalan, sawah, maupun empang.

Mengenai status kepemilikan, Situ Pengasinan saat ini tidak jelas dimiliki siapa, sedangkan situ eks Situ Pasir Putih sudah berada di tangan perorangan. Hanya lahan eks Situ Krukut yang kini berada di bawah pengawasan Pemkot Depok meskipun sebagian di antaranya telah dihuni warga.

Berdasarkan kondisi terakhir, Situ Bojong Sari (28,25 ha) yang berlokasi di Kecamatan Sawangan merupakan situ terbaik di Kota Depok yang masih dimiliki pemerintah setempat. Namun, di sekitar Situ Bojong Sari saat ini juga telah disewa pihak swasta untuk lapangan golf.

Kondisi terbaik kedua adalah Situ Rawa Besar di Kecamatan Pancoran Mas yang kini diutamakan Pemkot Depok untuk diremajakan.

Selebihnya, rata-rata luas situ yang ada di Depok berada di bawah 10 hektar. Situ Pitara di Kecamatan Pancoran Mas hanya 0,6 ha dan merupakan situ terkecil yang ada di Depok sekarang.

KONSEP peremajaan Situ Rawa Besar jika benar-benar terlaksana, memberikan harapan baik bagi perwujudan Depok sebagai kota permukiman berwawasan lingkungan. Akan tetapi, Pemkot Depok masih dihadapkan pada kesulitan tatanan infrastruktur perkotaan, seperti tidak adanya jaringan drainase menuju instalasi pengolah limbah akhirnya.

“Limbah rumah-rumah sekarang masuk semua ke Situ Rawa Besar. Air menjadi keruh, bercampur minyak, sehingga tidak baik untuk ikan,” kata Sukerdi, salah seorang warga di sempadan Situ Rawa Besar yang masih memiliki bisnis ikan hias dan ikan konsumsi.

Sukerdi juga memiliki beberapa karamba apung, tetapi tidak sepenuhnya digunakan memelihara ikan. Sebagian di antaranya dibiarkan terbengkalai karena kualitas air di situ tersebut semakin memburuk.

Sebagai penghuni sempadan situ, Sukerdi terus terang mengaku enggan pindah dari sempadan Situ Rawa Besar. Begitu pun, katanya, warga lainnya. Sebab, mereka sudah membangun rumah permanen dan menempatinya selama bertahun- tahun. Apalagi, lokasi permukiman mereka saat ini sangat strategis.

Betapa kurang disadarinya upaya menjaga atau mewujudkan kelestarian lingkungan yang bermanfaat bagi kehidupan banyak orang. Sudah saatnya pemerintah daerah, seperti Pemkot Depok, yang merencanakan peremajaan Situ Rawa Besar dengan solusi lebih manusiawi itu didukung segenap anggota masyarakatnya. Akan lebih cantik kalau Jakarta juga membantu…. (Kompas)

Kompas, 2 Januari 2003

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: