Gadis Sri Haryani

Gadis Sri Haryani, KEPALA PUSAT PENELITIAN LIMNOLOGI LIPILIPI:

Situ Jangan Diabaikan

Koran Tempo (4 April 2009)

Sumber: http://korantempo.com/

Keberadaan situ selama ini masih dipandang sebelah mata. Buktinya, banyak situ yang kondisinya terabaikan sehingga menjadi sekadar tempat pelimpahan sampah. Bencana jebolnya Situ Gintung di Ciputat, Banten, baru-baru ini bisa menjadi pelajaran yang membuka mata banyak pihak bahwa betapa perlunya situ-situ diperhatikan dan dipelihara.

Sebenarnya situ bukanlah sekadar cekungan pada permukaan tanah yang kemudian terisi air. Lebih dari itu, ia memiliki fungsi utama. Setidaknya ada situ yang berfungsi menginfiltrasi air tanah, mencegah banjir, sebagai kolam perikanan, atau tempat wisata.

Sayangnya, nasib situ-situ semakin hari kian merana. Lihat saja hasil kajian Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sejak 2003 di situ-situ yang berada di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Khususnya di daerah aliran sungai Cisadane, kualitasnya telah terdegradasi hingga 50 persen.

Menurut Gadis Sri Haryani, kepala pusat penelitian itu, dari 22 situ yang diteliti ditemukan konsentrasi kandungan nutrien yang tinggi hingga kelewat subur di perairan sebagai indikator kerusakan situ. Kandungan nutrien (di antaranya nitrogen dan fosfor) yang tinggi itu berasal dari bahan-bahan organik yang terkandung dalam limbah pabrik, pertanian, dan rumah tangga yang masuk ke situ.

Kepada Dody Hidayat dan fotografer Arnold Simanjuntak dari Tempo, doktor ecophysiologie aquatique lulusan Ecole Nationale Supérieure Agronomique de Toulouse, Prancis, ini memaparkan persoalan-persoalan yang dihadapi situ-situ dan pendekatan ekohidrologi dalam mengatasi persoalan itu. Wawancara berlangsung di kantornya di kompleks Cibinong Science Center, Cibinong, Jawa Barat, Jumat lalu. Berikut ini petikannya.

Penelitian-penelitian apa saja yang telah dilakukan Pusat Penelitian Limnologi terhadap situ-situ di Jabodetabek?

Penelitian Limnologi terhadap situ-situ itu bersifat holistik, baik dari aspek kualitas air, aspek hidrologi, maupun aspek perikanan. Misalnya penelitian aspek kualitas pada situ-situ di Jabodetabek, khususnya di daerah aliran sungai Cisadane, pada 2003. Penelitian ini dengan melihat status tropik (tingkat kesuburan) perairan sebagai indikator kerusakan situ.

Indikator itu terdiri atas faktor fisik, seperti kuantitas air berapa volumenya, lalu arusnya bagaimana, sedimen seperti apa. Dari segi kimianya, kita mengukur berapa oksigen terlarutnya. Lalu juga segi biologinya, seperti ikan, tumbuhan air, fitoplankton sebagai makanan ikan, bakteri, dan sebagainya.

Dalam penelitian hidrologi, contohnya penelitian analisis water balance Situ Bojongsari, menunjukkan bahwa situ tersebut pada waktu musim kemarau berfungsi sebagai recharge–menginfiltrasi–air tanah dan waktu hujan sebagai pengendali banjir. Kita juga membuat simulasi pada Situ Cikaret, Cibinong, yang saat ini luasnya 30 hektare dan kedalaman 7 meter. Nah, kalau situ itu secara ekstrem dihilangkan, dengan sendirinya puncak banjir itu menjadi naik karena tidak ada lagi tempat untuk menampung air dan mengurangi kecepatan aliran air ke arah hilir. Sedangkan kalau situ ini luasnya tetap tapi kedalamannya ditingkatkan menjadi 12,5 meter, debit aliran akan rendah dan air yang mengalir ke arah hilir waktunya pun akan lebih lama.

Penelitian Situ Cikaret itu tahun berapa?

Itu pada 2007. Biasanya kita melakukan penelitian tidak satu tahun, minimal dua tahun baru bisa mendapatkan hasil-hasil komprehensif. Kadang-kadang penelitian dipandang sebelah mata, orang suka bilang, “Kok lama sekali ya.” Apalagi penelitian tentang lingkungan, itu paling sulit. Lebih mudah membangun ruko daripada mengkonservasi situ.

Temuan apa yang diperoleh dalam penelitian terhadap kondisi situ di Jabodetabek itu?

Di sini juga ada peneliti Ibu Fahmi. Jadi kita melihat dari kandungan nutriennya. Kita klasifikasi situ-situ itu. Jika kondisinya masih baik, kandungan nutriennya tidak berlebihan, itu disebut oligotropik sampai mesotropik. Kalau sudah terancam, kandungan nutriennya sudah tinggi, disebut eutropik, lalu kalau kondisinya sudah rusak, kandungan nutriennya berlebihan, disebut hipertropik. Ada 14 situ yang dikategorikan terancam dan rusak parah ini.

Nutrien adalah bahan organik, misalnya dari pupuk nitrogen dan fosfor, juga dari limbah domestik kita juga kan membuang kotoran, sampah dapur, dan sampah pasar. Sampah itu oleh bakteri dirombak menjadi nutrien yang kelewat tinggi. Nutrien ini dikonsumsi oleh fitoplankton dan tanaman air, seperti eceng gondok, sehingga tumbuh sangat subur.

Dengan kelebihan nutrien itu, dampaknya bagi situ apa?

Airnya tidak layak diminum atau menjadi air baku. Fitoplanktonnya atau tumbuhan yang terlalu subur akan mengancam ikan-ikan karena berkompetisi dalam mendapatkan oksigen. Tapi juga tumbuhan airnya terlalu banyak kemudian mati dan mengendap menimbulkan pendangkalan.

Berapa banyak situ yang dijadikan sampel, di mana saja?

Ada 28 situ yang diteliti, yakni Situ Cibuntu, Ciriu, Cikaret (Cibinong), Tonjong, Rawa Kutuk, Telaga Bening, Cihuni (Bojong Gede), Cilala, Lengkong Barang, Jampang, Iwul, Kemang (Parung), Rawakalong (Cimanggis), Bojongsari (Sawangan), Sasak Tinggi/Pamulang (Ciputat), Rawa Besar, Studio Alam (Depok), Gunung Putri (Gunung Putri), Ciledug (Ciledug), Salabenda, Tegal Abidin (Bekasi), Puspiptek (Tangerang), Gede, Burung, Cibedug, Cibanteng, Tengah (Dramaga/Bogor), dan Kemuning (Caringin).

Dasar pemilihan sampel situ apa?

Kita maunya semua situ, tapi, karena keterbatasan sumber daya manusia dan anggaran, kita pilih yang mewakili wilayah. Cuma, Situ Gintung memang tidak masuk dalam penelitian kita.

Mengapa bisa terjadi penurunan kualitas itu?

Sumber air situ berasal dari daerah tangkapan air atau daerah aliran sungai sehingga sangat terkait dengan kegiatan manusia (industri, pertanian, dan permukiman). Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan kualitas situ, antara lain berubahnya fungsi lahan di sekitar situ, serta buangan limbah industri dan domestik yang langsung masuk ke badan situ tanpa melalui IPAL (instalasi pengolahan air limbah).

Juga pengaruh aktivitas yang ada di badan air situ, misalnya budi daya perikanan dan pengambilan air untuk berbagai keperluan. Selain itu, terjadinya pengalihan fungsi lahan di bagian hulu meningkatkan erosi, sehingga sedimen yang terbawa aliran akan mempercepat pendangkalan situ.

Apakah kondisi situ yang rusak tersebut dapat berpotensi bencana seperti yang terjadi pada Situ Gintung?

Kami melihat kondisi situ dari aspek fisik air (kuantitas dan kualitas), kimia, serta biologi (tumbuhan air, ikan, bakteri, dan lain lain). Karena itu, potensi bencana bisa bermacam-macam terkait dengan kuantitas dan kualitas air situ. Bila dilihat dari bangunan airnya (dam) dan kontur tanah yang seperti di Situ Gintung, bisa saja terjadi bencana. Tapi kami tidak meneliti ke arah sana karena kami tidak memiliki keahlian teknik.

Upaya apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi situ-situ tersebut dalam waktu dekat?

Kami mengusulkan dilakukan inventarisasi situ-situ terkait dengan aspek fisik, kimia, dan biologi situ serta daerah di sekitar situ, juga aspek sosial-ekonomi dan budaya masyarakat. Perlu investigasi secara detail terhadap situ-situ tersebut dan perlu ada prosedur operasi standar tentang perawatan situ. Dari sisi masyarakat sekitar situ, terutama di bagian hilir, perlu sosialisasi tentang langkah-langkah yang harus dilakukan untuk memonitor kondisi tanggul secara swadaya dan bagaimana kalau terjadi bencana, dan tak kalah penting perlu dibangun sistem peringatan dini.

Bagaimana tanggapan pemerintah atas rekomendasi hasil penelitian?

Sepertinya tidak menjadi prioritas, ya. Apalagi ini terkait dengan situ yang kayaknya dianggap tempat sampah besar. Memang harus diubah pola pikirnya, baik di pemerintah maupun di masyarakat. Ini tidak bisa dalam satu-dua tahun. Tapi, kalau masyarakatnya sudah mau mengubah kondisinya, ya buat pemerintah lebih mudah daripada harus dari pemerintah daerah dulu baru ke masyarakat.

Jadi pendekatan edukasinya ke masyarakat langsung saja?

Ya, makanya kami punya Situ Cibuntu sebagai laboratorium kami. Memang luasnya kecil, cuma dua hektare, tapi dalam dua tahun ini telah terbentuk komunitas warga yang memelihara dan memanfaatkannya. Namanya Komunitas Masyarakat Pencinta Situ Cibuntu. Situ ini untuk kehidupan mereka terasa manfaatnya sehingga mereka merasa harus menjaga situ ini biar kondisinya tetap baik dari sisi kualitas air dan kuantitasnya. Selain sebagai sumber air untuk persawahan di bawahnya, ada perikanan di dalam situ untuk memenuhi protein hewani mereka. Sekarang situ itu mereka jaga secara bergantian selama 24 jam biar tidak ada yang mencuri.

Apa yang dimaksud dengan ekohidrologi?

Ekohidrologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi proses hidrologi dengan dinamika biologi (ekologi) dalam kuantitas, kualitas, dan kondisi spatial (ruang atau lokasi atau geografi) dan temporal (waktu atau musim) untuk ketersediaan air yang berkelanjutan.

Ekohidrologi merupakan konsep baru pemecahan masalah lingkungan berdasarkan pemikiran bahwa pengembangan sumber daya air secara berkelanjutan bergantung pada kemampuan mempertahankan evolusi proses-proses sirkulasi air dan nutrien serta aliran energi pada level basin.

Perkembangan ilmu ini mengalami kemajuan yang pesat di dunia dalam 10 tahun terakhir.

Perkembangan ilmu ini di Indonesia seperti apa?

Ekohidrologi ini berada di bawah UNESCO. Nah, UNESCO berencana mendirikan tiga pusat ekohidrologi. Yang sudah berdiri itu di Polandia untuk kawasan Eropa. Rencananya, di Indonesia, khususnya di LIPI, akan didirikan pusat ekohidrologi untuk kawasan Asia-Pasifik, sedangkan kantornya di sini Pusat Penelitian Limnologi. Nantinya, gedungnya, kalau sudah dibangun, juga akan berada di kompleks Cibinong Science Center ini. Lembaga ini sifatnya koordinatif, mengkoordinasi negara-negara Asia-Pasifik terkait dengan masalah ekohidrologi.

Bagaimana proses sehingga terpilih?

Kita mengajukan diri. Ada beberapa negara yang mengajukan, lalu dibahas dalam pertemuan negara-negara Asia-Pasifik, dan permohonan Indonesia disetujui. Minggu depan ini akan ada kunjungan dari pihak UNESCO untuk melakukan studi kelayakan Indonesia sebagai tuan rumah pusat ekohidrologi ini.

Kapan lembaga ini resmi berdiri?

Kalau dalam hal bangunan, kita belum tahu kapan dibangun karena terkait dengan keterbatasan dana. Tapi kita sudah menyiapkan master plan. Kantornya sudah berdiri, tapi kita belum melakukan peresmian karena menunggu UNESCO untuk memutuskan dalam pertemuan tingkat dunia di Paris, Prancis. Mungkin pada 2010.

Adakah contoh penerapan ekohidrologi?

Misalnya, dulu orang berpikiran, sungai-sungai itu dari hulu ke hilir harus lurus agar air bisa secepat-cepatnya mengalir ke laut. Ternyata, menurut ekohidrologi, itu salah karena tidak ada kesempatan untuk infiltrasi air ke dalam tanah.

Sebaiknya sungai itu dikembalikan lagi menjadi berkelok-kelok, agar kembali bisa menginfiltrasi air, tepi-tepinya dibiarkan saja, jangan diturap (dibuat tanggul dari beton), karena memiliki peranan. Tapi, untuk tempat-tempat tertentu, guna mencegah erosi, bisa saja tepiannya diturap.

Apakah konsep waduk itu sejalan dengan ekohidrologi?

Waduk itu kan mengubah dari sebelumnya perairan mengalir, lalu dibendung menjadi ekosistem tergenang. Nah, itu pasti ada dampaknya terhadap lingkungan. Apakah di biotanya ada yang terganggu, yang pasti, kalau ada jenis ikan yang memerlukan migrasi dari air laut ke air tawar atau hilir ke hulu, contohnya ikan salmon di Eropa atau kalau di Indonesia ada yang namanya ikan sidat di Poso yang seperti belut itu. Nah, kalau dibendung, aliran sungainya akan terganggu.

Namun, waduk dibangun dengan tujuan tertentu, misalnya sebagai pengendali banjir, sumber irigasi, penampung air, dan PLTA.

Kalau di luar negeri, kini sudah mulai dihindari pembangunan waduk skala besar. Di Indonesia memang belum banyak dibandingkan dengan di negara lain, tapi bukan berarti masih boleh dibangun. Kami menyarankan pembangunan waduk hendaknya dalam skala kecil saja. Misalnya untuk pembangkit listrik tenaga air bisa dengan mikrohidro.

Bagaimana pandangan ekohidrologi terhadap situ sendiri?

Situ juga sama. Kita melihat situ sebagai sebuah ekosistem. Jadi daerah tepiannya itu sebaiknya tidak diturap, selama itu tidak menimbulkan masalah lagi. Sebab, dari segi lingkungan, kita melihat peranan tumbuhan air bagi tepian situ. Yang pertama sebagai perlindungan bagi ikan terhadap predator, juga menjadi tempat bagi anak-anak ikan mencari makan karena banyak hewan kecil yang menempel pada tumbuhan air. Tempat menempelnya bakteri yang berguna mengurai bahan-bahan organik. Jadi jaga ekosistemnya juga daerah tepiannya, jangan ada bangunan yang terlalu dekat yang bisa menimbulkan pencemaran limbah.

Kalau kita melihat kondisi situ dan waduk yang ada saat ini, apa yang harus kita lakukan agar sesuai dengan ekohidrologi?

Pertama-tama, kita melihat dulu keberadaan situ itu awalnya untuk apa. Misalnya untuk menampung air atau tadah hujan. Nah, fungsi utama inilah yang harus didahulukan. Kalau memang akan ada aktivitas-aktivitas lain, harus dikaji terlebih dulu apakah tidak mengganggu fungsi utama situ itu.

Selama ini keberadaan situ memang dipandang sebelah mata oleh kita. Situ dianggap kecil, tapi bencana Situ Gintung ini membuka mata kita semua, termasuk kami peneliti, bahwa ini harus diperhatikan dan jangan diabaikan.

BIODATA

Nama: Gadis Sri Haryani

Lahir: Bogor, 25 Juli 1961

Jabatan: Kepala Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Status: Menikah (suami Prof Dr Dietriech G. Bengen, dengan seorang putri)

Pendidikan:

S-1 Manajemen Sumber Daya Perairan Institut Pertanian Bogor (1985)

S-2 Diplome d’Etude Superieures Science Naturelles Universite Paul Sabatier, Toulouse, Prancis (1988)

S-2 Diplome d’Etude Approfondie Terrestre et Limnique (hidrobiologi), Universite Paul Sabatier, Toulouse (1989)

S-3 Ecophysiologie Aquatique Ecole Nationale Supérieure Agronomique de Toulouse-Institut National Polytechnique de Toulouse, Prancis (1992)

Riwayat Pekerjaan:

  • Jabatan struktural: Kepala Pusat Penelitian Limnologi LIPI (2001-sekarang)
  • Jabatan fungsional: Peneliti Utama Bidang Limnologi (2005-sekarang)

One Comment on “Gadis Sri Haryani”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: