Berita Situ Tipar

Desember 2004

Busa di Pasar Rebo Diduga Dari Rumah Tangga

Sumber: http://www.tempointeractive.com/ 07 Desember 2004

TEMPO Interaktif, Jakarta:Hasil uji laboratorium yang dilakukan tim gabungan dari BPLHD DKI, BPLHD Depok, dan KLH terhadap limbah busa yang kerap menutupi rumah warga di Kelurahan Pekayon, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur mengungkapkan bahwa unsur dominan yang terdapat dalam sampel air situ Tipar adalah limbah rumah tangga. “Ternyata dari hasil lab unsur deterjen yang lebih dominan,” ujar Ardian Prahara, Kasi Pelayanan dan Penanganan Sengketa Lingkungan BPLHD Jakarta Timur.

Diakuinya, hingga saat ini tim belum melakukan evaluasi lebih lanjut terhadap hasil uji laborat tersebut. Meski demikian, tanpa harus menuding siapa yang bertanggungjawab, pihak BPLHD Jakarta timur mempunyai inisiatif menyampaikan beberapa usulan kepada Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) mengenai langkah-langkah ke depan yang harus diambil agar permasalahan di Situ Tipar tidak berlanjut.

Mereka mengusulkan adanya upaya normalisasi terhadap Situ Tipar dan rekomendasi kepada pihak Pemkot Depok untuk membuat sodetan (saluran) baru dari situ Tipar yang langsung menuju ke kali Cipinang. BPLHD Jaktim juga akan mengajukan kepada Pemprov DKI untuk membuat pengolahan IPAL terpadu (IPAL Comunnal) bagi limbah rumah tangga. “Rencananya tiap 20 rumah mempunyai satu buah IPAL,” ujar Ardian.

Sementara itu pihak BPLHD DKI, Junani menjelaskan, modus kejadian selalu berulang selama beberapa tahun ini—tepatnya sudah 8 kali musim hujan. Ketika hujan datang, kata dia, karena limbah detergen yang terbuang dan menumpuk di situ Tipar itu seolah-olah teraduk lebih besar oleh hujan sehingga busa yang muncul juga semakin banyak. ?Yang pasti, pengamatan sementara semua aktifitas di sekitar Situ Tipar dan di perumahan Pekayon mempengaruhi munculnya busa tersebut,? kata Junani. Belum tentu industri, kata dia, setiap orang menggunakan deterjen setengah cangkir saja, kalau ribuan rumah tangga bisa dibayangkan besarannya.

Namun, Junani enggan untuk menyampaikan bagaimana hasil dari uji laboratorium yang dilakukan bersama-sama antara BPLHD Jakarta Timur, Depok dan DKI serta dari Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) sekitar bulan puasa yang lalu itu. ?Bukan sekedar mata air di Situ yang hilang tetapi saluran air dari pemukiman dan industri. Yang jelas itu mempengaruhi atau tidak belum ada evaluasi di KLH,? kata Junani.

Sumber di divisi Penegakan Hukum KLH ketika dihubungi Tempo menyampaikan hal yang sama. ?Belum ada kesimpulan yang pasti. Kita masih menunggu hasil inventarisasi dari lapangan yang diolah laboratorium BPLHD DKI,? katanya. Penelitian limbah busa yang terjadi di daerah perbatasan Depok-Jakarta ini ditangani bersama dan dalam waktu dekat akan dipresentasikan hasilnya. ?Bisa industri bisa rumah tangga, kita tunggu saja. KLH hanya bisa memberikan supervisi,? lanjutnya.

Agus Supriyanto-Tempo

Sudah belasan Tahun Warga Keluhkan Pencemaran Situ Tipar

Sumber:  http://www.tempointeractive.com/ 14 Desember 2004

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pencemaran lingkungan khususnya pencemaran air di Situ Tipar Kabupaten Depok Jawa Barat yang berbatasan dengan kelurahan Pekayon, Kecamatan Pasar Rebo Jakarta Timur ternyata sudah dimulai sejak belasan tahun yang lalu. “Situ ini paling bagus, airnya bisa dikonsumsi karena jernihnya minta ampun,” kata H Udin, 65 tahun warga RT 05 RW 07 kelurahan Pekayon, kepada Tempo, Selasa (14/12) siang.

H. Udin menyatakan sekitar tahun 1993 mulai muncul busa seperti yang sekarang ini sering terjadi. “Busa sudah ada sejak 1993, cuman gak separah sekarang,” katanya. “Yang paling parah tahun 1996, limbah busanya sampai menenggelamkan rumah-rumah dan tiang listrik,” katanya mengenang.

“Baunya nyesek banget minta ampun dan banyak warga juga yang sesak nafas,” keluh pensiunan pegawai Pemda ini. Menurutnya pihak yang bertanggungjawab adalah industri yang tersebar di wilayah aliran sungai menuju Situ Tipar. “Ada banyak pabrik tuh, enam atau berapa, pasti mereka gak mungkin lah kalau nggak,” katanya.

Dikisahkannya, bahwa dirinya sudah hampir 30-an tahun tinggal di daerah tersebut dan masih bisa mengenangkan Situ Tipar yang luas dan airnya yang jernih. “Pabrik-pabrik itu berdiri tahun 76-78 dan membuang limbah di Situ,” ujarnya. “Sangat tidak mungkin kalau limbah dari rumah tangga akibatnya sampai seperti ini,” lanjutnya. Agus Supriyanto-Tempo

Sejumlah Parameter Air Setu Tipar Melampaui Ambang Batas

Sumber:  http://www.tempo.co.id/ 15 Desember 2004

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kepala Humas Kota Depok, Sudrajat, mengatakan dari hasil pengujian yang dilakukan Bagian Lingkungan Hidup Kota Depok, September lalu, mutu air setu Cicadas yang lebih dikenal dengan Setu Tipar, Kelurahan Mekarsari, Cimanggis, ditemukan sejumlah parameter yang melebihi ambang batas. Dari 27 parameter pengujian ditemukan ada enem parameter yang melampaui ambang batas.

Parameter yang melampaui ambang batas itu diantaranya kadar BOD, dari pengjian kualitas air disetu tersebut diketahui kadar BOD yang ada sangat tinggi mencapai 21,5 miligram per liter, padahal standar baku mutunya hanya 2 miligram per literl. Hal ini berarti hanya ikan tertentu yang sanggup hidup di perairan tersebut.

Parameter lainnya yang lampaui ambang batas adalah kandungan bakteri Coli, dari standar baku mutu 1000 miligram per liter ternyata dari hasil pengujian ditemukan kandungannya mencapai 1600 miligram per literl. Dengan kondisi ini air danau tersebut berarti tidak bisa dimanfaatkan untuk mandi cuci kakus apalagi untuk minum.

Setu Tipar juga diketahui ternyata mengandung kadar deterjen yang cukup tinggi. Terutama unsur phospat-nya. Dari standar baku mutu 0.2 miligram per literl dari hasil pengujian ditemukan kadarnya mencapai 0,9 miligram per liter..

Parameter lainnya yang dinilai melampaui ambang batas paling tinggi adalah kandungan fecal atau tinja. Dari hasil penelitian diketahui kandungan fecal mencapai 1600 miligram per liter, padahal standar baku mutunya hanya 100 miligram per liter.

Kadar COD (Chemical Oxygen Demand) juga melampaui ambang batas meski tak terlalu tinggi. dari stadar baku mutu 10 miligram per liter dari hasil pengjian kadarnya 10,8 miligram per liter. Sementara menurut Kabag Humas, untuk parameter lainnya masih dinilai normal meski melapui juga tidak terlalu tinggi.

Dijelaskan Sudrajad, kondisi setu Tipar memang memprihatinkan kondisi airnya keruh karena menjadi buangan limbah dari sejumlah sumber dianataranya limbah domestik. Diduga pula industri sekitar lokasi setu memberi andil. Belum lagi pasokan limbah dari pasar Cisalak dan sejumlag lokasi pemotongan hewan. Menurut Sudrajat pihak BPL diakui pernah berkirim surat kepada sejumlah industri yang ada disekitar lokasi karena buangan limbahnya ke arah setu melampaui ambang batas.

Kondisi Setu saat ini juga dinilai mempetrihatinkan. Selain dipenuhi oleh tanaman enceng gondok yang sangat tebal sebagian lahan tersebut juga mulai diuruk sejumlah orang untuk dibangun tempat tinggal dan sarana lain seperti tempat pemancingan dan kolam-kolam ikan.  Ramidi-Tempo

Penanggulangan Pencemaran di Situ Tipar Berkoordinasi dengan KLH

Kompas – 27 Desember 2004

Sumber: http://www.digilib-ampl.net/

Jakarta, Kompas – Untuk mengatasi pencemaran limbah detergen yang terakumulasi di Situ Tipar, Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta Timur dan BPLHD DKI Jakarta akan berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup. Situ Tipar berada di perbatasan antara Kabupaten Depok dan Jakarta Timur sehingga tidak mungkin hanya diatasi oleh Jakarta.

Hal itu dikatakan Kepala BPLHD Jakarta Timur Suryadarma dan Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan BPLHD DKI Jakarta Junani Kartawiria secara terpisah, Minggu (26/12).

Dikatakan, limbah yang bermuara di Situ Tipar banyak berasal dari Mekarsari dan Cimanggis, Depok. “Semua mengalir ke Situ Tipar sebab industri ada di Depok, kami tidak berwenang menegurnya. Kasus seperti ini pernah terjadi pada tahun 1996,” kata Suryadarma.

Menurut Junani, setelah diteliti, memang air Situ Tipar banyak mengandung nitrogen dan fosfat. Ini menyebabkan penyuburan dan pendangkalan. “Kalau subur, otomatis akan banyak tanaman tumbuh seperti eceng gondok. Lama-lama situ akan dangkal dan air meluap,” katanya.

Ditambahkan, ada tiga saluran yang semuanya bermuara ke Situ Tipar sehingga kalau hujan lebat pasti air meluap. Memang ada cara menanggulangi melubernya air dari situ, yaitu dengan membuat sodetan dihubungkan dengan Kali Cipinang. Namun, itu tidak akan menghilangkan pencemarannya.
(IVV/ELN)

BPLHD Jakarta Timur: Akan Dibangun Saluran Air Yang Lebih Baik

Sumber: http://ip52-210.cbn.net.id/ 28 Desember 2004

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kepala Badan Pengawas Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta Timur, Surya Darma mengatakan persoalan limbah busa di Pekayon memang imbas akumulasi limbah di Situ Tipar. Menjawab bagaimana penyelesaiannya, Surya menyebut pembuatan saluran air yang lebih baik. “Itu menyelesaian dalam jangka pendek,” kata Surya kepada Tempo, Selasa (28/12) siang.

Ia enggan menjawab apakah mulainya penyebab pencemaran dari rumah tangga atau industri, “Kami belum bisa menunjuk hasil uji laboratorium masih di KLH,” katanya menjelaskan duduk perkara.

Menurutnya, pencemaran Situ Tipar kasus pencemarannya sudah berulang kali terjadi. “Tahun 96 kami sudah menangani kasus yang sama,” katanya.

Yang menjadi masalah di Situ Tipar, karena semua pemukiman di sekitarnya membuang limbah ke Situ. “Kami sudah melakukan pengujian kualitas air dan hasilnya memang dominan dari limbah deterjen,” ujarnya.

Ia menjelaskan, bayangkan saja kalau satu rumah mengkonsumsi 25 gram deterjen, 1000 rumah sudah 25 kilogram, maka satu tahun sudah 29 ton detejen masuk ke Situ Tipar. Dampaknya, katanya, deterjen yang terakumulasi tersebut terhanyut dan disalurkan lewat pemukiman warga lalu teraduk penyebabkan munculnya busa.

Apakah disebabkan dari industri atau pemukiman, kami belum bisa menunjuk. Yang jelas, untuk pencemar dari industri ditangani oleh Depok.
Agus Supriyanto-Tempo

Februari 2008

Reklamasi Setu Tipar butuh Rp10 miliar, ‘Bebaskan setu dari bangunan liar’

Monitor Depok, 27 Februari 2008

MEKARSARI, MONDE: Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Depok Wahyudi mendesak Bagian Perlengkapan Pemkot Depok agar memperjuangkan batas-batas wilayah dan kepemilikan yang luasnya semakin berkurang terkait dugaan jual beli lahan setu.

Hal ini diungkapkan Wahyudi, sesaat setelah melakukan peninjauan ke Setu Tipar Mekarsari Cimanggis, didampingi Kepala Bidang Sumber Daya Air Kabid SDA Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Depok Welman Naipospos dan Kabid Tata Kota Distakotbang Depok Diah Irwanto.

Setelah peninjauan langsung, Wahyudi memaparkan dibutuhkan dana sebesar Rp10 miliar untuk mereklamasi kondisi Setu Tipar yang kini luasnya tinggal sekitar 8 hektare. “Itu sesuai dengan standard kalau memang ingin baik jangan setengah-setengah. Pemkot diharapkan mampu menertibkan sejumlah bangunan liar yang berada di atas Setu Tipar,” tegasnya.

Mengenai permasalahan batas Setu Tipar yang bersentuhan dengan Pemerintah DKI Jakarta, Wahyudi menganjurkan agar menghidupkan atau mengoptimalkan kembali badan kerjasama antar provinsi.

Memperjuangkan

Sementara itu Kepala Bidang Sumber Daya Air (Kabid SDA) Dinas PU Welman Naipospos mengatakan pihaknya akan memperjuangkan mengenai status dan batas wilayah setu sehingga lebih jelas.

Ketika ditanyai mengenai keberadaan sebuah rumah contoh di lokasi, Welaman menegaskan bahwa pihaknya tidak akan memberi rekomendasi karena jelas bahwa secara fungsi dan letak geografis kebaradaan bangunan tersebut berada di atas lahan setu.

Mengenai hak guna bangunan, Welman juga tidak akan memberikan rekomendasi kepada pengembang atau pihak manapun dan meminta kepada Badan Pertanahan Nasional (BPN) tidak mensertifikasikan hak guna bangunan sebelum adanya izin dari pemerintah pusat karena kewenangan terhadap lahan setu ada di pemerintah pusat dalam hal ini adalah BPN dan Departemen Pekerjaan Umum.

“Tugas dan tanggung jawab Dinas PU hanyalah menjaga kelestarian dan memelihara lingkungan sekitar setu agar tidak tercemar,” tandas Welman.

Desember 2008

800 Keramba dan 30 Bangunan Dibongkar

Bangunan itu menyalahi aturan sumber daya air.

Sumber:  http://metro.vivanews.com/ 12 Desember 2008

MaryadieVIVAnews – Sedikitnya 30 rumah tinggal dan 800 keramba ikan lele milik warga yang berada di kawasan Situ Tipar, Cimanggis, Depok dibongkar petugas Satuan Polisi Pamong Praja. Bangunan itu menyalahi aturan sumber daya air.

Pembongkaran dilakukan dengan mengunakan alat berat. Tujuan pembongkaran untuk mengembalikan fungsi Situ Tipar sebagai daerah resapan air.

Sebab saat ini kondisinya sudah memprihatinkan. Bangunan dan keramba milik warga memakan hampir setengah dari 16 hektar luas situ itu.

Hal ini sempat mendapat protes dari warga. Parnoto, 56 tahun warga yang memiliki tempat tinggal dan keramba, merasa keberatan terhadap pembongkaran.

Sebab pembongkaran tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Dirinya meminta petugas memberi waktu, karena warga bingung harus pindah kemana.

Kerambah ikan lele yang akan dipanen satu bulan lagi, terpaksa harus dijual murah.

Akibat pembongkaran ini warga mengalami kerugian mencapai Rp 60 juta. Warga berharap ada ganti rugi.

Pejabat Penyidik Dinas Pekerjaan Umum Raden agus menegaskan, selain melanggar Undang-undang Sumber Daya Air, bangunan milik warga juga merusak fungsi situ sebagai resapan air saat musim hujan.

Warga juga melanggar Perda nomor 14 tahun 2001, tentang Ketertiban Umum, Perda nomor 18 tahun 2003, tentang Garis Sepadan, dan Perda nomor 3 tahun 2006, tentang IMB.

Ancaman pidananya 6 bulan penjara atau denda Rp 1 hingga Rp 500 juta, sesuai dengan Undang-Undang Sember Daya Air. Laporan : Ramuna/ Depok

Lagi, 1.000 Keramba di Depok Dibongkar

Sumber:http://news.okezone.com/ 12 Desember 2008

Marieska Harya Virdhani – Okezone

DEPOK – Satpol PP dan Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok kembali membongkar 1.000 keramba ikan di Situ Tipar, Cimanggis. Petugas juga membongkar sedikitnya 30 bangunan semipermanen yang berdiri di bantaran situ.

Sebelumnya, sebanyak 1.500 keramba ikan atau jaring apung di Setu Rawa Besar, Kampung Lio, Pancoran Mas, Depok, juga dibongkar aparat.

Ketua Juru Air Cimangis Depok Djuhardi mengatakan, keberadaan keramba ikan dan bangunan di sekitar situ mengakibatkan penyempitan luas setu.

“Pada awalnya luas Situ Tipar mencapai 18,7 hektare dan menyempit menjadi 8 hektare,” katanya di Depok, Jumat (12/12/208).

Djuhardi menjelaskan surat pemberitahaun pembongkaran sudah dilayangkan kepada pemilik satu bulan lalu. Umumnya pemilik keramba ikan adalah orang luar Jawa Barat seperti Boyolali dan Medan. “Bahkan sejumlah keramba dimikiki oknum TNI.” imbuhnya.

Selain itu, pihaknya juga sudah mengincar rumah contoh dari pengembang yang membangun perumahan di sekitar situ. Ada juga pengembang lainnya yang bermasalah dan ikut memperparah penyempitan lahan setu.

“Mereka ini akan jadi target pembongkaran selanjutnya,” tandas Djuhardi.

Hal senada dikemukan PPNS Dinas PU Agus Muhamad.Pmbongkaran terhadap karamba dan bangunan karena melanggar UU Sumber Daya Air Nomor 7 Tahun 2004, Perda Nomor 14 Tahun 2003, tentang Ketertiban Umum dan Perda Nomor 6 Tahun 2006, tentang Kepemilikan IMB.(ram)

Nelayan Situ Tipar Memberesi Barang

Sumber: http://metrotvnews.com/ 13 Desember 2008

Metrotvnews.com, Depok: Nelayan Situ Tipar, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Sabtu (13/12) hari ini, mulai membereskan barang-barang milik mereka. Para nelayan diberi waktu dua hari untuk pindah karena Pemerintah Kota Depo akan menormalisasi Situ Tipar menjadi daerah resapan air. Keramba para nelayan di wilayah ini, Jum’at kemarin, dibongkar.

Selain membereskan barang yang masih tercecer, sebagian nelayan ini juga berusaha menjala ikan milik mereka yang lepas saat keramba dibongkar. Mereka keberatan dengan batasan waktu dua hari untuk membereskan lokasi. Nelayan juga mengeluhkan sempitnya lokasi penampungan ikan yang disediakan.

Menurut mereka, sedikitnya perlu waktu dua pekan untuk membereskan lokasi. Apalagi, ikan-ikan milik mereka juga cukup banyak. Warga juga belum memiliki

lokasi baru untuk memindahkan usahanya. Di Situ Tipar ini sedikitnya ada 500 keramba milik petani ikan yang dibongkar. Menurut Pemerintah Kota Depok, pembongkaran keramba dilakukan untuk normalisasi Situ Tipar sebagai daerah serapan air.(DOR)

Mei 2009

Normalisasi Situ Tipar, Pemkot Depok Kerjasama dengan DKI

Sumber:  http://news.okezone.com/ 15 Mei 2009

Marieska Harya Virdhani – Okezone

DEPOK – Depok memiliki 26 situ yang tersebar di enam kecamatan, di mana hampir seluruh kondisinya dalam keadaan tidak terawat dan tercemar limbah rumah tangga. Hal itu membuat Pemerintah Kota Depok menormalisasi atau mengembalikan fungsi situ kembali seperti semula, salah satunya adalah Situ Tipar.

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Depok, Herman Hidayat mengatakan, Pemprov DKI Jakarta mengucurkan dana sebesar Rp1 Miliar untuk menormalisasi Situ Tipar yang berada di Kecamatan Cimanggis Depok dan merupakan perbatasan dengan Jakarta Timur.

“Hal itu lantaran perbatasan dengan mereka, jadi dana dari mereka, kami pelaksananya,” ujarnya, Jumat (15/5/2009).

Herman menambahkan, saat ini tengah dilakukan pengerukan situ dari banyaknya sedimentasi atau pendangkalan di Situ Tipar seluas 5 hektare tersebut. “Selain itu kami turap juga untuk kembalikan fungsi situ yang sejatinya sebagai resapan air, sebelum sampai ke Jakarta,” jelasnya.

Tahun ini, kata Herman, Pemkot Depok memprioritaskan normalisasi 4 situ di luar Situ Tipar. Keempat situ itu adalah Situ Bahar, Situ Citayam, Situ Cilodong, dan Situ Sidamukti, keseluruhannya mencapai Rp850 juta. “Kalau Tipar dana dari DKI, kalau keempat situ itu dananya dari APBD Depok,” katanya.

Sebelumnya, Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Depok sudah merazia ratusan keramba atau jaring apung yang dibangun di atas Situ Tipar. Selain itu, para penduduk liar yang tinggal disekitar situ pun telah ditertibkan. Hal itu untuk memudahkan Pemkot Depok untuk menormalisasi Situ Tipar.(hri)

One Comment on “Berita Situ Tipar”

  1. Yulita Sherin Says:

    Dengan ini kami atas nama warga sekitar mohon bantuannya untuk PEMKOT dan DINAS INDUSTRI serta BAGIAN PEMBERI IZIN USAHA untuk Kota Makassar, sehubungan dengan keluhan gangguan bagi kami, yang diakibatkan karena tetangga kami melakukan kegiatan usaha dengan bunyi mesin yang sangat keras, disekitar rumah kami yang nota bene merupakan pemukiman penduduk (DAN BUKAN KAWASAN INDUSTRI).
    Mohon dapat diperiksa industri tersebut yang memakai mesin yang sangat keras suaranya, karena sangat mengganggu ketenangan warga sekitar.
    Sudah selama lebih dari 5 tahun selalu seperti itu.
    Lokasi industri tersebut di Jl.Daeng Tata III, Kelurahan Parangtambung, Kecamatan Tamalate, Makassar.
    Mohon bantuannya berhubung setahu kami industri sudah tidak diizinkan beroperasi dikawasan pemukiman penduduk karena sangat meresahkan.
    Terima kasih.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: