Moh Topan N

Cinta dari Tepian

Moh Topan N

Sumber:http://dreamsmeadow.blogspot.com/

Kepedulian. Kepedulian. Kepedulian. Sain hanya punya modal itu untuk merawat Situ Pedongkelan

Sain dan rakitnya. Merawat Situ Pedongkelan dengan cinta dan aksi nyata

Tengah hari. Saat matahari belum beranjak dari ubun-ubun. Di tepi situ seorang lelaki baya berjibaku dengan rerumputan yang meninggi. “Sudah masuk musim hujan, rumputnya lebih cepat tumbuh,” imbuhnya. Di belakangnya, sampah-sampah terombang di antara riak-riak kecil permukaan situ. “Mulai lagi nih sampahnya. Biasa, dari kali yang melewati perumahan di atas.”

Begitulah Sain N. Iskandar membunuh waktu luangnya. Bersama sebuah rakit bambu yang ditempeli mesin berkekuatan 150 horse power, Sain rutin mengangkut sampah yang mulai menumpuk ke badan air. “Ini belum ada apa-apanya,” sambil menunjuk ke arah sampah plastik yang mengapung, “kalau dibandingkan dengan wajah Situ Pedongkelan empat tahun lalu.”

Bagi Sain, Situ Pedongkelan punya peran penting bagi ekosistem di sekitarnya. Banyak manfaat yang disediakan, dari fungsi ekologis, ekonomi, pendidikan, hingga wisata. “Coba kalau situ ini bersih, kita bisa bikin lomba perahu naga di sini.” Di Jakarta Selatan sendiri ada sekitar 20 situ yang menjadi sumber resapan air. Namun, perubahan peruntukan lahan banyak mengorbankan lahan-lahan basah itu. Pertumbuhan pemukiman semakin memarjinalkan luasan areal konservasi tersebut. Alhasil, banjir kerap menyambangi ibu kota.

“Kalau ada situ seperti ini bisa dijamin banjir dapat diminimalisir,” kata Sain. Namun, sumber daya ini kadang pengelolaannya terabaikan. Apalagi ini milik publik. “Kepedulianlah yang dibutuhkan situ ini,” sambung Sain yang sejak kecil tinggal di sekitar Situ Pedongkelan. Sain bercerita, dahulu situ ini sangat bersih. Ia sering minum air Situ Pedongkelan. “Saya sering mandi di situ tuh,” kenang Sain, sambil menunjuk sebuah titik di pinggir situ.

Bukan hanya Sain yang sempat menikmati kejayaan situ ini. Masyarakat di sekitar situ pun menimba banyak manfaat. Sumur mereka tak pernah kering saat musim kemarau. Jika butuh ikan, mereka tinggal duduk dan memancing di pinggir situ. “Dulu ikan-ikanya terlihat sampai ke dasar situ,” ungkap Susi, yang berjualan sayur di sekitar situ.

Sekitar penghujung tahun 1990-an, Situ Pedongkelan mulai ternodai kecantikannya. Situ ini berwajah hijau. Penuh sesak dengan eceng gondok. Sampah dan kerambah berkompetisi. Belum lagi air situ yang mulai keruh dan diikuti bau tak sedap. “Miris sekali keadaan situ ini saat itu,” ungkap Sain.

Di sebelah selatan situ mulai terjadi pendangkalan. Sain mencemaskan hal ini. Alasannya, masyarakat kita akan memanfaatkan keadaan ini untuk mengusahakan sesuatu untuk menyambung hidup. Kalau sudah begini, bisa dijamin pencemaran dan kerusakan pasti terjadi.

Beberapa sumur masyarakat mulai berbau. Belum lagi populasi nyamuk semakin bertambah. Saat senja menepi, saat itulah gerombolan nyamuk mulai beraksi. “Ini gara-gara eceng yang banyak tumbuh di situ,” ujar Sain.

***

Berawal dari sebuah obrolan dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) Jaringan Kerja, tercetuslah ide mengembalikan lagi ekosistem Situ Pedongkelan. “Saya merasa terpanggil sejak itu,” kata Sain. Banyak hal-hal sederhana yang bisa disumbangkan untuk konservasi situ ini. Maka, tak lama sejak itu, sedikit demi sedikit, Sain mulai menggalang suara dan materi. Khalayak utama yang disasar oleh Sain tentu dukungan masyarakat kampung di sekitar situ. Tak lupa mencari dukungan dari instansi pemerintah yang terkait.

Sain tak menyangka dukungan yang mengalir begitu banyak. “Mungkin ini yang orang bilang, ada niat pasti ada jalan,” ungkapnya sambil menyapu wajahnya yang terbakar sinar matahari. Untuk memulai gerakan ini, Sain dan masyarakat di sekitar situ membentuk Kelompok Kerja Peduli Situ Pedongkelan. Pokja ini merancang sebuah rangkaian kegiatan yang mereka namai Bulan Peduli Kebersihan Situ Pedongkelan. Kegiatan ini berlangsung selama sebulan penuh, pada April 2007.

Sain bisa sedikit tersenyum. Dua hektare permukaan situ yang ditumbuhi eceng berhasil dibuka. Alat-alat berat bekerja mengeruk lumpur. Masyarakat bahu-membahu membersihkan sampah secara rutin. Sedikit demi sedikit bopeng-bopeng di muka Situ Pedongkelan menghilang. Dua bulan kemudian pengerukan danau dikerjakan kembali. Alhasil, sekitar 6 ha luas situ yang ada mulai dapat dinikmati keindahannya.

Pada Desember 2008, dengan berbekal muka tebal dan koneksi selama bekerja di perusahaan Jepang dulu, Sain memperoleh dana dan bantuan materiil untuk membongkar pembuangan sampah di salah satu sudut situ. Usaha ini pun sempat menuai cibiran dari masyarakat. “Mana mungkin bisa,” Sain menirukan cibiran itu. Tapi keyakinan Sain jauh lebih besar. Lelaki tua ini sudah kebal dengan ‘duri-duri’ itu. Semua tetap dikerjakannya sesuai rencana yang disusun.

Di akhir tahun 2008, sebuah dermaga dibangun di bekas pembuangan sampah. Dermaga ini bahkan dilengkapi sebuah lapangan futsal sederhana. “Yang perlu dibangun itu keterlibatan masyarakat,” kata Sain. Maka, pada bulan yang sama pula wisata air di Situ Pedongkelan ini resmi dibuka. Ada sekitar delapan sepeda yang disediakan Pokja untuk menikmati keindahan Situ Pedongkelan. “Kalau masyarakat bisa menikmati, mereka pasti enggan mengotori situ.”

Wajah Situ Pedongkelan pada Desember 2009. Masih ada sederet pekerjaan rumah untuk membenahi situ ini agar lebih baik.

Namun, berbagai upaya dan kerja keras Sain serta Pokja tak selamanya ditanggapi positif. Sain pernah bersitegang dengan para pemilik kerambah di Situ Pedongkelan. Pemilik kerambah bersikeras karena mereka telah mengantongi izin dari Dinas Perikanan DKI Jakarta. “Tapi ini kan wilayah Depok, apa urusannya dengan DKI,” timpal Sain. Memang lokasi situ yang terletak di antara Depok dan Jakarta Timur menjadi persoalan yang dilematis.

Sain tak gentar. Ia hanya berpegang pada keyakinan dan niat tulusnya. Setelah meminta tenggat waktu—menunggu ikan-ikan mereka siap panen—para pemilik kerambah satu demi satu membongkar ladang usahanya. “Di sini nih kerambah-kerambah itu berjejer,” kenang Sain di atas rakitnya.

***

Kini, tahap demi tahap, situ Pedongkelan mulai bersolek, meski masih banyak yang harus dibenahi. Sain masih mengeluhkan pintu air di bagian hulu yang belum dilengkapi filter sampah. Akibatnya, saat musim hujan, Kali Jantung—yang bermuara di situ—membawa ‘bingkisan’ sampah yang beragam. Karena itu, menurut Sain, konservasi Situ Pedongkelan juga harus diikuti peran aktif pemerintah secara konsisten.

Kebanyakan proyek yang datang ke situ ini hanya sekadar ‘beli putus’. Usai satu proyek, lalu ditinggalkan. Pemerintah tidak membekali dana yang memadai kepada Pokja untuk pekerjaan perawatan kebersihan situ. “Kami hanya mengandalkan swadaya yang ada,” imbuh Sain, sambil menggeleng kepalanya.

Sain kerap ‘menjemput bola’ ke intansi-instansi pemerintah untuk meminta bantuan atau sekadar menagih janji terhadap perbaikan Situ Pedongkelan. “Saya harus ‘mengemis’, kalau tidak mau gimana lagi.” Kendala dana operasional yang berkesinambungan masih menjadi pekerjaan rumah bagi Sain dan Pokja.

“Ini belum ada apa-apanya,” kata Sain sambil mengemudikan rakitnya, “saya masih punya mimpi yang besar untuk Situ Pedongkelan.” Sain adalah potret kecil sebuah kemauan yang keras: keinginan untuk menyeimbangkan hidup dengan alam. Ia masih ingin terus menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Bukan dengan sekadar omongan, tetapi dengan aksi.

(Depok, 9 Desember 2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: