Berita Situ Rawa Besar (1)

November 2004

Kualitas Air Situ Rawa Besar di atas Ambang Baku Mutu

Suara Pembaruan – 11 Nopember 2004

Sumber: http://digilib-ampl.net/

DEPOK – Matinya ribuan ikan dalam ratusan keramba milik warga di Situ Rawa Besar, Kampung Lio, Kecamatan Pancoran Mas, Depok, Kamis (4/11), diduga karena cuaca panas. Akibatnya, gulma dan lumpur naik ke permukaan sehingga kadar oksigen di dalam air situ tersebut habis.

Kepala Bagian Lingkungan Hidup Pemerintah Kota (pemkot) Depok, Agus Suherman, menjelaskan, Rabu (10/11), kematian ikan-ikan itu diduga akibat kurangnya kadar oksigen pada air situ. Selain itu, kualitas air di Situ Rawa Besar sudah melampaui ambang baku mutu. Berdasarkan hasil uji laboratorium atas sampel air di Situ Rawa Besar sudah di atas ambang baku mutu bagi keperluan budi daya perikanan air tawar. Hasil uji tersebut menunjukkan, kadar COD (Chemical Oxygen Demand) mencapai 36,70 mg/liter dari ambang baku mutu sebesar 6 mg/liter. Sedangkan kadar BOD (Biological Oxygen Demand) mencapai 93,58 mg/ liter, yang seharusnya hanya 50 mg/liter.

“Selain parameter tersebut masih ada sekitar 46 parameter lagi untuk mengetahui secara detail kualitas air tersebut. Tapi, kami biasa menggunakan parameter itu untuk mengetahui kualitas air tersebut,” katanya. Agus menepis adanya limbah berbahaya yang masuk ke perairan sekitar Situ Rawa Besar, yang mengakibatkan ribuan ikan mati dan para peternak ikan mengalami kerugian puluhan juta rupiah karena gagal panen. “Karena tidak ada perusahaan atau pabrik yang berdiri dan beroperasi di sekitar Situ Rawa Besar. Jadi kami menduga, kadar air itu hanya disebabkan oleh limbah domestik dan limbah pasar,” ujar Agus. Agus berharap, masyarakat sekitar Situ Rawa Besar tidak lagi membuang sampah ke Situ tersebut. Hal itu dilakukan untuk menjaga sanitasi lingkungan sekitar Situ Rawa Besar agar kualitas air tetap terjaga. “Kami baru mampu membuat sarana Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Community sebanyak tiga unit guna mengatasi limbah domestik di sekitar Situ,” ucapnya.

Secara terpisah, Kasubdin Perikanan Dinas Pertanian Depok, mengimbau kepada warga untuk tidak menggunakan Situ Rawa Besar sebagai tempat budi daya ikan. “Kalau tetap nekad menggunakan Situ itu sebagai tempat pemeliharaan ikan, kami sarankan hanya untuk jenis ikan hias saja dan bukan ikan konsumsi. Pada saat pergantian musim, warga diharapkan tidak melakukan pemeliharaan ikan di keramba tersebut,” katanya.

Menurutnya, penyebab matinya ribuan ikan di keramba tersebut, selain karena perputaran air akibat turunnya hujan. Sehingga menyebabkan lumpur di dasar permukaan yang banyak mengandung endapan pakan ikan atau kotoran menjadi naik. Penyebab lainnya, saluran pembuangan air (outlet) tidak ada keseimbangan, sehingga pergantian air sangat kecil. “Sedangkan upaya pembatasan jaring apung yang ideal hanya sekitar 10 persen dari luas wilayah Situ,” ucapnya. (W-12)

September 2006

Bakteri Kini Mengotori Danau Rawa Besar Depok

Suara Karya Online, Senin, 4 September 2006

Hati-hati bermain di Situ (Danau) Rawa Besar, Depok. Petuah itu diucapkan sejumlah orang tua yang telah mengetahui nasib Situ Rawa Besar itu. “Anak-anak bisa bahaya kalau tidak diingatkan saat bermain di situ tersebut,” ujar seorang pemulung yang kebetulan ditemui Suara Karya di tepian Situ Rawa Besar, Depok, kemarin.

“Situ ini, kata pejabat yang pernah menelitinya, sudah tercemar limbah kakus. Nah bahayanya itu, anak-anak bisa gampang kena diare atau penyakit menular lainnya kalau dibiarkan bermain di Situ Rawa Besar ini,” ujar pemulung itu melanjutkan keterangannya.

Ketika dikonfirmasi mengenai hal itu, Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kota Depok, Walim Herwandi membenarkan jika Situ rawa Besar yang selama ini berair bening dan kerap menjadi arena permainan anak-anak, ternyata sudah tercemar dan sangat kotor.

“Karenanya sejak beberapa pekan terakhir ini, saya selalu mengingatkan masyarakat bahwa Situ Rawa Besar yang terletak di Kampung Lio, Kecamatan Pancoran Mas, Depok, sudah tercemar bakteri Colli atau E (Escherichia) Coli. Bakteri itu berbahaya karena dapat menyebabkan penyakit diare jika mengonsumsi air tersebut. Saya juga minta danau itu jangan lagi dijadikan arena permainan anak-anak. Bahaya…” ujar Walim Herwandi.

Tetapi, bagaimana ceritanya sehingga danau itu menjadi sangat kotor dan dipenuhi bakteri E-Colli? Ditanya demikian, Walim Herwandi hanya menggelengkan kepalanya. “Kalau ditelusuri sebab musababnya, bisa membuat kepala pusing,” katanya.

Tetapi, berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, tercemarnya Situ Rawa Besar oleh bakteri E-Colli karena warga sekitar banyak yang menyalurkan kotorannya (tinja) ke dalam situ tersebut. “Makanya, danau itu lama kelamaan menjadi penuh bakteri E-Colli. Bakteri itu paling mudah menularkan diare. Nah, kalau tidak diantisipasi, bahayanya bisa menyebabkan warga sekitar dilanda wabah diare,” ujar Walim.

Ia mengatakan, berdasarkan keterangan Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah, bakteri E- Colli merupakan bakteri yang umum dijumpai di air yang berasal dari tinja manusia atau hewan berdarah panas, serta air yang telah terkontaminasi oleh limbah organik.

Karena itu, pihaknya menyarankan agar warga sekitar Situ Rawa Besar berperilaku bersih dengan tidak membuang “hajat” ke situ atau juga membuang sampah ke dalam situ, karena akan menyebabkan berbagai macam penyakit.

Pencemaran di Situ Rawa Besar diketahui setelah Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Kota Depok melakukan penelitian terhadap 19 situ yang ada di wilayah Kota Depok.

Walim mengatakan, pencemaran bakteri E-Colli di Situ Rawa Besar kemungkinan paling tinggi dibandingkan situ-situ lainnya, karena warga ada yang masih membuang tinjanya ke dalam situ.

Lebih lanjut Walim Herwandi mengatakan, menurut hasil penelitian pada tahun lalu, sebenarnya kandungan bakteri E-Colli belum begitu besar. Namun, jika warga masih menyalurkan tinjanya ke dalam situ, maka bakteri tersebut akan semakin banyak.

Untuk menanggulangi masalah tersebut, Pemkot Depok berencana akan membangun septic tank (penampungan tinja), sehingga warga sekitar situ tidak lagi menyalurkan buangan tinjanya ke dalam situ.

Menurut Walim, pada penelitian tahun lalu pihaknya juga menemukan tingkat pencemaran yang cukup tinggi dari limbah rumah tangga di Situ Rawa Besar.

Hal itu berdasarkan parameter “Biological Oxygen Demand” yang tercatat sebesar 15,2 dari standar enam dan Chemical Oxygen Demand sebesar 65,6 dari standar 50. (Fadly)

Desember 2008

1.500 Keramba Ikan di Depok Dibongkar

Sumber:  http://news.okezone.com/10 Desember 2008

Marieska Harya Virdhani – Okezone

JAKARTA – Satpol PP dan Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok membongkar sedikitnya 1.500 keramba ikan atau jaring apung di Setu Rawa Besar, Kampung Lio, Pancoran Mas, Depok.

Dalam pembongkaran dengan menggunakan dua alat berat beko itu, tidak mendapat perlawanan dari 250 petani ikan budidaya di setu tersebut.

PPNS Satpol PP Kota Depok Syamsuri mengatakan, pembongkaran sudah disosialisasikan dua bulan sebelumnya melalui lurah dan pokja situ.

“Pembongkaran dilakukan lantaran melanggar UU Sumber Daya Air Nomor 7 Tahun 2004 dan Perda Nomor 14, tentang Ketertiban Umum,” katanya di Depok, Rabu (10/11/2008).

Menurutnya, keberadaan keramba ikan di setu sanksinya cukup berat. Hal itu bukan hanya melanggar perda tapi undang-undang.”Kalau mengacu pada UU ancamannya Rp1,5 miliar dan denda maksimal lima tahun penjara,” tandas Syamsuri.

Hal lain, kata dia, jaring apung telah merusak pemandangan dan estetika, serta mengganggu funsi situ sebagai daerah resapan air. Alasan lain, kata dia, ada indikasi bangunan yang berdiri di atas situ dijadikan tempat tidak baik. “Beredar isu jadi tempat prostitusi,” ungkap Syamsuri.

Kepala Seksi Pembangunan Bidang SDA Dinas PU, Dadan Rustandi menambahkan, adanya keramba ikan di situ mengakibatkan sedimentasi atau pendangkalan.

“Juga sudah terjadi alih fungsi situ, karena itu akan dibongkar dan ditata agar daya tampung air dapat dimaksimalkan,” ujarnya yang menegaskan tidak boleh mendirikan bangunan 50 meter dari garis sempadan situ. (ram)

Ribuan keramba Rawa Besar dibongkar

Monitor Depok, 11 Desember 2008

KAMPUNG LIO, MONDE: Sebelum melakukan pembongkaran telah dilakukan sosialisasi sejak Januari hingga April 2008. Berbagai surat yang berisikan imbauan telah rutin dikirimkan. Pembongkaran melibatkan satu unit beko/ alat berat untuk menertibkan keramba.

Menurut Penyidik Pegawai Negeri Sipil Satpol PP Syamsuri keramba ini melanggar Perda No 14 tentang Ketertiban Umum dan UU Sumber Daya Air No 7 Tahun 2004 tentang Setu sebagai resapan air. “Jika melanggar maka hukumannya denda Rp1,5 miliar dan denda kurungan 3-5 tahun,” ujarnya.

Dari beberapa warga memang banyak yang meminta ganti rugi. Namun pihak pemkot tidak bisa memberikan ganti rugi karena pada kenyataannya para petani keramba telah melanggar peraturan dan undang-undang yang ada. Akhirnya, para petani keramba pun bisa menerima dan langsung mengangkut ikan-ikan milik mereka.

Keberadaan keramba ini nyata melanggar Perda No 18/ 2003 tentang Sempadan Setu. Penyidik Pegawai Negeri Sipil DPU R. Agus Muhammad mengatakan bahwa sebuah setu memiliki batas sempadan seluas 50 meter. “Batas tersebut harus bebas dari apapun yang menghalangi,” katanya.

Beberapa pemilik keramba ada yang belum segera mengangkat ikan-ikannya, mereka beralasan masih sibuk bekerja. Untuk hal yang satu ini pihak DPU dan Satpol PP memberi batas waktu hingga kemarin sore untuk segera mengangkat ikan-ikan. “Kami lakukan secara persuasif, ikan juga makhluk hidup dan tidak boleh dibiarkan langsung terkena beko,” jelasnya.

Sementara itu, Dadan Rustandi Kepala Seksi Pembangunan Bidang SDA DPU mengatakan, daya tampung setu jelas berkurang dengan keberadaan keramba ini.

“Setu ini juga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan dinas-dinas yang lain, seperti Dinas Pertanian atau sebagai objek pariwisata oleh Kantor Pariwisata Seni dan Budaya,” ujarnya.

Kepala Bidang Sumber Daya Air Welman Naipospos menjelaskan bahwa ke depannya setu tetap akan difokuskan sebagai daerah resapan air. “Restoran apung pun tak kami izinkan berdiri,” tuturnya. Ia menambahkan, Pemkot tak pernah menerima keuntungan sedikitpun dari para pemilik keramba.

Yusuf, warga yang memiliki keramba sejak tahun 1994 mengaku dapat menerima jika kerambanya harus diangkat. “Saya sadar karena ini fungsinya untuk daerah resapan air, jadi saya merelakannya,” katanya.

Kendati memiliki keramba hanya sebagai penghasilan tambahan, pria yang biasa memanen mujair nila ini mengaku mendapat keuntungan yang cukup lumayan sebagai pemilik keramba.(m-12)

Maret 2009

55 KK Kampung Lio Digusur

Program Penataan Situ Rawa Besar

Sumber:  http://www.wartakota.co.id/ 5 Maret 2009

Depok, Warta Kota
Sebanyak 55 keluarga KK di Kampung Lio, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoranmas, bakal relokasi. Mereka terkena program penataan Situ Rawa Besar yang akan dijadikan obyek wisata Kota Depok.

”Sampai saat ini kami tidak tahu ada informasi tentang itu baik dari RT, RW, maupun kelurahan. Karena itu kami akan menolaknya,” kata Ukar Suhardi, tokoh masyarakat Kampung Lio, Kamis (5/3).

Menurut Ukar, rencana menjadikan Situ Rawa Besar sebagai obyek wisata sudah lama didengar. Warga pun sudah diminta membongkar keramba ikan yang dipasang di situ tersebut. Saat itu sama sekali tak ada rencana relokasi rumah warga. ”Kalau ujug-ujug dibongkar kami akan menolak,” katanya.

Meski demikian, ia yakin warga akan setuju pindah dari Kampung Lio jika Pemkot Depok memberikan ganti untung kepada mereka. Misalnya, jika Pemkot Depok yang akan mengelola situ tersebut, warga minta tanah mereka dihargai Rp 200.000 per meter persegi. Tetapi jika pengelolanya swasta, warga meminta harga tanahnya Rp 500,000 per meter persegi. ”Kami akan mendukung program pemerintah, tapi kami juga tidak mau rugi. Beli rumah sekarang mahal,” tuturnya.

Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Pancoranmas, Marjaya, mengakui bahwa sosialisasi tentang relokasi rumah warga Kampung Lio yang berada di bantaran Situ Rawa Besar belum dilakukan. ”Memang kami belum melakukan sosialisasi kepada warga Kampung Lio, terutama warga RW 14,” ujar Marjaya.

Adapun alasannya, ucap Marjaya, karena pihaknya masih mempelajari program taman wisata yang akan dibuat di Situ Rawa Besar tersebut. ”Memang kami dengan perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Barat sudah ke lapangan, tapi bukan untuk sosialisasi.”

Kepala Bidang Pembangunan Dinas Tata Ruang dan Permukiman Kota Depok Enco Kuryasa menjelaskan bahwa relokasi rumah di bantaran Situ Rawa Besar itu terkait program Community Action Plan (CAP). CAP adalah suatu program perencanaan yang melibatkan tokoh masyarakat melalui rembuk warga.

”Untuk membuat Situ Rawa Besar menjadi tempat wisata tentunya harus ada penataan. Karena selain sebagai tempat wisata, lokasi itu akan dijadikan ruang terbuka hijau, daerah resapan air. Saat ini di kawasan itu banyak terdapat permukiman kumuh. Nah, mereka itu harus direlokasi. Sosialisasi sudah dilakukan sejak tahun 2006,” paparnya.

Areal yang masuk cakupan program CAP itu seluas 5 hektare. Di dalamnya termasuk tempat tinggal 55 keluarga yang akan terkena relokasi. Pada Juli 2009 mereka harus segera pindah.

Ukar Sukardi menceritakan bahwa Situ Rawa Besar itu dulunya persawahan. Untuk pengairannya diambil dari mata air yang berada di ujung Pasar Lama, Depok. Tanah persawahan itu mengandung tanah liat. Kemudian ada pabrik genteng dan bata merah yang memakai tanah liat di persawahan itu.

Ketika pabrik genteng dan batu bata bangkrut yang tersisa adalah sebuah kubangan besar. Saat hujan datang kubangan melebar dan lama-kelamaan ditumbuhi apung-apung dan rumput-rumputan serta eceng gondok. Tahun 1997, situ tersebut sempat dibersihkan anggota TNI dalam program ABRI Masuk Desa (AMD). (dod)

Warga Kampung Lio Resah

Warta Kota/dodi hasanudin

Sumber:  http://www.wartakota.co.id/ 11 Maret 2009

Depok, Warta Kota

Warga RW 14 Kampung Lio, Pancoranmas, Depok, Resah. Terutama terkait rencana Pemkot Depok yang akan merelokasi 55 rumah di bantaran Situ Rawa Besar.

Keresahan tersebut disampaikan salah satu tokoh masyarakat Kampung Lio Habib Idrus Algadrie di rumahnya, Rabu (11/3). ”Warga mendatangi saya menanyakan pemberitaan Warta Kota. Bener nggak sih berita itu. Sekarang warga banyak yang gelisah,” kata Habib Idrus yang rumahnya tak jauh dari Situ Rawa Besar.

Atas pemberitaan itu, lanjutnya, ia segera mengumpulkan para tokoh masyarakat, termasuk semua ketua RW dan RT. Dalam forum yang digelar Senin (9/13) malam, itu diketahui bahwa belum ada sosialisasi tentang relokasi rumah di bantaran Situ Rawa Besar. Mereka lantas bersepakat untuk tidak melepas tanah kepada pihak mana pun.

”Kalau mau relokasi sosialisasikan dulu programnya.Yang jelas hingga saat ini warga tidak ada yang mau melepas tanahnya. Memang waktu pembersihan situ dengan membongkar keramba ada pemberitahuan hingga tiga kali. Tapi pemkot tidak memperhatikan dampaknya. Mata pencaharian warga hilang. Sudah begitu sekarang banyak nyamuk dan sampahnya.” tutur Habib Idrus.

Menurut Idrus, dalam pertemuan tersebut warga merasa tersinggung dengan klaim Pemkot Depok yang menyatakan bahwa luas Situ Rawa Besar 25 hektar dan sekarang tinggal 13,5 hektar. ”Emangnya warga Kampung Lio itu rampok. Tanah warga di sini sertifikat semua. Kalau sertifikat tersebut dipertanyakan, jangan kita yang disalahkan,” ucap Idrus.

”Masa lalu biarlah menjadi masa lalu. Kalau sekarang luasnya 13,5 hektar yah bilangnya 13,5 hektar, jangan dimanipulasi,” tandas lelaki yang juga menjabat Ketua DPW Front Pembela Islam (FPI) Kota Depok tersebut.

Dari hasil pertemuan tersebut warga RW 14 selanjutnya akan membentuk forum warga Kampung Lio. Tujuannya agar warga bersatu. Apalagi belakangan ini orang tak dikenal datang ke rumah-rumah warga dengan alasan pendataan.

Sementara itu Camat Pancoranmas R Sudrajat mengaku tidak tahu tentang keresahan warga Kampung Lio. Alasannya tidak ada laporan yang menyatakan warga tersebut resah. ”Tidak ada laporan yang masuk ke saya tentang warga resah. Kalau sosialisasi sudah dilakukan sejak lama,” papar R Sudrajat seraya menyebut bahwa 50 meter dari bibir Situ Rawa Besar tidak boleh didirikan bangunan. Sebab tanah tersebut milik negara.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pembangunan Dinas Tata Ruang dan Permukiman Pemkot Depok Enco Kuryasa menjelaskan bahwa relokasi rumah di bantaran Situ Rawa Besar itu terkait program Community Action Plan (CAP). CAP adalah suatu program perencanaan yang melibatkan tokoh masyarakat melalui rembuk warga.

”Untuk membuat Situ Rawa Besar menjadi tempat wisata tentunya harus ada penataan. Karena selain sebagai tempat wisata, lokasi itu akan dijadikan ruang terbuka hijau, daerah resapan air. Saat ini dikawasan itu banyak terdapat pemukiman kumuh, nah mereka itu harus direlokasi. Sosialisasi sudah dilakukan sejak tahun 2006,” paparnya.

Sesuai catatan CAP, ada sekitar lima hektar luas Situ Rawa Besar yang akan dibenahi. Dari luasan tersebut termasuk sebanyak 55 keluarga yang harus direlokasi. Mereka akan direlokasi di wilayah Pitara, Pancoranmas. Pada Juli 2009 warga tersebut harus segera pindah. (dod)

April 2009

Situ Rawa Besar Meluap, Depok Banjir Sepinggang

Sumber: http://planetully.blogspot.com/ 07 April 2009

Jakarta – Hujan deras yang melanda Kota Depok pada sore (7/04), tidak hanya menyebabkan genangan air di jalan raya. Namun juga membuat Situ Rawa Besar seluas 13 hektar meluap.

Akibat luapan ini, rumah-rumah penduduk yang berada di sekitar situ, kebajiran hingga setinggi pinggang orang dewasa. Genangan setinggi itu terjadi di RT 5, 4, dan 13, kemudian RW 13, dan 19, Kampung Lio Kelurahan Pancoran Mas.

Menurut keterangan warga setempat, Jaja Sunarya, Selasa (7/4/2009), luapan juga terjadi pada 12 RT di Kelurahan Depok Jaya, Kelurahan Beji, dan Jalan Arif Rahman Hakim. Setidaknya genangan setinggi lutut orang dewasa menggenangi kawasan-kawasan tersebut.

Genangan yang menyentuh Jalan Arif Rahman Hakim menyebabkan kemacetan sepanjang 1 Km, yakni hingga putaran fly over Jalan Arif Rahman Hakim. Kemacetan ini membuat lalu lintas menjadi lumpuh.

Banjir yang mulai menggenang sejak pukul 17.30 WIB, hingga malam harinya belum surut. Bahkan cenderung naik.(RLY)

Situ Rawa Besar Meluap, Ratusan Rumah Kebanjiran

Sumber: http://metrotvnews.com/ 8 April 2009

Metrotvnews.com, Depok: Ratusan rumah di Kelurahan Lio dan Beji, Depok, Jawa Barat, tergenang air sejak Selasa (7/4), sore. Menurut warga, banjir berasal dari luapan air di Situ Rawa Besar, Depok.

Akibat banjir, sebagian warga mengungsi di masjid. Menurut seorang warga bernama Didi, banjir tahun ini merupakan yang terparah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Ketinggian air mencapai 0,5 meter juga terjadi di Jalan Arif Rahman Hakim. Akibatnya terjadi kemacetan kendaraan sepanjang satu kilometer pada selasa malam.

Sejumlah kendaraan bermotor juga tampak mogok akibat terendam air. Para pengendara pun terpaksa mendorong kendaraannya ke tempat yang lebih kering.

Petugas telah melakukan upaya untuk menyedot air. Tapi hingga Rabu dini hari, upaya tersebut belum dapat mengatasi banjir di sejumlah wilayah Depok,(RAS)

Banjir Lumpuhkan Kota Depok

Lalu lintas macet, Situ Pladen dan Rawa Besar meluap.

Sumber: http://www.republika.co.id/ 09 April 2009

DEPOK — Hujan deras yang mengguyur Kota Depok dari siang hingga malam pada Selasa (7/4), menyebabkan banjir di beberapa tempat, serta dampaknya terasa sampai Rabu (8/4). Banjir dengan variasi ketinggian 30 cm-60 cm melanda beberapa titik di jalan Margonda Raya, Jalan Arif Rahman Hakim, Rawa Maya, Dewi Sartika, Pitara, Taman Duta, Vila Pertiwi, Taman Manggis, dan Kampung Lio.

Banjir tersebut menyebabkan Kota Depok lumpuh. Terjadi kemacetan lalu lintas dihampir seluruh ruas jalan utama, seperti di pusat bisnis Jalan Margonda Raya, Arif Rahman Hakim, Dewi Sartika, Pitara, dan Taman Duta.Suasana kemacetan total tersebut membuat sebagian besar penumpang bus dan angkutan kota (angkot) memilih berjalan kaki untuk sampai ke tujuan. Hal yang sama dilakukan ratusan penumpang Kereta Listrik (KRL) Jabotabek yang turun di Stasiun Depok Baru.

Ratusan penumpang tersebut berbondong-bondong berjalan kaki melintasi banjir yang melanda Jalan Arif Rahman Hakim. Pantauan Republika, banjir yang terjadi di ruas jalan ini disebabkan meluapnya Situ Pladen dan Rawa Besar.Menurut keterangan seorang warga bernama Gatot (45), kondisi ketinggian air akibat meluapnya Situ Rawa Besar masih memprihatinkan. Ketinggian banjir mencapai 50 cm dan sejajar dengan tanggul.

”Sampai saat ini air belum surut, padahal sudah disedot. Tetap saja tingginya sebetis,” ujar Gatot, kemarin.Warga menduga, air akan terus meluap karena hujan terus turun. Ketua Pokja Situ Rawa Besar Mukadi berpendapat, luapan terjadi karena saluran dari Situ Rawa Besar menyempit akibat banyaknya pembangunan permukiman dan pintu air yang sudah tak berfungsi.

Titik rawan banjir
Sedangkan banjir di beberapa titik di jalan Margonda Raya selain disebabkan meluapnya Kali Cabang Tengah seperti yang terjadi di dekat Detos Mall juga karena kurang berfungsinya resapan dan drainase yang ada. Kondisi ini seperti terjadi di depan Lembaga Pendidikan Bahasa LIA.”Jalan Margonda menjadi perhatian utama kami saat ini,” ujar Kepala Dinas Bina Marga dan Sumberdaya Air Kota Depok, Herman Hidayat.

Menurut Herman, di jalan protokol Kota Depok ini, pihaknya telah memasang alat pompa untuk menyedot air. ”Hal yang sama juga kami lakukan di Jalan Arif Rahman Hakim,” tegasnya.Selain jalan protokol Kota Depok, pihaknya juga akan menggarap daerah rawan banjir di Kampung Lio yang kerap terjadi akibat sering meluapnya Situ Rawa Besar, lalu di kawasan permukiman Bukit Cengkeh, Taman Duta, Vila Pertiwi, dan Taman Manggis. ”Wilayah tersebut merupakan titik rawan banjir karena kontur tanah yang labil,” papar Herman.

Selain itu, kurang idealnya letak saluran air menjadi penyebab utama terjadinya banjir. Pasalnya, saluran air justru berada di atas perumahan. Herman mengungkapkan, selama musim penghujan ini, Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air tengah mengupayakan meminimalisasi bencana banjir. Saat ini, sebanyak 11 titik sudah diperbaiki seperti di wilayah Krukut dan Gema Insani. ruz

Situ Rawa Besar Meluap Permukiman Tergenang

Sumber: http://www.beritakota.co.id/09 April 2009

DEPOK, BK
Hujan deras yang melanda Kota Depok sepanjang Selasa (7/4) siang sampai malam mengakibatkan meluapnya Situ Rawa Besar. Kondisi ini membuat warga yang bermukim di sekitar situ khawatir tanggul jebol, apalagi luapan air menggenangi pemukiman mereka.

Luapan air dari situ seluas 13ha itu menggenangi rumah-rumah penduduk setinggi pinggang orang dewasa. Air setinggi sekitar 50cm menggenangi permukiman di RT 05, 04, dan 013, wilayah RW 13 dan RW 19, Kampung Lio, Kelurahan Pancoranmas. Air juga menggenangi permukiman di 12 RT Kelurahan Depok Jaya, Kelurahan Beji, dan Jl Arif Rahman Hakim.

“Sejak Selasa petang, meski sudah disedot air situ tidak bisa surut, bahkan terus meluap ke pemukiman warga,” ujar Sumardi, warga setempat, Rabu (8/4).

Kenyataan ini dibenarkan Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Situ Rawa Besar Mukadi. Menurut Mukadi, meluapnya air situ ke permukiman warga karena saluran air dari situ menyempit akibat makin banyaknya bangunan di sekitar situ. “Pembangunan permukiman tidak terkendali, sedangkan pintu air yang ada hanya hiasan, karena sudah lama tak berfungsi akibat tumpukan sampah warga,” jelasnya.

Selain pemukiman warga, luapan air dari situ juga menggenangi areal SDN Pancoranmas 1, sehingga kegiatan belajar mengajar di sekolah ini sementara dihentikan. Semua siswa diizinkan pulang untuk belajar di rumah.

Selain Situ Rawa Besar, air Situ Pladen juga meluap akibat guyuran hujan deras. Akibatnya sejumlah ruas jalan di Kota Depok, seperti Jl Arif Rahman Hakim, Jl Dewi Sartika, Jl Pitara, Jl Taman Duta, tergenang air. “Airnya sudah kami buang ke arah timur,” ungkap Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (Bimasda) Kota Depok Herman Hidayat. O jay


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: